Rosa Luxemburg

Print Friendly, PDF & Email

 

Kredit foto: thecharnelhouse.org

 

SEPERTI kebanyakan keluarga Yahudi kelas menengah, pendidikan dasar Rosa diperolehnya di rumah. Ibunya, Lina Löwenstein yang salihah, ialah guru pertamanya. Darinya Rosa kecil mendapat pelajaran Alkitabiah, hukum dan sejarah bangsa Yahudi, serta tentu saja kisah nabi-nabi yang heroik nan bijaksana. Bertahun-tahun kemudian ketika di dalam penjara, Rosa mengingatnya: “Ibuku, yang menganggap Alkitab—setelah Schiller—sumber kebijaksanaan tertinggi, meyakinkanku Raja Sulaiman mengerti bahasa burung. Menengok ke masa lalu aku biasanya tersenyum oleh kenaifan ibuku itu. Tapi sekarang [di penjara] aku sendiri seperti Nabi Sulaiman”[1].

Meski menganggap pelajaran agama dan sejarah Yahudi penting, Lina dan Eliasz bukanlah Yahudi kolot yang anti kemodernan. Terutama bagi Lina yang berasal dari keluarga rabi reformis. Di rumah, karya-karya pujangga Pencerahan dari Perancis dan Jerman, serta karya sastra Polandia biasa diperbincangkan. Kebiasaan ini ada kaitannya dengan tradisi keluarga Lina dan Eliasz yang menyokong gerakan asimilasi total Yahudi ke dalam kebudayaan dan menilai tinggi pemikiran Pencerahan Eropa dalam mengentaskan bangsa Yahudi dari lumpur penindasan dan keterbelakangan. Selain itu, mereka juga menunjukkan jiwa nasionalis Polandia. Alih-alih Yiddish atau Ibrani, percakapan di antara anggota keluarga Luxemburg menggunakan Bahasa Polandia. Di antara tetangganya, Eliasz sendiri lebih dikenal dengan nama Polandianya, Eduard. Bahkan nama lahir Yahudinya, Elisha, tak pernah digunakan. Tentu saja sebagai pecinta budaya Pencerahan, Bahasa Jerman juga lumrah dipakai.

Baru pada 1884, ketika menginjak usia tiga belas tahun, Rosa didaftarkan ke sekolah menengah khusus anak gadis di Warsawa. Eliasz harus berjuang mati-matian supaya anaknya diterima. Apa pasal? Meski cuma sekolah kelas dua—karena yang kelas satu hanya untuk anak-anak priyayi dan pamong pemerintahan Tsar—tak gampang anak Yahudi-Polandia diterima. Program Rusifikasi budaya yang diterapkan Tsar baru jelas-jelas anti-Semit dan diskriminatif.

Entah bagaimana ceritanya, Rosa akhirnya bisa bersekolah di sana. Di antara guru-gurunya, Rosa dikenal pandai pidato dan menulis esai. Tak hanya fasih dalam Bahasa Rusia yang menjadi bahasa wajib di lingkungan sekolah, tapi juga bahasa-bahasa Eropa lainnya. Mereka terutama menilainya punya kemampuan cemerlang dalam ilmu alam. Gurunya juga tahu botani dan matematika ialah dua pelajaran kesukaannya. Konon dia pernah bercita-cita menjadi seorang botanis. Meski takdir bicara lain, dan akan menghantarkannya sebagai seorang ekonom handal sekaligus Marxis, bahkan ketika sudah malang melintang di dunia politik revolusioner Eropa, dia tetap pada kesukaan awalnya itu dan dikenal sebagai tukang kebun karena di mana pun dia berdiam, pasti kediamannya dipenuhi hasil bercocok tanamnya.

Rosa mendaftar ke Partai Proletariat setahun sebelum lulus. Sebagai anggota bersemangat, dia tak cuma beragitasi di kalangan pelajar, tapi juga di antara buruh-buruh pabrik pinggiran Warsawa. Kelak di antara kawan-kawan sebaya yang berhasil ditariknya, tak sedikit yang menyertai perjuangan politiknya sampai akhir hayat.

Biarpun aktif di bawah tanah, kegiatan politiknya terendus juga oleh guru-gurunya. Karena itulah, meskipun prestasi akademiknya terbilang cemerlang, saat wisuda pada 1887 urung dia dapat medali emas tertinggi untuk siswa paling berprestasi. Alasannya Rosa menunjukkan “sikap berontak terhadap otoritas”. Lagi pula dia anak Yahudi di tengah-tengah kebijakan Rusifikasi yang terang-terangan anti-Semit dan diskriminatif terhadap golongan minoritas etnik selain Rusia.

Selepas wisuda, Rosa makin aktif dalam politik. Bersama kawan-kawan sebayanya di Proletariat Kedua, dia giat beragitasi dan mengorganisasi. Tapi mereka harus pandai-pandai bermuka dua. Konon intel Tsar mengendus bau rencana pemogokan besar-besaran yang disiapkan partai radikal itu. Selain itu, ternyata Proletariat bersekutu dengan organisasi teroris Narodnaya Volya yang beberapa tahun sebelumnya terbukti sebagai perancang pembunuhan Tsar Aleksandr II. Karena itulah pengawasan dan penangkapan aktivisnya gencar dilakukan.

Buat kita sekarang, sungguh mengherankan kenapa gadis belia yang baru genap enam belas tahun meresikokan hidupnya dengan menjadi aktivis organisasi terlarang? Proletariat bukan organisasi sembarangan. Mereka dikenal disiplin, radikal, dan militan semangat revolusionernya. Tujuannya bukan sekadar kumpul-kumpul sambil minum kopi membicarakan teori politik terkini, tapi bagaimana caranya menumbangkan kekuasaan kaisar yang tiranis dan membangun masyarakat demokratis sosialis kekuatan politik massa sebagai basis. Kalau tujuan Rosa sekadar belajar berorganisasi dan menambah pengalaman ekstrakurikuler, kenapa tidak aktif saja di OSIS atau Perhimpunan Siswa Pecinta Budaya Polandia, misalnya?

Alkisah, beberapa minggu sebelum masuk sekolah, waktu umurnya baru tiga belas tahun, Kaisar Wilhelm I dari Prusia berkunjung ke Warsawa. Seperti biasa, anak-anak sekolah diperintahkan berjajar di jalan menyambutnya. Alih-alih ikut berhore-hore ria mengibarkan bendera negara si kaisar, Rosa malah mengirimkan surat buat “orang kuat dari Barat” itu. Isinya mengkritik kebijakan perang si kaisar dan gaya hidup kaum bangsawan yang dianggapnya menindas rakyat.

Nah, buat anak gadis tukang kritik macam begini, OSIS tidak pas. Proletariat yang pas. Proletariat itu kritik yang maujud ke dalam aksi terorganisasi. Bukan cuma aksi, tapi aksi revolusioner yang bertujuan meruntuhkan tatanan lama demi membangun tatanan baru.

I[2]

Dirunut jauh lagi ke belakang, rupanya “sikap berontak terhadap otoritas” Rosa bukan berasal dari kegenitan intelektual gadis Yahudi pincang yang cari perhatian. Ada bara anti-tirani mendekam di balik sekam sejarah keluarganya. Eliasz membawa pindah keluarga ke Warsawa pada 1873 ternyata bukan sekadar untuk mencari peluang bisnis baru yang lebih menjanjikan dibanding di Zamość yang sedang surut peran ekonominya. Bukan pula sekadar supaya anak-anaknya bisa mengakses pendidikan lebih baik di ibukota karena nyatanya saudara-saudara Rosa menyelesaikan sekolah menengah dan universitasnya di Jerman, bukan di Polandia. Apa gerangan yang memaksanya pindah?

Alkisah, ada seorang Yahudi yang punya jaringan bisnis lintas bangsa. Namanya Abraham Luxemburg. Orangtuanya sudah puluhan tahun tinggal di Warsawa. Pada awal abad kedua puluh dia pindah bersama istrinya ke Zamość, pada masa pemulihan Polandia pasca Perang Napoleon. Sejak 1795, wilayah Polandia ibarat kue yang dipotong-potong di antara negara-negara adidaya Eropa. Awal abad kesembilan belas ia dipotong tiga oleh Rusia, Austro-Hungaria, dan Prusia sebagai akibat dukungan bangsa Polandia terhadap Revolusi Perancis 1789. Warsawa dan juga Zamość termasuk yang berada di bawah pendudukan Rusia. Adipati Warsawa pernah berontak pada 1810-1815, tapi gagal. Karena itulah Rusia mengeratkan cengkeramannya. Di bawah cengkeraman Rusia, bangsa Polandia didera derita. Begitu pula orang-orang Yahudinya. Pemerintah membatasi hak-hak kelompok minoritas etnik. Khusus buat orang Yahudi, batasan dalam perdagangan, residensi, dan pendidikan lebih ketat lagi. Mereka tak boleh membeli tanah lagi. Akses ke lembaga pendidikan dibatasi kuota. Usaha dagang mereka dipajaki lebih tinggi. Mereka tetap tidak diakui sebagai warga negara yang sama haknya meski sudah bergenerasi tinggal di sana.

Orang-orang Yahudi sebetulnya sudah tinggal di Zamość sejak paro kedua abad keenam belas karena diundang oleh adipati yang memimpin pendirian kota dagang itu. Mulanya Yahudi Sefardik dari Italia, Spanyol, Portugis, dan Turki yang diundang datang. Tapi lama kelamaan Yahudi Askenasi dari Timur Tengah dan Afrika Utara juga berusaha di sana dan kemudian dominan. Karena pembatasan, orang Yahudi Zamość mengembangkan institusi pendidikan mandiri. Bahkan menjelang abad kesembilan belas, kota kecil itu memiliki lembaga penerbitan dan sekolah-sekolah mengajarkan pemikiran modern yang menjadi pusat kebudayaan Yahudi reformis Eropa Timur. Konon Israel ben Moshe ha-Levi, guru filsuf tersohor Moses Mendelsohn, menimba ilmu di sana. Banyak tokohnya aktif dalam Haskalah atau gerakan pencerahan Yahudi. Termasuk Abraham.

Pada Nopember 1830, meletus pemberontakan petani Polandia terhadap pendudukan Rusia. Komunitas Yahudi Zamość turut mendukungnya. Pasukan Rusia mengepung kota itu membuat penduduk kelaparan dan terserang wabah kolera. Zamość akhirnya menyerah. Tokoh-tokohnya ditangkapi. Termasuk tokoh-tokoh Yahudi di sana. Kediaman orang-orang Yahudi dirampas. Kompleks pekuburan mereka juga dihancurkan. Untuk menghindari pembantaian, sebagian orang Yahudi akhirnya berhasil meloloskan diri ke Warsawa. Abraham salah satunya. Buat Abraham, agak merepotkan juga keluar kota karena ketika pemberontakan meletus, pada 17 Desember 1830 istrinya melahirkan anak pertamanya, Elisha (kelak lebih dikenal dalam lafal Polandia: Eliasz), yang juga ia diberi nama Polandia: Eduard.

Anak sulung Abraham, Eduard alias Eliasz, besar di Warsawa. Berkat kekayaan ayahnya, Eduard disekolahkan hingga ke Berlin. Dan sebagai pendukung Haskalah, Abraham mendidik Eduard dengan ajaran-ajaran Yahudi reformis di Sekolah Rabinis Warsawa. Juga karya-karya pujangga Pencerahan Perancis dan Jerman. Tentu saja sebagai calon pewaris bisnis keluarganya, dia juga diperkenalkan pada dunia bisnis beserta jaringan dagang ayahnya yang merentang dari Warsawa hingga Berlin.

Eduard tak hanya bisnis. Seperti ayahnya, dia juga menjadi tokoh penting Haskalah. Pada 1860 dia turut mendirikan koran Yiddish ‘Bintang Fajar’, yang tajuk rencananya condong ke gagasan ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’ dan penyadaran politik. Tak dinyana, pada akhir 1861 meletus pemberontakan rakyat di Warsawa yang ditanggapi dengan keras oleh Rusia. Lalu Januari 1863 pecah lagi pemberontakan. Kali ini terjadi nyaris di seantero Polandia. Tak cuma di wilayah yang diduduki Rusia, tapi juga di wilayah pendudukan kekaisaran Austro-Hungaria dan Prusia. Sebagai pedagang yang sadar politik dan juga nasionalis, Eduard menyokong pemberontakan dengan memasok perbekalan militer, pakaian, dan senjata untuk pasukan pemberontak. Keluarganya di kota turut bantu mengumpulkan dana dan makanan dari warga Yahudi untuk warga bukan Yahudi miskin yang kesulitan pangan selama pemberontakan. Apalacur, milisi rakyat Polandia bukan lawan banding pasukan tiga kekaisaran adidaya Eropa. Setahun berikutnya, pemberontakan ditundukkan.

Ketika pemberontakan berhasil ditumpas, Eduard termasuk orang yang paling dicari aparat polisi Rusia. Eduard terpaksa meninggalkan anak istrinya di Zamość pada akhir 1864. Baru pada 1868 dia kembali dari Warsawa. Tiga tahun setelah kembali, anak bungsunya, Rosa, lahir.

Pemberontakan nasional Polandia 1863 bukan peristiwa enteng. Ia bahkan menarik perhatian orang seperti Karl Marx. Setelah kegagalan Revolusi 1848 di Eropa Barat, Marx melihat ada secercah optimisme revolusi akan terpercik dari Timur. Dalam suratnya kepada Engels bertanggal 13 Pebruari 1863, Marx menulis: “Bagaimana menurutmu urusan Polandia ini? Ini benar-benar pasti, masa revolusi kini telah terbuka lagi di Eropa…Kali ini, mari kita berharap, lahar akan mengalir dari Timur ke Barat”[3].

Meski dapat ditundukkan setahun berikutnya, Marx menganggapnya sebagai “peristiwa paling penting yang berlangsung di Eropa sejak 1815”[4]. Lagi pula bagi para sosialis, ada hikmah baik dari peristiwa ‘dari Timur’ itu. Sebagai musuh Persekutuan Suci (Prusia, Rusia, Austro-Hungaria), pemerintahan Bonapartis Perancis menyokong pemberontakan Polandia. Dengan politik ‘musuh dari musuhku adalah kawanku’, pemerintahan Perancis turut serta dalam memfasilitasi berbagai upaya memenangkan pemberontakan nasional Polandia. Salah satu pengaruh kebijakan ini ialah diijinkannya demonstrasi-demonstrasi dan perkumpulan-perkumpulan politik mendukung Polandia. Beberapa di antaranya diorganisasi para pekerja Paris yang kemudian menjalin kontak dengan pekerja Inggris yang sebelumnya telah menggalang dukungan bagi Polandia di pusat-pusat industri Inggris. Pada Juli 1863, delegasi pekerja Perancis diperbolehkan berkunjung ke Inggris untuk melakukan pertemuan khusus tentang Polandia. Dalam pertemuan-pertemuan yang juga diikuti utusan dari berbagai kelompok pekerja lintas bangsa ini muncul gagasan untuk menjalin ikatan keorganisasian seluruh organisasi pekerja Eropa. Hasilnya ialah ditetapkan berdirinya International Working Men’s Association atau Internationale Pertama, pada September 1864, yang di dalamnya aktivis, pekerja, dan intelektual yang terlibat urusan dukung-mendukung pemberontakan Polandia 1863, termasuk Marx, memainkan peran penting.

II

Pasca pembunuhan Aleksandr II pada 1881 dan serangan balik pemerintah kekaisaran terhadap semua gerakan revolusioner, tekanan memberat bagi orang-orang Polandia dan gerakan politik di wilayah Rusia. Bagi orang-orang Yahudi Polandia, beban terasa lebih berat lagi karena pembatasan kebebasan ekonomi dan kultural ditambah dengan pencabutan kembali semua kebijakan politik sebelumnya yang liberal oleh Aleksandr III. Buat Aleksandr III, reformasi liberal itu tak cuma omong kosong Barat yang tak cocok dengan Jiwa Bangsa Slavia, tapi juga punya daya rusak terhadap kesentosaan politik Rusia. Jauh hari kemudian, pada 1918 ketika sedang di dalam penjara, Rosa Luxemburg, melalui periannya tentang kehidupan sastrawan Rusia Vladimir Korolenko, menulis:

“Sepanjang dasawarsa 1880an, pasca pembunuhan Aleksander II, sebuah babak ketakberdayaan menghntui seantero Rusia…Penjaranya pemerintahan Aleksander III sesunyi kuburan. Masyarakat Rusia jatuh ke dalam cengkeraman kepasrahan tanpa asa, menghadapi punahnya semua harapan akan reformasi damai, dan kegagalan mencolok mata semua pergerakan revolusioner. Di dalam suasana semacam itu yang mungkin muncul hanyalah tendensi-tendensi metafisik dan mistis”[5]

Kaum liberal dipukul mundur dari kancah politik Rusia. Terlebih bagi kaum sosialis revolusioner yang kini bahkan celah politik selubang jarum pun tertutup sudah.

Sepanjang dasawarsa 1870an hingga akhir 1880an, minyak di wajan politik Rusia Raya tak pernah dingin. Gelembung dan letupan di permukaan hanyalah gejala dari panas yang kian membara di bawahnya. Rosa baru berumur delapan tahun ketika sebagian besar anggota Tanah dan Kebebasan (Zemly i volya) memisahkan diri dan membentuk Narodnaya Volya yang lebih condong pada perjuangan militer dan teroristik yang berujung pada pembunuhan Tsar Aleksandr II. Ketika Vera Zasulich berjalan ke kantor gubernur St. Petersburg dan menembak sang jendral dari jarak dekat, Rosa juga baru delapan tahun. Rosa masih seorang anak gadis sebelas tahun ketika Sofia Perovskaia, anak seorang jenderal Rusia, dieksekusi karena turut serta dalam plot pembunuhan Tsar Aleksandr II.

Ketika polisi Tsar menangkapi, membuang, atau menggantung para aktivis Partai Proletariat pada 1886 sebagai hukuman atas letusan-letusan pemogokan yang mereka organisasi sejak 1882, Rosa belumlah lulus dari sekolah menengah. Ketika Maria Bohusz dan Rosalia Felsenhardt, seniornya di Partai Proletariat dibuang dan hilang di Siberia, Rosa barulah lulus sekolah menengah. Begitu pula ketika seniornya yang lain, Aleksandra Jentys mati disiksa di penjara. Rosa juga baru menginjak umur 17 tahun pada 1888 ketika bersama sisa-sisa anggota yang masih hidup mendirikan kembali Partai Proletariat bawah tanah. Jadi, ketika dia memilih tetap di jalan revolusioner, Rosa tahu betul resiko yang mesti ditanggung. Revolusi jelas bukan jalan lengang di perbukitan hijau nan sentosa. Atau sekadar kata-kata kosong dalam bual-bualan di kafe sambil menikmati sepotong kue keju. Gambaran inilah yang turut dibawanya ketika dia berhasil meloloskan diri ke luar wilayah Polandia pada akhir 1888.

Seorang revolusioner telah lahir.***

 

Kepustakaan:

Buhle, P. 2013. ‘Rosa Luxemburg and the birds’, Capitalism Nature Socialism, 24 (2): 55-57.

Castle, R. 2012. ‘Rosa Luxemburg: her family and the origins of her Polish-Jewish identity’, Praktyka Teoretyczna: Dziedzictwo Róży Luksemburg, 6: 93-123.

Luxemburg, R. 1969. ‘Life of Korolenko’, International Socialist Review, 30 (1): 11-31.

Marx, K. 1985a. ‘Marx to Engels, 13 February 1863’, Karl Marx and Frederick Engels Collected Works, Vol. 41. New York: International Publishers.

Marx, K. 1985b. ‘Marx to Engels, 7 June 1864’, Karl Marx and Frederick Engels Collected Works, Vol. 41. New York: International Publishers.

 

————-

[1] dikutip Buhle 2013: 56.

[2] Kecuali disebut sumber lain, cerita tentang kakek dan ayah Rosa Luxemburg ini disari dari Castle 2012.

[3] Marx 1985a: 453.

[4] Marx 1985b: 538.

[5] Luxemburg 1969: 28.


comments powered by Disqus