De Beauvoir & Solidaritas Perempuan dalam Liberasi Dialektika Hegelian

Print Friendly, PDF & Email


Simone de Beauvoir & Alienasi Tubuh Perempuan

Membicarakan mengenai ketidaksetaraan gender dan penundukkan (subjugation) perempuan oleh roda kejam patriarki kerap membawa kita dalam diskursus mengenai identitas dan tubuh mereka. Sang luminary keadilan gender, Simone de Beauvoir sendiri menjabarkannya dalam kitab besar feminisme, The Second Sex. Konsepsinya mengenai alienasi perempuan sebagai “Other” atau “Yang Lainnya” begitu seminal dalam membongkar kenyataan menyedihkan bahwa secara historis laki-laki dalam berbagai level telah menekan otonomi identitas perempuan dengan cara yang indah namun brutal, yakni secara alam bawah sadar memaksa dunia dipandang dari hanya satu lensa saja, sudut pandang maskulinitas.

Devaluasi nilai perempuan secara sistemik ini mentransformasi perspektif terhadap perempuan sebagai suatu “subjek” yang memiliki nilai intrinsik menjadi suatu “objek” yang hanya diatribusikan secara relatif berdasarkan norma maskulin yang berlaku, mengisolasi mereka secara degradatif menjadi “Other”. Alienasi ini lah yang menjadi ladang subur untuk tumbuhnya tendensi kultural seperti phallogosentrisme ala Annie LeClerc, hingga performativitas gender ala Judith Butler.

Dalam bahasa de Beauvoir,

“For him she is sex, absolute sex, no less. She is defined and differentiated with reference to man and not he with reference to her; she is the incidental, the inessential as opposed to the essential. He is the Subject, he is the Absolute, she is the Other”. (The Second Sex)

Manifestasi lain yang menarik dari degradasi tersebut adalah suatu bentuk yang selalu secara kasat mata menampakkan diri dalam diskursus sosial-politik namun begitu krusial dalam relasi kuasa, yakni tubuh perempuan, beserta segala atribut seksual yang melekat padanya. “Keteraturan simbolis” yang pro-maskulin selalu sampai pada kesimpulan bahwa kapabilitas perempuan untuk mengemban peran-peran penting dalam masyarakat, jauh dari layak. Atribut biologis dari perempuan tampak di mata status quo sebagai sesuatu yang asing, dan hal-hal seperti maternitas seakan tidak fit dengan standar hegemonis.

Dalam suatu refleksi yang penuh keprihatinan, de Beauvoir mengafirmasi bahwa konsepsi Aristotelian yang mengatakan perempuan adalah “makhluk yang dikutuk oleh semesta dengan suatu kecacatan yang alamiah”, telah berhasil mendorong alam bawah sadar kaum perempuan untuk menerima subjugasi dunia. Hegemoni maskulinitas secara brilian merubah tubuh perempuan itu sendiri sebagai suatu penjara yang tidak akan pernah lenyap akibat segala keasingan yang melekat padanya, suatu simbol akan kelemahan dan vulnerabilitas. Harus kita akui juga, agama bahkan membawa ini lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa tubuh perempuan tidak hanya rentan, namun juga mengancam stabilitas kain sosial dan wajib ditutup dengan rapat.

De Beauvoir dalam menganalisa fenomina ini secara revolusioner menggunakan paradigma dialektika master dan slave konsepsi G.W.F. Hegel sebagai fondasi dari kritiknya. Beliau mengargumentasikan bahwa serupa dengan slave Hegelian, atau dalam konteks ini perempuan sebagai “Other”, diruntuhkan identitasnya sebagai entitas yang inferior, sebagai konsekuensi dari penggunaan kualitas laki-laki sebagai master dengan standar absolutnya mengenai kapasitas manusia.

Menggunakan lensa penghakiman tersebut, “kecacatan” perempuan berupa tubuhnya yang “rentan”, adalah suatu justifikasi untuk merelegasi statusnya sebagai warga kelas dua, yang dengan lebih menyedihkannya lagi, tidak pernah berupaya memerdekakan diri karena telah terperangkap ilusi bahwa tanpa tuannya, mereka tidak akan pernah bisa apa-apa.

Dalam suatu observasi mengenai rantai tidak telihat yang mengekang perempuan, de Beauvoir mengungkapkan,

“She has been taught to accept masculine authority. So she gives up criticizing, investigating, judging for herself, and leaves all this to the superior caste. Therefore the masculine world seems to her a transcendent reality, an absolute. ‘Men make the gods,’ says Frazer, ‘women worship them’”. (The Second Sex)


Krisis Ikatan dalam Jalur Liberasi Hegelian

Kerap kali dinamika penundukkan suatu kaum berawal dari inferioritas angka, sebagaimana yang terjadi pada kaum kulit hitam Amerika maupun kaum Yahudi, di mana pada suatu titik terjadi insiden historis yang menginisiasi dominasi tersebut. Implementasi perbudakan di Amerika untuk menunjang industri katun, diaspora kaum Yahudi, hingga praktek imperialisme Eropa merupakan beberapa contoh yang digarisbawahi oleh de Beauvoir. Penyebab lain mungkin juga bisa bermula dari revolusi sistemik, seperti roda kapitalisme yang menancapkan social cleavage antara kelompok pemegang kapital dan kaum proletariat.

Permasalahannya adalah, kaum perempuan bukanlah suatu minoritas, secara kasar jumlah perempuan di muka bumi ini hampir sama dengan jumlah laki-laki. Berbeda juga dengan kaum proletariat yan pernah tidak exist, kaum perempuan selalu ada sejak awal masa. Dengan kata lain, tidak ada insiden historis yang memulai pengekangan identitas mereka, karena subjugasi yang jatuh pada perempuan merupakan devaluasi terhadap nilai tubuh mereka yang telah berlangsung abadi.

Missing link” berupa insiden historis ini menjadi krusial untuk mempermudah pelepasan diri dari penindasan suatu kaum. De Beauvoir mengargumentasikan bahwa suatu insiden historis merupakan suatu indikasi bahwa terdapat suatu memori indah masa lampau, yang dapat menjadi ikatan bersama entah itu tradisi, kultur, maupun agama sebelum seluruh dominasi ini terjadi. Ikatan bersama ini dapat menjadi basis suatu kebangkitan dan dorongan untuk melepaskan diri dari subjugasi master mereka.

Implikasi dari hal ini adalah, berbeda dengan slave lain yang kerap disebutkan dalam dialektika Hegelian, kaum perempuan sepertinya tidak mampu untuk mengidentifikasi sumber dari status “Other” yang melekat pada mereka, tidak mampu saling relate terhadap suatu ikatan di masa lalu, sehingga selalu tertahan untuk benar-benar menyadari perbudakan identitas yang menimpa mereka.

De Beauvoir mengartikulasikan kekhawatiran ini melalui suatu segmen dalam bukunya,

“Throughout history they have always been subordinated to men in virtue of their anatomy and physiology, and hence their dependency is not the result of a historical event or a social change. The reason why otherness in this case seems to be an absolute is in part that it lacks the contingent or incidental nature of historical facts”. (The Second Sex)


Sebuah Seruan untuk Solidaritas

Tentu saja kalimat-kalimat de Beauvoir di atas sangat meresahkan, karena untuk dapat memenuhi “ramalan” jalur liberasi Hegelian, dan menginisiasi proses transcendence dari status mereka sebagi “Other”, diperlukan suatu pegangan sebagai basis dari kebangkitan. Absensi ikatan masa lalu ini memunculkan suatu krisis, di mana impian kemerdekaan identitas ini pun diancam oleh fragmentasi internal yang terjadi. Perempuan lebih nyaman bersatu di bawah panji-panji agama atau ras, ketimbang menyerang subjugasi sistemik terhadap tubuh mereka sembari berpegangan tangan.

Tidaklah suatu masalah apa motivasi yang digunakan untuk memicu persatuan tersebut. Virgina Woolfe menyerukan persatuan untuk menuntut akses supaya perempuan dapat menulis, Germaine Greer mengajak perempuan bersatu dalam semangat liberasi seksualitas, dan feminis kontemporer Tarana Burke memanggil seluruh kaum perempuan bergandengan tangan untuk menumpas pelecehan seksual sistemik. Motivasi yang digunakan de Beauvoir hanyalah satu, sederhana, namun yang paling fundamental. Kaum laki-laki progresif akan setia menjulurkan tangan, namun solidaritas kaum perempuan sangatlah imperatif sebagai satu-satunya harapan untuk merdeka.***


Luthfi T. Dzulfikar adalah mahasiswa politik dan hubungan internasional Universidad Carlos III Madrid. Temukan pendapat-pendapatnya di Youtube dan Twitter.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus