Mengapa Einstein Memilih Sosialisme

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Jonpey


SIAPA tak kenal Albert Einstein? Fisikawan termasyhur penemu teori relativitas, peraih nobel fisika, dan salah satu orang terjenius yang pernah hidup di bumi. Kawan-kawan yang mempelajari ilmu eksak kurang lebih sudah tidak asing dengan kajiannya, berbeda dengan mereka ilmu sosial, termasuk saya sendiri, yang bahkan menonton Interstellar karya Christopher Nolan saja sudah cukup kebingungan.

Tapi jangan kuatir. Anda masih bisa mengenal pemikiran Einstein salah satunya lewat tulisan yang terbit di Monthly Review pada 1949 dan barangkali paling dapat dicerna. Artikel tersebut tidak terlalu panjang, tidak bertele-tele, dan cukup ringan sehingga saya menyarankan Anda membacanya sendiri secara langsung terlebih dahulu. Saya akan memetik pesan-pesan utama dari tulisannya beserta beberapa catatan tentangnya.

Judulnya: “Why Socialism?” Lho, kok, seorang ilmuwan fisika bisa sampai membahas ilmu sosial?┬áPenasaran bagaimana pandangan beliau tentang kapitalisme sampai sosialisme? Mari kita telusuri.

Tulisan ini berangkat dari keresahan Einstein akan karakter manusia dalam masyarakatnya di masa Perang Dunia II dan setelahnya. Seperti merebaknya individualisme, ketidakpedulian, lalu ketimpangan sosial, konflik horizontal hingga peperangan berskala besar. Ia pun mempertanyakan penyebabnya dan mencari jalan keluar.

Einstein memulainya dengan membedah esensi dari manusia dan masyarakat. Menurutnya, manusia sebagai makhluk individual yang punya keunikan dapat hidup mandiri di satu sisi, namun di sisi lain juga makhluk sosial yang keberadaannya bergantung pada masyarakat. Masyarakat yang merupakan konsep abstrak dari sejumlah relasi langsung tak langsung antarindividu terhadap orang-orang di kelompoknya dan juga orang-orang di masa lalu. Bagi Einstein, masyarakatlah yang sejak awal mula hadir memberi penopang kepada manusia, mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal, bahasa, teknologi, hingga ide-ide beserta nilai-nilai sosial yang ada.

Namun, kondisi kala itu seakan terbalik dan tidak karuan. Keadaan inilah yang dipertanyakan oleh Einstein. Ada ketidakberesan yang menurutnya bersumber dari soal pemenuhan kebutuhan hidup.

Di sinilah ia mulai menjelaskan kapitalisme secara singkat mulai dari kepemilikan privat kapitalis atas sarana produksi, ketidaksesuaian yang dihasilkan serta yang didapatkan oleh para pekerja, hingga bangkitnya oligarki.

Kira-kira beberapa perhatian Einstein soal kapitalisme adalah sebagai berikut. Pertama, Einstein menganggap produksi dalam kapitalisme bukanlah untuk kemanfaatan, namun keuntungan pemilik modal. Pemilik sarana produksi berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya sementara para pekerja dipaksa bersaing, kesulitan mencari kerja, dan kerap dihantui ancaman kehilangan pekerjaan. Nilai persaingan ini telah ditanamkan bahkan sejak dalam dunia pendidikan–bahwa untuk sukses di masa depan maka seseorang mesti menyelamatkan diri dengan mengorbankan yang lain.

Kedua, persaingan yang saling memangsa membawa kehancuran unit produksi yang tidak dominan dan pemusatan kapital ke tangan sebagian orang. Seperti oligarki yang perlu dukungan legal lewat perpolitikan demokrasi untuk menguasai perekonomian, orang-orang kaya juga membeli dukungan dan masuk gelanggang politik sehingga suara orang biasa khususnya kelas pekerja tak tersampaikan. Para penguasa ini dapat mengatur semua hal bahkan sistem pendidikan dan akhirnya juga memengaruhi kesadaran tiap individu.

Hal itu mengantarkan kita pada poin ketiga: yaitu lumpuhnya kesadaran individu. Menurut Einstein, ketergantungan manusia terhadap masyarakat merupakan hal yang alamiah. Namun, masalahnya, saat ini manusia yang sadar merasa tidak bergantung kepada masyarakat, bahkan masyarakat dianggap mengganggu hak pribadinya dan eksistensinya. Akibatnya, manusia secara egois berusaha sedemikian rupa terus-menerus memenuhi kebutuhan pribadi tanpa memikirkan orang lain dan masyarakat, apalagi lingkungan.

Konsekuensinya, kini manusia kerap merasa kesepian, sedih, dan kehilangan harapan. Sebab menurut Einstein manusia dapat menemukan makna hidup hanya melalui relasi timbal balik dalam aktivitas di masyarakat.

Merosotnya karakter manusia bagi Einstein merupakan dampak dari formasi ekonomi kapitalisme–yang menurutnya merupakan sumber kedurjanaan.

Tak seperti kebanyakan ilmuwan yang kerap memilih status quo, Einstein tak menyerah pada keadaan dan berusaha ambil sikap yang tegas. Ia paham betul meski manusia kerap merusak alam, namun manusia jugalah yang dapat menyelamatkannya. Lantas bagaimana pendapat Einstein untuk mengatasi permasalahan ini? Ia menjawabnya dengan ekonomi sosialisme yang disertai sistem edukasi yang berorientasi kemaslahatan sosial.

Bagaimana ekonomi sosialisme yang dibayangkan Einstein? Ia menggambarkan itu sebagai situasi ketika sarana produksi yang dimiliki masyarakat dimanfaatkan secara terencana. Perekonomian terencana yang mengatur produksi untuk pemenuhan kebutuhan komunitas ini akan mendistribusikan pekerjaan bagi mereka yang dapat bekerja dan menjamin penghidupan bagi semua orang.

Namun, Einstein memberikan catatan bahwa perekonomian terencana ini belum tentu merupakan sosialisme. Sebab perekonomian seperti ini rawan mengarah kepada penindasan individu atas nama kepentingan bersama. Di sini barangkali ia menyinggung Uni Soviet ala Stalin yang kala itu mendaku sebagai negara dengan sistem perekonomian sosialis yang, di sisi lain, banyak melanggar batas kemanusiaan.

Di akhir tulisan, Einstein memberikan tantangan kepada sistem sosialisme. Misalnya, bagaimana mencegah birokrasi menjadi sangat berkuasa dan melampaui batas? Lalu, bagaimana sosialisme melindungi hak-hak individu sehingga dengan demikian penyeimbang demokratis terhadap kekuasaan birokrasi dapat dijamin? Menurutnya inilah pekerjaan rumah yang mesti dijawab.

Sampai sini ada beberapa hal penting yang bisa didapat. Pertama, Einstein membuktikan bahwa ilmu pengetahuan beserta para ilmuwan tak terlepas dari relasi serta struktur masyarakat yang menjadi prasyarat keberadaannya, yaitu kapitalisme. Einstein berpendapat bahwa ilmuwan yang tak berfokus di ilmu sosial pun boleh berargumen tentang ekonomi dan hal-hal kemasyarakatan. Pasalnya, secara esensial, metode ilmu alam dan ilmu sosial kurang lebih sama namun objek penelitiannya saja yang berbeda. Bahkan setiap orang terlepas ilmuwan atau bukan, menurut Einstein, boleh berpendapat karena hampir semua orang sekarang ini bersentuhan dengan kapitalisme.

Kedua, Einstein menerangkan bahwa ilmu pengetahuan hanyalah alat yang tergantung pada pemanfaatnya. Ia menambahkan bahwa sains tak pernah memiliki tujuan dan manusialah yang memberikannya.

Dengan ini, pertanyaan Einstein di atas justru harusnya terjawab dengan jelas: perkembangan sains yang melahirkan berbagai kemajuan teknologi semestinya memudahkan kita memantau berlangsungnya organisasi birokrasi. Dengan sains, hal-hal dapat dijalankan dengan terukur dan bekerja secara objektif. Di sinilah Einstein memberikan kita salah satu cara untuk mencapai sosialisme, yaitu melalui ilmu pengetahuan.

Ketiga, apa yang terjadi di masa Einstein hidup sebenarnya masih terjadi hari ini. Namun, kenyataan empiris hari ini lebih pelik ketimbang pertengahan abad ke-20. Di posisi ini, dalam melihat realita kehidupan kapitalisme, kita bukan saja dihadapkan pada realitas abu-abu. Dalam perkembangannya, kapitalisme beradaptasi dengan nilai-nilai moral masyarakat yang ada sehingga hari ini eksploitasi seakan tak hadir di dalam hidup sehari-hari. Ia hadir dengan tampilan terbaiknya, tak seperti wajahnya yang dahulu. Kedurjanaan atau kejahatan kapitalisme yang disebutkan Einstein seakan tak ada karena ia tak kasat mata.

Situasi ini memudahkan para pendukung kapitalisme untuk mematahkan pandangan Einstein bahwa ada yang tak beres dengan kondisi masyarakat. Ranah etika yang di dalamnya berdiri moral dan norma dari kebudayaan akhir-akhir mendominasi pemikiran. Walhasil, apabila Bill Gates dan Elon Musk bersedekah, maka disimpulkan begitu saja bahwa sejatinya sistem kapitalisme itu baik adanya. Ini tak bisa disalahkan, sebab otak manusia cenderung memilih fakta secara selektif.

Di sinilah letak penting dari ilmu pengetahuan dan edukasi, khususnya dalam memberikan fakta objektif yang dapat diterima serta dipahami semua orang. Fakta objektif itu adalah bahwa kapitalisme mengandung kontradiksi internal yang membahayakan masa depan umat manusia. Sains dapat menggambarkan realita objektif secara jernih di luar bias moral dan norma. Selain itu, lewat sains pula kemaslahatan sosialisme mesti dibuktikan agar orang-orang mendukung untuk mewujudkannya.

Kapitalisme bagaikan kotak pandora yang ketika dibuka tak hanya menciptakan semua masalah di bumi, tapi juga meninggalkan kita harapan. Tentu saja harapan akan bentuk masyarakat yang lebih baik yaitu sosialisme.

Kabar baik akan harapan inilah yang mesti diwartakan kepada semua dengan segala cara dan diupayakan bersama mengingat perubahan menuju masyarakat yang baru tak jatuh dari langit. Ia dibangun dari reruntuhan mode produksi yang telah ada sebelumnya. Sejarah membuktikan bahwa keruntuhan tiap mode produksi tak terjadi dengan sendirinya dan dalam waktu semalam, tapi lewat pengupayaan dan perjuangan kelas yang panjang.

Tulisan Einstein ini mengingatkan kita kepada kata-kata Engels dalam Socialism: Utopian and Scientific (1880), bahwa penyebab perubahan akhir dari semua perubahan sosial dan revolusi politik tidaklah dicari di dalam kepala manusia atau ide-ide moral kebenaran serta keadilan abadi, namun di dalam perubahan mode produksi. Artinya, sosialisme yang dituju tidak ditemukan dari awang-awang, melainkan dari kondisi nyata yang eksis hari ini. Engels menambahkan di akhir tulisan bahwa tugas gerakan kaum proletariat ialah memberikan pengetahuan penuh tentang kondisi hari ini dan materialisme dialektis historis yang merupakan sosialisme ilmiah kepada segenap proletariat lainnya yang tertindas, yang kelak pengetahuan itu mesti diamalkan secara nyata.

Albert Einstein wafat karena pendarahan akibat aneurisma aorta perut pada 18 April 1955. Meski telah tiada, warisannya dalam dunia pengetahuan tak ternilai harganya. Einstein memberikan contoh dari sikap yang mesti dimiliki setiap ilmuwan, yaitu membela kemaslahatan umat manusia. Tanpa menyebut dirinya seorang Marxis, Einstein adalah seorang Marxis.

Seperti pesan Marx kepada Paul Lafargue: ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi kesenangan pribadi dan siapa saja yang beruntung dapat mengabdikan diri pada tujuan ilmu pengetahuan haruslah yang pertama menempatkan pengetahuan mereka untuk melayani kemanusiaan. Maka, bekerjalah untuk kemanusiaan.***

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.