Gotcha Journalism, Sitti KPAI, dan Palin

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh JonpeyKarya-karyanya dapat dijumpai di sini.


KOMISIONER KPAI Sitti Hikmawatty menjadi bulan-bulanan di media sosial. Diwawancarai Tribun News, ia mengeluarkan pernyataan yang kontroversial itu. Dalam wawancara itu Sitti mendukung ide pemisahan kolam renang untuk laki-laki dan perempuan. Dia memberikan rasionalisasi mengapa harus ada dua kolam untuk dua jenis kelamin berbeda.

Di sinilah kontroversi itu dimulai. Sitti mengatakan kemungkinan laki-laki mengeluarkan sperma saat berenang. Jika perempuan sedang subur, sperma itu bisa membuahi si perempuan. Tanpa penetrasi alat kelamin.

Dalam perspektif ilmu pengetahuan, pernyataan ini tentulah bodoh. Ketika diwawancarai, Sitti tampaknya lebih percaya pada apa yang dia yakini ketimbang pada fakta pengetahuan biologi.

Kita bisa meraba asal-usul keyakinan itu. Namun, bukan itu yang hendak kita bicarakan panjang-lebar di sini. Dari berbagai perbincangan online, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya, yakni praktik jurnalisme di sekitar pernyataan Sitti.

Baca juga: Hoax dan Masa Depan Pemberitaan

Ada yang mengungkapkan rendahnya mutu jurnalisme Tribun. Koran ini adalah versi “kuning” dari koran Kompas, bacaan utama kelas menengah Indonesia. Ada yang menuduh si wartawan sengaja melakukan ini demi rating online. Istilah masa kininya adalah click-baiting. Berita hanya sekedar umpan untuk pembaca mengklik. Semakin banyak klik, semakin banyak uang masuk. Setiap klik punya nilai rupiah.

Ada juga yang mengeluhkan standar ganda. Umumnya ini datang dari kalangan intelektual liberal. Mereka mengatakan orang-orang yang selama ini berpihak pada ketinggian moral telah jatuh ke dalam perangkap kerendahan mutu Tribun. Untuk mereka, Tribun tetap rendah. Media ini didirikan hanya untuk mencari untung. Sekali pun ada yang bagus dari Tribun, itu tidak menafikan rendahnya ‘raison d’etre’ pendirian media ini. Mereka yang punya standar moral tinggi tidak seharusnya terperangkap dalam moral rendahan ini.

Apa yang salah dari laporan Tribun ini?

Tidak ada. Untuk saya, Tribun sudah memenuhi semua standar jurnalisme. Saya melihat video wawancara Sitti. Untuk kasus itu, tidak ada alasan menghakimi Tribun dari sisi jurnalisme. Kali ini mereka menunaikan tugas dengan baik. Sitti Hikmawatty adalah pejabat publik.

Politisi umumnya menyalahkan media dan pekerja media (reporter) untuk hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman. Memang, lebih mudah menyalahkan si pembawa pesan (messenger), yakni para reporter yang bekerja jatuh bangun di lapangan, ketimbang menelisik pesan-pesan (message) yang diberikan oleh seorang politisi atau pejabat publik.

Saya menilai pesan yang disampaikan Sitti ini adalah pesan yang sah. Publik berhak tahu sikap dan pandangan dia. Wawancara yang diberikan kepada media menunjukkan watak sejati Sitti, posisinya dalam satu isu kebijakan, serta cara pandangnya. Dengan demikian publik bisa menilai apakah si pejabat bisa dipercaya, apakah ia layak menyandang jabatannya, apakah orang merasa nyaman dengan memberikan posisi “pelindung anak Indonesia” kepada seseorang yang lebih percaya pada nilainya sendiri atau pada sikap yang diambil berdasar ilmu pengetahuan.

Kontroversi Sitti mengingatkan saya pada Sarah Palin, politisi Amerika yang menjadi calon wakil presiden dalam pemilihan presiden 2008. Palin, gubernur negara bagian Alaska, dipilih menjadi pasangan John McCain karena dianggap mampu menarik pemilih dari segmen kelas pekerja kulit putih. John McCain tidak terlalu populer di segmen pemilih ini. Masalahnya, dia lebih terlihat sebagai seorang liberal ketimbang konservatif sekalipun berasal dari Partai Republik.

Saya masih ingat ketika Sarah Palin pertama kali muncul. Publik Amerika tidak terlalu mengenalnya sehingga dia harus tampil di televisi dan media-media lain. Ketika itu media sosial belum punya pengaruh sebesar sekarang. Karena bobot beritanya, Palin akhirnya diwawancarai oleh Katie Couric, seorang wartawan TV senior yang punya reputasi amat tinggi dan bekerja untuk CBS Evening News.

Baca juga: Tabiat Apakah?: Ketakutan Besar, Krisis dan Hoax

Di situlah ‘bencana’ muncul. Palin, seorang ibu rumah tangga yang cantik dan punya daya tarik yang cukup tinggi, ternyata kedodoran. Katie Couric mencoba mengklarifikasi pernyataan Palin sebelumnya yaitu bahwa dia akan baik-baik saja menghadapi Russia karena “Russia sangat dekat dengan Alaska. Bahkan bisa dilihat dari jendela rumah saya.”

Namun, yang paling kontroversial adalah ketika Couric menanyakan surat kabar atau media apa yang dibaca oleh Palin. Pernyataan itu diajukan Couric untuk mengetahui informasi macam apa yang diterima Palin.

Palin menjawab dengan terbata-bata. Ia gagal menjawab pertanyaan sederhana itu.

Palin adalah seorang populis. Daya tariknya ada pada citranya sebagai seorang ibu dengan anak-anak remaja, yang sekaligus bekerja sebagai gubernur. Palin adalah sosok orang Amerika kebanyakan yang tidak bersekolah tinggi, berbeda dengan kebanyakan orang di Washington atau di New York. Dia gelagapan menjawab pertanyaan ini karena strategi politiknya. Jika Palin menjawab di membaca The Washington Post atau The New York Times, dia akan dinilai terperangkap dalam elitisme—tidak sesuai dengan citranya sebagai populis yang anti-elite. Sebaliknya Palin akan dicap partisan dan bodoh jika menyebut media-media lokal karena dia diharapkan sebagai calon pemimpin nasional. Dia benar-benar dihadapkan pada dilema ini.

Palin kemudian membela diri bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada dirinya adalah “gotcha journalism”. Yang dimaksud gotcha journalism ini adalah sebuah metode wawancara dengan tujuan memasang perangkap agar narasumber mengeluarkan pernyataan kontroversial yang pada akhirnya meruntuhkan reputasi si narasumber. Dalam hal ini, si narasumber bisa jadi terlihat goblok, munafik, atau tidak mau belajar.

Apakah gotcha journalism adalah jurnalisme yang baik?

Tentu sulit mencari batas antara gotcha journalism dengan jurnalisme biasa. Reporter diwajibkan mencari posisi seorang politisi atau pejabat publik karena dari sinilah warga tahu akan karakter dan ideologi seorang politisi. Pemilih akan memilih berdasarkan informasi-informasi itu.

Kembali ke Sitti Hikmawatty, saya kira tidak ada yang salah dari  wawancara yang dia berikan kepada Tribun itu. Sitti membuka pintu lebar-lebar untuk publik agar tahu alam kepercayaan yang dia hidupi dan yang dia pakai untuk berfungsi sebagai fungsioner KPAI.

Apakah orang merasa nyaman terhadap dia atau tidak, itu soal lain. Yang jelas reporter Tribun telah melakukan kewajibannya sebagai jurnalis yang baik. ***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus