Salib Jin Kafir dan Papua

Print Friendly, PDF & Email


ABDUL Somad adalah seorang penceramah agama. Karena teknologi modern, dia mampu menjangkau pemirsa yang jauh lebih luas dan lebih banyak. Itu pulalah yang menjadi ukuran pengaruhnya.

Dalam Pilpres kemarin, kubu Prabowo Subianto  bahkan mempertimbangkan untuk menjadikan dia sebagai calon wakil presiden. Pak Somad menolak. Dia bersikukuh bahwa dia akan lebih berguna untuk agamanya jika dia tetap menjadi penceramah.

Akhir-akhir ini pak Somad terbelit kontroversi. Dalam salah satu ceramah yang kemudian diunggah ke internet, pak Somad ditanya soal salib. Dia menjawab pertanyaan seorang hadirin tentang mengapa ketika melihat salib, hatinya menggigil. Dalam video yang saya kira sudah diedit itu (setidaknya yang saya tonton), pak Somad berusaha menjawab secara lucu. Dia mengatakan bahwa di dalam salib itu ada patung. Hadirin tertawa ketika dia berusaha memperagakan patung itu.

Pak Somad adalah penceramah agama yang tidak garing. Dia humoris. Itulah sebabnya dia sangat populer. Sambil memperagakan patung itu, pak Somad  bertanya (patung itu) hadap ke kiri atau ke kanan. Tidak ada yang tahu. Hadirin tertawa lagi. Kali ini lebih keras.

Pak Somad memberikan jawaban mengapa salib membuat hati pemirsanya menggigil: karena ada jin kafir pada patung di salib itu.

Sampai di sini, ceramah yang terjadi tiga tahun lampau itu menyeruak menjadi kontroversi. Sebagian orang Kristen (Protestan maupun Katolik) merasa tersinggung. Pak Somad dianggap sudah menghina kekristenan. Dia diadukan ke polisi. Awalnya di Nusa Tenggara Timur. Kemudian ke Mabes Polri.

Umat Kristen memiliki pandangan teologis yang berbeda dengan umat Islam dalam memandang salib. Itu sudah jamak kita ketahui. Namun, perbedaan pandangan teologis menjadi sangat lain ketika politik memainkan peranan. Dia mengeraskan pembelahan yang sebelumnya sudah terjadi di masyarakat kita. Sebagian politisi dan organisasi Islam mendukung pak Somad. Sebaliknya umat Kristen semakin merasa bahwa mereka diminoritaskan. Terutama jika dikaitkan dengan kasus Ahok di Jakarta dan Meilana di Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Saya tidak mau masuk ke dalam tarik menarik politik yang menggunakan tali agama ini. Biarlah itu menjadi urusan orang-orang yang bergelut dalam politik kekuasaan.

Saya ingin masuk ke hal-hal yang lebih mendasar yang terjadi di dalam umat Kristen Indonesia, khususnya umat Katolik. Sebagai orang yang dibesarkan dalam tradisi Katolik dan tahu sedikit inti ajarannya, diam-diam saya merasakan kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Pak Somad. Saya menyetujuinya. Tapi tidak dalam interpretasi teologis.

***

Saya menonton tanggapan seorang pastur Katolik terhadap ceramah Pak Somad tersebut. Romo ini melihat bahwa apa yang dilakukan oleh pak Somad tidak lebih dari ujaran kebencian. Dia bertanya, sampai kapan umat Islam dan umat Kristen akan diadu terus menerus? Dia menduga bahwa ujaran-ujaran kebencian terhadap umat lain akan membuat sebuah ceramah makin populer.

Pastur ini tidak salah. Romo ini kemudian melanjutkan khotbah online-nya dengan mengatakan bahwa iman kristennya justru bertambah kuat karena mendengarkan ceramah Pak Somad itu. Kekristenan itu sudah biasa dicela, dihina, diburu, dan bahkan dibunuh. Namun justru karena itulah iman Kristen itu tumbuh. Tanpa dikatakan secara langsung saya segera mengetahui bahwa pastur ini bicara tentang gereja purba. Pastur ini mengakhiri khotbahnya dengan mendoakan agar semua orang beriman mendapatkan kasih Tuhan.

Untuk saya, khotbah seperti ini tidak terlalu aneh. Ini adalah khutbah standar dalam gereja Katolik. Ini adalah khotbah pastoral yang selalu diakhiri dengan menunjukkan kasih Tuhan kepada manusia.

Yang baru hanyalah mediumnya, yakni Youtube. Sama seperti pak Somad, pastur ini menggunakan media baru ini untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas. Dia menjangkau siapa saja yang mau mendengarkan.

Penggunaan media untuk melakukan syiar keagamaan sudah mulai sejak abad ke-20, terutama ketika ditemukan radio. Ia menjadi lebih intensif ketika muncul televisi. Ketika itulah muncul apa yang namanya Televangelist, penceramah agama di televisi. Televangelist memiliki pemirsa hingga jutaan dan bisa dengan cepat diakses di seluruh belahan dunia.

Pendeta Billy Graham dari Amerika Serikan adalah contohnya. Sama seperti Pak Somad, semakin luas jangkauannya, semakin gemuk jumlah pemirsanya, semakin tinggi pula pengaruhnya (dan, tentu saja, pundi-pundinya). Billy Graham diperlakukan seperti rock star ketika dia berkhotbah. Demikian juga pak Somad.

Media yang baru menuntut keterampilan yang baru pula. Saya ingat sejak KH Zaenuddin MZ, khotbah-khotbah keagamaan mulai menyelipkan humor-humor yang lucu. Kini cara penyampaian tidak melulu humoristik. Para pengkhotbah juga melengkapi dirinya dengan berbagai macam keterampilan. Ada yang pintar membangkitkan keharuan. Ada yang memotivasi. Ada yang pintar memunculkan kemarahan.  Yang terakhir muncul menjelang Pilpres kemarin dan masih ada sampai sekarang.

Semua ini tidak terjadi di dalam Islam saja. Bahkan sebelum Islam, ia terlebih dahulu berkembang di gereja-gereja Kristen Protestan. Gereja Katolik (seperti biasa) agak terlambat. Hanya mungkin dua dekade terakhir ini muncul pastur-pastur yang memanfaatkan media-media baru ini. Tidak terlalu heran kalau kita melihat pastur menari. Khotbah-khotbah mereka menjadi semakin lucu dan menghibur. Pastur menjadi entertainer disamping menjadi gembala.

Saya memaklumi semua ini. Tidak ada yang salah. Namun, saya merasa ada sesuatu yang hilang.

***

Apakah yang hilang dari gereja Katolik masa kini? Untuk saya, yang sangat terasa hilang adalah kehendak gereja untuk memperjuangkan keadilan sosial. Disinilah, secara tidak sengaja, penilaian pak Somad tentang jin kafir itu kemungkinan mengandung kadar kebenaran.

Bersamaan dengan kontoversi pak Somad, mahasiswa-mahasiswa Papua dikepung di asrama-asrama mereka. Pengepungan terhadap mahasiswa-mahasiswa Papua ini tidak terjadi di satu tempat. Tapi di berbagai kota besar di Indonesia: Surabaya, Malang, Semarang, dan terakhir di Makassar.

Adakah gereja tergerak melindungi anak-anak muda ini? Adakah pihak gereja berkeinginan untuk menjadi mediator antara para mahasiswa itu dengan ormas-ormas sipil dan polisi bersama tentara yang mendukungnya? Adakah gereja menawarkan suaka untuk para mahasiswa ini?

Papua sesungguhnya bukan hanya soal mahasiswa-mahasiswa ini saja. Sesungguhnya ada sesuatu yang tengah bergolak di Papua, yakni peperangan antara pihak militer Indonesia dengan pihak Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka.

Operasi militer Indonesia telah menghasilkan ribuan pengungsi. Berita-berita tidak bisa keluar dari Papua karena blokade informasi yang dilakukan pemerintah Indonesia. Berita-berita lokal tidak mampu menjangkau orang-orang di Pulau Jawa. Jika ceramah Somad bisa dengan gampang didengarkan di seluruh Indonesia, berita kemanusiaan dari Papua bahkan tidak bisa melintas lebih dari tingkat kabupaten di Papua.

Pastur John Jonga Pr. bersama Tim Kemanusiaannya, baru-baru ini merilis pernyataan bahwa ribuan orang mengungsi karena konflik ini. Sebanyak 182 orang sudah meninggal di pengungsian. Sebagian besar yang meninggal adalah perempuan dan anak-anak. “Anak-anak ini tidak bisa tahan dingin dan juga ya makan rumput. Makan daun kayu. Segala macam yang bisa dimakan, mereka makan,” kata Pastur John Jonga dan timnya.

Jika bencana kemanusiaan ini tidak mampu menggerakkan hati nurani gereja Indonesia, maka ini adalah sebuah bencana tersendiri. Bukankah Pak Somad benar ketika dia mengatakan bahwa ada jin kafir di salib-salib kita.

Kekafiran kita dimulai ketika kita tidak melihat Yesus di dalam penderitaan-penderitaan ini. Kekafiran kita dimulai ketika mengeraskan perasaan bahwa kita minoritas dan kita tidak cukup kuat untuk membela saudara-saudara kita yang tertindas. Kekafiran kita berasal dari hipokrisi berbicara cinta kasih namun pada saat yang bersamaan menutup mata terhadap ketidakadilan yang secara telanjang terjadi di depan mata kita. Kekafiran adalah ketika kita dengan gampang mengutip Matius 25:40 dan memalingkan muka ketika melihat saudara-saudara kita dari Papua.

Gereja Indonesia tidak perlu menjadi penjaga keadilan. Gereja tidak perlu menjadi garda depan perjuangan keadilan dan hak-hak asasi manusia. Namun gereja harus menjadi pemberi suaka bagi mereka yang ditindas. Bagi mereka yang diperlakukan tidak adil. Bagi mereka yang dipaksa mengungsi, lapar, dan tidak berdaya.

Apakah terlalu muluk dan berat untuk memberi tumpangan kepada Tuhan? Jika ya, kita memanggul salib yang dipilihkan oleh pak Somad. Salib yang berisi jin kekafiran. ***


Made Supriatma adalah peneliti dan jurnalis lepas

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus