Pelajaran dari Ashabul Kahfi

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: iluminasi.com


(1)

Dalam Surah Al-Kahfi, Allah menceritakan para pemuda Kahfi yang tidur dalam jangka waktu yang sangat lama. Cerita ini cukup terkenal, dan ada banyak perdebatan sejarah tentang ini; konon, dalam tradisi Kristen, cerita ini juga dikenal dengan narasi yang berbeda.  Ada yang bilang cerita ini terjadi di masa awal Romawi Timur, terutama ketika persekusi terhadap penganut agama Kristen yang baru berkembang dilakukan di bawah kekuasaan Raja. Narasi yang berkembang dalam kalangan Islam, konon, didapatkan dari berita-berita Israiliyat, yang secara sejarah masih perlu diperdebatkan.

Tapi menjadi menarik untuk menceritakan apa yang bisa kita dapatkan dari cerita ini dari Al-Qur’an Surah Al-Kahfi. Surah ini penting. Kita disunnahkan untuk membaca surah ini di setiap malam Jumat. Dan awal surah ini bercerita tentang 7 pemuda Kahfi (ada yang mengatakan kurang, dan lebih) yang dipersekusi oleh penguasa yang zalim, lari ke dalam gua, ditidurkan oleh Allah selama kurang lebih 300 tahun, dan kemudian terbangun di masa kekuasaan yang baru.


(2)

Al-Qur’an menceritakan para pemuda Kahfi ini di ayat 9-13. Di ayat 9, Allah berfirman,

“Adakah kamu menyangka (wahai Muhammad), bahawa kisah ‘Ashabul Kahfi’ (penghuni gua) dan ‘Ar-Raqiim’ termasuk antara tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan?”

Di beberapa ayat berikutnya, Allah menjelaskan cerita itu secara lebih terperinci,

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” (Ayat 10); “Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyaknya dalam gua itu, bertahun-tahun, yang banyak bilangannya” (Ayat 11); “Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya), untuk Kami menguji; siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu)” (Ayat 12). “Kami ceritakan kepadamu (Wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk”. (18:13).

Ayat ini menceritakan tentang perjuangan orang-orang yang mempertahankan agama mereka (beriman kepada Allah) dan lari dari kekuasaan pemimpin yang ingin mempersekusi mereka. Masa itu, persekusi terhadap orang dengan agama dan keyakinan berbeda adalah sesuatu hal yang jamak. Sejarah Romawi, Yunani, dan Mesir Kuno, menceritakan bagaimana kekuasaan politik dibangun di atas logika mayoritas dan struktur kekuasaan yang militeristik, dan orang-orang yang memiliki agama yang berbeda dengan penguasa adalah “ancaman”.

Dalam konteks ayat ini, mereka yang dipersekusi adalah mereka yang mempertahankan keimanan pada Allah sebagai Tuhan yang Esa. Ayat berikutnya menjelaskan lebih dalam,

Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (Ayat 14). Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Ayat 15).

Syahdan, para pemuda ini kemudian mengasingkan diri ke sebuah gua, setelah dikejar oleh para penguasa. Allah berfirman,

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (Ayat 16).  

Ancaman tersebut dijelaskan di ayat ke-20,

Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya” (Ayat 20).


(3)

Ada banyak penafsiran tentang ayat ini dari berbagai aspeknya. Dari aspek pendidikan, tauhid, hingga aspek dakwah. Ayat ini memberikan Nabi Muhammad semangat dalam berdakwah. Di Mekkah, Nabi Muhammad juga menghadapi persekusi dan pengasingan dari kaum Quraisy karena dakwah yang beliau sampaikan.

Setidaknya, saya ingin menarik dua pelajaran dari ayat ini. Pelajaran pertama, yang juga penting untuk kita lihat, adalah tentang ‘resistensi’ dan ‘kekuasaan’. Ayat ini bicara tentang para pemuda yang bersikap tegas untuk mempertahankan keyakinan mereka, yang mereka pegang teguh, di hadapan penguasa yang ingin menyeragamkan keyakinan di atas fondasi kekuasaan mereka. Perjuangan untuk mempertahankan keyakinan (dalam hal ini, Tauhid), dulu sangat sering dilakukan di hadapan para penguasa yang zalim.  Dalam bahasa yang lebih umum, mereka adalah orang-orang yang dipersekusi (diburu) dengan alasan keyakinan mereka.

Pelajaran kedua, yang terkait dengan beberapa tulisan saya sebelumnya terkait dengan dengan Mayoritas dan Minoritas dalam Islam. Dalam banyak hal, perjuangan umat Islam untuk mengekspresikan keyakinan Tauhid secara terbuka juga harus menghadapi pelbagai bentuk persekusi dan pengusingan. Dalam banyak lintas sejarah (termasuk sejarah Nusantara), umat Islam juga pernah (dan sering) menjadi minoritas dan menghadapi kekuasaan yang menolak dakwah Islam dan kemudian memburu mereka.

Persekusi atas alasan agama adalah bagian yang tak terpisahkan dari banyak ragam cerita di abad pertengahan. Persekusi adalah bagian yang tak terpisahkan ketika penguasa Romawi –yang dibangun di atas perangkat militer dan kolonisasi atas wilayah musuh—tidak menyukai ekspresi keagamaan tertentu. Selama periode Mekkah hingga Madinah, Islam dianggap sebagai sebuah kekuatan baru yang mengancam kemapanan kabilah-kabilah Arab yang membangun kekuasaannya di atas struktur keagamaan pagan, sehingga menjadikan generasi Assabiqunal Awwalun sebagai ancaman terhadap stabilitas politik masa itu.

Atas kondisi inilah, Nabi Muhammad menjadikan konsepsi Negara Madinah sebagai konsepsi negara yang pluralistik; dalam arti mengakui eksistensi orang-orang dengan agama yang berbeda sejauh mereka bahu-membahu dalam mempertahankan kota Madinah. Dalam banyak kesempatan, Nabi Muhammad menghormati orang-orang Yahudi yang berada di Madinah. Bahkan, dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad menghormati jenazah orang Yahudi dengan berdiri ketika iring-iringan jenazah itu lewat di hadapan beliau (HR Bukhari).

Tentu saja dua refleksi ini hanya sebagian dari pelajaran yang sudah banyak dikupas; pelajaran tentang mendakwahkan ayat-ayat Allah, pelajaran tentang mempertahankan keyakinan Tauhid, hingga pelajaran tentang anak-anak muda yang saleh. Namun demikian, jika merujuk pada asbab an-nuzul, terlihat bahwa cerita ini juga populer di kalangan orang-orang Yahudi masa itu, yang berarti bahwa cerita tentang Ashabul Kahfi punya signifikansi historis yang cukup kuat. Oleh karenanya, ceritanya perlu kita dudukkan dalam konteks sejarah masa itu, yaitu ketika orang-orang yang menganut agama Samawi dipersekusi karena keyakinan mereka.


(4)

Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini juga memberikan kita satu pandangan lain: soal kritik terhadap kekuasaan yang menindas, atau sebaliknya menggunakan privilege yang kita miliki secara adil. Hal ini berlaku dua arah. Jika praktik kekuasaan tertentu merepresi cara kita dalam beragama, maka kewajiban kita adalah mengkritik dan meluruskan. Rasulullah berkata,” Perjuangan untuk mempertahankan keyakinan (dalam hal ini, Tauhid), dulu sangat sering dilakukan di hadapan para penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Pada titik inilah, Islam punya fungsi kritis terhadap kekuasaan, sebagai konsekuensi dari Tauhid, sebab kita semua adalah setara sebagai manusia di hadapan Allah.

Namun demikian, jika kita adalah mayoritas, maka  Islam juga mengajarkan untuk bersikap adil dan tidak berlaku zalim. Ashabul Kahfi mengajarkan kita betapa susah payahnya mempertahankan kalimat Tauhid di hadapan orang-orang yang zalim. Maka, sejatinya juga kita belajar untuk menggunakan kekuasaan secara adil. Tanpa perlu mempersekusi orang-orang yang kita anggap berbeda dari kita. Tanpa perlu menganggap orang-orang yang berbeda keyakinan dari kita sebagai musuh yang nyawanya tak berharga, hanya karena orang-orang itu membawa cara berpikir yang tidak sejalan dengan apa yang selama ini kita yakini.

Sehingga, kita bisa meneladani kisah Ashabul Kahfi secara lebih baik; sebagai cara untuk mewujudkan tugas kita sebagai khalifatullah fil ‘ardli; sebagai ‘penanggung jawab’ di muka bumi.

Billahi fii sabilil haq.***


Ahmad Rizky Mardhatillah Umar adalah mahasiswa PhD di The University of Queensland – UQ, Australia

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus