Alienasi Alam dan Metabolisme Ekonomi Politik: Refleksi Saito Kohei atas Ekososialisme Marxis

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Redflag


SAITO Kohei adalah seorang profesor madya kelahiran 31 Januari 1987. Ia dianugerahi gelar guru besar dari Osaka City University. Dikenal sebagai seorang penerjemah gagasan-gagasan Marx ke dalam konteks dunia modern, Saito telah berkontribusi dalam memperkenalkan dan menginterpretasikan pemikiran Marx kepada khalayak yang lebih luas melalui tulisannya semenjak menempuh Pendidikan pada Free University of Berlin untuk gelar Master of Art dan Humboldt University of Berlin untuk gelar PhD.

Pada tahun 2018, Saito menerima penghargaan Marxisme Deutscher Memorial Prize. Penghargaan ini diberikan setiap tahun untuk mereka yang menulis secara inovatif tentang marxisme. Saito memperoleh penghargaan ini melalui bukunya yang berjudul Karl Marx’s Ecosocialism. Buku tersebut merangkum beberapa catatan Marx yang sebelumnya tidak pernah diterbitkan atau diakses secara luas.

Melalui bukunya, Saito menyajikan interpretasi baru dan inovatif tentang pemikiran Marx, khususnya pada isu-isu ekonomi modern dan lingkungan. Buku tersebut menguliti bagaimana Marx mempertimbangkan hubungan antara kapitalisme, alam, dan kritik terhadap ekonomi politik dalam konteks ekososialisme.

Selain itu, dalam buku terbitan Cambridge 2022 berjudul Marx In The Anthropocene: Towards The Idea of Degrowth Communism, Saito menyelidiki bahan-bahan baru yang diterbitkan dalam karya lengkap Marx dan menawarkan interpretasi yang tidak biasa mengenai alternatif Marx terhadap kapitalisme yang dapat secara tepat digambarkan sebagai komunisme degrowth

Konsep komunisme degrowth yang digagas oleh Saito muncul sebagai alternatif terhadap sistem kapitalis yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa henti. Degrowth, atau pengurangan pertumbuhan ekonomi, merupakan gagasan filosofis yang mengusulkan pergeseran paradigma dari pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas menjadi fokus pada kesejahteraan manusia, keadilan sosial, dan keseimbangan ekologis.

Dalam konteks marxisme, Saito menginterpretasikan Marx sebagai seorang komunis degrowth. Ia berpendapat bahwa Marx pada akhir hidupnya mengembangkan gagasan tentang transformasi sosial yang melibatkan pengurangan produksi dan konsumsi berlebihan, serta menghargai keterbatasan sumber daya alam. Marx mempertimbangkan bahwa kapitalisme yang berorientasi pada pertumbuhan tak terbatas akan mengarah pada eksploitasi manusia dan kerusakan lingkungan yang begitu mengerikan.

Saito mengusulkan bahwa Marx sebenarnya memiliki visi komunisme degrowth yang tentu saja berbeda dari apa yang dihasilkan oleh sosialisme yang dipraktikkan abad ke-20, yakni sistem sosialis yang muncul dan diterapkan selama masa sosialisme Soviet, sosialisme Tiongkok, sosialisme di negara-negara Eropa Timur, dan berbagai bentuk sosialisme yang ada dalam gerakan sosialis di seluruh dunia. Gerakan sosialisme abad ke-20 lebih memusatkan perhatian pada pencapaian masyarakat komune dengan cara pembatasan kebebasan individu yang bermuara pada kurangnya inovasi ekonomi. Selain itu pula, terjadi birokratisasi yang berlebihan, pembatasan pada ide dan gagasan yang tidak terpusat dan bahkan melalui imperialisme dan kolonialisme jalur darah di sana.

Sementara itu, komunisme degrowth menekankan pada konsep ekonomi politik modern yang lebih metodologis seperti pengurangan pertumbuhan ekonomi, redistribusi sumber daya, penghapusan eksploitasi manusia, dan pemulihan keseimbangan ekologis. Dalam konsep komunisme degrowth, fokus utama bukanlah pada akumulasi modal atau pertumbuhan ekonomi, tetapi pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia, keadilan sosial, dan keseimbangan dengan alam.

Interpretasi provokatif tentang Marx harus diakui telah memberikan pemahaman baru terkait perdebatan terkini mengenai hubungan antara masyarakat dan alam serta memantik marxian dan mereka yang tertarik pada isi pikiran Marx untuk membayangkan masyarakat pasca-kapitalis tanpa mengulangi kegagalan sosialisme yang ada pada abad ke-20.


Alienasi Alam

Dalam bukunya berjudul Karl Marx’s Ecosocialism: Capitalism, Nature, and The Unfinished Critique of Political Economy, Saito menjelaskan bahwa Marx menganggap bahwa dalam masyarakat kapitalis modern, hubungan manusia dengan alam telah mengalami alienasi atau pemisahan. Ini terjadi karena kapitalisme cenderung memperlakukan alam sebagai sumber daya yang tidak terbatas yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi. Dalam proses produksi dan akumulasi modal, alam dianggap sebagai subordinat dari birahi pertumbuhan ekonomi yang dapat dimanipulasi dan dieksploitasi tanpa memperhatikan konsekuensi jangka panjang terhadap ekosistem.

Alienasi alam merupakan konsekuensi dari perkembangan kapitalisme modern. Dalam sistem kapitalis, alam diperlakukan sebagai sumber daya yang dapat dimiliki dan dikuasai oleh individu atau perusahaan. Alam dianggap sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan dan dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan ekonomi eksonensial. Hal ini mengarah pada pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terbatas dan pengeksploitasian serta ekstraksi sumber daya alam yang berlebihan.

Sistem kapitalis menciptakan segerombolan manusia-komoditas yang dipekerjakan dalam kondisi mengabaikan hubungan mereka dengan alam. Pekerjaan manusia sering kali terlepas dari siklus alamiah dan terpisah dari proses reproduksi alam, sehingga manusia kehilangan rasa ketergantungan dan saling keterkaitan dengan alam. Kondisi kerja yang berulang dan mekanis dalam kapitalisme menghasilkan perasaan terasing dan kehilangan makna dalam hubungan manusia dengan lingkungan alamiah. Oleh karena itu, alienasi alam dan alienasi manusia dalam masyarakat kapitalis saling terkait dan saling memperkuat.

Meneruskan argumentasi sebelumnya, manusia diperlakukan sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi seperti halnya alam. Kondisi kerja yang teralienasi dan pemisahan manusia dari alam menghasilkan kehidupan yang terasing dan menjauhkan manusia dari ketergantungan dan saling keterkaitan dengan lingkungan alam.

Poin ini menekankan bahwa alienasi alam merupakan salah satu ciri penting dari modernitas yang dihasilkan oleh kapitalisme. Marx mengkritik pandangan kapitalis yang mengabaikan ketergantungan manusia terhadap alam dan mengarah pada eksploitasi yang tidak terbatas terhadap sumber daya alam. Sejujurnya, Marx berpendapat bahwa untuk mengatasi alienasi alam, diperlukan perubahan fundamental dalam struktur sosial dan ekonomi. Ini melibatkan penerapan prinsip-prinsip ekologi dalam sistem produksi dan konsumsi. Dalam konsepsi Marx, masyarakat pasca-kapitalis harus mengembangkan hubungan yang lebih harmonis dengan alam, menghormati keterbatasan sumber daya alam, dan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam aktivitas ekonomi.


Metabolisme Ekonomi Politik

Metabolisme ekonomi politik adalah konsep Karl Marx untuk menjelaskan interaksi antara manusia, alam, dan produksi dalam suatu sistem ekonomi. Konsep ini menggambarkan bagaimana manusia menggunakan sumber daya alam dalam proses produksi dan reproduksi kehidupan sosial.

Menurut pandangan Marx, manusia adalah makhluk biologis yang bergantung pada sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Metabolisme ekonomi politik mengacu pada hubungan timbal balik antara manusia dan alam dalam mengubah bahan mentah menjadi barang dan jasa yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Manusia menggunakan tenaga kerja, alat, dan bahan mentah dari alam untuk mengolah dan menghasilkan produk akhir. Marx menjelaskan bahwa metabolisme ekonomi politik mengalami distorsi atau alienasi. Dalam sistem kapitalis, sumber daya alam dianggap sebagai bahan mentah yang dapat dimanipulasi semata-mata untuk tujuan produksi dan akumulasi modal. Alam dianggap sebagai objek yang dapat dieksploitasi untuk mencapai keuntungan ekonomi.

Alienasi juga terjadi pada buruh dalam metabolisme ekonomi politik kapitalis. Dalam sistem ini, buruh diperlakukan sebagai komoditas yang dapat dibeli dan dijual di pasar tenaga kerja. Mereka menjual tenaga kerja mereka kepada pemilik modal untuk menghasilkan nilai ekonomi. Buruh sering kali harus menghadapi kondisi kerja yang ditentukan oleh pemilik modal, yang mungkin tidak selalu memprioritaskan kesejahteraan atau kebutuhan manusia.

Dalam konteks ini, Marx berpendapat bahwa kapitalisme menghasilkan ketidakseimbangan antara manusia, alam, dan produksi. Metabolisme ekonomi politik dalam kapitalisme cenderung tidak seimbang dan berujung pada eksploitasi manusia dan alam. Marx mengusulkan perubahan sosial dan ekonomi yang mendasar untuk mengatasi alienasi ini dan mengembalikan keseimbangan serta keberlanjutan dalam metabolisme ekonomi politik.


Pengakuan Teoretis atas Kritik Ekologis Marx

Berbeda dari André Gorz, James O’Connor, dan Alain Lipietz yang mengakui bahwa Marx tidak cukup menyediakan kerangka teoretis yang kuat untuk menjelaskan krisis ekologis era modern, John Bellamy Foster dan Paul Burkett justru mengimani bahwa Marx telah menyediakan kerangka teoretis metodologis yang relevan tentang ekologi dan krisis lingkungan saat ini.

Argumen mereka berpusat pada teori nilai dan reifikasi Marx sebagai landasan untuk kritik ekologis terhadap kapitalisme. Mereka menganggap bahwa teori nilai Marx memungkinkan pemahaman tentang cara kapitalisme menghasilkan eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan secara sistematis. Konsep nilai kerja yang terkandung dalam teori nilai Marx memperlihatkan bagaimana kapitalisme mendorong produksi yang tak terbatas, mengabaikan konsekuensi ekologis jangka panjang.

Dalam teori nilai Marx, nilai dihasilkan melalui kerja manusia yang terlibat dalam produksi barang dan jasa. Menurut Marx, nilai-nilai ini berasal dari tenaga kerja yang dihabiskan untuk menciptakan suatu produk. Namun, dalam kapitalisme, keuntungan diperoleh dengan memperlebar perbedaan antara nilai yang dihasilkan oleh tenaga kerja dan nilai yang diterima oleh pekerja. Inilah yang disebut sebagai surplus nilai.

Kritik ekologis terhadap kapitalisme menggunakan teori nilai Marx dapat diinfiltrasi untuk mengungkap bagaimana sistem ini mendorong produksi yang tak terbatas dan eksploitasi sumber daya alam. Kenyataannya, kapitalisme disokong oleh hasrat untuk memaksimalkan keuntungan, yang sering kali mengarah pada penggunaan berlebihan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan.

Dalam produksi kapitalis, tujuan utama adalah menghasilkan surplus nilai yang lebih tinggi. Hal ini mendorong penggunaan intensif sumber daya alam dengan cara yang tidak berkelanjutan, seperti deforestasi yang meluas, pengurasan air tanah, penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan, penggunaan obat-obatan tidak ramah lingkungan untuk aktivitas pertanian dan pencemaran air serta udara. Dalam sistem ini, harga pasar sering kali tidak mencerminkan biaya ekologis sebenarnya dari produksi dan konsumsi.

Dalam kapitalisme, hubungan antara manusia sering kali direduksi menjadi hubungan antara barang-barang yang diproduksi. Manusia dan kerja mereka dianggap sebagai faktor produksi yang dapat diperlakukan seperti objek yang dapat dimiliki dan diperdagangkan. Konsep ini disebut reifikasi Marx. Ini berbeda dari konsepsi reifikasi György Lukács yang berfokus pada alienasi manusia dalam masyarakat kapitalis secara umum, termasuk dalam hubungan sosial, budaya, dan produksi. Konsep ini lebih menyoroti bagaimana masyarakat kapitalis mengubah manusia menjadi objek yang terpisah dan teralienasi dari dunia sosial yang mereka ciptakan.

Karya Marx yang tidak dipublikasikan setelah ia wafat, menurut Saito, sarat akan relasi ekologis yang memuat dasar-dasar teoretis bagi kritik ekologis atas kapitalisme seperti alienasi, metabolisme ekonomi politik, dan reifikasi. Reifikasi Marx mengacu pada proses di mana hubungan sosial antara manusia terdistorsi menjadi hubungan antara objek-objek. Dalam konteks ekologi, John Bellamy Foster dan Paul Burkett mengaitkan reifikasi dengan pandangan kapitalisme terhadap alam sebagai objek yang dapat diolah dan dieksploitasi untuk keuntungan ekonomi, tanpa mempertimbangkan nilai intrinsiknya dan ketergantungan manusia pada ekosistem yang sehat. Keduanya menekankan pentingnya mengakui nilai intrinsik alam, memahami kompleksitas ekosistem, dan mempertimbangkan kerentanan ekosistem dalam pengambilan keputusan ekonomi dan politik. Pendekatan ini melibatkan pembangunan sistem ekonomi dan kebijakan yang berkelanjutan, yang memperhatikan ketergantungan manusia pada ekosistem yang sehat dan melindungi keberlanjutan alam jangka panjang.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.


Refleksi Saito Kohei

Pandangan Saito Kohei tentang Towards the Idea of Degrowth Communism menggabungkan dua konsep utama, yaitu degrowth (pengurangan pertumbuhan ekonomi) dan komunisme, untuk mengembangkan perspektif alternatif terhadap model ekonomi dan sosial yang berkelanjutan serta adil.

Pertama, konsep degrowth atau pengurangan pertumbuhan ekonomi, mengkritik paradigma pertumbuhan ekonomi tak terbatas yang menjadi dasar sistem kapitalis. Saito mengusulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas dan tanpa henti tidak hanya tidak memungkinkan secara ekologis, tetapi juga tidak dapat mengatasi ketimpangan sosial dan masalah ekologis yang dihadapi dunia saat ini. Ia berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas hanya akan memperburuk kerusakan lingkungan dan memperdalam kesenjangan sosial.

Dalam konteks ini, degrowth mengusulkan perlunya mengubah paradigma ekonomi yang berfokus pada pertumbuhan menjadi paradigma yang berfokus pada kesejahteraan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Ini melibatkan pengurangan konsumsi berlebihan, redistribusi kekayaan, dan penguatan masyarakat dalam mengambil keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka.

Kedua, konsep komunisme mengacu pada sistem sosial dan ekonomi di mana sumber daya dan produksi dimiliki secara kolektif oleh seluruh masyarakat. Saito melihat komunisme sebagai alternatif yang memungkinkan untuk mencapai keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Dalam visi degrowth communism-nya, komunisme tidak hanya tentang kepemilikan yang kolektif, tetapi juga tentang redistribusi kekayaan dan sumber daya secara adil, partisipasi aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan, dan kesadaran akan ketergantungan manusia pada lingkungan alam.

Saito secara filosofis mengeksplorasi bagaimana penggabungan konsep degrowth dan komunisme dapat membentuk dasar untuk model sosial dan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan adil. Ia berpendapat bahwa dengan mengurangi pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas dan mengubah paradigma ekonomi, serta dengan mengadopsi prinsip-prinsip komunisme seperti kepemilikan kolektif dan partisipasi masyarakat, kita dapat mencapai keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan manusia yang lebih baik.


Referensi

Foster, J. B. (1999). Marx’s Theory of Metabolic Rift: Classical Foundations for Environmental Sociology. AJS Environment Sociology, 105(2), 366–405.

Foster, J. B. (2021). Marx, value, and nature. The Jus Semper Global Alliance, 70(3), 122–136. https://doi.org/10.14452/mr-070-03-2018-07_6

Gorz, A. (1993). Political Ecology: Expertocracy versus Self-Limitation. New Left Review, 1, 55–67.

Kohei, S. (2016). Marx’s Ecological Notebooks. Monthly Review, 25–42. https://doi.org/10.14452/MR-067-09-2016-02

Kohei, S. (2017). Karl Marx’s Ecosocialism. Monthly Review Press New York.

Kohei, S. (2022). Marx in the Anthropocene. In Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781108933544

Lukács, G. (1968). Reification and The Consciousness of The Proletariat. Merlin Press, 3–25. https://doi.org/10.4324/9781315251196-1

O’Connor, J. (1988). Capitalism Nature, Socialism A Theoretical Introduction. Capitalism Nature Socialism, 1(1), 11–38. https://doi.org/10.1080/10455758809358356

Whiteside, K. (1996). Regulation, ecology, ethics: The red-green politics of Alain Lipietz. Capitalism, Nature, Socialism, 7(3), 31–55. https://doi.org/10.1080/10455759609358693


Fajrin Hardinandar adalah dosen pada Fakultas Hukum dan Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bima dan alumnus INDEF School of Political Economy

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.