Salvator Mundi dan Estetika Marxis

Print Friendly, PDF & Email

 

Lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci. Kredit gambar: Balai Lelang Christie’s

 

MEDAN seni rupa dunia mengalami gegar pada awal November lalu. Bagaimana tidak, lukisan yang dianggap sebagai lukisan Leonardo da Vinci (1452-1519) ‘terakhir’ laku dalam pelelangan Christie’s New York seharga US$400 juta, atau jika ditambah biaya balai lelang jadi US$450,3 juta (angka tepatnya $450.312.500; dalam rupiah senilai hampir Rp 6,5 triliun). Jussi Pylkkänen, pada bulan November 2017, selaku juru lelang membuka penawaran dari US$70 juta untuk lukisan berjudul Salvator Mundi (1500) ini. Harga terus naik sampai US$200 juta melewati rekor pelelangan terdahulu yaitu US$179,4 juta yang dipegang Les Femmes d’Alger (Version “O”) (1955) karya Pablo Picasso pada 2015.

Lewat dari nilai itu, hanya tersisa dua orang penawar anonim lewat sambungan telepon yang diwakilkan oleh pihak Christie’s di ruangan lelang. Harga tidak disangka-sangka terus naik sampai salah satu penawar menyerah di angka US$400 juta. Akhirnya, lukisan itu jatuh ke tangan pembeli yang di kemudian hari diketahui sebagai Pangeran Saudi bernama Bader bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan al-Saud.

Guy Jennings (dalam Ellis-Petersen dan Brown 2017) selaku Direktur Manajer Fine Art Group berkomentar bahwa pelelangan ini menunjukkan bahwa dunia telah menjadi gila. Ia mengatakan, “It is a reflection of the massive, massive, massive disproportion of wealth that people are able to play these kind of games. It is a symptom of a madness which is already there.” Lukisan atau karya seni apapun tidak lepas dari proses komodifikasi yang pada akhirnya membuatnya tak lebih dari barang yang dijualbelikan, dan pada gilirannya menunjukkan ketimpangan penguasaan kapital oleh segelintir borjuis.

Untuk membaca fenomena pasar ini, saya akan menggunakan pemikiran Marx dalam konteks sejarah estetika. Proses kerja macam apa yang dilakukan da Vinci untuk menghasilkan lukisan ini? Hal yang akan saya lakukan dalam analisis ini adalah menempatkan Salvator Mundi pada konteks materialisme historis: apa saja proses yang ia lalui untuk sampai di balai lelang? Penempatan Salvator Mundi pada estetika Marxis akan membuka kemungkinan pembacaan kontekstual pada seorang da Vinci itu sendiri yang jarang diketahui orang. Bagaimana bisa seseorang yang tidak mengafilisiasikan dirinya kepada agama tertentu, malah membuat lukisan-lukisan bernafas keagamaan yang malah menjadi sangat ikonik?

 

Cerita Sang Juru Selamat

Leonardo da Vinci memang begitu terkenal, bahkan bagi masyarakat umum, dengan The Last Supper (1490-97/98) dan tentu saja The Mona Lisa (1503). Namun, da Vinci sendiri tidak menghasilkan karya lukis yang banyak. Ia hanya menghasilkan karya lukis sebanyak dua puluh (itu pun banyak yang tidak selesai), dan hanya sepuluh karyanya yang masuk balai lelang. Karyanya yang terakhir ditemukan adalah Benois Madonna (1478) pada tahun 1909.

Christie’s (dalam NN 2017) sendiri mengakui bahwa lelang Salvator Mundi tidak terlepas dari hype yang telah tercipta sejak pameran tahun 2011 yang diselenggarakan National Gallery di London dengan tajuk Leonardo da Vinci: Painter at the Court of Milan. Publik untuk pertama kali dapat menyaksikan langsung lukisan ini, dan paham sejarah panjang menghilangnya lukisan yang dulu dianggap bukan karya da Vinci. Sebelum lelang pada 2017 itu, Christie’s mengadakan tur dunia untuk lukisan ini ke Hong Kong, London, San Fransisco, dan New York. Pogrebin dan Reyburn (2017) melaporkan setidaknya ada 27.000 orang yang melihat tur dengan tajuk bombastis The Last da Vinci ini.

Berikut lini masa Salvator Mundi dari pembuatannya sampai berakhir di lelang Christie’s yang dirangkum artnet News (2017), dengan nilai mata uang yang tercantum merujuk pada nilai masa itu:

  • 1500 – Sekitar masa ini, Leonardo da Vinci menyelesaikan Salvator Mundi, kemungkinan ditujukan kepada Raja Louis XII dari Prancis dan bangsawan Inggris Anne of Brittany, setelah penaklukan Milan dan Genoa.
  • 1625 – Lukisan dipindahkan dari keluarga kerajaan Prancis untuk mengikuti Ratu Henrietty ke Inggris saat ia menikahi Raja Charles I.
  • 1651 – Raja Charles I dieksekusi pada 1649, dan lukisan tersebut digunakan untuk membayar utangnya yang banyak. Lukisan ini berhasil menutupi utang sebanyak 30 poundsterling.
  • 1763 – Setelah lukisan ini disimpan oleh keluarga Kerajaan Inggris selama bertahun-tahun, ia menghilang tidak tercatat selama 150 tahun.
  • Akhir abad ke-19 – Lukisan ini masuk ke koleksi pribadi Sir Frederick Cook.
  • 1958 – Salvator Mundi muncul di lelang Soetheby’s London pada 25 Juni 1958. Lukisan ini diatribusikan sebagai buatan Boltraffio, salah satu murid da Vinci. Lukisan terjual 45 poundsterling kepada seseorang dengan nama “Kuntz”.
  • 2005 – Tiba-tiba seorang art dealer dari New York bernama Alexander Parish tercatat membelinya sebesar 10.000 dolar.
  • 2013 – Lukisan ini baru terverifikasi sebagai lukisan da Vinci. Paroki dan konsorsium sesama art dealer menjualnya kepada Yves Bouvier secara privat melalui Soetheby’s sebesar 75—80 juta dollar. Pada tahun yang sama, Bouvier menjualnya pada Dmitry Rybolovlev sebesar 127,5 juta dollar.
  • 2017 – Rybolovlev menjualnya melalui lelang di Christie’s dan terjual 450,3 juta dolar.

 

Membaca Salvator Mundi secara Marxis I: Alienasi da Vinci dan Mitos Estetika Renaisans

Menurut saya, paling tidak ada dua cara menggunakan teori Marxisme ke dalam pembahasan estetika. Pertama, teori Marxisme yang digunakan oleh si seniman untuk memproduksi karya. Kedua, teori Marxisme yang digunakan oleh audiens untuk membaca karya seni. Tentu saya akan melakukan yang kedua ini. Membaca Salvator Mundi secara Marxis berarti menempatkannya pada dua konteks: dahulu saat penciptaannya, dan sekarang saat ia menciptakan rekor lelang. Sekarang, saya akan membahasnya pada konteks pertama.

Suryajaya (2016: 528-9) mengatakan bahwa karya seni dalam Marxisme dapat digunakan untuk mendiagnosis problem sosial. Salvator Mundi menunjukkan gejolak zaman Renaisans yang kehidupan sosial-politiknya dikuasai oleh institusi Gereja Katolik. Seni pada saat itu harus mengabdi kepada gereja. Sorabella (2008) melihat bahwa agama Kristen integral dengan perkembangan kebudayaan di Eropa secara umum pada masa itu. Ia melanjutkan bahwa para seniman pada zaman itu juga mau tidak mau harus mengikuti tradisi yang ada untuk melukiskan kisah Kristus sebagai bagian dari pengajaran agama. Hal ini penting, karena lukisan yang menyimbolkan kehidupan Kristus ini berguna untuk memperkuat pengalaman rohani secara komunal maupun personal.

Kemudian, problem sosial macam apa yang ditunjukkan oleh Salvator Mundi? Kita masuk kepada persoalan alienasi yang ditulis Marx (1932; Suryajaya Ibid.: 528-33). Melalui seni dan agama, manusia berusaha untuk menghapus kesenjangan antara yang aktual dan ideal. Adanya kesenjangan inilah yang disebut sebagai alienasi. Namun, narasi “kebutuhan terhadap yang-Kudus sebab manusia teralineasi secara inheren di dunia” ini malah menutupi alienasi yang sesungguhnya terjadi; seolah-olah tidak ada bayangan masalah alienasi bahkan antara si seniman dengan apa yang dia produksi.

Marx menulis bahwa ada empat jenis alienasi: keterasingan pekerja dari produk yang dihasilkannya; keterasingan pekerja dari dirinya sendiri; keterasingan pekerja dari hakikat kemanusiaan; keterasingan pekerja satu sama lain. Pada konteks da Vinci pada masa Renaisans, pertanyaan yang harus dijawab kemudian adalah apakah da Vinci teralienasi dari Salvator Mundi dan terlebih dari dirinya sendiri sebagai seniman? Saya berani untuk berargumen iya.

Semua sejarawan seni Renaisans tahu, termasuk Sorabella (2008), bahwa pelukis pada zaman itu tak ubahnya pekerja upahan yang mengabdi kepada patron tertentu. Patron inilah yang meminta untuk dilukiskan sesuatu. Pendeknya, da Vinci juga merupakan pelukis pesanan. Harris dan Zucker (TT) bahkan menekankan bahwa pada zaman Renaisans ada bentuk perlawanan seniman untuk membuat mereka ingin diakui sebagai pemikir, tidak sekadar pekerja yang memiliki keahlian. Maka dari itu, kita mafhum bahwa seniman seperti da Vinci melihat kesenian sebagai metode berfilsafat maupun ilmu pengetahuan itu sendiri (Suryajaya Ibid.: 218-21), dan dalam hidupnya ia terbukti juga berkomitmen pada ilmu anatomi, teknik, dan matematika.

Lalu, kepada siapakah da Vinci bekerja? Sejak muda, da Vinci berguru kepada pelukis Verrocchio di Florence. Lalu ia bekerja kepada Ludovico Sforza selaku bangsawan Milan dari tahun 1494-1499. Syson (2011) menulis di katalog pameran Leonardo da Vinci: Painter at the Court of Milan bahwa selepas Raja Prancis saat itu Louis XII menguasai Milan, dan kemudian mempekerjakan da Vinci, pada saat itulah Salvator Mundi lahir.

Ada yang janggal saat Syson juga menulis bahwa pada periode pasca-1499 ini da Vinci bebas dari tekanan untuk berkesenian untuk ‘menyambung hidup secara ekonomi’ dan bisa menghasilkan karya-karya monumental seperti The Last Supper (1490-97/98) dan dua versi The Virgin of the Rocks (1483–1486 dan 1495–1508). Aneh, karena tiga lukisan yang disebut belakangan itu masih dikerjakan pada masa da Vinci belum bekerja kepada Raja Prancis Louis XII. Tahunnya saja sudah beda, jadi argumen Syson tidak masuk akal dari konsistensi penanggalan.

Saya akan masuk lebih jauh ke apa yang disebut ‘menyambung hidup secara ekonomi’ di atas. Pembuatan The Last Supper adalah permintaan dari Ludovico Sforza pada renovasi Biara Santa Maria delle Grazie di Milan. Lukisan ini ada di ruang makan (refectory), berhadapan dengan lukisan Crucifixion (1495) karya Giovanni Donato da Montorfano. Tidak ada catatan mengenai berapa upah yang didapat da Vinci untuk lukisan ini. Selanjutnya, pembuatan dua versi The Virgin of the Rocks adalah permintaan Persaudaraan (Confraternity) dari Kapel Immaculate Conception untuk da Vinci dan pelukis-pelukis lain. Pun ternyata da Vinci bersama pelukis lainnya mengalami masalah pembayaran yang membuatnya terpaksa membuat dua versi lukisan yang sama.

Della Chiesa (1969) menceritakan lebih detail mengenai perselisihan kontrak itu. Kontrak kerja selama tujuh bulan dari Desember 1483 itu mencakup detail lukisan ini sampai ke komposisi dan urusan pewarnaan. Misi mustahil itu akhirnya tidak terpenuhi dan molor hingga 1485. Pembayaran upah bulanan terputus tahun itu, dan dijanjikan akan dilunasi jika lukisan sudah selesai. Tidak terima dengan keputusan itu, di antara tahun 1490-95 para seniman menuntut pembayaran upah yang belum diberikan. Tuntutan ini tidak diindahkan pihak Persaudaraan. Akhirnya, mereka meminta bantuan Ludovico Sforza untuk memaksa pihak Persaudaraan, tapi gagal. Baru pada 1503, Raja Prancis Louis XII berhasil memaksa kesepakatan di antara kedua belah pihak untuk melanjutkan proyek tersebut. Lukisan bersama pembayarannya yang sah baru terjadi pada 1508.

Kedua cerita di atas adalah ilustrasi dari pekerjaan da Vinci. Untuk Salvator Mundi sendiri, belum ada catatan pembayaran yang ditemukan untuk bisa dijadikan rujukan. Namun, kita bisa menyimpulkan bahwa da Vinci merupakan pelukis pesanan yang hasil karyanya kemudian dimiliki oleh orang yang mempekerjakannya. Alienasi da Vinci menjadi semakin parah, karena ia hanya bisa berkarya jika ia dibiayai. Menurut catatan Harris dan Zucker (TT), lukisan Renaisans ini memiliki material yang sangat langka dan mahal yang dikhususkan untuk mengekspresikan pengabdian keagamaan sekaligus menyimbolkan kekayaan si empunya lukisan. Metode identifikasi material sejenis ini menjadi salah satu cara dalam memastikan autentisitas Salvator Mundi sebagai karya da Vinci.

Nica Rieppi (dalam Calfas 2017) dari divisi Art Analysis & Research Christie’s New York memberikan pernyataan bahwa mereka berhasil menemukan ‘lapis lazuli’ dalam ukuran mikroskopis dalam jubah Kristus di lukisan Salvator Mundi. ‘Lapis Lazuli’ adalah batu mulia berwarna biru yang harganya lebih mahal daripada emas dan harus dikirim dari Afghanistan. Perlu diingat bahwa da Vinci hanyalah pelukis bayaran, sehingga ia tidak akan mungkin bisa menghasilkan lukisan sebagus itu jika tidak difasilitasi oleh patron bangsawannya.

Keterasingan da Vinci tidak berhenti di sana. Kecurigaan yang selanjutnya perlu dibahas adalah jika da Vinci adalah pelukis pesanan, dan berarti ia hanya melukis sesuai permintan orang lain, apakah da Vinci juga terasing dari dirinya sendiri, dan terlebih dari hakikat kemanusiaan? Hal ini menyambung pertanyaan di awal, bagaimana bisa seseorang yang tidak mengafilisiasikan dirinya kepada agama tertentu, malah membuat lukisan-lukisan bernafas keagamaan yang malah menjadi sangat ikonik?

Saya berani mempertanyakan keimanan da Vinci, karena pendapat dari dua penulis kisah hidupnya. Pertama, Vasari (2008 [1550]) bahkan menyebut da Vinci sebagai orang sesat (heretical) karena tidak menganut agama apapun. Vasari menilai da Vinci lebih memilih menjadi filsuf, daripada Kristiani. Kedua, Rosci (1977) menyebut da Vinci sebagai orang yang sangat empiris. Da Vinci disebut selalu mendasari pemikiran, opini, dan lakunya dari kebenaran yang telah terverifikasi.

Kedua versi da Vinci di atas tidak memberikan kesimpulan yang pasti terhadap kepercayaan da Vinci. Satu hal yang bisa dipastikan adalah da Vinci memang masih percaya terhadap Tuhan, tapi menjalani hidup dengan kritis berpegangan terhadap sains. Hal ini dibuktikan dari pembahasan ‘Tuhan’ ataupun ‘Kristus’ di buku catatannya, seperti saat menghubungkan lukisan dengan kedekatan kepada Tuhan dan kemudahan referensi kepada figur-Nya daripada karya puisi (catatan nomor 652 dan 654), cerita-cerita peperangan dan ilahiah (667-84), dan doa-doa yang bercampur dengan deklarasi mengenai peran sains (1132-54). Pada bagian yang sama, ia menulis di nomor 1132 mengenai imannya, “I obey Thee Lord, first for the love I ought, in all reason to bear Thee; secondly for that Thou canst shorten or prolong the lives of men”, lalu di nomor 1148 tentang sains, “Science is the observation of things possible, whether present or past; prescience is the knowledge of things which may come to pass, though but slowly”. Pandangannya yang kukuh pada sains menjadi anomali bagi masyarakat Renaisans yang masih berpegang teguh pada agama yang tidak begitu kritis melihat dunia. Sains terdengar subversif dalam institusi sosial-politik yang sangat teokratis.

Pada titik ini, saya menarik kesimpulan bahwa da Vinci juga teralieniasi dari dirinya sendiri, karena tidak bisa sepenuhnya mengaktualisasikan apa yang ia pikirkan. Suryajaya (Ibid.: 220) mengutip da Vinci yang bilang bahwa “Seorang pelukis yang baik memiliki dua tujuan utama dalam menggambar: manusia dan intensi jiwanya. Yang pertama mudah dilakukan, tetapi yang kedua sulit karena sang pelukis mesti merepresentasikannya melalui sikap dan gerak tubuh”. Da Vinci memang tidak mengakui bahwa akhirnya ia berhasil atau tidak dalam mengikuti jiwanya, tapi menurut saya ia tidak berhasil.

 

Potret Leonardo da Vinci. Kredit: sajhapost.com

 

Waktu produktif da Vinci berakhir pada pekerjaannya sebagai pelukis pesanan. Hampir semua objek lukisan da Vinci tidak bisa terverifikasi secara saintifik, dan empirik. Untuk orang yang begitu mencintai sains, sungguh ironis mengetahui bahwa hidupnya tergantung dengan kemampuannya melukis sesuatu yang tidak bisa dipastikan keberadaannya. Da Vinci tidak pernah bertemu Kristus dan Maria; tidak pernah melihat langsung seperti apa anatominya, apalagi tahu baju apa yang mereka pakai. Itu baru Kristus dan Maria, bagaimana melukis malaikat? Saya menarik kesimpulan bahwa figur-figur lukisan tersebut tidak secara empiris diproyeksikan pada lukisan da Vinci, yang berarti ia tidak mengikuti apa yang ia yakini sendiri sebagai sebuah disiplin verifikasi.

Kita bahkan bisa melihat skeptisisme da Vanci terhadap figur yang ia gambar sendiri melalui Salvator Mundi. Lukisan ini seolah-olah mendemistifikasi Kristus, alias menampilkan figur-Nya dengan sangat manusiawi. Philip Mould (dalam Ellis-Petersen dan Brown Ibid.) seorang art dealer berkata, “This is a very secular image of Christ. There’s no cross, there’s no halo, and also there’s something sexily quite ambiguous about his appearance, a slightly gender fluid aspect to it that makes it very zeitgeisty.” Da Vinci secara sadar tidak membuat Kristus sebagai figur agung di sini yang biasanya disimbolkan dengan adanya salib, atau lingkaran cahaya di atas kepalanya (halo). Menarik untuk dicatat, karena Kristus di The Last Supper bahkan juga tidak ada simbol salib, dan halonya. Saya melihat ini sebagai cara da Vinci menjaga jarak terhadap keyakinannya sendiri.

Selanjutnya untuk alienasi bentuk lain, da Vinci bisa dibilang memang tetap terasing dengan pelukis lain di zamannya. Hal itu disebabkan masing-masing pelukis sudah memiliki patronnya masing-masing yang biasanya pejabat di daerah itu sendiri. Reputasi da Vinci membuat dia menjadi pelukis profesional khusus para bangsawan di Milan. Pelukis lain di Milan tidak bisa bersaing dengannya, seolah-olah da Vinci sudah menjadi borjuis itu sendiri, padahal ia tidak memiliki moda produksi melukisnya.

Saya sekaligus ingin menyanggah Ruskin yang dikutip Suryajaya (Ibid.: 531). Ruskin berkata bahwa pelukis abad pertengahan memiliki independensi, karena bebas menjual atau menyimpan karya. Hal itu salah, paling tidak dalam kasus da Vinci, karena ia sendiri tidak bebas menjual karyanya yang merupakan pesanan itu, dan tentu saja ia harus menyerahkan hasilnya sesuai kontrak kerja.

 

Membaca Salvator Mundi secara Marxis II: Fetis Estetika

Hidup da Vinci telah terlihat begitu ironis. Maka dari itu, nilai US$450,3 juta yang digunakan untuk melunasi Salvator Mundi membuat kenyataan ini semakin menyakitkan. Pembahasan estetika Marxis ini kita lanjutkan kepada konteks hari ini yang Suryajaya (Ibid.: 533) sebut sebagai hasil pengondisian realitas ekonomi-politik. Nasib nilai tukar Salvator Mundi sekarang sudah digariskan dengan kondisi status quo yang sangat kapitalistik. Masyarakat sudah abai dengan kemungkinan bahwa apa yang dilakukan oleh da Vinci sebenarnya tidak membebaskannya, dan diperparah dengan fetisisme estetika yang tidak melihat Salvator Mundi sebagai “penubuhan sejumlah kerja yang selalu berkaitan dengan pembagian kerja sosial secara umum dalam masyarakat”.

Thomas Campbell (dalam Ellis-Petersen dan Brown Ibid.) selaku mantan direktur Metropolitan Museum of Art mengatakan bahwa kita seharusnya mengantisipasi nilai tukar ini. Ia berkata, “…[I]t should come as no surprise in a market where speculation, marketing and branding have displaced connoisseurship as the metrics of value.” Senada dengan itu, Leila Amineddoleh (2017) melihat bahwa Christie’s telah menggunakan trik untuk menempatkan lelang Salvator Mundi pada sesi “postwar and contemporary” alih-alih “masters’ painting”. Christie’s sangat membuat-buat alasan relevansi untuk menempatkan lukisan berumur lima ratus tahunan ini di sesi lelang karya ‘kontemporer’ agar menarik pembeli berkantong tebal, “Despite being created approximately 500 years ago, the work of Leonardo is just as influential to the art that is being created today as it was in the 15th and 16th centuries. We felt that offering this painting within the context of our Post-War and Contemporary evening sale is a testament to the enduring relevance of this picture.

Tim Schneider (2017) meneruskan logika sejenis dengan mengatakan bahwa lelang yang berakhir dengan pembelian fantastis ini semata-mata untuk menunjukkan kekuasaan besar untuk mencapai status sosial-ekonomi yang sangat tinggi. Baginya, pembelian ini menguak kembali kenyataan pahit ketimpangan kekayaan dan nafsu bermewah-mewahan yang termanifestasi pada conspicuous consumption. Menurut Coate (2017), para ekonom menyebutnya sebagai conspicuous consumption, yaitu fenomena yang menunjukkan bahwa semakin orang menjadi kaya, permintaan mereka terhadap barang mewah semakin meningkat pula hanya untuk sekadar sombong. Permintaan ini mengesampingkan risiko bahwa konsumsi dan investasi ini tidak akan menguntungkan dalam jangka panjang.

Penjelasan di atas menegaskan bahwa kondisi kapitalistik sekarang telah menggeser fungsi karya seni sebagai penguak problem sosial di masyarakat. Karya seni hanya digunakan untuk unjuk kekuasaan sebagai basis eksistensi kedirian. Si pembeli ingin diasosiasikan dengan karya tersebut. Dalam kata lain, hubungan sosial didefinisi oleh komoditas yang dibeli. Pun kecenderungan ini tidak semata-mata milik orang kaya. Pada skala kecil, saya melihat orang-orang yang menjadikan latar karya seni untuk sekadar berfoto juga ingin menunjukkan status sosialnya alias ingin eksis dengan mengesampingkan kondisi material historis karya itu.

 

Kesimpulan

Rupanya Pangeran Saudi bernama Bader bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan al-Saud yang membeli Salvator Mundi ternyata ingin memajangnya di cabang Museum Louvre di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Saya kembali tak habis pikir melihat realitas bahwa Salvator Mundi dipajang di pusat kawasan Timur Tengah yang tidak mempercayai Kristus sebagai Juru Selamat.

Hal ini kembali mempertegas kesimpulan saya bahwa Salvator Mundi telah menunjukkan fungsinya untuk mengungkap alienasi da Vinci pada konteks masa lalu. Da Vinci yang merupakan seorang pelukis pesanan menurut sistem pembagian kerja pada masa itu telah mengalami alienasi tidak hanya terhadap karyanya sendiri, tapi juga terhadap ‘intensi jiwa’ sebagai esensi kemanusiannya sendiri. Predikat ‘pelukis bebas’ dan ‘maestro’ yang diberikan padanya tak lebih hanya bombastis pemasaran pameran dan lelang untuk menguntungkan para borjuis dalam mengonstruksi hubungan sosial melalui komoditas yang mereka beli. Namun, melalui pendekatan Marxis ini pulalah, saya sadar bahwa dengan memandang karya da Vinci, kita juga harus adil melihat perjuangan seseorang untuk menyambung hidup sambil terus teguh kritis terhadap sekelilingnya, dan terlebih kepada kepercayaan yang dianutnya sendiri.***

 

Penulis adalah mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana dari Departemen Politik Pemerintahan, Fisipol UGM. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di https://medium.com/@devananta.rafiq. Bisa dihubungi melalui kotak pos devanfiq@gmail.com.

 

Kepustakaan:

Amineddoleh, Leila. (2017). $450 Million Da Vinci: Why Was Damaged Painting So Expensive? Diakses di https://www.livescience.com/61115-leonardo-da-vinci-trophy-auction.html pada 20 Desember 2017.

artnet News. 2017. Timeline: How ‘Salvator Mundi’ Went From £45 to $450 Million in 59 Years. Diakses di https://news.artnet.com/market/timeline-salvator-mundi-went-45-to-450-million-59-years-1150661 pada 21 Desember 2017.

Calfas, Jennifer. (2017). A Leonardo da Vinci Painting Just Sold for $450 Million. Here’s How Experts Figured Out It Was Real. Diakses di http://time.com/5028341/leonardo-da-vinci-salvator-mundi-authentication/ pada 20 Desember 2017.

Coate, Bronwyn. (2017). The economics of ridiculously expensive art. Diakses di https://theconversation.com/the-economics-of-ridiculously-expensive-art-87668 pada 20 Desember 2017.

Da Vinci, L. (2012). The notebooks of Leonardo da Vinci (Vol. 1). Courier Corporation.

Della Chiesa, A. O. (1969). The complete paintings of Leonardo da Vinci. Weidenfeld & Nicolson.

Ellis-Petersen, Hannah dan Brown, Mark. 2017. How Salvator Mundi became the most expensive painting ever sold at auction. Diakses di https://www.theguardian.com/artanddesign/2017/nov/16/salvator-mundi-leonardo-da-vinci-most-expensive-painting-ever-sold-auction pada 20 Desember 2017.

Harris, Beth dan Zucker, Steven. TT. What made art valuable—then and now. Diakses di https://www.khanacademy.org/humanities/art-history-basics/beginners-art-history/a/what-made-art-valuablethen-and-now pada 21 Desember 2017.

Helmore, Edward. 2017. Leonardo da Vinci painting sells for $450m at auction, smashing records. Diakses di https://www.theguardian.com/artanddesign/2017/nov/15/leonardo-da-vinci-salvator-mundi-auction pada 20 Desember 2017.

Jones, Jonathan. 2017. All the Da Vincis in the world: rated. Diakses di https://www.theguardian.com/artanddesign/2017/nov/16/all-leonardo-da-vinci-painting-rated-salvator-mundi pada 20 Desember 2017.

Kaplan, Isaac. 2017. $450 Million Leonardo da Vinci Becomes Most Expensive Artwork of All Time amid Otherwise Solid Results at Christie’s. Diakses di https://www.artsy.net/article/artsy-editorial-450-million-leonardo-da-vinci-expensive-artwork-time pada 20 Desember 2017.

Marx, Karl. (1932). Manuskrip Ekonomi dan Filsafat 1844. Diakses di https://www.marxists.org/archive/marx/works/1844/manuscripts/preface.htm pada 22 Desember 2017.

  1. 2017. The Last da Vinci. Diakses di http://www.christies.com/features/The-last-da-Vinci-Salvator-Mundi-8598-3.aspx pada 21 Desember 2017.

Pogrebin, Robin dan Reyburn, Scott. 2017. Leonardo da Vinci Painting Sells for $450.3 Million, Shattering Auction Highs. Diakses di https://www.nytimes.com/2017/11/15/arts/design/leonardo-da-vinci-salvator-mundi-christies-auction.html pada 21 Desember 2017.

Rosci, Marco. (1977). Leonardo. Bay Books.

Schneider, Tim. (2017). Why Would Anyone Pay $450 Million for the ‘Salvator Mundi’? Because They’re Not Buying the Painting. Diakses di https://news.artnet.com/market/1153085-1153085 pada 20 Desember 2017.

Sorabella, Jean. 2008. Painting the Life of Christ in Medieval and Renaissance Italy.” In Heilbrunn Timeline of Art History. New York: The Metropolitan Museum of Art, 2000. Diakses di http://www.metmuseum.org/toah/hd/chri/hd_chri.htm pada 22 Desember 2017.

Suryajaya, Martin. 2016. Sejarah Estetika. Jakarta: Gang Kabel dan Indie Book Corner.

Syson, Luke. (2011). Leonardo da Vinci: Painter at the Court of Milan. National Gallery London.

Vasari, G. (2008 [1550]). The lives of the artists. Oxford University Press.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus