Pesta Tiga “Raja” dan Strategi Teks Melawan Tirani

Print Friendly, PDF & Email

 Kredit ilustrasi:IINDOSOC SHEFFIELD



PARA teolog Amerika Latin mengingatkan agar sebelum melakukan Teologi Pembebasan orang perlu terlebih dahulu membebaskan Teologi dari berbagai jerat kekuasaan yang membelenggu konsep-konsepnya.

Pesta tiga raja (6 Januari) adalah contoh bagaimana narasi Injil yang revolusioner dijinakkan oleh tradisi agama. Perayaan ini populer di abad pertengahan bersamaan dengan ekspansi kristen ke Amerika.

Di negara-negara berbahasa Spanyol pesta ini identik dengan pemberian hadiah bagi anak-anak, sedangkan gereja (Katolik) di Indonesia mengadopsi tradisi Jerman; kelompok anak-anak berkunjung ke rumah warga untuk berdoa dan menggalang dana untuk kepentingan karitatif.


Raja atau Sarjana?

Seiring dengan julukan “raja” yang disematkan kepada tiga tokoh anonim yang dikisahkan Matius (2:1-12) dimensi perlawanan yang menonjol dalam Injil diromantisasi. Julukan ini rupanya “ditumpangi” kolonialisme untuk menaklukkan bangsa-bangsa jajahan.

Semboyan Gold, Gospel and Glory memungkinkan Injil diinstrumentalisasi untuk melayani proyek-proyek penjajah yang lain (emas dan kejayaan). Julukan “raja” kepada tiga majus dari timur dapat diterima karena memang cocok dengan wawasan universalisme yang diusung Injil Matius. Teks ini memang mengandung “kerapuhan” yang dapat dipakai untuk membius gerakan perlawanan. Mencuri keuntungan dari narasi teks ini, gereja memuluskan koalisi dengan raja-raja lokal.

Kini yang tertinggal dari pesta tiga raja adalah ritual yang dihubungkan dengan aksi karitatif. Untuk merebut kembali makna yang telah “dibengkokkan” dalam sejarah dan budaya konsumsi belakangan ini, baiklah disadari bahwa Injil sejatinya adalah “teks proklamasi kemerdekaan” yang disusun untuk melawan rezim penjajah Romawi. Terdapat banyak permainan semiotik yang menempatkan dua kubu yang saling berseberangan; Herodes yang mewakili status quo dan Yesus, si anak kampung Nazaret, yang mewakili oposisi. Pesan mesianik Injil menerbitkan harapan untuk mengganti totalitarianisme rezim penguasa dengan sebuah Republik (Kerajaan) Allah yang lebih adil.

Dari sudut pandang literer, Injil tercetus dari budaya literasi lingkungan Yahudi-Kristen abad pertama. Ia lahir sebagai pergulatan yang intens komunitas akar rumput pengikut Yesus berhadapan dengan realitas penderitaan sosial-politik Palestina. Dalam batasan tertentu, proses kreatifnya tidak berbeda dari kerja Andrea Hirata untuk melahirkan Laskar Pelangi atau proyek Pramoedya mengolah tetralogi Pulau Buruh. Sebagaimana konteks Belitung dan sejarah kemerdekaan dibaca secara baru oleh dua penulis tanah air tersebut, demikianpun Injil digodok dalam dialog kritis dengan konteks krisis sosial-politik zamannya.

Bagi saya istilah “majus” dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia atau “orang bijak” seperti usulan King James Version (Mat 2:1), jauh lebih menggambarkan peran protagonis mereka di hadapan antagonisme Herodes. Dalam beberapa komentar Alkitab, para “majus” dikaitkan dengan kelompok internal, tim penasihat di lingkungan istana. Jadi, ada peran intelektual yang sebetulnya melekat pada julukan ini sebab posisi mereka turut menentukan arah kebijakan raja. Di Indonesia malah dikenal pula sebutan yang lebih mengigit: “tiga sarjana”. Sebutan ini tentu lebih menyingkapkan energi revolusi di balik teks tentang tiga majus yang sedang berhadap-hadapan dengan naluri kekuasaan Herodes yang korup.


Naluri Kuasa

Dalam kisah seputar kelahiran Yesus, naluri kekuasaan yang korup bekerja dalam tiga cara. Pertama, kontrol terhadap tafsiran. Injil Lukas hanya bercerita tentang sensus versi Kaisar (Luk 2:1) tanpa menyebut lembaga independen lain  yang menjalankan administrasi serupa. Artinya, klaim atas kebenaran hanya ada di tangan penguasa. Tidak ada tafsiran alternatif atas realitas. Setelah direduksi ke dalam angka dan grafik data dibaca dan dipakai semata-mata untuk memantapkan status quo.

Kedua, kontrol terhadap informasi. Herodes mengetahui rencana para sarjana yang sedang mencari informasi tentang bayi Yesus. Herodes secara diplomatis berusaha membangun koalisi dengan para intelektual tersebut: “… dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.” (Mat 2:8). Terselubung niat Herodes untuk memanipulasi.

Ketiga, kontrol terhadap hidup manusia. Herodes melakukan genosida terbuka dengan membantai bayi-bayi (Mat 2:16). Tujuannya adalah membungkam suara kritis. Ia menjalankan sejenis “politik genderuwo” untuk mempertahankan jabatannya. Herodes seolah mengirimkan pesan kepada semua ibu Israel untuk berhenti melahirkan. Dalam mentalitas Yahudi, brutalitas ini persis berlawanan dengan misi prokreasi Allah dalam kisah penciptaan.

Tiga jenis kontrol di atas mudah dijumpai pada masa pemerintahan rezim Orde Baru. Salah satu puncak simbolik dari kontrol terhadap tafsiran terjadi pada tahun 1993 ketika Pemerintah mengeluarkan pecahan 50 ribu bergambar Soeharto dengan tajuk “Bapak Pembangunan Nasional”. Uang kertas ini dirilis untuk memperingati HUT ke-25 Indonesia membangun. Ada upaya terang-terangan untuk memoles citra penguasa dengan tafsir yang hegemonik dari sisi penguasa.

Hari ini keberhasilan Pemerintah Jokowi membangun infrastruktur yang didorong wacana Indonesiasentris merupakan pencapaian yang sulit dibantah. Namun, glorifikasi berlebihan terhadap infrastruktur sambil menutup mata terhadap isu HAM yang cenderung diabaikan merupakan satu cara mengokohkan tafsir tunggal yang terus dimainkan status quo.

Kebiasaan bredel buku dan pers merupakan cara-cara rezim Orde Baru yang belakangan ini, menurut berita beberapa media, dibiarkan oleh Pemerintahan Jokowi. Hal ini disinyalir sebagai upaya membendung kampanye hitam yang cenderung memojokkan sang petahana. Di tengah invasi media digital yang masif upaya tersebut ibarat menegakkan benang basah. Lantas, mengapa Pemerintah membiarkan praktik ini? Rupanya ada pesan semiotik di tahun politik ini yang mau dikirimkan kepada siapapun yang ingin melawan. Pesannya kira-kira bisa berbunyi: “Presiden kita juga bisa bermain kasar!”

Publik tampaknya masih terus memantau sejauh mana kontrol dimainkan rezim penguasa. Tentu rakyat mempunyai batas toleransi atas praktik pemberangusan ketika eskalasinya cenderung naik. Di balik apresiasi dunia internasional atas pencapaian Jokowi, pemberlakuan hukuman mati bagi para gembong narkoba pada awal karirnya memberi dia poin merah. Dalam soal HAM, rapor Jokowi tidak tidak kalah buruk dari Presiden Duterte di Filipina. Malah belakangan ini masalah Papua sedang dihadapi dengan pendekatan militer.

Betapapun secara pribadi Jokowi mempunyai opsi untuk mendahulukan warga di pinggiran Indonesia, ia sendiri sulit menghindar dari watak kekuasaan yang cenderung korup. Bagaimanapun juga kesuksesan membangun infrasturktur akan terus dikapitalisasi dalam kampanye Jokowi untuk meraih tampuk kekuasaan satu periode lagi dengan risiko mengabaikan revolusi mental dan pembangunan manusia yang diusungnya dalam nawacita 2014 silam.

Inti sari dari lukisan Injil tentang kontrol yang dijalankan Herodes dan pemerintah di manapun menegaskan sekali lagi apa yang dikatakan Lord Acton, “Kekuasaan itu cenderung korup; dan kekuasaan absolut cenderung korup secara brutal.”


Nalar Teks

Kumpulan narasi seputar kelahiran Yesus nyaris tidak bisa dibaca tanpa perspektif tragis di Golgota. Secara kronologis kisah kelahiran Yesus disusun sesudah peristiwa salib. Ibarat seorang pahlawan perang, ketokohan Yesus mulai diminati pasca peristiwa heroik penyaliban-Nya. Komunitas-komunitas Kristen terdorong mengembangkan narasi tentang asal-usul pahlawan mereka. Jadi, Injil hendak memberi kesan: teror terhadap tokoh utama sudah dimulai sejak awal hidup-Nya.

Sepanjang kisah Injil, percobaan untuk membunuh Yesus dilakukan berulang-ulang terutama karena tiga hal; pertama, Dia suka membuat tersinggung para ulama karena doyan melanggar aturan Sabat; kedua, Dia menista agama Yahudi karena lancang menyebut Allah sebagai Bapa-Nya; dan ketiga, Dia mengancam akan meruntuhkan Bait Allah (Mrk 14:58), simbol tatanan sosial politik dan religius Yahudi saat itu. Seruan revolusi ini di Indonesia bisa disamakan dengan niat untuk membubarkan lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif sekaligus; skandal yang hanya bisa ditebus dengan nyawa. Setidaknya gerakan reformasi ’98 memberikan imajinasi tentang risiko dari seruan revolusioner ini.

Singkatnya Injil adalah refleksi teologis kontekstual yang intens terhadap realitas penderitaan (penindasan) yang dialami bangsa Palestina. Matius mengisahkan bagaimana nasib rakyat terancam oleh tirani Herodes. Di tengah himpitan penderitaan sosial-politik tersebut Yesus tampil sebagai tokoh penyelamat yang memberikan harapan baru.

Sebagaimana gerakan reformasi ‘98 menyadarkan banyak orang tentang kefanaan rezim Orde Baru, demikian pun narasi Injil menggarisbawahi gagalnya kontrol mutlak Herodes atas rakyat. Sebagai “cerpenis” Penginjil Matius dan Lukas melawan Herodes lewat naskah.

Kontrol terhadap tafsiran ditandingi oleh narasi tentang keluarga Yusuf dan para gembala yang luput dari sensus. Partus Maria di kandang hewan adalah fakta yang mendistorsi tafsir tunggal penguasa. Kontrol terhadap informasi terbukti gagal karena para “sarjana” memilih jalan independen, memunggungi iming-iming Herodes. Demikian pun teror yang dilancarkan Herodes kandas. Bayi Yesus yang survive adalah sinisme terhadap penguasa yang disokong armada bersenjata dan infrastruktur negara.

Kehadiran “malaikat”, “bintang” atau “mimpi” adalah teknik literer yang kiranya tidak menyesatkan para pembaca generasi milenial. Gejala surealisme dalam gaya bercerita Matius dan Lukas dipengaruhi oleh khazanah literer zamannya. Para penginjil tidak bermaksud mengeksploitasi daya magis langit untuk terlibat dalam detail kehidupan sehari-hari, namun sebaliknya menyokong daya nalar untuk menghadapi kekuasaan totaliter. Tidak ada senjata lain untuk melawan kebengisan Herodes selain pena dan imajinasi.

Sikap kritis Yusuf dibahasakan lewat kemahirannya menafsir mimpi, sedangkan sikap kritis para “sarjana” diekspresikan dalam petunjuk bintang yang membelokkan “haluan politik” mereka. Sekalipun banyak orang bungkam di bawah rezim Herodes, toh tetap tampil kelompok kecil yang merawat integritasnya. Yang paling mengejutkan dalam Injil adalah suara kritis Maria. Penulis Injil Lukas menyusupkan syair protes paling frontal dalam Alkitab lewat suara sopran (Luk 1:46-56).

Sikap independen Yusuf dan para sarjana untuk mengikuti dorongan akal sehat, dengan sedikit imajinasi, bisa dikaitkan dengan profesi mereka. Yusuf si tukang kayu dan para sarjana yang menekuni benda-benda angkasa tentu akrab dengan matematika praktis dan kebebasan berpikir. Cerita seputar Natal sangat menonjolkan potensi nalar manusia berhadapan dengan naluri kekuasaan yang cenderung korup. Krisis akal sehat di hadapan kekuasaan yang lalim akan terus memperpanjang daftar korban manusia.

Narasi tiga “sarjana” yang menolak koalisi dengan Herodes adalah isyarat untuk tolak bodoh di hadapan naluri kekuasaan yang diam-diam suka mencederai kemanusiaan. Dengan cara ini pesta tiga “raja” juga menegaskan bobot religius dari literasi sebagai gerakan perlawanan lewat pena dan imajinasi.***


V. Nahak, pernah belajar Teologi Kontekstual di STFK Ledalero, Maumere-Flores

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus