Marx dan Kolonialisme Belanda di Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Batavia 1946. Kredit foto: Holandia bez tajemnic


Kawan-kawan sekalian,

SEBAGAI sejarawan kapitalisme yang mengkhususkan diri pada sejarah Belanda dan imperiumnya, saya selalu tergugah oleh bab-bab terakhir volume I dari Kapital-nya Marx. Di sana Marx memberikan gambaran yang memukau tentang fenomena historis yang seringkali penuh dengan kekerasan, yang berkontribusi bagi kelahiran sistem kapitalis, “menetes dari kepala ke kaki, dari setiap pori-pori, dengan darah dan kotoran.” Saya yakin bahwa kalian, sebagai pembaca IndoPROGRESS, sadar bahwa pada poin krusial dari eksposisi sejarahnya, Marx memberikan perhatian khusus pada kekerasan kolonial Belanda di Indonesia sebagai ilustrasi tentang proses yang terjadi secara umum ini. Dalam surat pertama saya ini, saya hendak mendiskusikan mengapa dan bagaimana Marx menggunakan contoh ini.

Marx menyebut tentang kolonialisme Indonesia beberapa kali dalam volume I Kapital, dan di beberapa tempat lain dalam karyanya. Tetapi bagian yang paling signifikan ada pada bagian awal bab tentang “Kelahiran Kapitalis Industrial”. Pokok bahasan bab ini adalah tentang perbudakan kolonial dan depopulasi brutal wilayah-wilayah jajahan yang mengiringinya. Setelah mengutip penilaian administrator kolonial Inggris Thomas Stamford Raffles bahwa sejarah kekuasaan Belanda di Asia adalah “salah satu hubungan paling luar biasa dari pengkhianatan, penyuapan, pembantaian, dan ketidakadilan”, Marx melanjutkan:

Tidak ada yang lebih menggambarkan karakter dari sistem mereka yang menculik manusia untuk mendapatkan budak-budak untuk pulau Jawa. Sang penculik, penerjemah, dan penjual, adalah agen-agen utama dalam perdagangan ini. Orang-orang muda yang diculik dilemparkan ke penjara-penjara rahasia di Celebes, sampai mereka siap untuk dikirim lewat kapal-kapal budak. Sebuah laporan resmi mengatakan:

“Kota di Makassar ini penuh dengan penjara-penjara rahasia, yang satu lebih mengerikan daripada yang lain, dipadati oleh orang-orang tak beruntung, korban ketamakan dan tirani yang dirantai, dipaksa untuk berpisah dengan keluarga mereka.”

… Di mana pun [Belanda] menginjakkan kaki, kehancuran dan depopulasi mengikuti. Banyuwangi, provinsi di Jawa, pada tahun 1750 berpenduduk lebih dari 80.000, di tahun 1811 hanya 18.000. Perdagangan yang manis!

Kemunculan kritik Marx atas kolonialisme Belanda di Indonesia dalam bab tentang “Kelahiran Kapitalis Industrial” adalah hal yang menarik secara teoretis. Meski judulnya menunjukkan bahwa teks tersebut akan berfokus pada tahapan-tahapan awal revolusi industri di Inggris, kenyataannya ia mengulas materi yang lebih luas. Bagian yang paling terkenal dari teks ini mengilustrasikan luasnya visi global Marx: “Penemuan emas dan perak di Amerika, pemotongan bagian tubuh, perbudakan, dan penguburan orang-orang Aborigin dalam tambang-tambang, awal penguasaan dan penjarahan Hindia Timur, Afrika yang diubah menjadi tempat resmi dari perburuan komersil orang-orang kulit hitam, menandakan terbitnya era produksi kapitalis. Perkembangan-perkembangan ini adalah momen utama akumulasi primitif.”

Tetapi pembahasan Marx tentang kekerasan tidak berhenti dengan relasi predatoris antara kekuatan-kekuatan Eropa yang tengah bangkit dan belahan dunia sisanya. Dalam bab tersebut, Marx juga membahas bagaimana peningkatan kompetisi global mengubah masyarakat Eropa dan institusi negaranya, menjelaskan perang-perang dagang antar kekuatan Eropa, juga munculnya hutang publik, pajak negara, dan sistem kredit internasional. Tidak ada bagian yang spesifik di mana Marx menjelaskan bagaimana persisnya elemen-elemen ini berkontribusi pada kebangkitan industri kapitalis. Justru teks tersebut menunjukkan variasi mekanisme. Barangkali yang paling jelas adalah bahwa ekspansi ke wilayah asing telah menolong bangsa-bangsa Eropa untuk memanen harta karun dunia yang dijadikan kapital. Secara signifikan, Marx merujuk kepada sistem kolonial Belanda sebagai contoh utama. “Harta karun yang diraup di luar Eropa lewat penjarahan, perbudakan, dan pembunuhan, diapungkan kembali ke ibu pertiwi dan di sana dijadikan kapital.” Mekanisme kedua yang dijelaskan oleh Marx adalah bahwa petualangan-petualangan militer negara ke tempat-tempat asing berfungsi sebagai pengungkit untuk mengonsentrasikan dana dalam jumlah besar di tangan orang-orang kaya, dan memungkinkan investasi mereka keluar dari batasan-batasan yang biasanya menjadi ciri dari sistem produksi lokal. Dengan demikian, negara-negara Eropa menganugerahi “uang dengan kuasa untuk beranak-pinak dan menjadikannya kapital”.

