Akumulasi Kapital dan Perampasan Otonomi atas Tubuh Perempuan

Print Friendly, PDF & Email

Judul              : Caliban and The Witch: Women, the Body and Primitive
Accumulation
Penulis           : Silvia Federici
Penerbit         : Autonomedia
Ketebalan      : 285 halaman
Edisi               : 2014, edisi revisi


DALAM literatur Marxisme klasik, periode transisi dari feodalisme ke kapitalisme disebut ‘akumulasi primitif’. Disebut primitif karena ia adalah awal mula dari akumulasi-akumuasi yang terjadi setelahnya. Karl Marx menyebut akumulasi primitif “tidak lain adalah proses historis untuk menceraikan produsen dari alat-alat produksi.” Mereka menjadi “penjual diri sendiri”—atau proletariat—lewat sistem kerja upahan. Masa transisi ini tidak terjadi dengan damai tentram. Marx menggambarkan periode ini “ditulis dalam huruf-huruf darah dan api” dalam sejarah.

Kelak tesis ini dikritik oleh Silvia Federici, satu scholar cum activist feminis terkemuka yang banyak membahas keterkaitan antara patriarki dan kapitalisme, juga salah satu yang memelopori gerakan ‘Wages for Housework’ di tahun 1970an,[1] lewat buku berjudul Caliban and The Witch: Women, the Body and Primitive Accumulation yang terbit pertama kali pada 2004 lalu. Menurutnya, tesis akumulasi primitif Marx tidak membahas secara mendetail soal jenis perampasan lain yang juga terjadi pada masa itu, yaitu perampasan otonomi perempuan atas tubuhnya sendiri.

Ia mengajukan tesis bahwa akumulasi primitif berupa kontrol atas tubuh perempuan, baik oleh negara maupun kapital, merupakan faktor penting dari keberlangsungan dan perkembangan kapitalisme bahkan hingga saat ini.

Perampasan otonomi atas tubuh perempuan terjadi dalam tiga bentuk. Pertama, pembagian kerja secara seksual yang meletakkan kerja dan fungsi reproduksi perempuan ke dalam reproduksi tenaga kerja. Kedua, pembentukan tatanan patriarkal baru berdasarkan pada eksklusi perempuan dari kerja upahan dan subordinasi dari laki-laki. Ketiga, kontrol atas tubuh berupa mekanisasi tubuh perempuan bagi produksi tenaga kerja baru (hlm. 12). Ketiga bentuk tersebut membuat pembagian kerja secara seksual hingga saat ini membatasi perempuan pada kerja-kerja yang bersifat reproduktif semata, yang tidak dimasukkan ke dalam relasi kerja upahan dan bahkan tidak dianggap sebagai kerja, padahal menempati posisi yang amat penting bagi akumulasi kapital (Federici, 2014; Fraser, 2017).

Federici memusatkan analisis mengenai perkembangan kapitalisme tersebut pada abad ke 16 dan 17 di Eropa, tepatnya pada periode ‘great witch-hunt’ atau perburuan besar-besaran terhadap perempuan yang dianggap jahat. Ia mengatakan witch-hunt tidak lain adalah kunci dalam membaca proses akumulasi primitif, yang merupakan ‘original sin’ atau dosa asal kapitalisme (Marx, 1887).

Tinjauan buku ini dibagi ke dalam lima bagian. Pertama, kritik Federici atas analisis Marx mengenai akumulasi primitif. Kedua, witch-hunt, kontrol atas tubuh perempuan, dan akumulasi kapital. Ketiga, devaluasi kerja perempuan dan ‘patriarchy of wage’. Keempat, meletakkan ketiga hal tersebut untuk menganalisis konstruksi sosial dalam kapitalisme-patriarkal yang berlaku hingga saat ini: bahwa kerja reproduksi sosial merupakan ‘kerja perempuan’ atau tanggung jawab perempuan semata. Dan terakhir, penutup.


Perempuan pada Masa Feodalisme Eropa dan Kritik atas Akumulasi Primitif Marx

Pembagian kerja secara seksual para hamba di desa-desa Eropa pada masa feodalisme cenderung tidak kentara karena semua pekerjaan dilakukan secara subsisten, meski bukan berarti bahwa relasi di dalam feodalisme setara untuk semua. Perjuangan perempuan bersama komunitasnya dalam melawan kuasa para tuan tanah menjadi penentu dari adanya kerja-kerja subsisten yang cenderung tidak mengisolasi perempuan tersebut (hlm. 25).

Pada masa itu, perlawanan hamba terhadap tuan tanah adalah hal umum. Bahkan, gerakan untuk melawan perampasan tanah yang dimulai sejak akhir abad ke-15 dan terus berlanjut hingga abad ke-17 menjadi hal yang paling umum dari ‘protes sosial’ sekaligus merupakan simbol dari konflik kelas pada masa itu (hlm. 73). Perjuangan-perjuangan tersebut pun membuahkan hasil bagi perempuan, yaitu mereka lebih banyak memperoleh otonomi sehingga keberadaan di dalam kehidupan sosial semakin sering direkam dan diabadikan.

Kehadiran perempuan dalam perjuangan semakin meningkat terutama pada era Jacobean (hlm. 73), yang mengacu pada periode sejarah Inggris dan Skotlandia pada masa pemerintahan James VI (1603–1625). Sebagai pihak yang memiliki akses terbatas terhadap tanah dan sangat bergantung pada otonomi, subsistensi, dan sosialitas, perempuan semakin menderita seiring semakin meningkatnya perampasan lahan dan hilangnya komunitas desa. Segera setelah tanah diprivatisasi dan relasi moneter mulai mendominasi kehidupan ekonomi, para perempuan lebih susah untuk mendukung diri sendiri (hlm. 74).

Ada tiga hal yang tak dijelaskan oleh Marx mengenai proses akumulasi primitif ini, kata Federici. Pertama, perkembangan pembagian kerja secara seksual yang baru, yang menundukkan tenaga kerja perempuan dan fungsi reproduktif mereka untuk mensuplai tenaga kerja; kedua, pembangunan tatanan patriarkal baru berdasarkan pengecualian para perempuan dari pekerjaan upahan dan subordinasi mereka terhadap laki-laki; dan terakhir, mekanisasi tubuh proletar perempuan dan transformasinya menjadi mesin untuk memproduksi tenaga kerja baru.

Perkembangan-perkembangan ini penting karena di dalam kapitalisme, buruh menempati posisi yang fundamental dalam kekayaan sosial—beda dengan era feodalisme di mana yang menentukan kekayaan sosial ialah tanah. Kapitalisme tidak mungkin eksis tanpa adanya akumulasi kapital dan tenaga kerja, dan keduanya hanya dimungkinkan karena dua kondisi: dikuasainya lahan serta alat-alat produksi, dan akumulasi tenaga kerja dengan adanya reproduksi tenaga kerja. Dengan kata lain, dalam kapitalisme, terjadi transformasi posisi sosial perempuan.

Untuk lebih spesifik, analisis Marx mengenai akumulasi primitif tidak menyebutkan peristiwa ‘great witch-hunt’ pada abad ke 16 dan 17, sebagai faktor historis yang krusial, yang menjadi penentu perkembangan kapitalisme hingga saat ini. Witch-hunt juga membuat perempuan semakin kehilangan otonomi atas dirinya sendiri karena semakin dikontrol oleh negara dan kapital.


Witch-Hunt, Kontrol atas Tubuh Perempuan, dan Akumulasi Kapital

Salah satu bentuk otonomi perempuan-hamba atas dirinya sendiri pada era feodalisme adalah otonomi atas prokreasi atau reproduksi atau melahirkan anak. Mereka biasa dibantu oleh dukun beranak yang membantu perempuan melahirkan dan atau menggugurkan kandungannya (hlm. 183). Para perempuan yang membantu perempuan lain ini biasanya petani yang digusur pada masa awal kapitalisme.

Para perempuan inilah yang lantas dilabeli witch atau tukang sihir. Witch seringkali dilihat sebagai figur mistis yang merepresentasikan sosok matriarkal yang terkait erat dengan relijiusitas, namun lantas didemitologisasi oleh Federici, sebagaimana pembacaannya atas sejarah, sebagai perempuan petani biasa. Kelak, oleh para feminis, para perempuan–yang disebut dengan witch—yang membantu perempuan lain ini ditetapkan sebagai simbol perlawanan dan revolusi.

Lantas muncullah witch-hunt, yang menurut Federici merupakan inisiatif negara. Witch-hunt terjadi bersamaan dengan periode perdagangan budak. Pada periode paling intensif, terjadi ribuan percobaan witch-hunt banyak negara Eropa. Para feminis menyebut mungkin ratusan ribu perempuan dibantai karena dituduh witch, ataumenurut Federici menjadi korban witch-burning.

Witch- hunt yang pada mulanya terjadi di Eropa kemudian juga terjadi di berbagai tempat lain, seperti Afrika dan negara-negara koloni Amerika.

Mayoritas yang dituduh witch adalah perempuan petani miskin, sedangkan yang menuduh mereka adalah anggota komunitas kaya (hlm. 171). Karena itu Federici mengatakan periode ini juga menunjukkan ketakutan kelas pemilik properti terhadap perempuan kelas bawah (hlm. 87). Federici juga menyebut witch-hunt sebagai bentuk perang yang sejati melawan perempuan.

Lalu apa tujuannya? Tidak lain adalah agar tak ada lagi yang mengerem reproduksi tenaga kerja. Sebagaimana sudah disinggung di atas, pada masyarakat kapitalis, kekayaan terletak pada tenaga kerja. Witch-hunt, kata Federici, meletakkan tubuh perempuan sebagai pelayan bagi peningkatan populasi dan produksi serta akumukasi tenaga kerja (hlm.  181). Federici yakin bahwa witch-hunt dipromosikan oleh kelas politik yang yakin bahwa populasi yang besar merupakan sumber kekayaaan sosial (hlm. 181). Keberadaan witch, dengan kata lain, merupakan penentang dan membahayakan struktur sosial baru saat itu.

Untuk menegaskan tujuan itu, pada pertengahan abad 16, semua pemerintahan di Eropa juga mulai menerapkan hukuman yang kejam bagi mereka yang menerapkan kontrasepsi, aborsi, dan yang mandul (hlm. 88).

Selain memperbanyak barisan tenaga kerja, witch-hunt juga menandai hilangnya otonomi perempuan atas prokreasi (hlm. 89) dan prakondisi bagi subordinasinya tubuh perempuan pada reproduksi tenaga kerja (hlm. 184).

Lebih jauh, witch-hunt sebenarnya merupakan cara utama bagi sebuah restrukturisasi yang lebih besar terhadap kehidupan sosial, agar sesuai dengan disiplin kerja dari sistem kapitalis (hlm. 194). Dengan kata lain, witch-hunt merupakan proses persekusi yang mencapai banyak tujuan. Secara fundamental, witch-hunt merupakan serangan pada kehidupan secara keseluruhan meski yang dijadikan target ialah perempuan. Witch-hunt juga memperdalam pemisahan serta segregasi sosial di antara perempuan dan laki-laki, serta merusak praktik-praktik, kepercayaan-kepercayaan, atau subjek-subjek sosial yang keberadaannya tidak cocok dengan disiplin kerja kapitalis (hlm. 165).

Witch-hunt, pada akhirnya, menunjukkan bahwa upaya untuk mendisiplikan tubuh perempuan merupakan aspek penting dari akumulasi primitif dan juga pembentukan proletariat modern (hlm. 165). Semenjak akhir abad 18, rahim perempuan menjadi wilayah publik, dikontrol oleh laki-laki dan negara, dan diletakkan langsung sebagai pelayan bagi akumulasi kapital (hlm. 89).


Devaluasi Kerja Perempuan dan Upah yang Patriarkis

Menurut saya, analisis mengenai witch-hunt merupakan tesis terpenting dalam buku ini. Pembacaannya sangat membantu untuk memahami mengapa perampasan otonomi atas tubuh perempuan menjadi begitu krusial dalam akumulasi kapital. Tesis tersebut mengantarkan pada penjelasan mengenai mengapa kemudian kerja perempuan mengalami devaluasi dan mengapa muncul apa yang dinamakan oleh Federici sebagai ‘the patriarchy of the wage’ atau upah yang patriarkis.

Dengan beranjak dari analisis mengenai witch-hunt, Federici menolak ide dominan bahwa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang dibebankan pada sosok perempuan merupakan warisan dari masyarakat pra-kapitalis. Ia pun menjelaskan bagaimana dan mengapa housework—yang merupakan konstruksi sosial kapitalis ini—pada akhirnya hanya dibebankan kepada perempuan.

Pada akhir abad ke 17, seiring dengan witch-hunt, kaum perempuan di Eropa kehilangan pijakan bahkan mengenai pekerjaan yang telah menjadi kewenangannya. Setelah itu, perempuan proletariat mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan selain pekerjaan dengan status rendah seperti pelayan rumah tangga, pemintal, perawat, dan sejenisnya. Asumsi yang berkembang dalam masyarakat pada saat itu ialah bahwa perempuan tidak seharusnya bekerja di luar rumah dan seharusnya jika pun terlibat dalam ‘produksi’, hanya untuk membantu suami. Bahkan, diargumentasikan pula bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan di dalam rumah adalah ‘bukan kerja’ dan tidak ada artinya bahkan ketika dilakukan untuk pasar (hlm. 92).

Itu, menurut Federici, merupakan awal dari devaluasi kerja perempuan. Wujud devaluasi kerja terlihat lebih jauh melalui beberapa contoh. Misalnya, ketika perempuan menjahit beberapa baju, maka itu dikategorikan sebagai ‘kerja domestik’ atau ‘housekeeping’, bahkan jika baju-baju tersebut tidak ditujukan untuk keluarga mereka sendiri tapi di jual di pasar malam. Kerja perempuan dianggap tak ubahnya seperti ‘sumber alam’ yang tersedia cuma-cuma bagi semua orang, sama seperti udara atau air (hlm. 97). Sementara itu, ketika seorang laki-laki melakukan pekerjaan yang sama, itu dikatakan sebagai sesuatu yang ‘produktif’ (hlm. 92).

Negara pun mengonstruksikan bahwa pekerjaan yang dilakukan perempuan dari dalam rumah bukanlah pekerjaan yang ‘nyata’ dan para perempuan dianjurkan untuk berdiam di dalam rumah dan tidak perlu tampil di ruang publik (hlm. 92).

Di masa itu, di Inggris, yang terdaftar dalam data penerima upah bahkan nama suami meski yang bekerja si istri. Kebijakan ini membuat perempuan tidak mungkin memiliki uang pribadi. Inilah kondisi material yang disebut Federici sebagai ‘the patriarchy of the wage’ atau upah yang patriarkis (hlm. 98).


Konstruksi Kerja Reproduksi Sosial sebagai ‘Kerja Perempuan’ hingga Saat Ini

Dengan hilangnya ekonomi subsistensi yang ada di masyarakat Eropa sebelum masa kapitalisme, kesatuan antara produksi dan reproduksi pun berakhir seiring dengan aktivitas-aktivitas yang terbagi ke dalam perbedaan hubungan sosial dan dibedakan secara seksual (hlm. 74).

Di dalam rezim moneter yang baru, hanya produksi untuk pasarlah yang didefinisikan sebagai aktivitas penciptaan nilai, sedangkan reproduksi tenaga kerja tidak memiliki nilai dari sudut pandang ekonomi dan bahkan tidak dikategorikan sebagai kerja (hlm. 75). Konsekuensinya bagi perempuan sangat besar.

Dengan adanya pemisahan produksi dan reproduksi ini, pendisiplinan tubuh perempuan dapat dilihat melalui dieksklusikannya perempuan dari kerja upahan. Perempuan kemudian diatur dan dikontrol sehingga hanya terlibat pada kerja-kerja yang bersifat reproduktif yang tidak dibayar. Padahal, kerja-kerja reproduktif seperti mengurus anak, memasak, mencuci, dan sebagainya menempati posisi yang amat penting bagi akumulasi kapital (Federici, 2014; Fraser, 2017).

Perubahan ini memuncak di abad ke-19 dengan adanya istri-ibu rumah tangga penuh waktu yang mendefinisikan ulang posisi perempuan di dalam masyarakat dan dalam hubungannya dengan laki- laki.

Pemisahan produksi dan reproduksi ini menciptakan kelas proletar perempuan yang, sebagaimana laki-laki, diambil nilai lebihnya. Tapi berbeda dengan laki-laki, mereka hampir tidak memiliki akses terhadap upah (hlm. 75). Dengan kata lain, mengutip Federici (2006), kerentanan perempuan atau status perempuan sebagai pekerja rentan bukan terjadi seiring dengan meningkatnya era pasar tenaga kerja fleksibel periode 1970an, melainkan sudah menjadi karakter atau ciri khas kapitalisme sejak awal.

Pemisahan kerja ini juga terkait dengan kontrol atas tubuh perempuan. Contohnya, di kapitalisme abad 21 ini, misalnya pada konstruksi atas tubuh perempuan sebagai pemilik nimble fingers yang kemudian membentuk disiplin pengaturan kerja di dalam wilayah produksi seperti manufaktur (Arizpe & Aranda, 1981).

Kontrol atas tubuh perempuan yang kemudian termanifestasi dalam beragam konstruksi sosial yang berkelindan dengan patriarki—seperti anggapan mengenai submisivitas perempuan, dianggap lebih lemah daripada laki-laki, dan sebagainya—juga telah menyebabkan meningkatnya intensifikasi dari proses yang disebut dengan “feminisasi kerja” (Mezzadri, 2016). Feminisasi kerja menjelaskan sebuah proses ketika pasar tenaga kerja cenderung lebih terbuka bagi perempuan karena konstruksi patriarkal yang meliputi perempuan (Arizpe & Aranda, 1981; Mezzadri, 2016). Selain itu, kondisi material yang menyebabkan masuknya perempuan ke dalam pasar tenaga kerja juga menjadi unsur penting yang harus dilihat dalam proses feminisasi kerja (Federici, 2012; Mezzadri, 2016).


Penutup

Buku ini menyajikan bukti historis yang benderang atas pernyataan terkenal para feminis bahwa “kapitalisme berkelindan dengan patriarki.” Dengan mengambil latar feodalisme Eropa abad pertengahan, buku ini menunjukkan bukti bahwa perampasan otonomi atas tubuh perempuan memiliki posisi yang vital bagi kelangsungan akumulasi kapital dan perkembangan kapitalisme hingga saat ini.

Melalui peristiwa great witch-hunt, Federici menjelaskan bahwa pengambilalihan alat produksi seperti tanah tidak cukup untuk mendefinisikan akumulasi primitif yang disebut Marx sebagai “dosa asal” kapitalisme. Penelusuran sejarah dengan menggunakan perspektif feminis ini membuktkan betapa kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi juga mensyaratkan perubahan/transformasi sosial yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat.

Hasilnya bisa dilihat hingga saat ini. Kerja-kerja reproduktif di dalam rumah tangga yang menempati posisi vital bagi keberlangsungan kapitalisme (apa jadinya kapitalisme jika para buruh pulang ke rumah dan tak ada makanan dan baju-baju mereka tak dicuci?), misalnya, masih belum diakui sebagai kerja. Akibatnya, perempuan menempati posisi yang jauh lebih rentan dari laki-laki, baik dari segi status kerja, hubungan kerja, kondisi kerja, maupun pengakuan hasil kerja.

Tak heran ketika Federici, di dalam buku ini, menyebut sejarah perempuan sebagai sejarah perjuangan kelas.

Pada akhirnya, buku ini sangat penting untuk dibaca karena dapat membantu memahami kelindan antara penindasan terhadap perempuan dengan perkembangan kapitalisme. Meski mengambil latar Eropa abad pertengahan, tetapi buku ini sama sekali tidak menunjukkan bias yang dapat dikategorikan sebagai ‘bias barat’ yang karenanya dapat disematkan stempel ‘kolonialis’. Sebaliknya, buku ini justru harus dibaca dalam rangka mendekolonisasi pengetahuan. Selain itu, meski mengambil latar Eropa, buku ini juga menjelaskan bagaimana keterkaitan antara apa yang terjadi di Eropa dengan apa yang kemudian terjadi di negara-negara lainnya, seperti yang ditunjukkan dalam peristiwa witch-hunt.

Namun demikian, buku ini agaknya tidak dapat dibaca dengan mudah oleh pembaca awam. Setidaknya dibutuhkan teks-teks lain mengenai feminisme dan teori reproduksi sosial, misalnya Social Reproduction Theory (2017) yang diedit oleh Tithi Bhattacharya, untuk memahami konteks buku ini secara utuh.***


Fathimah Fildzah Izzati, Editor IndoProgress dan Anggota Redaksi Left Book Review


Daftar Pustaka

Arizpe, L. & Aranda, J. (1981). The ‘Comparative Advantages’ of Women’s Disadvantages: Women Workers in the Strawberry Export Agribusiness in Mexico, Signs, 7(2), 453-473.

Federici, S. (2012), Revolution at Point Zero: Housework, Reproduction, and Feminist Struggle, PM Press.

Fraser, N. (2017). Crisis of Care? On the Social Reproductive Contradictions of Contemporary Capitalism dalam T. Bhattacharya (Ed.), Social Reproduction Theory: Remapping Class, Recentering Oppression (hlm. 21- 36). London: Pluto Press.

Mezzadri, A. (2016). Class, gender and the sweatshop: On the nexus between labour commodification and exploitation, Third World Quarterly, 37(10), 1877-1900.

Review buku ini sebelumnya sudah pernah dimuat di Jurnal Masyarakat Budaya. Vol. 21 No. 2, 2019. Diedit dan dimuat ulang di IndoProgress untuk tujuan pendidikan.


[1] Gerakan ini digagas oleh International Feminist Collective, yang ada di Amerika Serikat dan Eropa (Italia dan Inggris). Gerakan ini memperjuangkan upah bagi kerja-kerja domestik yang dilakukan oleh perempuan di dalam rumah tangga untuk mendorong agenda emansipasi yang lebih luas.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus