Korporatokrasi: Negara Sebagai Pengabdi Perusahaan (Bagian III)

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Jonpey


Tulisan berseri ini pernah diterbitkan di terbitan Walhi dan didiskusikan di Walhi, dan juga sebagai catatan dan status Facebook penulis. Disusun di tengah peningkatan dan percepatan intensitas penindasan kaum kiri di Amerika Selatan, Karibia, dan Indonesia oleh kaum kanan (dalam kasus Indonesia, dan dalam perspektif ekonomi-politik, saya tidak mengidentikkan kaum kanan sebagai kubu 212. Prabowo dan tentara, Jokowi dkk. bisa dikategorikan sebagai kaum kanan—mungkin ada yang mengkategorikan kurang kanan (lesser evil), tapi yang jelas bukan kurang kiri).


Neoliberalisme dan Globalisasi Krisis

SPEKULAN finansial kelas kakap seperti George Soros bahkan merasa khawatir bahwa “globalisasi” dan kebijakan “pasar bebas” neoliberal yang sudah diberlakukan akan mengesampingkan partisipasi rakyat pekerja, dan menggantikannya dengan hukum kapital yang akan membangkitkan “keresahan sosial yang massal”. Demikian pula dengan majalah The Economist yang jelas-jelas merupakan juru bicara paling gigih kapitalisme sejak pertama kali diterbitkan pada awal abad ke-19:


Dalam bidang ekonomi, dunia sudah ditata menjadi satu kesatuan aktivitas. Dalam bidang politik, masih saja terpecah-pecah. Tekanan antara kedua kecenderungan antitesis yang saling berlawanan tersebut telah menghasilkan runtutan pukulan dan kejutan yang menghancurkan kehidupan sosial manusia.”[1]


The Economist sebenarnya merujuk pada krisis ekonomi yang lebih besar dari The Great Depression, yang dirasakan oleh seluruh negeri kapitalis. Krisis ini bahkan melebihi sederet krisis keuangan dan kejatuhan ekonomi seperti di Jepang (1989), Mexico (1994), Korea Selatan, Thailand, Indonesia (1997), serta Rusia (1998). Sebut saja salah satu contoh menyedihkan: kenaikan suku bunga di Amerika mendorong kenaikan suku bunga di seluruh dunia, merusak nilai kredit-bermanfaat negeri-negeri yang berutang banyak. Negeri-negeri yang bermodal minim mencoba untuk mengekspor barang guna mencari jalan keluar dari krisis keuangannya. Namun proteksionisme meningkat, beban utang menjadi semakin berat, kegagalan demi kegagalan memaksa sistim keuangan internasional semakin menegang. Pemotongan upah dan rencana-rencana penghematan lainnya, yang nampaknya dianggap sebagai solusi yang paling “realistik” bagi setiap orang, justru semakin membuat kacau pesoalan. Ekonomi pinggiran, yang cadangan keuangannya tak memadai, menunda pembayaran-pembayarannya karena kondisi kapital yang kabur (capital flight).


Fidel Castro pernah mengatakan:


Di Amerika Latin, di mana neoliberalisme diterapkan sebagai lampiran doktrin, pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan pada tahap/masa neoliberal tidaklah lebih tinggi ketimbang yang dicapai oleh kebijakan pembangunan (negara) sebelumnya. Setelah PD II, Amerika Latin tak memiliki utang sama sekali. Tapi sekarang ia berhutang sebesar 1 trilyun dolar. Itu merupakan utang per kapita tertinggi di dunia. Kesenjangan pendapatan antara si kaya dengan si miskin juga terbesar di dunia. Saat ini, Amerika Latin mengalami masa yang paling berat sepanjang sejarahnya karena semakin banyak orang miskin, pengangguran, dan yang kelaparan.


Sesungguhnya di bawah kebijakan neoliberalisme ekonomi dunia ternyata tidak mengalami pertumbuhan yang pesat, tapi malah lebih sering tidak stabil, lebih banyak spekulasi. Kita menyaksikan pula peningkatan utang luar negeri dan pertukaran/perdagangan yang tak setara. Demikian juga terdapat kecenderungan krisis keuangan yang lebih besar semakin sering, sementara kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan antara negeri-negeri Utara (yang makmur) dengan negeri-negeri Selatan (yang dimiskinkan) malah makin melebar. Dalam dua tahun terakhir ini, krisis, instabilitas, kekacauan dan ketidakpastian merupakan kalimat yang biasa digunakan untuk menjelaskan tatanan ekonomi dunia. Deregulasi—yang melekat dalam neoliberalisme—dan liberalisasi nilai kapital telah memberikan dampak negatif yang sangat mendalam terhadap ekonomi dunia karena mengakibatkan ledakan spekulasi mata uang dan pasar-pasar yang terkena dampaknya, yang transaksi hariannya (sebagian besar spekulatif) bernilai tak kurang dari 3 trilyun dollar.[2]


Mengikuti semua penjelasan di atas tentang perluasan kapitalisme berserta krisisnya, maka keniscayaan korporatokrasi jadi nampak. Globalisasi neoliberal tak lain dan tak bukan adalah globalisasi (perluasan ke seluruh penjuru dunia) kebijakan-kebijakan ekonomi dan sosial neoliberal. Namun kebijakan-kebijakan tersebut tidak memperlemah kekuasaan negara-bangsa atas rakyat pekerja, dan tidak juga memperlemah kekuasaan negara-bangsa imperialis, khususunya Amerika Serikat. Malah sebaliknya, mereka menjamin pasar penjuru dunia lainnya dibuka bagi barang-barang dan investasi mereka. Penyusun kebijakan imperialis yang ada di Washington mengerti betul bahwa kekuatan kekerasan yang terorganisir, sebagai esensi kekuasaan negara, merupakan alat yang sangat dibutuhkan (krusial) dalam penerapan kebijakan ekonomi, dan merupakan instrumen yang menentukan dalam memutuskan siapa yang akan jadi pemenang dan siapa yang akan menjadi pecundang dalam kompetisi global akumulasi kapital di antara geng pengeruk keuntungan yang saling berseteru (siapapun yang ragu akan hal tersebut harus mengujinya dengan pengalaman ekonomi Irak sejak Perang Teluk). Alih-alih pelemahan kekuasaan negara-bangsa, dalam era globalisasi neoliberal kita menyaksikan bagaimana kapital Amerika Serikat terus menerus memperkuat kekuasaan represif negara-bangsanya dengan meningkatkan pembelanjaan untuk mesin-mesin militernya melebihi seluruh pembelanjaan militer enam negeri kuat yang ada sekarang ini.

Organisasi-organisasi penguasa imperialis yang terus memaksakan kebijakan-kebijakannya kepada negeri-negeri kapitalis berkembang, seperti World Bank, IMF dan lainnya, sebenarnya bukanlah lembaga-lembaga yang anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang kebangsaan. Lembaga-lembaga tersebut sebenarnya merupakan cerminan kekuasaan negara-bangsa imperialis, terutama yang paling kuat dalam ekonomi global, yaitu Amerika Serikat, dan secara langsung ataupun tak langsung, merupakan cerminan perusahaan-perusahaan besar multinasional—cerminan korporatokrasi (rahasia atau terbuka).


Hanya ada dua pilihan. Pertama, agar keseluruhan sistem kapitalisme tidak ambruk, kita turut membantu memperpanjang hidup kapitalisme dengan mendukung perampokan fiskal (bailout), seraya menuntut tetesan jaring pengaman sosial. Hasilnya bisa dinikmati selagi kita masih hidup. Atau kedua, menggulingkan sistem kapitalisme dengan mempercepat persatuan di kalangan kiri dan/dengan kalangan progresif guna mempercepat pembentukan/perluasan kekuatan alternatif rakyat mandiri: alternatif dan mandiri terhadap kekuatan-kekuatan politik lama dan reformis gadungan. Hasilnya belum tentu bisa dinikmati selagi kita masih hidup.[3] Tak ada pilihan lain.***


Kepustakaan


[1][1] Lihat Doug Lorimer, Serangan Global Imperialisme dan Kemungkinan Perlawanannya, Jurnal Kiri, Tahun I, No.1, Juli 2000, hal. 115-116.

[2] Fidel Castro Ruz, Globalisasi Neoliberal dan Dunia Ketiga, pidato Fidel Castro Ruz, Presiden Dewan Negara dan Dewan Menteri Republik Kuba, yang disampaikan pada Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin-pemimpin Negara-negara Selatan yang tergabung dalam Kelompok 77, Havana, 12 April, 2000.

[3] Kontradiksi kapitalisme, bagaimanapun juga, tidak bisa dihilangkan dalam kerangka-kerja kapitalisme, tak peduli seperti apapun demokrasi politik yang dijejalkannya. Kontradiksi tersebut hanya bisa diakhiri bila perbudakan tenaga kerja manusia oleh hukum-hukum pasar diakhiri dan digantikan oleh sosialisasi tenaga produktif (termasuk tenaga kerja manusia), yang diabdikan pada pengawasan demokratik, agar tenaga produktif (termasuk tenaga kerja manusia) tersebut dapat diorganisir secara kolektif. Dengan kata lain, apabila kapitalisme digantikan dengan sosialisme.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus