Marxisme dan League of Shadows

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Jonpey


DI SEBUAH MASA yang tak terlalu jauh, Bruce, seorang anak konglomerat asal Kota Gotham yang seumur hidup merasa bersalah atas kematian ayah ibunya, melancong keliling dunia. Ketika terjeblos di salah satu penjara di Bhutan, ia berjumpa dengan seorang bernama Ducard. Bruce, yang di selama ini menyimpan banyak kemarahan dan dendam, merasa menemukan sosok guru dari pria yang mengaku dapat melihat potensi dalam dirinya. Kelak Bruce menyadari bahwa Ducard adalah Ra’s al Ghul, seorang pemimpin organisasi rahasia kuno yang bernama League of Shadows.

Konon, League of Shadows telah berulang kali memorakporandakan Roma, menyebarkan Wabah Hitam ke Eropa hingga menyebabkan kebakaran hebat London dan lain-lain. Lho kok begitu? Inilah tujuan League of Shadow beserta prinsip para anggotanya yang setia: Memantau jalannya peradaban, mencari ketidakadilan dan mengamati dekadensi. Tak hanya itu, karena yakin bahwa merekalah para laskar penjaga keseimbangan dunia, League of Shadows tak segan membuat serangkaian rencana rahasia untuk menghancurkan sampai bersih peradaban yang melenceng.

Buat Anda yang merupakan fans DC Comics dan khususnya Batman, pasti kenal betul Ra’s al Ghul beserta League of Shadows. Tapi buat Anda yang bukan tapi tahu sejarah Eropa khususnya Prancis, League of Shadows pasti mengingatkan kepada salah satu kelompok revolusioner bernama Blanquis—yang diambil dari nama sang guru, Louis Auguste Blanqui.

Blanqui telah menjadi seorang komunis tulen bahkan sebelum Karl Marx dan Friedrich Engels. Blanqui mengabdikan diri untuk perjuangan proletariat hingga menghabiskan 33 dari 67 tahun hidupnya di hampir 30 penjara.

Blanqui merupakan anak cerdas yang lahir di Puget-Théniers, Alpes Maritimes, Prancis pada 1 Februari 1805. Ia dikirim sekolah ke Paris dan pada 1824 lulus dari Lycee Charlemagne dengan predikat siswa berprestasi. Blanqui lalu mengambil studi tentang hukum dan kesehatan sekaligus di Universitas Sorbonne pada 1826.

Blanqui rajin mengikuti demonstrasi menentang Dinasti Bourbon yang kembali sepeninggal Napoléon Bonaparte setahun setelah resmi berstatus sebagai mahasiswa. Setelah Revolusi Juli yang memindahkan kekuasaan dari Keluarga Bourbon ke keluarga bangsawan lain yaitu Orleans, Blanqui bergabung dengan organisasi bernama Societe des Amis du People (Society of the Friends of the People). Ia pun mempelajari ide-ide radikal dari tokoh-tokoh era sebelumnya yang kelak banyak memengaruhi pemikirannya, mulai dari Jean-Jacques Rousseau, Filippo Buonarroti, Gracchus Babeuf dan Robespierre.

Blanqui adalah anak kandung Revolusi Prancis yang panjang dan berliku. Karenanya ia meyakini bahwa kedaulatan merupakan keinginan dan kumpulan dari tindakan kolektif rakyat untuk kehendak bersama. Ia juga meyakini kedaulatan sebagai basis untuk hukum serta otoritas sebuah negara.

Namun, bagaimana caranya menyatukan banyak kepala agar mengetahui apa yang sesungguhnya diperlukan mereka dan merealisasikan kehendak bersama tersebut? Satu-satunya cara adalah ia mesti diarahkan oleh satu lembaga tertentu. Oleh Robespierre, Jacobin, Babeuf dan lingkarannya, gagasan ini direalisasikan lewat organisasi kekerasan dan kelompok rahasia sepanjang akhir abad ke-18. Meski akhirnya Robespierre dipenggal guillotine dan Babeuf dikhianati, metode mereka memengaruhi pemikiran Blanqui.

Blanqui menyadari akan konsep perjuangan kelas dan pentingnya sebuah perlawanan langsung. Ia yakin untuk membangun pemerintahan rakyat diperlukan sebuah kelompok konspirator rahasia yang militan, setia dan disiplin. Ia pun menginisiasi kelompok seperti itu, misalnya Societe des Familles (Society of Families) dan Societe des Saisons (Society of the Seasons).

Kelompok tersebut pertama kali melancarkan aksi pada 12 Mei 1839. Hari itu kurang lebih lima ratus revolusioner bersenjata menyerbu Hôtel de Ville di pusat kota Paris dan memproklamasikan diri merekalah otoritas Prancis yang baru.

Mereka berharap para warga ikut berpartisipasi, namun nyatanya hanya sekitar delapan ratus orang bergabung dan perlawanannya ditumpas hanya dalam dua hari.

Blanqui dan komplotannya yang sempat melarikan diri akhirnya dipenjara di pesisir Normandia. Blanqui berhasil melarikan diri dari rumah sakit penjara di Tours dan kembali ke Paris.

Di Paris, ia berkecimpung dalam Revolusi 1848 dengan mendirikan Societe Republicane Centrale (Central Republican Society). Ia berusaha mendorong pemerintahan sementara untuk menerapkan kebijakan sosialis namun menentang pemilihan umum karena menurutnya rakyat belum siap.

Kaum konservatif pun menguasai majelis konstituante dan akibatnya Blanqui dijebloskan lagi ke penjara. Ia dibebaskan pada 1859 dan dijebloskan kembali pada 1861 karena menginisiasi, lagi-lagi, kelompok konspirator rahasia. Ia dikurung hanya empat tahun karena berhasil melarikan diri ke Belgia.

Ketika Napoleon III menyerah di Pertempuran Sedan dalam perang Prancis-Prusia 1870, terjadi revolusi damai di Paris yang melahirkan Republik Ketiga. Blanqui memanfaatkan itu dengan menginisiasi gerakan bernama La Patrie en Danger (Our Country in Danger) yang mencoba menggulingkan pemerintahan pada 31 Oktober 1870. Ia menciptakan huru-hara tapi gagal lagi.

Hampir dihukum mati, Blanqui diselamatkan oleh merebaknya Komune Paris. Dalam pemerintahan proletar pertama di dunia tersebut ia diangkat sebagai presiden meski tak dapat berpartisipasi langsung karena berada di penjara. Seiring runtuhnya Komune, Blanqui pun pensiun dari petualangan-pemberontakannya.

Sekilas kita bisa melihat kesamaan Blanqui dan Marx-Engels (beberapa kali Marx memujinya). Mereka bertiga sama-sama berjuang demi proletariat, berniat mengganti tatanan kapitalisme dan berusaha melampaui filsafat lewat gabungan teori-aksi. Namun, diamati lebih mendalam, ada beberapa perbedaan kentara. Salah satunya perihal pandangan Blanqui bahwa kelompok minoritas proletariat yang “tercerahkan” dapat mewakili mayoritas dalam revolusi dan dalam kediktatoran proletariat.

Ide ini didasarkan oleh pemahaman teori politik Blanqui perihal kehendak yang sadar, yaitu kemampuan nalar yang membedakan manusia dengan hewan lain. Dibutuhkan pendidikan dan pencerahan untuk mencapai pembebasan, sebab selama ini kelas berkuasa selalu memanfaatkan ketidaktahuan yang ditindas dengan konsep kesadaran palsu. Maka menurutnya perlu adanya arahan dari kepemimpinan para revolusioner untuk mencerahkan khalayak umum yang dianggap belum sadar, misal lewat propaganda dan pendidikan.

Namun, karena represi politik, proyek pencerahan pun beralih menjadi cara-cara konspirasi sebab menurutnya tanpa pencerahan dari para elite revolusioner untuk massa rakyat tak mungkin akan ada progres yang revolusioner. Lalu kelompok minoritas proletariat ini pun dapat mengambil tindakan sepihak mengatasnamakan rakyat alih-alih berjuang bersamanya. Ini dapat kita saksikan dari kisah penyerbuan Hôtel de Ville.

Cara berpikir Blanqui nampak heroik dan cenderung meyakinkan. Namun, apabila kita telaah lebih dalam, ternyata berlubang. Pertama, prinsip bahwa kehendak manusia merupakan aspek utama yang memengaruhi jalannya sejarah tidak sejalan dengan pandangan Marx-Engels. Dalam materialisme dialektika historis, walau pada kondisi tertentu mampu mengondisikan lingkungannya dan sekaligus sebagai pencipta dari bentuk masyarakat, manusia terkondisikan oleh alam dan bentuk masyarakatnya.

Contoh saja: ide dalam tulisan ini tak mungkin mengada tanpa keberadaan saya, yang untuk berpikir serta mengetiknya perlu listrik, laptop, buku, nasi uduk dan es teh manis. Semua itu membuktikan bahwa saya bergantung pada prakondisi alam—bahwa saya mesti makan—dan bentuk masyarakat kapitalisme yang memungkinkan adanya listrik dan laptop. Maka bukanlah kesadaran manusia yang menentukan keberadaan sosialnya, namun keberadaan sosial-lah yang menentukan kesadaran. Alih-alih seorang materialis, Blanqui malah menjadi voluntaris dan terjatuh dalam idealisme.

Cara berpikir idealisme tersebut berimplikasi terhadap pilihan strategi yang digeluti. Dapat kita lihat bagaimana dia lebih mengutamakan nilai-nilai moral revolusioner ketimbang perhitungan logis. Blanqui pun mengambil tindakan atau aksi tanpa mempertimbangkan hal-hal yang menjadi prakondisi.

Dalam perjuangan melawan borjuasi, kesadaran kelas pekerja mesti hadir dan partisipasi langsung proletariat perlu diwadahi. Bukan seperti organisasi rahasia eksklusif yang cenderung menjadi elitis, namun organisasi massa yang inklusif, transparan dengan struktur yang demokratis.

Kita dapat saksikan sendiri pesan dari perjuangan organisasi konspirasi yang dibangun Blanqui cenderung tak mudah diterima oleh khalayak yang sama sekali tak mengerti apa yang tengah terjadi. Akibatnya, dalam waktu singkat saja brigade para minoritas revolusioner tersebut mampu dipatahkan lawan.

Selain strategi dan taktik, peluang kemenangan dalam pertempuran juga dikondisikan oleh banyaknya pasukan. Banyaknya pasukan tentu saja bisa didapatkan lewat kerja-kerja organisasi revolusioner yang hari ini dapat dilakukan lewat berbagai opsi. Mulai dari media-media alternatif, pendidikan kritis, aksi hingga advokasi yang mana sanggup mewartakan langsung bagi seluruh pekerja suatu kenyataan bahwa kehidupan dalam corak produksi kapitalisme tak baik-baik saja.

Setelah memberikan pidato di Paris, Blanqui terserang strok dan wafat pada 1 Januari 1881. Ia meninggalkan sebuah warisan yang tidak biasa: ingatan bahwa teori mesti menjadi sebuah aksi nyata dan selama borjuasi masih berkuasa tak akan ada kata berhenti untuk melawan. Inilah setidaknya yang patut kita contoh dari sang revolusioner.

Pertanyaan terakhir yang mungkin tak terjawab yaitu apakah mungkin Blanqui juga pernah menjadi anggota League of Shadows?  Atau bahkan mungkin Blanqui adalah Ra’s al Ghul itu sendiri? Sebab apa yang menjadi prinsip Blanqui juga pernah dikatakan Ra’s al Ghul saat melatih Bruce bertarung satu lawan satu: Latihan bukanlah apa-apa, tapi kemauanlah segalanya, kemauan untuk beraksi.

Bruce Wayne pun menjadi Batman yang akhirnya berhadapan langsung dengan organisasi, mantan gurunya,  Ra’s al Ghul, hingga murid dari sang guru, Bane, karena mereka sama-sama berusaha menghancurkan Kota Gotham. Keduanya pun ditumpas hanya dalam beberapa hari oleh sebuah gerakan massa yang punya kesadaran bersama melawan penindasan dan tentu saja modal yang mumpuni.

Dengan demikian, alangkah bijaknya jika kata-kata Ra’s al Ghul di atas diperbaiki: Latihan adalah segalanya, kemauan pun juga, namun kemauan untuk beraksi perlu dilengkapi dengan persiapan matang dan pertimbangan akan kondisi nyata hari ini.***

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.