Teologi Tungku Api (Sebuah Umpan Terobos)

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: Deskgram

 

APA yang sedang Anda hadapi ini adalah sebuah uji coba, sebuah umpan terobos. Dapat saja dikonversi jadi gol. Meleset dari mulut gawang. Atau malah dipatahkan oleh pertahanan belakang, meminjam pola laku di lapangan hijau. Umpan terobos berteologi ini akan saya mulai dengan konteks, lalu formasi, kemudian pertanyaan, dan diakhiri dengan tesis.

 

Konteks

Pertama-tama, ihwal konteks. Bila Rocky Gerung dalam salah satu tulisannya menyebut asal-usul politik menjadi penting untuk membaca akronim, konteks kiranya juga menjadi begitu penting untuk memahami suatu teori, lebih-lebih suatu teologi. Hal ini sejalan dengan apa yang telah sejak lama disadari oleh Choang Seng Song, seorang teolog kontekstual Asia, bahwa ilmu teologi yang selama ini diajarkan dan dikembangkan oleh Gereja-gereja di Asia tidak menyentuh budaya lokal. Karenanya, bagi Song, teologi semestinya menyentuh konteks.

Konteks yang akan saya fokuskan di sini ialah Flores, sebuah pulau di Timur Indonesia, tempat saya lahir dan bertumbuh hingga kini. Tungku Api, sebagai nama pada uji coba berteologi di sini, merujuk tepat pada kenyataan tak terbantahkan yakni setiap rumah masyarakat (baca: umat, dalam konteks keyakinan) di Flores, pasti memiliki tungku api. Jauh sebelum kompor dengan minyak tanah, gas, atau listrik sebagai bahan bakarnya, tungku api telah menjadi sumber dari segala sumber kehidupan masyarakat yang masih begitu kental dengan budayanya (tesis 1), meski belum terlalu memadai dalam kaitannya dengan prasarana dan sarana kesehatan juga pendidikan (anti-tesis 1). Semewah-mewahnya sebuah rumah di Flores, ia pasti memiliki tungku api di dapur paling belakangnya. Hal ini bertalian erat dengan laku hidup masyarakat Flores yang masih begitu akrab pada hajatan-hajatan lokalnya, semisal acara adat. Tungku api juga berhubungan tepat pada salah cara pengolahan makanan masyarakat Flores, yakni bakar atau panggang. Dan tungku api adalah sebaik-baiknya opsi untuk itu. Tungku api juga mewakili kenyataan bahwa Flores masih begitu kaya akan hutan dan kayu bakar (tesis 2), meski makin ke sini, praktik deforestasi liar dan pertambangan kian marak (anti-tesis 2).

Sampai di sini, dengan menyebut tungku api sebagai sumber dari segala sumber kehidupan (masyarakat Flores), kita dituntun secara perlahan-reflektif untuk tiba pada salah satu hakikat Allah sebagai Motor Primus, dalam bahasa Aristotelian. Atau sebaliknya, dengan terlebih dahulu menyadari hakikat Allah sebagai Motor Primus, kita akhirnya secara realistis sampai pada kesadaran akan peran-fungsi tungku api dalam keseharian hidup. Logika pertama membahasakan budaya lebih dahulu hidup baru kemudian agama (Kristenisasi). Logika kedua membahasakan agama lebih dahulu hidup baru kemudian budaya. Untuk konteks Flores, logika pertama lebih tepat. Inkulturasi merupakan term paling kuat untuk merangkumnya.

 

Formasi

Tungku-tungku api klasik dalam kebudayaan masyarakat Flores terdiri dari tiga buah batu yang disusun membentuk formasi segitiga. Tiga buah batu berada tepat pada sudut-sudutnya. Mengapa tiga? Pertama, keseimbangan. Satu atau dua batu tentu tidak efektif untuk menopang alat masak yang diletakkan padanya. Lebih dari tiga memang lebih seimbang, tetapi tiga adalah minimal. Kedua, penghematan ruang. Dapur dalam rumah masyarakat Flores umumnya tak terlalu luas. Di kampung-kampung terpencil, masih ditemukan rumah yang sebetulnya hanyalah sebuah dapur, yang familiar disebut pondok. Dapur adalah jantung, tungku api adalah denyutnya. Sisi-sisi segitiga pada formasi tungku api merupakan ruang yang disediakan bagi kayu. Kayu-kayu yang mengisi sisi-sisi terbuka pada tungku, tentu efektif untuk tidak menambah sempit sebuah dapur.

Angka tiga dalam mitologi yang berkembang di Norwegia dan Swedia adalah angka yang diyakini membawa kebahagiaan. Di Rusia, semua angka ganjil (termasuk 3) membawa keberuntungan, angka genap sebaliknya. Dan di Italia, angka 3 adalah angka sempurna. Dalam Teologi Katolik, Allah diimani sebagai Satu dalam Tiga Pribadi. Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus merupakan pengajaran bahwa Allah adalah Satu, tetapi terdiri dari Tiga Pribadi: Allah Bapa (Pribadi Pertama), Allah Putera (Pribadi Kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi Ketiga).

Untuk menjelaskan Tiga Pribadi yang adalah Satu Allah tersebut, berikut ini saya bentangkan referensi biblis dan ajaran Para Bapa Gereja (bdk. Trinitas Satu Tuhan Dalam Tiga Pribadi). Sebelum naik ke surga, Yesus mendekati para murid-Nya dan menyerahkan semacam imperatif untuk memberitakan Injil. “… Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, …..” (Matius, 28:18-19). Rasul Yohanes juga menegaskan hakikat Allah ini. “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (1 Yohanes, 5:7).

Dalam A Plea for Christians (Chap. 24), Santo Athenagoras (133-190 M) menulis, “Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan Putera-Nya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam kesatuan, – Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.” Secara lebih tegas, Bapa Gereja termasyhur, Santo Agustinus, dalam On The Trinity, mengelaborasi, “…… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa atau pun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal.” Salah satu trilogi menarik lainnya yang ditawarkan Agustinus untuk menggambarkan Trinitas: seorang pribadi yang mengasihi (Bapa), pribadi yang dikasihi (Putera) dan kasih itu sendiri (Roh Kudus).

Sekali lagi, sampai di sini, apa makna yang dapat kini kita lekatkan pada fakta formasi tungku api? Mengapa tiga? Mengapa tiga buah batu, bukannya kayu? Apakah agar kokoh dan kuat untuk menopang kehidupan? Apakah ini gambaran untuk memahami Trinitas sebagai fondasi iman dan Gereja? Atau logikanya di balik, pemahaman akan konsep Trinitas turut menyumbangkan kesadaran akan trimatra tungku api?

 

Teologi Tungku Api: Teologi Kontekstual?

Nama. Saya terinspirasi dari Kosuke Koyama sehingga memberi nama “Teologi Tungku Api” dalam umpan terobos berteologi ini. Lewat Teologi Kerbau-nya, Koyama menegaskan betapa pendekatan terhadap teologi tidak ditentukan terutama oleh apa yang pernah dikatakan teolog-teolog gigantis macam Aquinas atau Barth, melainkan oleh kenyataan sehari-hari yang dialami oleh para petani Thailand semisal kerbau, marica, nanas, ayam, atau nasi pulut. Lewat Teologi Tungku Api ini, saya sebetulnya ingin sekadar mengingatkan bahwa Allah yang kita imani bukan Dia yang terlampau jauh dan tak terjangkau, melainkan Dia yang dekat, yang melekat pada keseharian kita, yang sebetulnya tak perlu dicari melainkan disadari (“dicari” cenderung menghalalkan segala cara: ekstremisme, pembunuhan, pembakaran; “disadari” adalah sebuah olahbatin – tungku api tidak perlu dicari, karena dia pasti ada di dapur; melainkan disadari bahwa dia memang di dapur dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya).

Landasan. Kontitusi Dogmatis Tentang Wahyu Ilahi dalam Konsili Vatikan II (Dei Verbum) memuat landasan bagi teologi. “Teologi suci bertumpu pada sabda Allah yang tertulis, bersama dengan Tradisi Suci, sebagai landasan yang tetap. Di situlah teologi amat sangat diteguhkan dan selalu diremajakan, dengan menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus. Adapun Kitab Suci mengemban sabda Allah, dan karena diilhami memang sungguh-sungguh Sabda Allah. Maka dari itu pelajaran Kitab Suci hendaklah bagaikan jiwa Teologi suci. …” (nomor 24). Sub “Formasi” sebelumnya adalah usaha terbatas saya untuk memberi landasan sebagaimana digarisbawahi Dei Verbum ini.

Konteks. Dengan hidup dan melakukan refleksi terus-menerus di Thailand, Koyama menelurkan Teologi Kerbau. Flores saya pakai sebagai locus theologicus dalam umpan terobos ini. Bila Stephen B. Bevans mengajak kita untuk berteologi dari sudut pandang yang baru, dari suatu konteks tertentu, maka tungku api adalah sudut pandang yang saya pakai itu.

 

Tesis

Teologi Tungku Api: berteologi dengan membiarkan diri terpanggang. Masyarakat Flores yang umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak mengharuskan mereka untuk memulai hari di tungku api untuk selanjutnya bekerja keras, dan juga mengakhiri hari di tungku api untuk menyiapkan tenaga bagi kerja keras berikutnya.

Teologi Tungku Api: berteologi dengan membiarkan diri terbakar. Mengenang Kristus yang rela wafat demi umat-Nya, mengenang jemaat-jemaat perdana. Dan saya kira, ini model teologi (?) yang cocok untuk konteks Flores. Setiap rumah pasti punya tungku api, yang darinya hidup berawal, peradaban dibenahi, dan pada gilirannya, Allah didekati dan diimani.***

 

Reinard L. Meo, tinggal di Bajawa, Flores, NTT. Menyepi di dan dapat didekati via l.meo.reinard@gmail.com

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus