Pengetahuan dan Ilmu itu Punya Siapa?

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: The Verge


SALAH satu dari karakteristik ilmu yang biasanya diterima oleh kalangan akademis adalah sifatnya yang independen dari objek yang diteliti. Pengetahuan yang didapatkan pun juga bersifat netral, bebas dari subjektivitas sang peneliti. Akan tetapi, menurut Held (1985), ketika pengetahuan dan ilmu disebut sebagai sesuatu yang bebas nilai, ia justru bertendensi untuk mendukung status quo. Selain itu, teori-teori normatif yang bersifat tidak memihak bisa digunakan untuk memistifikasi realitas, dibandingkan berkontribusi untuk suatu perubahan. Selain itu, hal berbahaya lainnya adalah, sifat-sifat ini cenderung mengabaikan kapasitas epistemik dan otoritas perempuan serta kelompok yang termarjinalisasi lainnya (Daston dan Gallison dalam Hidayat, 2018).

Pengetahuan yang bebas nilai, walaupun sudah menjadi tolok ukur para akademisi dalam menjalankan berbagai kegiatan akademisnya, ternyata menyimpan hal lain. Subjek pengetahuan seringkali diharuskan untuk lepas dari objeknya, sehingga ia juga dianggap sebagai subjek yang impersonal. Harding (1989) dan Bordo (1995) dalam penelitian Hidayat (2018) menyebutkan bahwa fitur-fitur subjek yang impersonal itu justru dikaitkan dengan laki-laki dan juga merepresentasikan simbol gender maskulin. Biasanya, representasi maskulinitas memang selalu bertentangan dengan feminitas.

Kritikus feminis mengidentifikasi adanya dua implikasi mendasar dari teori pengetahuan yang memproduksi dominasi maskulin dalam usaha-usaha epistemologis. Mereka adalah epistemic injustice dan epistemic ignorance. Epistemic injustice adalah keadaan dimana teori arus utama menjadikan kelompok-kelompok dominan untuk memonopoli otoritas epistemik untuk diri mereka sendiri. Di saat yang bersamaan, mereka juga mengabaikan kapasitas epistemik dari kelompok-kelompok yang terpinggirkan, yang secara tidak langsung membuat stereotip bahwa mereka tidak kompeten dalam produksi pengetahuan (Addelson; Shapin, dalam Hidayat, 2018). Hal ini nantinya akan merembet ke beberapa hal yang merugikan kelompok marjinal. Salah satunya adalah testimonial injustice, dimana atmosfer epistemik yang dominan menuntun masyarakat, baik sebagian maupun mayoritasnya, untuk mengenyampingkan kredibilitas dari kaum marjinal untuk mengutarakan wacananya karena prasangka terhadap kaum ini (Fricker dalam Hidayat, 2018).

Sedangkan, epistemic ignorance adalah kondisi dimana masyarakat dengan sengaja melupakan atau tidak memberikan perhatian terhadap masalah-masalah tertentu dalam produksi pengetahuan (Hidayat, 2018). Hal ini tentunya dapat memberikan implikasi berupa pelemahan kapasitas dari kelompok marjinal untuk menyebarkan pengetahuannya ke kelompok lain, sehingga menghilangkan pengaruh epistemiknya (Margonis dalam Hidayat, 2007). Ini seringkali terlihat dari masih banyaknya orang yang memandang remeh kisah yang pernah dialami para penyintas kekerasan seksual. Pengetahuan dan pengalaman para penyintas seringkali dianggap tidak begitu penting, dan bahkan cenderung “dibesar-besarkan”. Hal ini tentu menghambat penyebaran pengetahuan bahwa kekerasan, salah satunya kekerasan seksual, bukanlah sesuatu yang dapat ditolerir.

Para feminis pun mencoba untuk menolak adanya teori pengetahuan yang ternyata bersifat seksis. Pasalnya, selain dapat berakibat pada adanya epistemic injustice dan epistemic ignorance, ilmu yang didasari dengan pengetahuan yang bersifat maskulin juga bertendensi untuk menguasai dan mendominasi alam. Hal inilah yang dikatakan para feminis sebagai salah satu perbedaan karakteristik pengetahuan bergender feminin dengan yang maskulin. Pengetahuan yang bersifat feminin lebih menekankan adanya keinginan untuk hidup dalam kedamaian dengan alam. Sensitivitas dan pemahaman perempuan terhadap alam ini seringkali dianggap sebagai kapasitas rasional perempuan dan menjadikannya sebagai kemampuan ilmiah mereka. Namun, beberapa feminis lain menolak pernyataan ini dan lebih menganggap sifat-sifat ini sebagai kemungkinan dalam konseptualisasi dan cara mengetahui yang spesial dari perempuan  (Held, 1985). Kedua pernyataan ini hanya membedakan dari segi derajat kemampuan perempuan untuk menghasilkan pengetahuan, tetapi mereka sesungguhnya memiliki kesimpulan utama yang sama: bahwa perempuan memiliki potensi epistemologis yang sesungguhnya bisa berkontribusi dalam dunia ilmiah.

Akan tetapi, problem lain kemudian muncul. Jika kita sepenuhnya sepakat terhadap apa yang disebut dengan pengetahuan bergender maskulin dan yang feminin, kita justru akan terjebak dalam esensialisme. Jika kita menolak sepenuhnya pengetahuan yang bersumber dari laki-laki, atau yang bergender maskulin, menurut Gatens (1991), kita hanya akan mengulang dan menduplikasi gambaran tentang perempuan. Untuk mengafirmasi sifat perempuan yang secara alamiah atau secara bawaan sebagai seorang yang memelihara, sensitif, dan dekat dengan alam, justru mengabaikan fakta bahwa sifat-sifat tersebut merupakan hasil konstruksi sosial dan politis, dan praktik-praktik yang diskursif. Perlu juga untuk diingat bahwa tradisi filsafat dan ilmu-ilmu lainnya, walaupun dihasilkan dari pemikiran laki-laki, telah memberikan manfaat yang sedikit banyak memberikan kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang berguna untuk berbagai lini kehidupan kita. Pun, jika kita mengambil filsafat sebagai salah satu contoh pengetahuan bergender maskulin, kita juga harus paham bahwa filsafat adalah sesuatu yang tidak pernah statis; ia selalu dinamis dan berkembang sesuai zaman.

Maka dari itu, diperlukan sikap kritis dalam memandang berbagai dikotomi yang sedikit banyak memengaruhi perempuan dan posisinya. Dikotomi ini, misalnya, berupa reason/passion, mind/body, dan nature/culture. Ketiganya seringkali dikaitkan sebagai atribut masing-masing gender. Jika laki-laki dan gender maskulin diatribusikan dengan reason, mind, dan culture; maka perempuan dan gender feminin akan diasosiasikan dengan oposisinya yaitu passion, body, dan nature. Dikotomi ini pun tidak bersifat setara sebab salah satunya diandaikan memiliki posisi yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Jika kita membawa ke dikotomi sederhana Rene Descartes, maka yang lain dari A bukan disebut sebagai B, tetapi Bukan-A. Sehingga, jika mind diandaikan sebagai A, yang Bukan-A adalah segala yang disebut body. Body yang dimaksud di sini tidak hanya yang dimiliki manusia, tapi juga hewan, tumbuhan, batu, dan apapun yang bukan-mind. Hal apapun yang bukan-mind akhirnya disimpulkan sebagai sesuatu yang lebih rendah derajatnya dari mind.

Pandangan berbeda terkait hal ini datang dari Gatens (1991). Ia justru menganggap bahwa perempuan tidak masuk ke dalam salah satu oposisi itu karena ia secara konseptual dan harfiah, berperan sebagai “jembatan” untuk laki-laki di antara semua oposisi biner itu. Sehingga, ketika ia berperan sebagai jembatan, secara otomatis ia tidak bisa menyeberangi dua oposisi itu karena tidak ada jembatan yang disediakan untuk dirinya. Atau lebih tepatnya, jembatan untuk perempuan itu tidak ada sama sekali. Di sini malah ditampilkan bahwa perempuan tidak punya signifikansi khusus dalam dikotomi yang disebutkan tadi. Hal inilah yang harusnya semakin menguatkan pernyataan bahwa segala dikotomi ini harus selalu dikritisi sebab ia justru mendevaluasi gerakan perempuan. Dikotomi inipun sebenarnya tidak memberikan dampak lain selain untuk menguatkan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Selain kritis terhadap beragam stereotip yang terlihat mampu membuat pengetahuan perempuan lebih mendapatkan tempat dalam dunia ilmu, padahal ternyata bersifat destruktif untuk gerakan perempuan itu sendiri, mungkin kita dapat mengadopsi pemikiran Mies (1993) dalam menanggapi persoalan pengetahuan dan gender. Baginya, kita harus memberikan ruang gerak yang lebih bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam ranah keilmuan. Ia memberikan guideline yang singkat dalam menjalankan feminist research. Pertama, netralitas terhadap objek penelitian harus digantikan dengan keberpihakan yang berkesadaran. Keberpihakan ini berbeda dengan subjektivisme atau empati, karena ia membentuk suatu jarak yang kritis antara peneliti dan yang diteliti. Keberpihakan ini memungkinkan adanya koreksi distorsi persepsi antara kedua sisi dalam penelitian, dan tentunya memperluas kesadaran dari keduanya. Kedua, hubungan antara peneliti dan yang diteliti haruslah setara. Atau, meminjam istilah Mies, mengganti view from above dengan view from below. Dengan begitu, ketakutan dan keengganan “objek” yang diteliti akan berkurang karena adanya kepercayaan terhadap seseorang yang setara dengan dirinya. Ia akan merasa tidak semata-mata sebagai objek saja.

Adanya sikap kritis terhadap pengetahuan dan ilmu, serta keberpihakan dan kedekatan antara peneliti dengan yang diteliti, diharapkan akan menjadikan ilmu dan para akademisi yang terlibat di dalamnya untuk menjadikannya sebagai bagian dari aksi dan perjuangan untuk melawan serta mengubah status quo. Kita pun dapat membantu memperdengarkan suara dan pengetahuan dari kaum yang termarjinalkan. Kemajuan ilmu dan penghormatan terhadap beragam pengetahuan seharusnya menjadi tanggung jawab semua orang, terlepas dari jenis kelamin dan gendernya. Maka dari itu, ini bukan lagi persoalan terkait pengetahuan apa yang lebih baik; yang bersifat maskulin atau feminin, yang dihasilkan oleh laki-laki atau perempuan. Hal yang harusnya selalu menjadi concern kita adalah bagaimana ilmu dapat menjadi sesuatu yang berguna untuk kehidupan kita yang lebih baik, bukan siapa yang memenangkan atau mendominasinya.***


Oktaria Asmarani adalah mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada dan aktif di organisasi pers BPPM Balairung UGM


Kepustakaan:

Gatens, Moira. 1991. Feminism and Philosophy: Perspectives on Difference and Equality.

Bloomington: Indiana University Press

Held, Virginia. 1985. “Feminism and Epistemology: Recent Work on the Connection between

Gender and Knowledge” dalam Philosophy & Public Affairs 14(3), 1985, p. 296-307

Hidayat, Rachmad. 2018. “Feminist Epistemology and the Search for Liberating Knowledge”

dalam Jurnal Filsafat 28(2), 2018, p. 141-159

Mies, Maria and Vandana Shiva. 1993. Ecofeminism. London: Zed Books

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus