Anjing

ANJING boleh dibilang binatang paling populer sedunia. Selain Scooby Doo dan Spike, sudah berapa banyak film yang menjadikan tokoh anjing sebagai pelakon? Banyak sekali saya kira. Tak cuma di masa kini anjing populer. Dahulu kala juga populer. Orang Mesir dan Sumeria kuno punya dewa-dewi berkepala anjing, dan salah satu lawan Herkules yang tersohor itu ialah anjing berkepala tiga. Pokoknya, beda dengan paus bungkuk atau salamander api yang hanya dikenal segelintir orang (terutama mahasiswa biologi), tak ada orang yang tak tahu anjing.

Kepopuleran anjing mungkin terkait dengan sudah begitu lamanya anjing berinteraksi dengan dan menjadi bagian kehidupan manusia. Di antara binatang-binatang lainnya, anjinglah yang pertama kali didomestikasi. Berdasarkan studi genetika dan paleontologi, setidaknya anjing sudah hidup bersama sebagai bagian dari keluarga sakinah manusia 40-27 ribu tahun silam, beberapa puluh ribu tahun sebelum manusia mulai mengenal kehidupan menetap, bercocok tanam, dan lalu menjinakkan kambing, domba, sapi, babi, dan semua binatang yang kini berpredikat ternak.

Saking sudah lamanya anjing ada di dalam kehidupan manusia, status kultural anjing bisa amat berbeda dari satu kelompok budaya ke kelompok budaya lainnya. Tak Cuma berbeda, tapi bahkan bertentangan satu sama lain. Contohnya adalah para pecinta anjing. Kelompok yang satu mencintai anjing karena menganggapnya sahabat manusia. Kelompok yang satunya lagi mencintai daging anjing karena lezat dan konon berkhasiat. Di Indonesia, kedua kelompok sama-sama punya pendukung. Sudah sejak lama beberapa suku bangsa di Indonesia dikenal sebagai pecinta daging anjing. Mereka biasa memakan daging anjing sebagai lauk utama yang menemani nasi. Entah sejak kapan mereka terbiasa makan daging anjing, yang jelas anjing bagi mereka tak lebih dari hewan yang bisa dimakan dagingnya seperti halnya sapi, domba, atau itik. Nah, kebiasaan di antara mereka inilah yang akhir-akhir ini sedang digugat oleh anak muda perkotaan jenis baru.

Mereka mengampanyekan ‘Dogs are not food’ atau ‘Anjing bukanlah makanan’. Tujuannya ada dua. Pertama menyadarkan kita semua bahwa anjing sama sekali tak layak menjadi makanan. Kedua memaksa pemerintah untuk mengeluarkan produk hukum melarang peredaran dan konsumsi daging anjing. Kepada pemerintah, alasan yang diajukan ialah bahwa di dalam Undang-Undang No. 15 tahun 2009, anjing tidak termasuk ke dalam kategori ternak sehingga tidak ada pengawasan terhadap baku mutu dan peredarannya. Oleh karena itu daging anjing yang saat ini beredar dan dikonsumsi pastilah berasal dari pasar gelap, dan seperti halnya barang selundupan itu artinya melanggar hukum.

Kepada kita semua warga negara Indonesia, alasan yang diajukan ialah bahwa anjing itu sahabat manusia. Anjing dan manusia punya ikatan batin alamiah untuk saling menyayangi. Mereka sudah beribu-ribu tahun menjalin kerjasama, saling tolong menolong dalam suka dan duka. Karena anjing adalah sahabat manusia, dan memakan sahabat tidak bermoral karena itu artinya kanibalisme, maka memakan anjing tidak bermoral. Selain itu, selama ini proses mengubah seekor anjing menjadi daging amat sangat biadab tak berperikebinatangan. Bayangkan saja, anjing dimasukkan karung dan digebuki sampai mati. Konon, orang-orang itu (maksudnya para pecinta daging anjing) percaya bahwa praktik semacam ini agar darah anjing tidak keluar karena bila keluar niscaya akan mengurangi kelezatan dan khasiat yang dikandungnya. Atau seperti di antara kelompok budaya yang lainnya, anjing dibakar hidup-hidup. Selain untuk menghanguskan bulu, juga supaya darah anjing tidak keluar dari tubuh sehingga mengurangi kelezatannya.

Sementara itu para pecinta daging anjing berkilah bahwa mereka makan daging anjing karena di dalam tradisi budaya mereka anjing memang makanan. Boleh juga anjing jadi sahabat manusia yang membantu berburu babi hutan dan menjaga ladang. Tapi mereka itu sahabat yang boleh (dan enak pula) dimakan. Kalaupun anjing belum termasuk ke dalam kategori ternak, ya revisi saja itu undang-undang supaya bisa mengakomodasi kebiasaan kami yang sudah beribu-ribu tahun ini. Undang-undang kan bukan kitab suci. Tak akan jadi soal kalau satu pasalnya diubah dengan memasukkan anjing ke dalam golongan ternak seperti halnya sapi, babi, kerbau, dan unggas. Dengan memasukkan anjing ke dalam kategor ternak, selesailah itu masalah pengawasan baku mutu kesehatan dan pasar gelap.

Selain itu, apa patokannya bahwa kebiasaan kami membunuh anjing lebih kejam ketimbang cara kalian membunuh hewan yang akan jadi makanan? Apakah tidak kejam menyembelih sapi di lehernya sampai darah mereka bermucratan keluar nadi supaya sodara-sodara sekalian bisa makan steak daging paha sapi berbumbu lada hitam? Apa tidak kejam juga merenggut telur-telur dari induknya supaya kalian bisa sarapan telur mata sapi? Siapa tahu kalau tidak kalian renggut itu telur, mungkin mereka akan jadi anak ayam yang bahagia? Kira-kira begitulah tampikkan para pecinta daging anjing terhadap tuduhan dari para pecinta anjing.

Nah, menurut Anda yang Marxis, kira-kira mana posisi yang benar? Apakah posisi pecinta daging anjing, ataukah posisi pecinta anjing? Apakah anjing itu makanan, ataukah anjing itu sahabat manusia?

Ada satu kekeliruan umum soal Marxisme. Kekeliruan ini tak hanya diidap mereka yang sejak dalam pikiran menolak apa saja yang berbau Marxisme, tapi juga di antara mereka yang mengaku dirinya Marxis. Kekeliruan itu ialah bahwa Marxisme bisa menjawab semua ‘kenapa’ dari segala hal. Kekeliruan ini berasal dari kebiasaan untuk menempatkan Marxisme sebagai sejenis ‘agama’ yang dianggap sudah memberikan semua jawaban atas semua hal yang ada dan mungkin akan ada. Di dalam khazanah keagamaan, semua hal bisa dijelaskan kenapanya. Dari longsor hingga letusan gunung api, dari kelahiran hingga saat kematian, dari derita hidup hingga kebahagiaan, dari jomlo hingga jodoh.

Marxisme sebagai sains, seperti halnya semua sains, punya cakrawala pandang yang membatasi apa-apa saja yang bisa dilihat dan dijelaskan. Batas-batas cakrawala Marxisme sebagai sains ialah masyarakat manusia (bukan biologi ataupun psikologinya); manusia sebagai individu sosial, bukan organisme atau kualitas mentalnya. Karena itu Marxisme tak akan bisa menjawab soal-soal seperti “kenapa jantung berdegup kencang sesak manakala cinta ditolak?” atau “kenapa IPK saya tak bisa beranjak lebih dari 2,50 ?” atau “kenapa badai salju tak pernah terjadi di Banyumas?”. Bahkan untuk persoalan yang ada di dalam batas-batas keberadaan masyarakat manusia, misalnya makna dan praktik budaya di sekitar anjing yang amat bertentangan padahal subjek, anjing, sama dan orang-orang yang saling tentangnya sama-sama manusia, belum tentu konsep dan teori yang pernah Marx dan para Marxis setelahnya bangun bisa menjelaskan ‘kenapa’-nya.

Sebagai materialis, seorang Marxis pasti akan bilang bahwa makna dan praktik-praktik budaya di beragam masyarakat manusia bukanlah sesuatu yang misterius. Makna-makna berbeda terhadap sesuatu yang sama bisa dijelaskan secara ilmiah kenapanya. Mereka tidak ada begitu saja.

Baiklah kalau begitu. Semua ilmuwan juga berposisi seperti itu. Tak perlu menjadi Marxis nan materialis, seorang ilmuwan sosial pasti akan bilang bahwa kebudayaan bisa dijelaskan, bukan sesuatu yang supranatural (karena ketika ilmuwan memasukkan yang supranatural sebagai penjelas, maka ia berhenti sebagai ilmuwan dan beralih menjadi dukun), atau setidaknya bisa ditelusuri konteks sosial atau tautan fungsionalnya dengan pranata-pranata sosial yang ada.

Jadi, ketika dihadapkan pada dua kubu pemaknaan dan praktik budaya yang saling bertentangan soal anjing, apa kira-kira jawaban seorang Marxis? Basis mengkondisikan suprastruktur, bro! Karena soal anjing-anjingan di atas termasuk ranah suprastruktur ideologis, pasti asal-usulnya bisa dijelaskan dengan menelusuri basis ekonominya. Dan karena basis ekonomi bertopang pada relasi-relasi produksi, dan relasi produksi bersimpul pada kepemilikan atas sarana produksi, pasti praktik budaya itu dikondisikan oleh relasi produksi dan kepemilikan yang menjadi landasan keberadaan masyarakat!

Kalau begitu jawabannya, bagaimana menjelaskan keberadaan dua kelompok dengan nilai-nilai budaya saling bertetangan berada di dalam satu jenis masyarakat saja, yakni kapitalis? Apa urusannya relasi produksi kapitalis dan kepemilikan pribadi yang mengorganisasi basis ekonomi masyarakat kedua kelompok tersebut dengan pandangan dan praktik budaya anjing mereka? Tidak ada. Dan dengan demikian tidak punya tautan penjelasan.

Tidak ada urusannya sama sekali relasi produksi dan pranata kepemilikan dengan suprastruktur ideologis masyarakat pecinta anjing, karena keduanya hanya menjelaskan soal bagaimana masyarakat mengorganisasi individu-individu terkait dengan produksi dan distribusi produk untuk memenuhi kebutuhan material mereka. Soal bagaimana sesuatu (termasuk produk) dimaknai oleh kelompok-kelompok sosial, dan dengan demikian menjadi bagian dari suprastruktur ideologis masyarakat, analisisnya mesti ada di tingkatan lain di luar urusan ‘basis mengkondisikan suprastruktur’. Artinya, menjadi Marxis haruslah memandang realitas sosial itu bertingkat, dan karenanya analisis atas suatu persoalan juga mesti bertingkat-tingkat. Dan untuk ke sana yang diperlukan adalah kesabaran seorang materialis sekaligus historisis. Untuk menjadi bagian dari suprastruktur ideologis, kecintaan pada anjing (entah sebagai sahabat manusia maupun sebagai makanan) mestilah menjadi bagian dari norma-norma atau aturan-aturan sosial. Norma dan penegakkannya mengandaikan adanya kekuasaan atau suprastruktur politik. Meski pada gilirannya suprastruktur politik tak lain ialah reproduktor atau fungsi administrasi atas kepentingan-kepentingan politik yang muncul dari basis ekonomi, untuk menarik tautan antara bentuk ideologi tertentu ke basis ekonomi tertentu tak pernah bisa langsung jalannya. Marxis hanya bisa menunjukkan adanya tingkatan pengkondisian semacam itu. Selain itu, siapa tahu basis ekonomi dari suprastruktur politik yang melegitimasi nilai dan praktik budaya tertentu yang saat ini masih dianut adanya nun jauh di masa silam sehingga asal-usulnya hanya terdengar bak desas-desus.

Sebetulnya tak ada yang perlu diributkan soal praktik budaya kedua golongan pecinta anjing selama mereka mencintai anjing dengan caranya masing-masing di dalam batas-batas normatif kebudayaannya sendiri. Persoalannya, batas-batas ini sekarang makin lama makin pudar dan lebur di bawah tatanan ekonomi-politik negara (dan globalisasi). Kini kelompok-kelompok budaya berbeda dipersatukan oleh batas-batas administrasi yang sama. Karena berada di dalam wadah yang sama, kini mereka tak hanya berbeda, tapi juga bertentangan. Pertentangan praktik budaya pada gilirannya menjadi pertentangan politik manakala kedua golongan mengajukan nilai-nilai dan norma-norma budayanya sebagai kebenaran sejati yang mesti diikuti oleh semua warga yang berada di bawah tatanan politik yang sama. Itulah yang dilakukan para sahabat anjing yang mengkampanyekan “Dogs are not food”. Mereka masuk medan politik tak ada urusannya dengan latar belakang kelas mereka. Mereka masuk ke ranah politik sekadar bahwa mereka itu menganut nilai tertentu. Artinya, tak semua urusan politik itu urusan kelas. Bisa saja ranah politik yang menjadi tempat norma dan aturan-aturan dibuat dan ditegakkan, berisi soal-soal yang tak ada kaitannya sama sekali dengan perjuangan kelas, tapi, misalnya, perjuangan identitas. Dan dasar perjuangan identitas bisa apa saja karena identitas sosial juga bisa apa saja.

Jadi, hikmahnya, menjadi Marxis bukan sekadar fasih mengucapkan ‘basis mengkondisikan suprastruktur’, tapi juga sebagai orang yang sabar, terutama sabar ketika memasuki medan politik yang ternyata berselimut perjuangan identitas, alih-alih kelas.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus