Tubuh dalam Kapitalisme: Menimbang Biologis

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Non – copyriot



BANYAK pihak telah membahas hubungan antara tubuh manusia dan kapitalisme. Ada dua hal yang sering menjadi topik bahasan tersebut, yaitu tubuh sebagai konsumen dan tenaga kerja. Namun, ada jenis tubuh lain yang kurang didiskusikan.

Saya menawarkan kondisi tubuh yang terakhir tersebut dalam tulisan singkat ini. Tulisan ini berupaya memaparkan hubungan kapitalisme dan tubuh. Saya mengategorikan tubuh sebagai konsumen dan produsen sebagai dampak yang gamblang. Sementara itu, saya menamai jenis tubuh lain tersebut sebagai ekses yang subtil dari kapitalisme.


Dampak yang Gamblang

Terpujilah kita yang menjadi konsumen dan produsen. Dengan peran itu, kita melanggengkan kapitalisme sehingga kita menyaksikan peradaban hari ini. Begitu sebaliknya, kapitalisme telah menjadikan kita sebagai konsumen dan produsen. Kedua peran yang terasa manis atau penuh duka –tergantung bagaimana posisi kita dalam proses produksi dan akumulasi modal.

Kita bersusah payah melanjutkan hidup sebab kita, seperti orangtua saya dan saya, bukanlah pemilik modal. Orangtua saya harus bekerja keras agar bisa makan dan mencukupi kebutuhan dasar/pokok sehari-hari, dan menyekolahkan anak adalah berkah. Begitu pula dengan saya. Saya cemas akan masa depan saya mengingat kondisi kerja yang mengutamakan produktivitas dan persaingan, sehingga saya rentan kehilangan pekerjaan. Apalagi banyak cadangan tersedia atas tenaga dan kemampuan yang dimiliki oleh manusia atau perangkat lain untuk menggantikan saya.

Saya iri kepada teman saya. Teman saya yang satu itu hidupnya adalah hidup yang saya dambakan sejak kecil. Ia memiliki kafe. Ia mempekerjakan belasan pegawai untuk mengoperasikan kafenya. Usaha kafenya memberi ia uang yang berlipat-lipat jumlahnya dibandingkan gaji saya setiap bulan.

Saya dan teman saya merupakan produsen dalam proses produksi. Saya menggunakan tenaga saya untuk menyambung hidup, sedangkan teman saya mengelola modalnya untuk menghasilkan laba. Saya tahu bahwa teman saya itu memutar modalnya lagi untuk menghasilkan laba lagi.

Sementara itu sebagai konsumen, saya dan teman saya itu memiliki kemampuan atau mungkin kebutuhan berbeda. Misalnya, saya merasa perlu mengganti laptop tua agar saya lebih nikmat saat menulis. Akan tetapi saya tidak punya cukup uang. Namun, saya yakin teman saya itu mampu membeli laptop idaman saya. Tentu saja kategori “idaman” tak lepas dari pengaruh mekanisme yang ada, seperti iklan dan preferensi nilai yang disematkan kepada laptop atau komoditas. Posisi kelas telah menggambarkan komoditas apa yang bisa dan tidak bisa dikonsumsi.

Dalam kapitalisme, entitas konsumen dan produsen telah mendapat suplemen. Produsen bisa dikatakan pekerja (jika ia tidak memiliki modal) dan pengusaha (jika ia memiliki modal) untuk menghasilkan komoditas di mana pemilik modal mengecap banyak nilai lebihnya. Sementara kapitalisme telah membentuk individu-individu atau tubuh-tubuh yang gemar mengonsumsi komoditas.

Demikianlah, secara gamblang kita dapat mafhum dampak kapitalisme terhadap individu atau tubuh. Dampak kapitalisme sesungguhnya tidak hanya memberi muatan berbeda kepada individu atau tubuh atas perannya sebagai produsen maupun konsumen. Namun lebih dari itu, ekses kepitalisme juga merasuk hingga ke tubuh secara subtil.


Ekses yang Subtil

Agar lebih sederhana, saya memanfaatkan spasial (ruang) untuk menjelaskannya. Sebut saja spasial itu adalah Kota Jakarta.

Coba bayangkan Anda, wahai sidang pembaca yang tabah, berdiri di tepi jalan besar di Jakarta. Anda hendak menyeberang jalan yang jaraknya dari tempat Anda berdiri ke tujuan adalah 45 meter. Namun ramai kendaraan berlalu-lalang, dan pemerintah kota tidak menyediakan zebra cross. Satu-satunya ide yang dimiliki pemerintah kota adalah membangun jembatan untuk Anda menyeberang. Lalu Anda melangkah menaiki anak tangga satu per satu, menyeberangi jalan, menuruni tangga sebelum akhirnya langkahmu tiba di tempat tujuan. Anda menghela napas dalam karena agak kelelahan.

Anda berpikir, pindah dari tempat semula ke tujuan seharusnya melangkah sejauh 45 meter. Namun lantaran Anda melalui jembatan penyeberangan, maka jarak tempuhnya menjadi, misalnya, 80 meter. Tiga puluh lima meter lebih panjang.

Sepanjang perjalanan pendekmu itu, banyak kendaraan melintas sembari membuang karbon dan suara bising. Anda menghirup udara di antaranya adalah karbon hasil pembakaran oleh mesin kendaraan. Anda Ktahu bahwa udara Jakarta berpolusi tinggi, tetapi bagi buruh kerah putih sepertimu lebih baik mengeluarkan uang beli nasi berlauk telur dadar ketimbang masker.

Anda bercerita tentang penyeberangan itu kepada Jasman Simanjuntak, teman yang kamu rindukan. Jasman menanggapimu dengan penjelasannya yang lebih mirip orang sok tahu. Mentang-mentang ia sarjana dari jurusan biologi Unimed, ia merasa mampu menjelaskan itu. Sebagai seorang teman, Anda berupaya keras menjadi pendengar yang baik.

Jasman pun mengoceh. Menurut Jasman, temanmu yang miskin itu, setiap pergerakan tubuh memerlukan energi. Energi dihasilkan dari proses metabolisme sel di dalam tubuh. Setiap metabolisme sel membutuhkan nutrisi. Semakin banyak bergerak, maka semakin giat aktivitas sel untuk menghasilkan energi, sehingga butuh asupan nutrisi (makanan dan minuman) yang semakin banyak pula. Singkatnya, penambahan jarak tempuh 35 meter dalam penyeberangan jalan memerlukan aktivitas metabolisme sel untuk kepentingan tersebut. Demikian pula dengan polusi udara. Sel-sel dalam tubuh akan merespons karbon monooksida atau karbon dioksida yang masuk melalui saluran pernapasan.

Lalu, apa hubungannya dengan kapitalisme? Saya berharap Anda tidak berhenti membayangkan kalau Anda masih di sekitar jembatan penyeberangan.

Barangkali Anda berpikir pemerintah kota telah bertindak ramah dengan membangun fasilitas jembatan penyeberangan kepada warganya. Pembangunan jembatan penyeberangan bukanlah pertama-tama agar Anda selamat menyeberang jalan. Akan tetapi agar lalu lintas kendaraan tetap lancar. Tentu saja lalu lintas yang lancar mengundang kendaraan baru untuk masuk ke jalan. Dengan demikian produksi dan konsumsi kendaraan dapat berlanjut. Kapitalisme terus berdenyut. Dengan kata lain, pembangunan jembatan penyeberangan merupakan sebuah cara untuk melanggengkan kapitalisme.

Hubungan yang lebih luas, pembangunan jembatan di Jakarta merupakan aliran modal yang diperlukan oleh kapitalisme. Material pembuatan transportasi terus digunakan, bumi dikeruk untuk memperoleh bijih besi dan bahan bakar minyak, pekerja yang bekerja di pabrik terus memproduksi komoditas, dsb.. Pembangunan jembatan penyeberangan di Jakarta yang tampak sederhana sesungguhnya sarana kapitalisme untuk terus beraktivitas.

Hal yang membedakan dampak yang gamblang dan ekses yang subtil dari kapitalisme terhadap tubuh adalah bagaimana keterlibatan tubuh dalam proses produksi. Dalam dampak yang gamblang, tubuh terlibat secara langsung dalam produksi sehingga dapat ditentukan apakah tubuh tersebut sebagai konsumen atau produsen. Nilai lebih komoditas langsung diperoleh oleh tubuh, tergantung apa posisinya dalam modal. Sementara itu, ekses yang subtil tidak melibatkan tubuh dalam proses produksi. Walau tidak terlibat secara langsung, tubuh menyerap ekses produksi. Sebagaimana tulis Julie Guthman, “tubuh semakin dimasukkan dalam kapitalisme dengan cara melampaui peran manusia sebagai buruh dan pembeli barang dan jasa.”[1]

Begitulah… pembangunan jembatan penyeberangan dalam contoh yang diberikan pada tulisan ini merupakan sebuah sarana akumulasi kapitalisme. Tubuh kita terkena ekses produksinya.


Sebuah Usul

Saya telah menyinggung bahwa kapitalisme telah menyita metabolisme sel untuk menunjukkan ekses dari kapitalisme terhadap tubuh.  Saya kira, kita perlu menimbang sel atau tubuh secara biologis (tidak hanya sebagai buruh dan konsumen) untuk menginterupsi kapitalisme. Upaya ini mungkin dapat kita terjemahkan dengan mendesak penghentian proses akumulasi modal dalam proyek-proyek yang sekiranya berdampak buruk bagi tubuh, seperti pembangunan yang mengakibatkan polusi udara, pertanian yang sarat dengan terkontaminasi zat berbahaya, dsb.***


Jasman F. Simanjuntak adalahpenulis lepas yang tinggal di Jakarta.


—————-

[1] Julie Gunthman (2011), Bodies and accumulation: Revisiting labour in the ‘production of nature’. New Political Economy 16(2): 233-238.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus