Iman, Amal Shalih, dan Struktur Kekuasaan

Print Friendly, PDF & Email

Potret kemiskinan dan kesenjangan di Jakarta. Kredit foto: New Mandala


SYAHDAN, dalam satu riwayat, dikisahkan bahwa Nabi sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba, Nabi berkata pada para Sahabat yang duduk di Majelis tersebut, “sesungguhnya tak lama lagi akan datang seseorang yang dijaminkan oleh Allah surga atasnya”. Para Sahabat tentu bertanya-tanya. Siapa gerangan orang yang dijaminkan Surga oleh Allah tersebut?

Tak lama kemudian, masuklah seorang sahabat di Mesjid Nabawi dengan air Wudhu yang masih menetes. Ia kemudian melaksanakan Shalat Zuhur, menyapa Rasulullah dan para Sahabat yang duduk di Majelis tersebut, dan kemudian keluar selepas Shalat. Para Sahabat terpana. Apa gerangan yang membuat Sahabat tersebut dijaminkan surga atasnya?

Penasaran, seorang Sahabat –konon Abdullah ibn Amr ibn Al-‘Ash— mengikuti Sahabat yang baru keluar Masjid tersebut dan menyapanya. Ia kemudian bertanya, “Bolehkah aku menginap barang beberapa malam di rumah engkau?”. Tentu si Sahabat tersebut –yang berprofesi sebagai tukang batu biasa— kebingungan, tapi ia mengiyakan. Bermalamlah Sahabat yang penasaran tersebut kepada Sahabat yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang dijaminkan Allah surga tersebut.

Ketika bermalam, sang Sahabat yang penasaran itu tidak pernah mendapati hal-hal istimewa dari Sahabat tukang batu tersebut. Ia hanya mendapati sang Sahabat bangun dan berzikir di malam hari, tapi tidak pernah melihatnya Shalat Malam, Puasa Sunnah, ataupun ibadah-ibadah Sunnah lainnya. Pun di siang hari, ia hanya giat bekerja dan hanya menjalankan ibadah-ibadah Wajib.

Masih dilanda rasa penasaran, sang Sahabat itu kemudian bertanya dan mengakui maksudnya. “Apa amalan yang membuat engkau disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga?”. Jawaban dari Sahabat tukang batu tersebut membuat Abdullah ibn Amr ibn Ash terpana. “Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua yang telah engkau lihat selama tiga hari ini”.

Abdullah ibn Amr ibn Ash seperti tidak percaya. Tapi sang Sahabat itu menambahkan, “Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

***

Hari ini, kita menghadapi berbagai paradoks dalam kehidupan keberagamaan kita. Beberapa waktu silam, KPK melakukan operasi tangkap tangan di halaman sebuah Masjid di salah satu kabupaten di Jawa Barat, yang melibatkan orang nomor satu di Kabupaten tersebut. Ironisnya, tak lama sebelum tertangkap tangan korupsi tersebut, sang Bupati dikenal luas dengan Gerakan Subuh Berjamaah dan mewajibkan para pejabat untuk Shalat Subuh Berjamaah.

Tak lama sebelum itu, ada kasus lain –seorang Bupati di provinsi belahan Barat Indonesia, yang dulu dikenal ikut gerakan Islam besar di penghujung tahun 2016, juga tertangkap tangan melakukan Korupsi. Konon ia ikut menggalang massa di gerakan tersebut, dan bersuara keras kepada Ketua Umum PBNU dalam orasinya. Rupanya, keterlibatan beliau dalam gerakan yang dikenal dalam pembelaannya terhadap fatwa ulama dan simbolisme keagamaannya tersebut tidak menghalangi beliau untuk melakukan suap –yang tentu tidak dibenarkan dalam Islam.

Apa yang membuat paradoks-paradoks tersebut hadir? Tentu penjelasannya panjang dan kompleks. Lagipula, tentu saja yang saya sebut di atas adalah para elit, dan tentu bukan umat yang berada di akar rumput. Namun demikian, Islam sejatinya punya satu konsepsi yang cukup relevan – Iman dan Amal Shalih.

Dalam banyak Ayat Al-Qur’an, kata-kata Iman sangat banyak bersanding dengan Amal Shalih. Dalam Surah Al-‘Ashr, misalnya, Allah berfirman, “Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, tolong menolong dalam kebenaran, dan tolong menolong dalam kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3).

Kata-kata Iman dan Amal Shalih saling melengkapi. Syahdan, menurut Professor Quraish Shihab, Iman merujuk pada ‘pembenaran hati’ dan amal shalih merujuk pada wujud perbuatan yang dilakukan oleh seorang insan. Iman, dalam konteks ini, berarti niat dari seorang Muslim tentang amal yang ia kerjakan, sementara Amal Shalih adalah wujud perbuatannya. Keduanya beriringan satu sama lain.

Sehingga, orang-orang yang beriman dengan segala konsekuensinya –melakukan ibadah mahdhah kepada Allah secara konsisten, baik yang sifatnya wajib maupun yang sunat— juga harus melakukan amal shalih. Ini kemudian terkait dengan ayat yang lain, seperti “Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. Shalat adalah konsekuensi dari iman. Namun, untuk membuat Shalat bermakna, ia harus juga mewujud pada amal shalih kepada manusia lainnya, yang menghindarkan ia dari berbuat keji dan mungkar.

Lantas, jika ada konsep iman dan Amal Shalih, mengapa kita menemukan banyak fakta bahwa banyak orang yang lekat dengan simbol-simbol keagamaan, justru melakukan korupsi atau perbuatan-perbuatan maksiat lain? Bagaimana, misalnya, kita bisa menjelaskan orang-orang Khawarij yang beribadah dengan sangat khusyuk, tapi justru terjerumus dalam perbuatan menghalalkan darah seorang Muslim (tak kurang dari, misalnya, Khalifah Ali ibn Abi Thalib)?

Ada beberapa kemungkinan jawaban. Pertama, bisa jadi mereka tidak sedang-sedang “beragama”. Islam dijadikan simbol-simbol yang dimobilisasi untuk kepentingan tertentu, yang bisa jadi menutupi motif asli dari kepentingannya. Jika yang terjadi adalah yang pertama, maka jangankan beramal shalih, beriman pun  mereka tidak.

Tapi bisa jadi ada yang Kedua. Mereka mungkin beriman, tapi keimanannya tidak bertransformasi menjadi amal shalih. Dalam kasus orang-orang Khawarij di akhir masa Khulafa’ur Rasyidin, mereka adalah orang-orang yang keimanannya tinggi. Namun, keimanan tersebut justru membuat mereka  menyalahkan orang lain, menuduh orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka keliru, sesat, atau Kafir, dan (pada titik tertentu yang ekstrem) memaksa orang lain untuk ikut dengan mereka. Keimanan mereka, kemudian, tidak bertransformasi pada amal shalih.

Atau mungkin ada jawaban Ketiga. Bisa jadi orang-orang itu beriman, beramal shalih secara individual dengan semangatnya yang menggebu-gebu, tapi gagal diterjemahkan dalam struktur kekuasaan. Alih-alih menjadikan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin, yang terjadi adalah kesalehan yang ditampilkan secara publik dalam nuansa yang sangat ritualistik dan simbolik, tanpa melihat problem struktural yang terjadi di masyarakat. Banyak yang, mungkin, menghadirkan nuansa Islam dalam pakaian, aturan-aturan yang bernuansa Syariah, atau Perda-Perda Syariah, tapi justru tidak banyak melihat problem korupsi (terutama yang bersifat ‘state-captured’), masalah lingkungan yang kian akut, izin pertambangan yang awut-awutan, atau ketimpangan sosial yang semakin tinggi. Iman dan Amal Shalih, kemudian, diterjemahkan sekadar sebagai aktivitas yang bersifat ritus tetapi tidak menyentuh persoalan yang sebenarnya ketika masuk pada struktur kekuasaan. 

Maka, pada hari ini, menjadi penting bagi kita untuk beriman dan beramal shalih secara struktural dan substantif, bukan hanya secara individual, hanya menyangkut ubudiyah mahdhah, atau hanya menyentuh sesuatu yang bersifat simbolis semata. Struktural, artinya iman dan amal shalih harus juga menyentuh problem-problem yang terkait dengan struktur kekuasaan dan ekonomi politik yang timpang. Substantif, artinya iman dan amal shalih bisa diterjemahkan menjadi kebijakan yang bermanfaat untuk orang-orang yang terpinggirkan dalam struktur sosial yang timpang, bukan hanya untuk membuat orang-orang kaya semakin kaya.

***

Lantas, apa kaitannya dengan cerita tentang Abdullah ibn Amr ibn Ash tersebut dengan keimanan dan amal shalih? Cerita sahabat tukang batu, yang disebut oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga tersebut, memberikan satu gambaran: penghuni surga bukan hanya orang-orang yang hidupnya dihabiskan hanya untuk ibadah mahdhah, atau untuk mereka yang punya ilmu agama. Orang-orang kecil, yang hidupnya bekerja untuk menafkahi keluarga, buruh-buruh yang bekerja 8 jam sehari dengan keikhlasan dan kejujuran, adalah juga ahli surga.

Dan pada titik inilah mungkin kita perlu berefleksi. Jangan-jangan, yang disebut sebagai ‘Masyarakat dan Negara yang Islami’ itu bukan sekadar soal Perda, UU, atau menghadirkan simbol Islam di ruang publik dan negara. Tetapi jangan-jangan lebih luas dari itu: Mengejawantahkan keimanan dan keshalihan dalam kebijakan-kebijakan yang progresif –untuk semua orang.

Nuun Wal qalami wa maa yasthuruun.


Ahmad Rizky Mardhatillah Umar adalah mahasiswa PhD di The University of Queensland – UQ, Australia

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus