Andai Haji Misbach Memimpin Ormas Islam

Print Friendly, PDF & Email

Sekarang sebuah perkumpulan yang tidak berdiri melawan kapitalisme berarti wajar pasti didukung oleh kapital (Haji Misbach)

H Misbach adalah seorang moeslimin yang tegoeh (Tjipto Mangonkoesomo)

HAJI Misbach seperti meteor: melawan kaum imperialis dengan menggunakan sentimen agama. Dibawanya Islam jadi agama pemberontak. Tak sekedar berontak tapi mengajak petani untuk sadar atas kekuatanya. Tak tak takut melawan aturan kolonial dan tak segan mengutuk kekayaan. Baginya, Islam itu lahir untuk melawan kesewenang-wenangan. Sebagai agama protes, Haji Misbach membawa keyakinan ini dalam sengketa mutakhir: Kapitalisme. Ini tahun 1921, jauh sebelum HTI lahir apalagi NU berdiri. Tahun dimana bisnis perkebunan berlangsung sadis: tanah petani dicaplok untuk kepentingan usaha dagang. Di bawah keyakinan Islam, Haji Misbach meluncurkan pesan pemberontakan. Rakyat tak harus takut dan rakyat jangan patuh.

Haji Misbach bukan sosok sembarang. Orang tuanya pengusaha Batik. Tinggal di Kauman Solo. Dididik di Pesantren dengan nama kecil Achmad. Bahasa Arabnya bagus. Hapal banyak surah dan doa. Mula-mula bukan seorang proletar. Mirip Nabi hidupnya: berdagang dan buka toko. Semula kegiatanya sederhana: jualan, mengaji dan dirikan sekolah. Akrab dengan Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kelak dikritiknya organisasi ini habis-habisan. Sayang kritik-mengkritik itu tak diabadikan oleh film Sang Pencerah. Tapi Haji Misbach bukan Achmad Dahlan. Tak hanya menafsirkan Al Ma’un melainkan juga melibatkan diri dalam kegiatan jurnalis. Sahabatnya agak bahaya tapi menarik: Tjipto Mangunkusumo, Semaoen, Mas Marco, Douwes Dekker dan tentu saja Sneevilt. Di samping suka baca Qur’an juga merenungkan gagasan Karl Marx. Bacaan yang membuatnya melihat ummat dalam kategori sederhana: penindas dan ditindas. Di sana Haji Misbach menyapa petani dengan kosakata harapan dan perlawanan.

Para petani bukan kumpulan ummat yang pasif. Diangkat harga dirinya dengan menolak penindasan. Haji Misbach meyadarkan itu dengan organisasi. Satu organisasi yang tujuanya lugas: anggotanya ‘jangan ditindes dan diperes darahnja’ oleh fihak lain. Maka pertanyaan merupakan ciri pengajian Haji Misbach. Ungkapanya tak banyak diimbuhi ayat tapi menukik kesadaran jamaah: tjoba ingetlah, siapakah yang poenja tanah ini?…tanah ini doeloe-doloenya jang poenja toch embah-embah kita sendiri’.[1] Logika sederhana tapi indah itu membuat rakyat tergerak. Tanpa ragu Haji Misbach sebut pemerintah itu pencuri. Julukan berani yang membuat dirinya diancam penjara. Lebih-lebih suara Haji Misbach seperti gema yang meyentuh ribuan jamaah. Diikuti bukan karena lucu, didengar tidak karena haru, tapi Haji Misbach hidupnya seperti khutbahnya sendiri.

Menolak bayar pajak. Itu menurutnya hanya upeti. Mengutuk sikap diam ulama. Menurutnya itu munafik. Membuka rumahnya untuk kantor gerakan. Itu menunjukkan pengurbananya. Lebih jauh lagi, Haji Misbach memiliki koran. Islam Bergerak yang kemudian berubah jadi Rakjat Bergerak. Isinya protes melulu: harga bahan pokok yang melangit, jangan hamburkan uang untuk nonton sekaten hingga ajakan untuk mogok. Bagi Haji Misbach, Islam tak bisa berdiam diri saksikan eksploitasi. Melawan itu merupakan inti ajaran jihad fi sabilillah: “Sabil itu adalah atoeran Islam jang penting dan mudjarab. Menang dari perang sabil tentoe oentoeng, mati karena sabilpoen keoentoengan jang besar dalam achirat’ Bisa saja menganggap Misbach itu komunis, tapi melalui bahasa agama, Haji Misbach membuat Islam jadi agama seperti semula: menghadang penindasan dan melawan kesewenang-wenangan.

Pasti Haji Misbach kecewa dengan ormas Islam hari ini. Tokohnya sibuk lontarkan fitnah. Pada yang bela petani dituduh komunis. Pada yang mencintai keponakan Nabi bernama Ali kena sangkaan Syiah. Mereka hanya sibuk memecah kesatuan ummat ini yang dianggap oleh Haji Misbach, taktik imperialis: ‘Salah satoe taktiek dari imperialisme oentoek menegoehkan kedoedoekannja di tanah jang didjajahnja, adalah taktiek politiek memetjah belah, jang melemahkan kekoeatan ra’jat’. Taktik keji itu yang mengantarkan ormas Islam kian jauh dengan persoalan rakyat. Sibuk mengutuk sambil menikmati keistimewaan sebagai pemimpin ormas yang ke sana ke mari dianggap penting. Lebih-lebih kalau mereka hidup berkalung kemakmuran: rumah mewah, rekening dimana-mana dengan kepemilikan tanah yang luas.

Itulah yang dinamai Haji Misbach sebagai Islam Munafik. Keras sekali peringatannya pada Muhammadiyah kala itu: “Awas saudara awas! Djikalau ada seorang jang mengakoe atau menjeboet dirinja saorang Moekmin dan Islam teoretama pemimpinnja, tapi misi ada bersifat moenafik, djangan sampai kaget, moesti akan menerima tendangan dari saja’. Munafik bagi Haji Misbach adalah ormas Islam yang tak berjuang melawan kolonialisme dan kapitalisme. Usulnya ganas dan cerdas, minta Muhammadiyah ganti nama jadi Perserikatan Ra’jat. Agar jelas perjuangan dan sikap perlawanannya pada kaum kapitalis.

Maka Haji Misbach pasti malu dengan sikap anak muda Islam hari ini. Petani dibunuh hanya kasihan. Buruh aksi hanya prihatin. Tentara pukul rakyat hanya pasrah. Padahal berulang-ulang diseru oleh Haji Misbach: ‘Hai kaum Proletar! Atoerlah dengan sigera barisan kira. Lemparlah si chianat Kapitalisten. Pemoeda Hindia! Djangan menjadi pengetjoet pemogokan. Pimpinlah bangsamoe jang tertindas’. Ajakan memimpin itu bukan untuk duduk jadi ketua ormas. Ajakan jadi pimpinan bukan untuk menguasai asset ormas. Memimpin itu mengajak melawan. Meyadarkan rakyat akan ketertindasan. Bersama rakyat memimpin pemogokan. Ajakan Haji Misbach ini bahaya sekali. Penguasa kolonial dibantu oleh kaum feodal lalu buat organisasi busuk bernama, Komite Anti Aktivitas Komunis. Organ yang jelas-jelas memusuhi Islam dan Haji Misbach. Didirikan dan dibangun oleh Polisi kolonial. Dibentuk tahun 1923 dan nanti diperbaharui lagi tahun 2003.

Maka Haji Misbach pasti akan menahan senyum. Melihat ormas Islam sibuk mengutuk teroris. Menyaksikan mereka berbagi proyek menangani teroris. Dulu Haji Misbach dituduh dalangi sabotase dan pengeboman. Dijawabnya tuduhan itu dengan berwibawa: ‘berhoboeng dengan hal-hal jang telah terdjadi, oempama: api pemogokan, sabotage, bom-boman, bakaran dan lain-lain kedjadian, maka menggambarkan bahwa roepanja orang soedah tidak ambil poesing dengan kekoesaannja pemerintah…kita orang kaoem pergerakan meskiopoen tidak wadjib beroepaja menolak perboetan sematjam itoe tetapi toch tidak bisa toeroet mentjegah djoega: ketjoeali hal itoe tentoenja diperboeat oleh orang-orang mata gelap karena roesaknya penghidoepan roemah tangganja…kaloetnja penghidoepan ra’jat itu lantaran perboetannja si loba kapitalisme’

Kapitalisme merusak. Ini bukan wacana baru hari ini. Hanya H Misbach tak buru-buru usulkan Syariah Islam sebagai satu-satunya solusi. Sarannya radikal dan cerdik: ‘Marilah! Saudara-saudara kami, bersama-sama menolong pada kang kromo jang selaloe diisap darahnya oleh si Demit tadi. Maka soedah terseboet di dalam chadis jang begini artinya: Allah Ta’ala itoe mesti menolong pada kita, kalau kita misi menolong djoega kepada saudara kita’. Ini maksudnya lugas: ber-Islam itu berpihak dan berdiri di sisi yang miskin, lemah serta tak berdaya. Bukanlah Islam jika solusinya abstrak, tak memihak apalagi hanya mengaburkan penindasan. Istilah Haji Misbach untuk para kapitalis itu terang: setan.

Setan itu tak bisa dilawan dengan doa. Setan berujud nyata. Setan itu kini digemari siapa saja. Setan itu punya nama. Namanya oewang. ‘Djaman kapitalisme oewang mendjadi pokok hidoep manoesia, dari itoe maka orang-orang kebanjakan mendjadi tertjintanja kepada oewang sehingga bolih di seboet tjinta, moeka jang di boetakan olih mata oewang sampai meloepakan kemanoesiaannja, badan dan djiwanja di serahkan ke oewang sadja’. Itu sebabnya Haji Misbach pasti akan terkejut betapa uang itu pulalah yang kini jadi pelicin segala urusan. Urusan Haji yang diselingi oleh korupsi juga uang sebabnya. Percetakan kitab suci ternyata juga menyeret uang yang ditilep dengan cara keji. Sifat tamak tumbuh bukan karena tak mengerti agama tapi tak paham dengan kapitalisme. Kapitalisme buat H Misbach telah meluncurkan nilai kemanusiaan dan merusak nilai-nilai dasar agama.

Tentu Haji Misbach akan lebih malu. Melihat kyai tanahnya lebih luas ketimbang buruh tani. Menyaksikan ustadz kekayaanya melebihi jamaahnya. Jika Haji Misbach ada pasti dinamai: penghisap dan penindes. Tak mungkin mereka berbuat benar karena tindakannya tak benar. Haji Misbach minta ummatnya meluruskan tindakan salah ini ‘ terangnja kita manoesia diwadjibkan mendjaga soepaja djangan ada orang teroes meneroes melakoekan perboetan jang tidak benar…dan oelama-oelama of kijai kijai, tidak pedoeli siapa djoega djika dia poenja perboetan tidak dengan sebenarnja, kita wadjib membenarkan’. Etikanya keras, lurus dan lugas. Tak boleh berdiam diri melihat kesewenang-wenangan, terutama yang sasaranya adalah buruh dan petani.

Bisa jadi Haji Misbach akan marah dengan ulama hari ini. Tiap ada kesusahan disuruh sabar. Ketika ada korupsi biar yang berwenang mengadili. Sewaktu ada penggusuran dianggap cobaan. Apalagi kalau ada ulama katakan miskin dan kaya sudah takdir. Baginya itu adalah taktik melemahkan pergerakan rakyat: ‘Sebagai di Hindia ini, semasa kaoem boeroeh dan rakjat jang miskin ini bergerak akan melawan tindasan yang dideritanja, maka matjam-matjamlah usaha akan melemahkan pergerakan ra’jat jang tertindas itoe. Adalah jang dengan djalan mengembangkan agama Islam dengan menjoeroeh ra’jat itoe nerima kaloe ditindas, sebab itoe toch kodrat Toehan, nanti akan dapat balasan di achirat’.

Sikap masa bodoh itu memalukan. Sikap tak melawan itu benar-benar menyedihkan. Tak ada ucapan apapun keluar dari mereka ketika petani dibunuh, aktivis diculik hingga orang Islam dituduh teroris. Diam itu dianggap Haji Misbach sebagai khianat pada pesan Rosul: ‘Lihat dan ingatlah! Daja oepajanja jang selainnya. Bagaimana ictijarnya akan tjari selamat dari fitnahan orang-orang moesrikin jang sama membikin keroesakan pada dewasa djoemeneng handika roesoel-roesoel itoe? Toch tiada tjokoep hanja diserahkan pada Toehan sadja, tetapi dengan mendjalani soesah pajah sekeras-kerasnja akan melinjapkan moesoehnja itoe boekan?’

Mungkin Haji Misbach bisa takjub dengan ormas Islam hari ini. Tak bicara tentang kesenjangan sosial. Membiarkan diri untuk jadi sangkar para politisi bejat. Bahkan mudah digunakan untuk memukul mereka yang berbeda pandangan. Tak radikal dan mudah kompromi. ‘Saudara kaum moeslimin, terbukaklah hati kamoe sekalian, tonggoe apalagi, marilah bersama-sama mengendahkan prentah Toehan jang berkoeasa, jaitoe jang soedah tertoelis dalam wetnja agama Islam (Kor’an) kalau saudara kami menetapi keislamannja, soedah tentoe kita berhaloean brani, does kalau kami dipoekoel mesti membales memokoel, kalau kita ditindes mesti membales menindes, itoelah keadilan dalam agama Islam. Siapa jang menindes atau bikin sewenang-wenang pada rakjat marilah kita bikin hantjoer binasa’

Sayang Haji Misbach sudah tiada. Kematianya indah: dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda. Katanya Malaria. Tapi Tan Malaka tak percaya informasi itu. Pemerintah Hindia Belanda tak bisa ditanya. Kuat dugaan sengaja dibiarkan tewas.Tuduhannya kala itu modern sekali: Haji Misbach dalang semua pengeboman. Saksi yang dikumpulkan memberi keterangan palsu. Tapi Haji Misbach sudah jadi ‘target’. Dokumen dikumpulkan. Berkas coba diusut lagi. Keputusan final: pembuangan ke Manokwari. Istri dan anaknya ikut serta. Disanalah kedua suami istri itu meninggal. Mirip Nabi: istrinya meninggal lebih dulu. Haji Misbcah menyusul. Tuhan memberi akhir yang menawan untuk keduanya. Syuhada itu pergi dengan meninggalkan pesan mulia: ‘Hai saudara2! Ketahoeilah! Saja seorang yang mengakoe setia pada Igama, dan djoega masoek dalam lapang pergerakan kommunis, dan saja mengakoe djoega bahoea tambah terbukanja fikiran saja di lapang kebenaran atas perintah agama Islam itoe, tidak lain jalah dari sasoedah saja mempeladjari ilmoe kommunisme…..!’***

 

Penulis adalah aktivis Social Movement Institute

 

Artikel ini mula-mula untuk kebutuhan artikel Majalah Al Fikr, Ponpes Paiton, Probolinggo Jawa Timur. Terimakasih atas banyak pandangan dari dua Gus yang penting di masa depan: Gus Roy Tebu Ireng dan Gus Fayadl Ponpes Paiton.

 

————-

[1] Semua kutipan ini saya tulis utuh dari dua buku yang lumayan menarik. Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Jawa 1912-1926, Grafitti, 1997 dan Dr Syamsul Bakri, Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942, LKiS, 2015

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.