Namun mekanisme yang final dan terluas cakupannya menurut Marx dalam bab ini adalah bagaimana perang-perang ekspansi dan kolonialisme menyuguhkan model-model yang kuat dan contoh-contoh praktis tentang pemisahan pekerja dari alat produksinya untuk bertahan hidup, dan mengorbankan mereka untuk industri modern. “Sistem kolonial, hutang publik, pajak tinggi, proteksi, perang dagang, dll., anak-anak dari periode manufaktur ini, meningkat secara pesat selama masa-masa awal industri modern. Kelahiran yang terakhir ini ditandai dengan penyembelihan orang-orang tak bersalah. Seperti angkatan laut kerajaan, pabrik-pabrik dibangun lewat paksaan.” Inilah visi yang sangat jauh berbeda dengan paham liberal, yang juga popular di zaman Marx dan di antara sejarawan ekonomi modern, tentang kebangkitan industri sebagai kemenangan yang stabil dari buruh yang merdeka dan berkontrak. Marx paling kuat mengekspresikan pemikiran ini dengan berulang kali kembali ke isu “penculikan dan perbudakan anak” sebagai komponen yang niscaya dari “transformasi eksploitasi manufaktur menuju eksploitasi pabrik, dan pendirian ‘relasi yang benar’ antara kapital dengan tenaga kerja.” Bagi Marx, setelah perbudakan di Amerika, kekerasan kolonial di Indonesia menyuguhkan contoh yang prima tentang bagaimana kekerasan digunakan untuk menciptakan prakondisi perkembangan kapitalis. Dan dalam terang pembahasan di atas, tidaklah mengejutkan bahwa “penculikan orang-orang muda” lewat perdagangan budak Hindia Belanda menjadi pusat dari kritiknya.

Ada banyak alasan mengapa Marx sangat menyoroti sejarah kolonial Belanda di Asia dalam bab ini. Semoga kita dapat membahasnya dengan lebih detil di waktu yang akan datang. Salah satunya adalah keyakinan Marx, yang terekspresikan dalam artikelnya yang terkenal di tahun 1853 “Pemerintahan Inggris di India”, bahwa ekspansi Belanda di Asia yang lebih awal telah menyediakan model bagi penguasaan Inggris atas India. Latar belakang penulisan Marx juga dapat menjadi faktor besar. Belanda secara formal menghapuskan perbudakan di koloni Hindia Belanda-nya di tahun 1860, hanya tujuh tahun sebelum Marx menerbitkan volume I Kapital. Pada saat yang sama, kerja paksa sebagai instrumen kunci eksploitasi kolonial masih berlangsung dalam bentuk ‘sistem tanam’, dan Belanda melancarkan kampanye-kampanye militer dan perang dalam skala besar untuk memperluas cengkeramannya atas seluruh wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Akhirnya, contoh kolonialisme Belanda di Indonesia menolong Marx untuk menunjukkan bahwa jenis proses yang dia sebut “akumulasi asali”, walaupun beroperasi secara partikular di Inggris, pada dasarnya berciri transnasional. Sebagai “model bangsa kapitalis abad ke-17”, Republik Belanda dan kebijakan-kebijakan kejamnya di luar negeri menyediakan kasus yang jelas untuk melihat secara lebih luas dari kepulauan Britania.

Banyak sejarawan Marxis tentang asal-mula kapital yang belakangan mengabaikan proses dan perbandingan dalam skala internasional yang demikian. Mereka lebih berfokus pada “karakteristik spesial” yang menjadikan Inggris sebagai bangsa industrial pertama, sembari mengabaikan banyak aspek global dari argumen Marx. Sementara itu, banyak sejarawan Belanda telah secara sistematis menganggap enteng peran yang dimainkan oleh kekerasan kolonial dari negara ini di masa lalu, dan suara-suara balasan dari koloni-koloni lama Belanda telah lama diabaikan. Generasi sejarawan baru di Belanda kini menantang pandangan-pandangan ini dari perspektif kritis. Lewat surat ini, saya harap saya tidak hanya membagikan beberapa penemuan saya, tetapi yang lebih penting lagi adalah mengundang respons dan kritik dari kalian semua. Jadi tolong, kawan-kawanku sekalian, tulislah surat-surat balasan. Pertanyaan mengenai “akumulasi asali” adalah lebih dari sekadar minat sejarah. Ia merujuk pada sentralitas kekerasan dalam kapitalisme global di masa lalu, tetapi juga membangkitkan pertanyaan-pertanyaan krusial tentang hakikat kekerasan dalam eksploitasi ekonomi di dunia hari ini.***


Pepijn Brandon adalah Asisten Profesor dalam Sejarah Sosial dan Ekonomi di Vrije Universiteit, Amsterdam, dan Peneliti Senior di International Institute of Social History. Ia juga berafiliasi dengan Huntington Library, University of Pittsburgh, dan Harvard University. Ia telah mempublikasikan secara luas penelitiannya tentang sejarah perang, kolonialisme, dan perbudakan di imperium Belanda, juga tentang ide-ide Karl Marx dan Rosa Luxemburg. Monograf-nya War, Capitalism, and the Dutch State (1588-1795) telah diterbitkan dalam seri Historical Materialism dari penerbit Brill/Haymarket.

Artikel ini diterjemahkan oleh Daniel Sihombing.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus