Mao Zedong dan Buku Kecil Merahnya

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: AliExpress



PADA Hari Buku Sedunia tanggal 23 April 2019 lalu, saya membuat cuitan di akun pribadi saya tentang buku-buku favorit yang pernah saya baca. Dari banyaknya foto cover buku, saya menyadari satu buku terlupa untuk ditampilkan. Judulnya Quotations From Chairman Mao Tse-tung atau yang sering disebut dengan Little Red Book. Buku kecil berwarna merah itu berisi kutipan-kutipan dari seorang pemimpin revolusioner Republik Rakyat Tiongkok (RRT) bernama Mao Tse-tung atau Mao Zedong. Apa Anda pernah membacanya? Bila belum pernah, saya akan coba menceritakan sedikit tentang buku kecil yang unik ini dan hikmah yang bisa saya petik darinya.

Buku kecil ini awalnya digagas oleh salah seorang jenderal bernama Lin Biao melalui redaksi koran milik Tentara Pembebasan Rakyat Republik Rakyat Tiongkok (TPR-RRT). Rencananya dibuat hanya untuk dibaca para petinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk diminta kritik serta sarannya. Namun akhirnya terbit dan disebarluaskan pada tahun 1964 di Beijing. Hampir setiap kalangan di RRT masa itu memiliki atau dengan kata lain wajib memilikinya. Terselip selalu di dalam saku politbiro, para perwira tentara, hingga para pelajar dan anak-anak muda. Keberadaannya betul-betul mewarnai hampir setiap peristiwa yang terjadi pada tahun 1965 hingga 1976 di Negeri Tirai Bambu. Masa yang disering disebut sebagai Revolusi Kebudayaan.

Dimulai dengan kalimat “Pekerja seluruh dunia, bersatulah!”, buku ini terdiri dari 33 bab dengan sebanyak 427 kutipan yang masing-masing mewakili tiap tema pembahasan yang disampaikan Mao dalam tulisan serta pidatonya dari masa perjuangan kemerdekaan melawan Jepang hingga masa-masa ia aktif sebagai chairman PKT sebelum fajar Revolusi Kebudayaan. Beberapa di antaranya membahas tema tentang Partai Komunis, Kelas dan Perjuangan Kelas, Perang dan Perdamaian, Tentara Rakyat, Metode Berpikir dan Metode Bekerja, Memperbaiki Cara Berpikir yang Salah, Investigasi dan Studi, Pemuda, Perempuan, dan lain-lainnya. Lengkap dengan foto Mao dari semasa mudanya hingga memimpin inspeksi pasukan serta bermain ping pong, dengan kata lain buku ini mewakili pemikiran serta menggambarkan esistensi dari sosok seorang Mao Zedong.

Ada hal menarik yang bisa saya cerna setelah membacanya. Khususnya dalam Bab 22 yang berjudul Metode Berpikir dan Metode Bekerja. Di dalamnya tertulis, “Dari manakah gagasan yang benar berasal? Apakah ia jatuh dari langit? Tidak. Apakah ia memang berasal muasal dari dalam pikiran? Tidak. Gagasan yang benar datang dari praktik sosial dan dari sanalah ia berasal. Ia berasal dari tiga wujud praktik sosial, yaitu perjuangan untuk produksi, perjuangan kelas dan percobaan saintifik.” Selain itu, masih di bab yang sama, tertulis “Filosofi Marxis berprinsip bahwa permasalahan paling penting bukan berada pada pemahaman hukum objektif dunia dan maka mampu menjelaskannya, namun bagaimana menerapkan pengetahuan akan hukum tersebut secara aktif untuk mengubah dunia.”

Kutipan pertama yang saya tulis di atas berasal dari tulisan Mao pada tahun 1963 dalam memutuskan kebijakan Komite Sentral PKT untuk beberapa permasalahan terkini di perdesaan Tiongkok. Sedangkan kutipan kedua berasal dari tulisan Mao pada tahun 1937 saat memberikan kuliah di Universitas Anti Militer Jepang dan Politik Yenan. Kedua kutipan tersebut memiliki perbedaan waktu yang cukup lama, sekitar 26 tahun, waktu yang cukup lama. Sehingga dua kutipan itulah yang membuat saya berpikir ulang tentang sosok Mao yang telah saya dengar selama ini. Selain memahami bagaimana cara berpikir Materialisme Dialektis dan Historis, Mao juga konsisten serta mampu menerapkannya. Bukan hanya handal dalam taktik, namun ia juga menguasai strategi, karena kuat dalam teori. Inilah yang menjadi bukti matangnya pemikiran Mao sehingga mampu memenangkan berbagai pertarungan tak hanya melawan imperialisme Jepang, namun serangan dari kawan seperjuangan yaitu sang tokoh nasionalis, Chiang Kai-shek.

Hal menarik lainnya, yaitu salah satu kutipan yang tercantum dalam Bab 30 tentang Pemuda. Perihal menilai apakah seorang pemuda ialah seorang revolusioner atau bukan. Mao menyampaikan kriterianya, yaitu mereka yang berkeinginan untuk mengintegrasikan dirinya dengan massa kelas pekerja dan para petanilah yang bisa disebut sebagai pemuda revolusioner. Lalu apabila hari ini mereka revolusioner dan esok hari mereka berhenti lalu mulai menindas pekerja dan petani, maka mereka menjadi kontra revolusioner. Pada kutipan lainnya di bab yang sama, Mao menekankan bahwa kaum intelektual, meski mereka memiliki peran perintis revolusioner dan mengabdi pada massa, suatu saat kelak bisa menjadi kontra revolusioner. Sebab intelektual dikatakan memiliki sifat individualistis, berpikir tidak praktis dan tidak tegas dalam aksinya.

Kutipan pertama diambil dari pidato Mao kepada hadirin pertemuan pemuda di Yenan tahun 1939 pada peringatan 20 tahun Gerakan 4 Mei 1919 di Yenan. Sedangkan kutipan kedua dicatat dari tulisan karya Mao dan para kamerad dari Yenan pada musim dingin di tahun 1939. Dua kutipan ini ditulis di tahun yang sama dan terbukti praktiknya di masa Revolusi Kebudayaan 30 tahun kemudian. Ketika pasukan para militer pemuda urban yang disebut Red Guards mulai menyapu apa yang disebut dengan Four Olds atau Empat Kekunoan, yang antara lain terdiri dari tradisi kuno, kebudayaan kuno, kebiasaan kuno dan ide kuno. Tak hanya kitab suci, patung-patung Buddha, makam Confucius dan kaisar-kaisar saja yang diserang, orang-orang yang diduga borjuis atau kontrarevolusioner pun ikut dihajarnya. Mereka yang berasal dari golongan tradisional, pengajar dan intelektual misalnya, tak luput dari persekusi dan pembunuhan oleh para Red Guards. Pada Agustus hingga September 1966 di Beijing sendiri telah berjatuhan korban hingga 1.722 jiwa dan Red Guards menangkap sekitar 22.000 jiwa yang diduga sebagai kontrarevolusioner. Beberapa sejarawan mengestimasi sekitar 500.000 hingga 2.000.000 orang mati dalam kurun waktu 1966 hingga 1976 atau pada masa yang disebut dengan Revolusi Kebudayaan.

Dari contoh kutipan menarik yang telah saya bahas barusan, saya berharap para pembaca melihat betapa saktinya kekuatan sebuah buku kecil berwarna merah itu. Di satu sisi, ia dapat memudahkan kita memahami Marxisme menurut pemikiran Mao. Dengan membaca pidato dan tulisannya, kita bisa langsung menguji ke-Marxis-an Mao tanpa meragukannya sedikit pun. Namun di sisi yang lain melalui ratusan kutipannya, apabila tidak dipahami secara kontekstual, tulisan di buku ini bisa menjadi suatu ke-gagal paham-an. Ia akan menjadi rujukan atau pegangan atas semua tindakan yang akan kita lakukan atau segala hal yang ada di dunia ini. Layaknya sebuah teks kitab suci, ia menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Inilah gejala awal dari dogmatisme yang kapan saja akan jatuh ke dalam idealisme. Suatu bentuk pengkultusan Mao yang pernah terjadi di kalangan para Red Guards. Sebab mereka mengesampingkan konteks tulisan itu. Bukan cara berpikir yang dipetik sebagai ilmunya, melainkan kalimat atau jargon-jargon heroiknya saja yang diresapi emosi. Lalu dengan mudahnya menilai yang tak sesuai pada tulisan di buku sebagai suatu hal yang tidak benar, sebelum benar-benar mengujinya.

Tulisan hanyalah cara manusia mencatat atau membekukan realita yang terus berubah ke dalam susunan kata agar bisa bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain di masa depan. Kalimat tidaklah universal dan pasti lekang oleh waktu. Sebab realita selalu berubah. Misalnya dalam membaca Manifesto Komunis yang disusun Marx-Engels tahun 1848, khususnya pada bagian kedua yang berjudul “Proletariat dan Komunis”. Tertulis strategi proletariat apabila telah menguasai negara melalui demokrasi, salah satunya pengadaan sekolah gratis untuk anak-anak di sekolah umum dan penghapusan hak waris. Pada kenyataannya, hari ini bersekolah di sekolah negeri DKI Jakarta tidak dipungut biaya dan saat ini melalui mekanisme hukum perdata kita bisa menyelesaikan persoalan hak waris dengan adil. Kita semua menyaksikan ada beberapa topik pembahasan di Manifesto yang tak lagi sesuai dengan keadaan realita kita hari ini.

Selain itu juga tertulis himbauan untuk mensentralisasi sarana komunikasi serta transportasi. Nyatanya hari ini informasi global yang menghubungkan dunia melalui media internet tidak mungkin lagi dibendung, bahkan oleh Kemenkopolhukam. Selain itu negara juga belum bisa menguasai aspek sarana transportasi yang layak karena lebih dahulu dikuasai oleh pengusaha kaya lokal atau start-up. Lantas masih relevankah membaca Manifesto Komunis yang sudah berusia lebih dari satu setengah abad itu?

Jawabannya, masih. Lho kok bisa? Sebab yang kita pahami bukanlah kata dan kalimatnya saja, melainkan suatu metode berpikir. Lewat tulisannya, Marx dan Engels memberikan contoh yang baik dalam menelaah sejarah perkembangan, karakteristik dan relasi dari kelas-kelas sosial pada masa itu. Tentu saja, wujud borjuasi-proletariat serta relasinya telah berubah dari masa ke masa, bahkan hari ini pun semakin samar. Namun satu hal tetap tinggal, yaitu relasinya. Soal siapa yang menguasai alat-alat produksi selalu berhubungan dengan siapa yang tidak memilikinya. Oleh karena itu lewat metode berpikir yang digunakan Marx-Engels inilah kita mesti menemukan kembali definisi dari kelas-kelas sosial abad ke-19 itu dengan definisi yang sesuai kondisi realita di abad ke-21 ini. Jika sudah jelas siapa kawan dan siapa lawan, barulah kita dapat dengan mudah mencari jalan alternatif untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik. Maka itu mulailah dengan memahami, bukan hanya menghafalkan kalimat “Sejarah yang ada sampai saat ini adalah sejarah perjuangan kelas” saja, namun betul-betul memahami apa itu sejarah, apa itu perjuangan kelas yang konkrit dan siapa yang kita perjuangkan.

Saya pikir inilah kiranya hikmah dari membaca buku kecil berwarna merah bercover senyuman Mao. Tentu saja bukan lantas menjadi Red Guards sejati yang ke mana saja membawa buku kecil merah Mao sambil menenteng palu godam lalu beramai-ramai mengobrak-abrik rumah ibadah dan kampus. Tapi justru belajar dari pengalaman bahwa pembekuan ide atau kata-kata menjadi tulisan dalam buku memiliki konsekuensinya. Kita yang membaca diharapkan tidak menelan mentah-mentah sebelum memahami konteks dan menguji kebenarannya. Jika Mao pernah mengatakan bahwa untuk mengetahui rasa buah pir kita mesti menggigit buah pirnya, lantas apakah untuk mengetahui rasa panasnya api kita mesti membakar terlebih dahulu tangan kita? Boleh-boleh saja jika Anda merupakan salah satu dari Homo erectus terakhir di bumi atau apabila Anda merupakan salah satu dari pemain debus keliling.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus