Pertukaran dan Sirkulasi

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: id-blog.zenrooms.com

 

MODEL-model biasa ditampilkan sebagai satu bentuk abstraksi dari realitas konkret yang dilambangkan dengan notasi-notasi matematis atau oleh kurva sulat-salit. Keberadaan model-model merupakan ciri ilmu yang berhasil membangun jalinan konsep-konsep, memiliki satu sistem teoretis. Model dibangun untuk memudahkan orang memahami realitas. Dengan niat yang sama, Marx juga punya beberapa model-model. Misalnya yang terkenal sebagai dua bentuk sirkulasi. Jika diandaikan dua unsur sistem ekonomi kapitalis, komoditas dan uang, sebagai ‘K’ dan ‘U’, maka dua bentuk sirkulasi yang dipaparkan Marx dapat dilambangkan sebagai berikut:

K-U-K                      untuk bentuk sirkulasi komoditas sederhana
U-K-U⁺                    untuk bentuk sirkulasi kapital

 

Dua rumusan sirkulasi ini memiliki sekurangnya tiga kesamaan:

  • Keduanya terdiri dari alur yang sama; membeli (U-K) dan menjual (K-U)
  • Keduanya memiliki unsur yang sama; uang dan komoditas
  • Keduanya juga berfungsi melalui aktor sosial yang sama: pembeli dan penjual

 

Kedua rumus ini juga memiliki beberapa perbedaan yang dapat diringkaskan ke dalam tabel sederhana berikut:

 

 

Keduanya adalah sebuah model yang dibangun Marx utamanya untuk menjelaskan perbedaan watak dari uang sebagai uang (K-U-K) dan uang sebagai kapital (U-K-U⁺) dari sudut sirkulasi. Sebagai kapital, besaran kuantitatif uang dalam sirkulasi kapital selalu lebih besar dibanding besaran mulanya. Jadi untuk lebih persis, rumus umum kapital adalah U-K-U⁺. Seperti yang sudah masyhur dikenal, salah satu temuan yang berupaya ditunjukkan Marx berkenaan dengan asal-usul laba kapitalis ialah sumbernya yang bukan berasal dari selisih dagang melainkan dari pembelian dan eksploitasi komoditas bernama tenaga-kerja. Sayang pembicaraan soal “batu penjuru ekonomi-politik Marxis” belum dapat dilakukan kali ini. Kita coba mundur dengan sedikit saja mendiskusikan definisi istilah sirkulasi dan pertukaran (exchange). Motivasinya ialah klarifikasi pengertian kedua istilah ini yang, setidaknya buat saya, tidak jarang digunakan Marx secara bergantian dalam pengertian yang tipis batas-batasnya.

Tiap-tiap Marx bicara mengenai “sistem ekonomi” dalam konteks diskusi ekonomi-politik, yang ia maksud selalu kesatuan sirkuler antara produksi-distribusi-pertukaran-konsumsi, yang berangkat dari proses produksi.

“Kesimpulan yang kita capai bukanlah bahwa produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi itu identik, melainkan bahwa kesemuanya adalah anggota dari suatu totalitas, keragaman dalam sebuah kesatuan. Produksi menjadi utama tidak atas dirinya sendiri…tetapi juga atas momen-momen yang lain. Proses ini selalu kembali ke produksi untuk diawali lagi.”[1]

Corak penalaran khas Marx. Ia mampu mengakui sistem ekonomi sebagai sebuah proses—sebagai sesuatu yang bergeraksembari menempatkan produksi sebagai pangkal-nya. Konon pengertian sistem ekonomi sebagai sebuah sirkuit ini dapat dilacak asal-usulnya dari konsepsi William Petty yang terinspirasi penemuan di bidang anatomi manusia mengenai sirkulasi (peredaran) zat-zat di dalam tubuh pada zamannya. Petty lantas yakin jika masyarakat bisa dipahami selayaknya sebuah tubuh organis, maka wilayah kajiannya dapat disebut sebagai ‘Anatomi Politik’. Meski begitu penerimaan atas pengertian sistem ekonomi sebagai sebuah proses ini tidak menjerumuskan baik Marx maupun Petty ke atmosfir pasca-modernisme yang serba anti tumpu pijak. Produksi ditetapkan sebagai pangkal sistem ekonomi sebab di sanalah orang-orang berelasi untuk pertama kalinya berhadapan-hadapan, bertarung, mengambilalih, dan mengubah bentuk alam sebagai sumber kekayaan pertama demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan beririsan langsung dengan alam, produksi memiliki skala yang lebih luas dibanding distribusi yang hanya berurusan dengan hukum-hukum sosial, distribusi dengan demikian lebih luas dibanding pertukaran yang diatur relasi antar individu, dan pertukaran lebih luas dibanding konsumsi yang sudah berada di luar relasi-relasi sosial. Biar begitu terjalin sebagai sebuah kesatuan, masing-masing unsur di dalam sistem ekonomi memiliki perbedaan derajat. Dan perbedan derajat (yang sifatnya kuantitatif) mengkondisikan perbedaan jenis. Maka kita punya empat unsur dalam sistem ekonomi; produksi-distribusi-pertukaran-konsumsi. Menurut Piero Sraffa pendekatan sirkuler ini, berbeda dengan pendekatan “jalan satu arah” dari faktor-faktor produksi ke barang-barang konsumsi a la aliran marjinalis (neo-klasik).

Kembali ke soal di muka, dalam perbandingannya dengan pertukaran, Marx menulis sirkulasi adalah “[M]omen spesifik dari pertukaran, atau [sirkulasi adalah] juga pertukaran dalam keseluruhannya”[2]. Ia menambahkan jika sirkulasi bukan pertukaran yang terisolasi atau ada bagi dirinya sendiri, melainkan sebuah “lingkaran pertukaran” yang terus mengalir di permukaan masyarakat, membentuk satu sistem tindak pertukaran[3]. Satu prasyarat dari pertukaran ialah adanya pembagian kerja masyarakat (social division of labour). Tiap-tiap masyarakat atau komuniti yang mampu memenuhi kebutuhan material-nya sendiri, yang tidak terserap dalam pembagian kerja sosial dan serba cukup-diri, tidak memerlukan pertukaran. Dalam tahap sejarah ini, produksi komoditas—tidak seperti dalam kapitalisme—belum meluas. Untuk keperluan analisis, komoditas adalah nama yang kita terakan pada kelebihan produksi setelah kebutuhan komuniti terpenuhi, yakni pada barang-barang produksi yang digunakan di luar komuniti. Dalam diskusinya mengenai pola barter (K-K) Marx melukiskannya dengan sangat jelas.

“Barter langsung, bentuk pertukaran spontan, lebih merepresentasikan awal mula transformasi nilai-guna menjadi komoditas-komoditas ketimbang transformasi komoditas-komoditas menjadi uang. Nilai-tukar saat itu belum memiliki bentuknya sendiri, sebab masih terikat dengan nilai-guna. Hal ini terwujud dalam dua cara. Produksi, dengan seluruh organisasinya, bertujuan menciptakan nilai-guna, bukan nilai-tukar; nilai-guna tidak lagi menjadi nilai-guna ketika pasokan produksi melebihi ukuran konsumsi dan berubah menjadi sarana pertukaran, yakni komoditas. Pada saat yang sama, nilai-guna baru menjadi komoditas hanya dalam batas-batas ia didistribusikan ke kutub berlawanan sehingga komoditas yang dipertukarkan oleh pemiliknya memiliki nilai-guna bagi kedua belah pihak—masing-masing menjadi komoditas bagi non-pemilik. Sebagaimana yang diketahui, pertukaran komoditas tidak berawal dari komunitas-komunitas primitif, tetapi di mana komunitas-komunitas itu berujung, di garis tepi di mana di titik-titik tertentu mereka bersentuhan dengan komunitas-komunitas lain.”[4]

Berbeda dengan pertukaran (sederhana), proses sirkulasi ditandai oleh lahirnya produk-produk atau kerja yang telah memiliki nilai tukar, khususnya nilai tukar dalam bentuk harga[5]. Jadi munculnya sirkulasi bukan hanya lahir bersama produksi komoditas (komuniti yang melakukan barter juga sudah memproduksi komoditas) namun lebih lagi seiring terbitnya uang (bentuk nilai) sebagai penyetara universal pertukaran antar komoditas yang “memiliki bentuknya sendiri” dan diakui secara sosial[6]. Komoditas dengan demikian mulai memiliki harga-harga; dua keping cangkang kerang, segenggam pala, dua keping emas,dst. Sejauh tidak mengandaikan mediasi uang, komoditas artinya dipertukarkan. Begitu komoditas dimediasi oleh uang, maka ia sudah berada proses sirkulasi, sebab hanya uang (nilai tukar yang memiliki bentuknya sendiri) yang dapat mengkondisikan terciptanya sebuah pertukaran yang meluas, suatu sistem pertukaran. Dalam kunjungannya ke ‘Lombock’ abad-19, A. R. Wallace pernah mengisahkan cara penarikan pajak dalam bentuk penyerahan padi kepada raja, sebuah payment in kind. Bentuk penarikan pajak ini, berikut ragam bentuk upeti, barter dan hal menarik bernama “hadiah” yang masih kita kenal sampai sekarang bukan sebuah momen sirkulasi sebab semuanya tidak mengandaikan mediasi dan pengembalian (turnover) dalam bentuk uang[7]. Pendeknya, selain dibedakan oleh lahirnya uang sebagai perantara pertukaran antar komoditas, maka dapat diringkaskan bila dipandang secara formal, pertukaran merupakan bentuk sederhana sirkulasi. Sementara jika dipandang dalam urutan historis, pertukaran mendahului sirkulasi, dan karena kedua alasan ini di dalam sirkulasi kita akan menemukan bentuk pertukaran yang paling berkembang.***

 

—————-

[1] Marx, K. 2016. Teks-teks Kunci Filsafat Marx, diterjemahkan dan disunting oleh Martin Suryajaya, Yogyakarta: Resistbook. Hal 127.

[2] “Circulation itself [is] merely a specific moment of exchange, or [it is]also exchange regarded in its totality”. Marx,K. 1973. Grundrisse, terj. Martin Nicolaus, Harmondsworth: Penguin Books. Hal. 98

[3] To get circulation, two things are required above all: Firstly: the precondition that commodities are prices; secondly: not isolated acts of exchange, but a circle of exchange, a totality of the same, in constant flux, proceeding more or less over the entire surface of society; a system of acts of exchange. Marx, 1973:: hal. 188

[4] Marx, K. 1904. A Contribution of the Critique of Political Economy, Charles H. Kerr & Co. Hal: 53.

[5] “An essential characteristic of circulation is that it ciculates exchange values (products or labour), and, in particular, exchange value in the form of prices. Thus, not every form of commodity exchange, e.g. barter, payment in kind, feudal services, etc., constitutes circulation. Marx, 1973: 187.

[6] “Money only circulates commodities which have already been ideally transformed into money, not only in the head of the individual but in the conception held by society (directly, the conception held by the participants in the process of buying and selling). Ibid.

[7]Circulation, or the turnover of money, corresponds to an opposite circulation, or turnover, of commodities”. Marx, 1973: 186.


comments powered by Disqus