Setya Novanto Sang Oligarkh

Print Friendly, PDF & Email

Kredit Ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

ANDA tentu sudah mafhum bahwa Ketua DPR-RI Setya Novanto kecelakaan. Nasib ‘naas’ itu menimpa Novanto setelah dia menghilang karena hendak dicokok di rumahnya oleh KPK. Dia jadi tersangka kasus korupsi e-KTP.

Ketua Partai Golkar ini sudah mangkir dari panggilan pemeriksaan KPK sebanyak sebelas kali. Pernah, dia tiba-tiba menderita sakit berat dan harus diopname.

Setya Novanto adalah politisi yang licin. Berkali-kali dia diduga membuat skandal namun tetap saja lolos. Ada saja hal-hal yang tidak terduga yang membuatnya lepas dari jeratan hukum.

Dua kali dia jadi tersangka, dua kali pula dia masuk rumah sakit. Penyidik seakan kehabisan akal menghadapi jurus-jurus mengelaknya. Memang, mereka yang rajin menggangsir keuangan negara punya dua kiat sebagai protap untuk mengelak dari pemeriksaan. Yang pertama adalah—ya itu tadi—mendadak sakit keras. Wajahnya yang dulu cerah dan sehat tiba-tiba pucat pasi. Yang kedua, mendadak saleh. Mereka seakan terlahir kembali (born again) menjadi orang yang taat beragama. Ini biasanya dilakukan kalau protap pertama tidak berhasil.

Di tangan Setya Novanto, protap ini kian berwarna-warni. Dia memainkannya dengan dramaturgi yang lebih canggih. Masih ingat ketika dia sakit dua bulan lalu? Fotonya yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit beredar luas. Tubuhnya dialiri berbagai selang.

Untungnya zaman sekarang adalah zaman kekuasaan media sosial. Cepat-cepat orang mengamati foto itu dan menganalisanya. Cepat pula ditemukan kejanggalan-kejanggalan dalam foto tersebut. Setiap selang dan alat-alat yang terhubung dengan foto Novanto dianalisis dan dikomentari.

Media sosial dengan cepat memunculkan mim (meme) yang mengolok-olok sakitnya Novanto. Kita tidak tahu apakah Novanto benar-benar sakit atau hanya berpura-pura untuk menghindari pemeriksaan KPK.

Yang menjadi soal adalah mengapa sedemikian banyak mim yang muncul? Saya kira, itu terjadi karena Novanto punya masalah dengan kredibilitas. Dia tersangkut dalam banyak kasus besar namun selalu berhasil meloloskan diri. Akan tetapi sulit baginya untuk lepas dari pengadilan opini publik. Novanto harus berhadapan dengan antipati dan ketidakpercayaan (mistrust) publik yang demikian besar.

Menghadapi pengadilan publik ini, Novanto pun tidak tinggal diam. Dia menyuruh para pengacaranya memperkarakan para pembuat mim ini. Polisi pun tunduk dan mulai melakukan penangkapan serta mendakwa para pembuat mim itu dengan pasal-pasal UU ITE.

Kali ini pun ‘kecelakaan’ yang menimpa Novanto tidak kalah dramatisnya. Semua pemberitaan tentang kecelakaan ini tersiar lewat mulut pengacaranya, Fredrich Yunadi. Menurutnya, kecelakaan itu terjadi saat Novanto hendak berangkat ke KPK untuk menyerahkan diri. Novanto menderita luka parah.

‘Terus langsung panggil dokter untuk MRI. Urgen masih tidur dan diperban lukanya. Benjol besar kepalanya, tangannya berdarah semua,’ kata Fredrich. Kepala Novanto, ‘benjol seperti bakpao,’ tambah Fredrich menggarami.

Hingga saat tulisan ini dikerjakan, diketahui bahwa mobil yang dikendarai Novanto adalah sebuah Toyota Fortuner, sejenis SUV (sport utility vehicle) atau truk ringan. Kendaraan ini dikemudikan oleh wartawan MetroTV, yang saat kecelakaan terjadi, sedang menerima telpon.

