Terorisme Selandia Baru, Trump, dan Pilpres 2019

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Medium


NABI Muhammad SAW pernah bersabda, “Tidak ada hari yang lebih mulia selama matahari terbit dan terbenam selain hari Jumat”, begitu riwayat dari HR. Ibnu Hibban. Jika Yahudi dan Kristiani menetapkan Sabtu dan Minggu sebagai hari peribadatan, Muslim melihat Jum’at sebagai hari kemuliaan bagi agama mereka. Pada hari itulah, seluruh laki-laki beragama Islam diwajibkan melakukan solat berjamaah di Masjid, solat yang berbeda dari hari biasanya.

Belakangan ini, hari mulia umat Muslim itu telah menjadi sorotan dunia. Di sebuah kota bernama Christchurch, Selandia Baru, 40 orang Muslim tewas ditembak ketika  sedang solat Jumat di Masjid oleh seseorang bernama Brenton Tarrant. Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, langsung menyebut tindakan penembakan tersebut sebagai serangan teroris.

Dunia internasional ikut mengecam tindakan terorisme itu. Tidak terkecuali Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Melalui akun Twitternya, Trump menyatakan simpati terhadap insiden penembakan di Selandia Baru. Reaksi Trump langsung disambut oleh seorang wartawan CNN bernama Stephen Collinson dalam sebuah tulisannya di CNN. Collinson menilai bahwa ada indikasi teroris di Selandia Baru melakukan penembakan karena terinspirasi oleh sosok Trump. Mengapa demikian?


Trump: Simbol Supremasi Kulit Putih

Pada akhir 2016, tepat setelah Trump terpilih sebagai Presiden Amerika, ratusan ribu rakyat Amerika langsung tumpah-ruah ke jalan-jalan raya. Mereka menolak kepemimpinan Trump kendati presiden dari partai Republik tersebut terpilih secara demokratis. Penolakan itu bukan tanpa alasan. Trump dinilai sebagai simbol fasisme karena kerap mengeluarkan sentimen terhadap imigran Muslim dan imigran Meksiko pada kampanye politiknya.

Trump menilai imigran dari Meksiko dan negara-negara Muslim sebagai sumber masalah di negeri Paman Sam. Jika imigran Meksiko dianggap sebagai penyebab kriminalitas, imigran Muslim dipandangnya sebagai penyebab aksi teror di negara-negara Barat. Oleh karena itu, narasi kampanye Trump sarat muatan janji untuk melarang imigran Muslim datang ke Amerika dan akan membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko untuk membatasi arus imigran dari negeri-negeri Amerika Latin.

Siapa sangka, Trump justru keluar sebagai pemenang di Pilpres Amerika. Trump mendapatkan mandat untuk menjadi presiden AS karena penduduk di negeri tersebut bisa saja semakin khawatir dengan serangan terorisme yang dalam beberapa tahun belakangan terjadi di negara-negara Barat, seperti di Paris, Prancis dan Manchester, Inggris. Belum lagi, Amerika juga pernah diserang oleh aksi terorisme, seperti pada tragedi 11 September 2001.

Di titik itulah, popularisme Trump di dunia internasional meningkat. Collinson dalam tulisannya di CNN menilai ide Trump tentang supremasi kulit putih yang dibarengi dengan sentimen terhadap imigran Muslim telah menjadi populer di kalangan sebagian orang di negara Barat, termasuk disukai oleh pelaku terorisme di Selandia Baru itu. Ini terbukti dari manifesto yang yang ditulisnya dimana ia memuji Presiden AS Donald Trump dan Anders Breivik, seorang teroris lain dari  Norwegia yang membunuh 77 orang di negara itu pada 2011.

Manifesto itu berbentuk dokumen setebal 74 halaman dan digambarkan oleh Perdana Menteri Australia Scott Morrison sebagai “karya kebencian”, memuji Trump sebagai “simbol identitas kulit putih yang diperbarui dan tujuan bersama. Lantas, apa yang dimaksud dengan supremasi kulit putih tersebut?

Dalam sebuah tulisan berjudul White Nationalism’s Deep American Roots, Adam Sewer mengatakan bahwa supremasi kulit putih mirip dengan ide-ide fasisme. Sewer menilai, serangan teror oleh para supremasi kulit putih seperti pada penembakan di Selandia Baru, tampaknya telah termotivasi oleh sentimen terhadap Muslim atau Yahudi dan ketakutan bahwa umat Kristen kulit putih di seluruh dunia akan segera kalah jumlah dan ditaklukkan karena pertumbuhan populasi dan kebijakan imigrasi.

Dari situlah kita bisa memahami mengapa Tarrant menembaki para Muslim di Masjid Selandia Baru, karena ia menilai kedatangan orang-orang di luar kelompok kulit putih sebagai ancaman. Bahkan dalam laporan kepolisian, Tarrant berpendapat bahwa kedatangan Muslim ke negara orang-orang kulit putih untuk kepentingan penjajahan.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, persoalan imigran ini merupakan buah dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Konflik kepentingan antara Barat dengan penguasa lokal seperti Bashar Al Assad di Suriah, Muammar Khaddafi di Libya dan gerakan sipil di Yaman membuat negeri-negeri di Timur Tengah tersebut porak-poranda. Maka sangatlah wajar jika orang-orang dari negeri Muslim tersebut berdiaspora ke negara-negara Barat, semata-mata karena mereka butuh perlindungan. Bukan ingin menjajah seperti yang dituduhkan Tarrant.


Popularisme Trump Sampai ke Indonesia

Donald Trump rupanya tak hanya diidolakan oleh teroris di Selandia Baru. Ia juga menjadi idola para politisi di banyak negara. Nama-nama seperti Jair Bolsonaro di Brazil, Le Pen di Prancis, dan Zac Goldsmith di Inggris, adalah para politisi yang meniru strategi politik Trump di negara mereka masing-masing.

Strategi politik Trump dianggap jitu untuk memenangkan kontestasi politik di tengah kebangkitan populisme dan ultranasionalisme di banyak negara. Media-media Barat menamakan strategi politik Trump dengan sebutan “Politic of Fear” atau Politik Ketakutan. Trump dinilai telah memainkan rasa takut orang-orang Amerika untuk memenangkan agenda politiknya.

Arash Javanbakht, seorang psikiater dari Wayne State University, AS,  mengatakan bahwa perasaan takut manusia telah dilecehkan oleh politik. Pelecehan itu terjadi karena ketakutan adalah alat yang kuat untuk mengaburkan logika manusia dan mengubah perilaku mereka. Sebagai contoh, ketika seorang manusia takut dengan laba-laba atau tikus, ia pasti akan berlari ketika melihat hewan tersebut. Dalam situasi tersebut, ketakutan bergerak lebih cepat dibandingkan logika. Orang akan berlari terlebih dahulu, baru memikirkan.

Celah biologis itulah yang telah lama dilecehkan oleh banyak politisi: memanfaatkan ketakutan dan naluri kesukuan kita. Beberapa contoh adalah Nazisme, Ku Klux Klan, dan Perang Salib. Pola politik seperti ini memberi manusia lain label berbeda dari kita dan mengatakan mereka akan membahayakan hidup kita, atau negara kita, sehingga kita akan menjadikan kelompok lain sebagai musuh bersama.

Pada konteks politik Amerika, kita bisa melihat bagaimana Trump memainkan rasa takut orang Amerika terhadap arus kedatangan imigran. Ketakutan itu pun disebarkan melalui ceramah-ceramah politik sehingga memungkinkan orang-orang kulit putih dari berbagai belahan dunia melihat kelompok lain sebagai ancaman. Buktinya, teroris di Selandia Baru mengaku mengidolakan Donald Trump. Lantas, bagaimana dengan politik Indonesia?

Pernahkah Anda mendengar isu bahwa PKI akan bangkit kembali jika Jokowi menang? Umat Islam akan ‘dihajar’, Ulama di penjara dan Azan dilarang atau China akan menguasai Indonesia seandainya calon presiden nomor urut 01 tersebut meraih kemenangan? Atau, Anda pernahkah mendengar isu Indonesia akan menjadi seperti Suriah jika Prabowo menang? Indonesia akan menjadi negara Khilafah dan dikuasai ISIS seandainya calon presiden nomor urut 02 tersebut meraih kemenangan?

Isu-isu di sepanjang Pilpres 2019 tersebut merupakan contoh politik ketakutan ala Trump yang diterapkan oleh para politisi di negara kita. Para pelaku politik bukan lagi memperdebatkan gagasan dan program, melainkan memainkan rasa takut masyarakat dengan menebar isu-isu bohong, karena dengan cara itu mereka menilai akan meraih kemenangan pada kontestasi politik terbesar di negeri ini.

Politik ketakutan ini sangatlah berbahaya karena bisa membuat masyarakat membenci orang-orang di luar kelompok mereka. Semisal membenci orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa. Bisa juga jadi curiga melihat majelis-majelis dan pengajian-pengajian karena tuduhan-tuduhan Islam Radikal yang ditujukan kepada mereka.

Jika kita membenci terorisme di Selandia Baru, kita pun harus menghentikan pola politik semacam ini. Jangan pernah membenci orang karena latarbelakang suku, agama dan rasnya. Bagi saya, semua ketegangan antara Jokowi dengan Prabowo di Pilpres 2019 akan berakhir ketika pencoblosan selesai. Tetapi kebencian terhadap kelompok tertentu dan perpecahan bangsa bisa terus berlanjut sekalipun pilpres telah usai.

Hentikan politik ketakutan, bangun politik gagasan!***


Andika Ramadhan Febriansah adalah pendiri Media Bangsa Mahasiswa

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.