150 Tahun Kapital karya Karl Marx: Kritik dan Alternatif terhadap Kapitalisme

Print Friendly, PDF & Email

Kredit gambar: http://www.marxcollegium.org/

 

Pengantar redaksi: Naskah berikut adalah laporan yang datang dari Konferensi peringatan 150 tahun terbitnya karya terbesar Karl Marx, Kapital. Kontributor IndoPROGRESS, Babak Amini, mahasiswa Doktoral di London School of Economics (LSE), London, menuliskannya untuk Anda. Semoga bermanfaat.

 

PADA tanggal 24-26 Mei 2017 lalu, Universitas York, Kanada, menggelar sebuah konferensi internasional tentang peringatan 150 tahun mahakarya Karl Marx, Kapital. Para pembicara dalam konferensi ini adalah para sarjana dari bidang sosiologi, ilmu politik, dan filasafat. Mereka berasal dari sekitar 20 universitas dan datang dari 10 negara, dan secara kritikal mendiskusikan tentang sejarah, isi, dan relevansi dari karya yang mengguncang dunia itu. Konferensi ini diorganisir oleh Marx Collegium di bawah arahan Marcello Musto, Associate Professor di departemen Sosiologi, Universitas York.

Konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri lebih dari 1000 mahasiswa, para ahli, dan juga aktivis. Mereka datang dari berbagai provinsi di Kanada, dan juga dari berbagai negara seperti Nepal, Jepang, Meksiko, dan Nikaragua. Pada sesi penutupan yang menghadirkan Profesor Immanuel Wallerstein, dihadiri lebih dari 300 orang. Tak pelak, konferensi ini merupakan salah satu kegiatan akademik terbesar di Faculty of Liberal Arts & Professional Studies (LA&PS) di Universitas York.

Sederet pembicara dalam konferensi ini adalah nama-nama masyhur, kalau tidak bisa disebut raksasa, dalam khazanah pemikiran Marxis. Mereka antara lain Etienne Balibar (Paris West University Nanterre La Défense), Saskia Sassen (Columbia University), Bob Jessop (Lancaster University), John Bellamy Foster (University of Oregon), Silvia Federici (Hofstra University), Richard Wolff (The New School), Moishe Postone (University of Chicago), Kevin B. Anderson (UC Santa Barbara), Bertell Ollman (New York University), Leo Panitch (York University), Ursula Huws (University of Hertfordshire), Michael Kraetke (Lancaster University), Himani Bannerji (York University), Seongjin Jeong (Gyeongsang National University), Mauro Buccheri (York University), Alfonso Maurizio Iacono (University of Pisa), Pietro Basso (Ca’ Foscari University of Venice), George Comninel (York University), Gary Teeple (Simon Fraser University), dan William Roberts (McGill University).

Meringkas keseluruhan 27 makalah yang dipresentasikan dalam konferensi ini tentu tidak memadai dalam laporan singkat ini. Makalah terpilih yang diulas di bawah ini bermaksud menunjukkan beberapa kontribusi orisinal, yang mewakili empat tema besar dari konferensi, yakni sejarah penyebaran dan penerimaan Kapital di seluruh dunia, penafsiran “ekstra-ekonomi” dari Kapital, relevansi dan keterbatasan Kapital, dan pembacaan kembali Kapital dalam terang manuskrip-manuskrip atau teks-teks dasar (preparatory manuscripts).

Sesi pembukaan konferensi ini didedikasikan kepada proyek yang tengah berlangsung yaitu penulisan sejarah global penyebaran dan penerimaan Kapital di seluruh dunia. Sejumlah kontributor dalam proyek kolektif ini, yang nantinya akan diterbitkan dalam sebuah buku yang akan segera terbit, The Routledge Handbook of Marx’s ‘Capital’: A Global History of Translation, Dissemination and Reception (London: Routledge), yang dieditori oleh Marcello Musto dan Babak Amini, mempresentasikan penemuan mereka dalam sesi ini. Setiap pembicara menarasikan cerita penerjemahan yang berbeda-beda dari Kapital dalam konteks sejarah penetrasi Marxisme di negara mereka dan menyoroti pengaruh terpenting dari penerjemahan itu dan dampaknya pada keseluruhan penerimaan Marx.

Sejumlah makalah signifikan lain yang dipresentasikan ditujukan untuk membahas penafsiran Kapital dalam terang diskusi ekonomi, perspektif non-Eropa, dan kritik feminis. Dua contoh makalah penting dalam topik ini adalah yang dipresentasikan oleh Foster dan Federici. Dalam makalah berjudul “Marx’s Capital and the Earth: The Ecological Critique of Political Economy”, Foster berpendapat bahwa Kapital harus dibaca sebagai kritik ekologi dari ekonomi politik. Foster menunjukkan pemikiran ekologis yang sangat menonjol dalam tulisan-tulisan Marx, dari disertasi doktorlanya yang ditulis pada usia sangat muda hingga tulisan-tulisan di masa tuanya, dan bagaimana pemikiran Marx ini luput dari perhatian para pemikir-pemikir Marxis kontemporer. Foster melacak akar pemikiran ekologis Marx ke konsepsi materialis tentang sejarah (materialist conception of history) yang selalu bersinggungan dengan konsepsi material tentang alam (materialist conception of nature). Ia selanjutnya mengritik pembacaan ekososialis dari Kapital dan Marx dan mengajurkan agar menempatkan Marx kembali pada tempatnya yang sebenarnya: kritik ekologi atas kapitalisme kontemporer.

Sementara makalah Federici dengan judul “Marx, Gender and the Reproduction of the Working Class”, menguji konsepsi Marx tentang kerja reproduktif dalam memahami dan mengantisipasi kondisi-kondisi aktual yang sedang berlangsung terkait hubungan gender dengan sejarah kapitalisme dan konsekuensinya terhadap marxisme dalam memahami dinamika-dalam (inner-dynamic) dari perjuangan kelas. Ia mengritik Marx yang tidak melihat proses yang sedang berlangsung, berawal pada 1870an hingga Perang Dunia I, mengenai pembentukan keluarga proletariat, yang dikarakterisasikan oleh meningkatnya eksploitasi perempuan dan anak-anak dan diperkenalkannya “upah keluarga/family wage”. Federici berpendapat bahwa ketidakpedualian Marx ini berakar pada kelemahan kerangka kerja teoritisnya dalam memasukkan pekerja domestik (domestic labour) dalam proses kerja reproduktif. Ia selanjutnya mengaitkan kritiknya ini dengan ketidakpercayaan Marx pada buruh tak diupah (unwaged labour) sebagai subjek dalam perjuangan anti-kapitalis.

Tema penting lain dalam konferensi ini berkisar seputar pengujian kritikal mengenai keberlanjutan relevansi Kapital dalam menyediakan kerangka kerja dalam memahami transformasi saat ini dan watak dari perkembangan kapitalis. Sebuah makalah yang sangat baik yang dipresentasikan dalam tema ini berjudul “The Current Crisis and the Anarchonism of Value” dari Moishe Postone, filsuf Marxis di Universitas Chicago. Ia berpendapat bahwa memahami kapitalisme sebagai bentuk abstrak secara historis dari dominasi menjadi sangat relevan dalam konteks krisis ekonomi saat ini dan kekuatiran akan bangkitnya kanan jauh (far right). Menurutnya kapitalisme telah membangun sebuah bentuk kemanusiaan yang spesifik secara historis yang beroperasi atas dasar dominasi terhadap orang-orang sehingga menyebabkan proletariat menjadi tidak penting. Akibatnya, kemungkinan penghancuran kapitalisme pun menjadi semakin sulit. Proses ini menciptakan kondisi-kondisi yang mengerikan dimana kelebihan kerja (superfluity of labour) disalahpahami sebagai kelebihan orang-orang (superfluity of people).

Tema besar lainnya dalam konferensi ini adalah mendiskusikan soal sejauhmana para sarjana Marxis saat ini dapat lebih baik merekonstruksi tahap-tahap dari kritik Marx terhadap ekonomi politik dalam terang penemuan tekstual dari Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA). Salah satu presentasi menarik dalam topik ini adalah makalah dari Krätke dengan judul “Why and in What Respect in Capital Incomplete?”. Ia berpendapat bahwa Kapital adalah karya yang tidak lengkap dalam banyak hal penting. Masalah-masalah yang diidentifkasi Marx tetapi tidak secara utuh bisa diatasinya merupakan sebuah peta penelitian untuk pertanyaan lebih lanjut. Krätke memeriksa kembali apa yang di klaim Marx telah dicapainya, seperti pembedaan antara kerja abstrak (abstract labour) dan kerja konkret (concrete labour), bentuk umum dari nilai lebih (the general form of surplus value), dan kapital konstan (constant capital) dan kapital variabel (variable capital). Ia juga menilai beragam penafsiran tentang proses penelitian yang dilakukan Marx baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan Kapital dari tahun 1842-1880, dan mengatakan bahwa proses penelitian Marx itu harus dipahami sebagai proses belajar yang terputus-putus dalam mempelajari masalah yang sangat sulit dan terus berkembang. Krätke mengamati isu-isu yang belum diselesaikan Marx itu dan berspekulasi mengapa Marx tidak menyelesaikannya selama masa hidupnya.

Keseluruhan panel ini telah direkam dalam bentuk video dan akan dipublikasikan dalam waktu secepatnya di website konferensi (http://www.marxcollegium.org/). Selanjutnya, makalah-makalah dalam konferensi ini akan diterbitkan sebagai buku pada 2018.***

 

Naskah ini diterjemahkan oleh Coen Husain Pontoh dari naskah asli berjudul: Report of the international conference, “Marx’s Capital after 150 Years: Critique and Alternative to Capitalism”.

 


comments powered by Disqus