Dari foto dan video yang tersebar tampak mobil itu agak penyok bagian depan. Tidak terlalu mengherankan bila sebuah media online mengatakan bahwa tiang listrik yang ditabrak oleh mobil Novanto ternyata tetap ‘segar bugar.’ Tidak demikian halnya dengan Novanto. Dalam foto di media, dia tampak terbebat tidak berdaya saat dipindah ke RSCM.

***

Bagaimanakah kita memahami orang seperti Novanto?

Bukan. Maksud saya bukan mengerti dia secara pribadi dengan segala keruwetan kondisi mentalnya. Namun, bagaimana kita memahami Novanto sebagai orang yang mengelola kehidupan orang banyak? Bagaimana orang seperti Novanto bisa berkuasa dan menentukan kehidupan banyak orang di negeri ini?

Sebagai politisi, Novanto bukanlah figur yang enigmatik. Dia bukan persona yang terlalu sulit dipahami, misterius, atau membingungkan. Figur seperti diri Novanto ada di setiap tikungan jalan politik negeri ini.

Yang membedakan Novanto dengan politisi-politisi lain adalah dia berada satu tingkat di atas rata-rata. Dia sangat lentur. Seperti dodol, semakin ditumbuk, semakin liat.

Novanto selalu mengaku bahwa dia memulai karirnya dengan sangat sederhana. Dia pernah berjualan madu dan beras untuk mengongkosi kuliahnya. Kemudian bekerja sebagai karyawan di beberapa perusahaan, mulai dari dealer mobil hingga pegawai penyalur pupuk. Pekerjaan terakhir inilah yang memperkenalkannya dengan Nusa Tenggara Timur.

Rupanya hidupnya tidak melulu derita berjualan beras dan madu. Dia juga pernah menjadi model bahkan terpilih jadi Pria Tampan Surabaya 1975.

Peruntungannya mulai naik ketika dia pindah ke Jakarta dan menjadi sopir keluarga Hayono Isman, anak dari Mas Isman, mantan pendiri Kosgoro, salah satu underbouw Golkar. Bintangnya makin kinclong ketika dia mengawini seorang anak brigjen polisi.

Dari situlah Novanto menunjukkan keahliannya mengawinkan bisnis dan politik. Tidak banyak orang berhasil dalam perkawinan ini. Salah satu yang berhasil kemudian menjadi temannya. Dia adalah Donald J. Trump, yang kemudian menjadi presiden Amerika Serikat. Tentu Anda masih ingat wajah sumringah Novanto ketika Trump memperkenalkan dirinya kepada publik Amerika sebagai ‘orang kuat’ di Indonesia.

Orang mengenal nama Setya Novanto ketika dia menangani kasus cessie Bank Bali. Lewat PT Era Giat Prima, perusahan kongsinya dengan Djoko S. Tjandra (pemilik Mulia Group dan sekarang buronan kepolisian), dia mendapat komisi Rp 564 miliar atas piutang Bank Bali pada negara sebesar Rp 904 milliar.

Di Golkar, Novanto selalu menduduki posisi sebagai bendahara. Jejak-jejak skandal korupsinya tersebar dimana-mana. Hampir semuanya berkaitan dengan kebijakan pembuatan anggaran di DPR. Dia diduga tersangkut kasus Pekan Olahraga Nasional di Riau, e-KTP, hingga suap Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar. Namun sampai detik ini dia tak tersentuh.

***

Mengapa politisi macam Novanto bisa menjadi sangat terkemuka dan memegang peranan sangat strategis di negeri ini?

Perlu diingat, dia tidak berkuasa lewat kekerasan sejata atau dukungan militer. Dia berkuasa lewat demokrasi elektoral. Ya, lewat sistem pemungutan suara yang mengandaikan dia mewakili sekian juta orang yang memilihnya.

Adakah masalahnya terletak pada demokrasi? Sama sekali tidak. Demokrasi adalah sebuah sistem politik yang berpusat pada manusia. Elemennya yang paling dasar adalah kedaulatan manusia perseorangan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Di situlah masalahnya. Tidak semua orang punya perhatian pada dirinya sendiri. Juga tidak semua orang cukup cerdas untuk mengamankan kepentingan masa depan. Orang cenderung mengutamakan kepentingan jangka pendek ketimbang yang kemudian. Hal seperti itu jamak terjadi di kalangan masyarakat miskin, subsisten, yang pagi makan sore bengong.

Politisi seperti Novanto—dan saya kira sebagian besar politisi Indonesia—tahu kondisi sosiologis ini. Demikianlah mereka mengubah sistem demokrasi menjadi sebuah oligarki. Ini adalah sebuah sistem politik dimana kekuasaan ditentukan oleh penguasaan kekayaan (wealth). Atau seperti yang ditunjukkan Jeffrey Winters, ilmuwan politik dari Northwestern University, oligarki adalah politik mempertahankan kekayaan oleh para aktor yang memiliki kekuatan ekonomi.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa politik kita tidak dipermainkan oleh uang. Di daerah-daerah, para politisi harus menyerahkan ‘mahar’ kepada partai agar menjadi calon kepala daerah yang didukung partai tersebut. Mahar kadang tidak untuk satu partai namun beberapa partai. Bahkan untuk jadi ketua partai pun dibutuhkan dana tidak sedikit. Tak mengherankan bila semua proses politik membutuhkan duit. Butuh dana untuk menjadi pejabat, yang pada gilirannya akan mendapatkan uangnya kembali dengan memerah apa yang bisa diperah dari jabatannya itu.

Logika itu demikian melekat dan bahkan diterima sebagai kebenaran. Tidak mengherankan bila sistem seperti ini melahirkan segelintir oligarkh—mereka yang mengendalikan dan mengakumulasi kekayaan paling banyak. Kekuasaan mereka sebanding dengan kekayaan yang mereka miliki.

Oligarki bisa berjalan seiring demokrasi dan oligarkh mampu berkuasa dengan membeli suara. Mereka bisa terpilih lagi dan lagi hingga mereka bosan. Hal seperti ini bahkan terjadi di negara yang sistem demokrasinya sudah maju seperti di Amerika. Memang para oligarkh tidak berkuasa secara langsung. Tetapi mereka membeli para politisi yang meneruskan kepentingan mereka. Adalah sebuah ironi bahwa para politisi yang kerjanya menghamba pada pengusaha biasanya berasal dari wilayah-wilayah yang paling miskin.

Para politisi ini mengeksploitasi kaum miskin yang mereka tahu persis butuh makan untuk hari ini. Politisi ini membutuhkan suara kaum miskin untuk merampoknya. Mereka memberi dedak untuk merampok lumbungnya.

Di daerah pemilihannya, Setya Novanto sangat populer, dikenal murah hati, rajin menyumbang ke gereja-gereja. Pendeta dan pastor pun ringan tangan memberkati dan mendoakannya. Kaum miskin yang memilihnya itu sangat berterima kasih atas segala macam sumbangan dan ‘bonus’ tiap kali mereka mencoblos namanya di bilik suara. Tidak ada dalam pemikiran konstituennya bahwa yang mereka pilih akan semakin kaya, sementara mereka sendiri nasibnya tidak berubah kalau tidak malah makin miskin.

Bagaimana memutus rantai ini? Mungkin Anda bosan mendengar bahwa demokrasi membutuhkan kecerdasan para pelakunya. Tapi memang demikianlah adanya.

Mungkin saya bisa tambahkan sedikit. Mungkin kecerdasan yang diperlukan tidak tinggi-tinggi amat. Harus ada yang menunjukkan bahwa Rp 250 ribu yang mereka terima pada saat pemilihan memiliki arti yang sangat dalam. Dengan menerima Rp 250 ribu itu, para pemilih ini akan kehilangan jalan-jalan yang mulus, saluran air yang berfungsi baik, pelayanan kesehatan yang memadai, pendidikan yang murah dan bermutu, sanitasi yang memadai, dan lain sebagainya. Dengan menerima Rp 250 ribu itu mereka mungkin akan kehilangan Rp 25 juta selama lima tahun.

Kita tidak tahu apakah KPK akan berhasil menjebloskan Setya Novanto ke dalam penjara. Tentu sulit untuk melawan sang oligarkh yang lebih licin dari belut ini.

Jika berhasil? KPK akan punya ‘Pria Terganteng 2017’***


comments powered by Disqus