Hoax dan Masa Depan Pemberitaan

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Brilio

 

SEBUAH adegan dalam film yang diangkat dari kisah nyata berjudul Shattered Glass, menampilkan scene beberapa orang terlihat mengelilingi salah seorang pemuda yang sedang berbicara, lalu tiba-tiba tawa mereka pecah setelah apa yang diceritakan pemuda tersebut sepertinya cukup menghibur mereka. Stephen Glass (Steve), pemuda yang bercerita tersebut cukup disenangi di antara rekan-rekan kerjanya di perusahaan media The New Republic. Ia tidak hanya humoris, kecerdasannya ketika mengejar deadline artikel yang ditulis sering mendapat pujian, dan menjadikan popularitasnya meningkat. Wartawan yang berusia baru 24 tahun ini mampu menerbitkan artikel-artikel dengan berita besar yang dia sajikan secara apik, tak jarang juga menuai pujian dari pembaca.

Popularitas The New Republic juga ikut meningkat dengan artikel-artikel yang ditulis Steve. Setiap artikel yang ditulisnya selalu diceritakan kepada rekannya bagaimana ketika dia melakukan liputan, dan itu juga yang menjadikannya populer di antara rekan-rekannya. Dia menghibur dengan cerita liputannya yang bisa membuat rekannya tertawa di tengah penatnya jam kerja. Akan tetapi di beberapa artikel yang diterbitkan belakangan terdapat kejanggalan di dalamnya, mulai dari narasumber maupun lokasi dimana liputan berlangsung. Editor dari Steve, Micahel Kelly, merasa perlu untuk menelusuri kevalid-an data dari tulisan Steve. Mereka pun mengunjungi lokasi liputan yang diceritakan Steve dalam tulisannya.

Dengan piawainya Steve menjelaskan tentang lokasi tersebut dan kejadian-kejadian yang berlangsung seperti halnya dalam tulisannya. Sampai pada kejanggalan tulisannya yang keempat, dan Steve selalu merasa bisa membuktikan bahwa liputan dan kejadian yang ada dalam tulisannya adalah benar ketika ditinjau ulang oleh editornya. Beda halnya ketika sang editor Michael Kelly mengundurkan diri dan digantikan Chuck Lane. Kembali sang editor baru menemukan kejanggalan dalam artikel Steve, bahkan meminta seteve untuk menguraikan juga tentang lokasi liputan dan kejadian-kejadiannya. Tidak hanya itu, Chuck juga meminta catatan dari Steve atas liputan tersebut, namun Steve masih bisa mengelak dengan mengatakan catatannya tertinggal.

Puncaknya ketika artikel tentang konfrensi hacker dengan judul “Hack Heaven” yang ditulis Steve, dengan pimpinannya anak muda berusia 18 tahun. Artikelnya menuai kritik dari Chuck sebagai editor, dan meminta Steve untuk menjelaskan kronologi liputannya dengan mengunjungi lokasi seperti yang tertulis di artikelnya. Di lokasi tersebut, Chuck mendapatkan penjelasan dari petugas, bahwa tidak pernah ada konferensi di gedung tersebut. Steve mengakui bahwa dia ditipu oleh narasumber dengan hanya mengandalkan keterangan mereka yang katanya melakukan konferensi palsu untuk mendongkrak popularitasnya. Akan tetapi Chuck Lane terus menelusuri kevalid-an data dari tulisan Steve, yang berujung pada terbuktinya Steve hanya mengarang. Lalu media saingan mereka, Forbes siap untuk menerbitkan artikel terkait kebohongan yang dituliskan The New Republic jika saja mereka tidak melakukan permintaan maaf kepada publik terkait kebohongan yang mereka terbitkan dan menarik artikel yang telah beredar tersebut.

The New Republic, dengan kesepakatan dari voting para karyawan, akhirnya memutuskan untuk melakukan permohonan maaf melalui terbitan mereka terkait kebohongan yang telah dituliskan salah satu wartawan mereka. Stephen Glass diberhentikan dari kerjanya, dan setelah ditelusuri lebih jauh, dari 47 artikel yang ditulis Steve, 21 diantaranya merupakan karangan fiktif yang tidak valid atas data sajiannya. The New Republic dengan integritas sang Chuck Lane, melakukan penarikan dan permohonan maaf atas artikel tersebut, meski berujung pada menurunnya popularitas The New Republic di masyarakat. Stephen Glass yang telah mengakui kebohongannya kemudian menekuni pekerjaan barunya sebagai penulis novel dan kemudian menerbitkan buku berjudul The Fabulist. Novel ini kemudian menjadi ide cerita dari film Shattered Glass.

Artikel berisi kebohongan yang dituliskan Stephen Glass sebagai pekerja media dalam cuplikan film tersebut, merupakan imajinasinya terkait klaim kebenaran yang dia ceritakan dalam tulisannya. Kredibilitas wartawan sebagai sumber informasi dengan legitimasi dari status mereka melalui media arus utama adalah bagian penting dari kode etik yang harus mereka penuhi terkait pemberitaan. Kasus Stephen Glass tidak hanya kisah lama yang menimpa The New Republic, namun relevansinya dengan jagat informasi sekarang ini berdampak pula bagi masyarakat, dengan kemudahan aksesnya melalui internet yang bertebaran berita-berita bohong dan dan sukar ditelusuri validitasnya.

Kebohongan dengan fraud (berita palsu) yang diterbitkan media arus utama merupakan kesalahan fatal yang bisa berujung kehancuran media mereka. Seperti ungkapan “sekali lancung seumur hidup orang tak kan percaya” begitulah media arus utama yang menerbitkan kebohongan. Akan tetapi celah dengan permohonan maaf yang diterbitkan, layaknya bisa menjadi legitimasi untuk mengembalikan citra mereka.

 

Logika Peredaran Hoax

Berbeda halnya dengan media arus utama di republik ini. Meskipun telah diketahui menyajikan berita bohong, namun tidak banyak kita temui adanya permohonan maaf melalui terbitan mereka. Republika dalam rangkain perayaan ulang tahunnya yang ke-24 (4 Januari 2017) meng-agendakan untuk menyajikan ulasan tentang berita-berita palsu yang pernah beredar di setiap halamannya sebagai kampanye anti Hoax. Hoax yang belakangan menjadi kata yang populer untuk diucapkan adalah sebuah fenomena yang menyerang hampir semua lini masyarakat global melalui media-media yang mempunyai akses untuk menyajikan informasi lewat Internet (daring).

Hoax muncul karena adanya sentimen negatif atas golongan atau pihak, terkait tindakan atau kebijakannya yang tidak sesuai dengan alur berpikir pihak oposisinya. Hoax atau berita palsu mengikuti alur berpikir pembacanya yang kira-kira bisa menimbulkan efek sensitivitas yang meningkat, entah itu kebencian atau semangat untuk mendukung dengan sajian berita tersebut, lalu berujung pada budaya berbagi melalui media sosial agar lebih banyak orang yang membaca. Hoax dengan ujaran kebencian sangat berbahaya jika itu menyangkut kepentingan masyarakat banyak, atau efek seperti yang diungkap Stanley Cohen sebagai Moral Panic. Moral Panic yang disajikan berita hoax bisa menjadi pemicu atas tindakan-tindakan destruktif pada orang yang memercayai berita tersebut. Salah satunya berita tentang keburukan pemimpin suatu negara/daerah yang disajikan media bisa memicu kebencian bagi masyarakatnya.

Artinya, alur berpikir masyarakat yang memiliki sentimen negative terhadap suatu golongan semakin dipicu dengan beredarnya berita-berita palsu terkait golongan tersebut. Hoax yang dihadirkan melalui media-media yang menyatakan diri sebagai media alternatif (terutama media daring) adalah salah satu bentuk kurangnya pengawasan atas peredaran informasi yang semena-mena disajikan. Bahkan dengan kemudahan akses domain untuk pembuatan website, media-media daring menjadikan berita hoax sebagai sumber penghasilan mereka.

Penelusuran yang dilakukan tirto.id pada posmetro.co membuktikannya. Dengan mengklaim diri sebagai media alternatif, tujuan posmetro.co secara gencar menyebarkan hoax ternyata untuk mendulang pendapatan. Dari aktivitasnya itu mereka memperoleh pemasukan sekita Rp. 25-30 juta perbulan. Dengan trafik kunjungan ke website mereka yang cukup tinggi, ikut menarik para pengiklan dengan konpromi bersama Google AdSense untuk pembayarannya. Posmetro.co yang dikelola oleh Abdul Hamdi Mustofa, mengakui bahwa berita-berita yang mereka sajikan merupakan saduran dari berita-berita di media-media arus utama dengan mengubah judul supaya lebih mudah dipahami, dan sajian lebih provokatif atas isu-isu tersebut (tirto.id).

 

Facebook Sebagai Agen Media

Fenomena hoax yang mengglobal saat ini tidak terlepas dari konteks banjirnya informasi yang beredar di masyarakat. Saat ini, misalnya, setiap pengguna Internet biasanya menggunakan media sosial juga sebagai bagian dari agen untuk mengakses berita. Contohnya Facebook yang saat ini telah berkembang menjadi agen media massa terbesar di dunia, Seperti yang diungkap parsey.ly dan kemudian dikutip tirto.id, sebanyak 41, 4 persen pengakses situs-situs media atau informasi lainnya berasal dari Facebook.

Artinya informasi atau berita yang beredar di Facebook turut menjadi agen media massa untuk peredarannya. Terlebih dengan konsep media convergence seperti yang diungkap Tobby Miller, bahwa media-media mengalami konvergensi atau pelebaran sayap dengan memanfaatkan teknologi yang melingkupi masyarakat. Contohnya, media cetak yang dulunya hanya menerbitkan berita dalam bentuk cetak, kini memanfaatkan media daring juga untuk pelebaran bisnis, begitu juga ketika memasuki arena media sosial, mereka pun menyajikan Fanpage sebagai langkah untuk mendongkrak akses ke situs mereka.

Akses informasi yang sedemikian massif menyebabkan kurangnya minat pembaca untuk melakukan verifikasi atas sajian tersebut, dan lebih melihat sisi keaktualan dari pada ke-faktualannya. Seolah ingin menjadi pembaca yang selalu update informasi, itulah yang memicu budaya berbagi (sharing) menjadi “sharing is believing”. Ketika seseorang membagikan suatu informasi, secara tidak langsung dia memercayai berita tersebut dari sisi informatifnya, dan menjadi sebuah kebenaran atas sajiannya.

Akan tetapi konteks berbagi saat ini bukan hanya sekadar percaya, lebih jauh telah menjadi medium propaganda kepada orang lain agar mengikuti jejaknya untuk sharing lebih banyak lagi. Media sebagai arena informatif seharusnya juga menjadi arena edukatif bagi masyarakat. Bukan malah sebagai arena provokatif yang berisi propaganda dari kepentingan-kepentingan beberapa kalangan saja.

Lalu terkait hoax yang cukup meresahkan dengan Moral Panic atau propaganda yang mereka sajikan, titik kritis audiens sebenarnya bisa menjadi penangkal atas masifnya peredaran hoax tersebut. Misalnya, ketika bermunculan suatu isu yang berisi propaganda provokatif, audiens dengan nalar kritisnya bisa menelusuri ke beberapa sumber yang lain, atau menelusuri rekam jejak media yang menyajikan berita tersebut melalui info redaksional mereka. Nama dari sebuah media cukup menjadi legitimasi untuk menelusuri hoax yang disajikan terkait validitas datanya.

Audiens yang kritis melihat sisi aktual dan faktual informasi yang tidak hanya memihak pada satu pihak, akan tetapi sisi dari pihak lain juga disajikan jika itu bersifat oposisional. Selanjutnya kredibilitas dari sajian tersebut dilihat juga dari sisi rasionalitas atas informasi tersebut, apakah sesuai dengan situasi yang terjadi ataukah semata berita fiktif yang disebar untuk menarik minat pembaca dan meningkatkan akses kunjungan ke situs mereka.

 

Penutup

Kini hoax sudah menjadi kosakata yang dominan dan multifungsi. Setiap orang yang saling berbeda pendapat bisa menuduh lawannya telah menyebarkan hoax. Akibatnya, kini kepercayaan terhadap pemberitaan media, baik itu media arus utama maupun media alternatif sangat rendah. Tidak heran kemudian, hoax menjadi sesuatu yang dikhawatirkan tapi pada saat yang sama ia hadir dan dihadirkan di mana-mana. Lebih celaka lagi, figur-figur yang diduga getol menyebarkan hoax malah didapuk media untuk menjadi narasumbernya.

Dengan demikian, hoax bukan lagi sebuah fenomena psikologis sang jurnalis, tapi berakar pada konteks ekonomi-politik dalam masyarakat. Hoax dihadirkan untuk kepentingan politik tertentu, dan kepentingan politik itu berjangkar pada kepentingan ekonomi yang produser dan penyebar hoax ini. Dengan demikian, jika hoax dihadapi dengan pendekatan hukum positif, maka dalam waktu singkat kita akan melihat bagaimana penjara tak cukup lagi menampung para pelaku hoax tersebut.

Saya berpendapat, selain pendekatan hukum positif, pendidikan yang dimulai dengan literasi pada pembelajaran bahasa perlu digalakkan secara luas. Salah satunya adalah mendorong media-media arus utama untuk menyediakan kolom Literasi Media agar pembaca tidak lagi menjadi budak “budaya berbagi” tanpa verifikasi lebih lanjut atas apa yang mereka bagikan. Entah itu terkait ujaran kebencian, kritik, atau pun artikel-artikel yang berisi Moral Panic dengan propaganda provokatifnya.***

 

Penulis adalah mahasiswa Magister Kajian Budaya dan Media UGM)


comments powered by Disqus