Marxisme dan Optimisme Ugal-Ugalan

Print Friendly, PDF & Email

OPTIMISME tampaknya tak hanya lebih primitif, tetapi juga lebih adaptif ketimbang pesimisme. Psikologi manusia sepertinya dirancang evolusi untuk senantiasa memberi gambaran akan suatu dunia berlandasan kokoh, bertujuan tertentu, dan dengan derajat keniscayaan serta kepastian arus capaian dalam kerangka logika jika-maka yang bersahaja. Boleh dibilang, kepastian dan keniscayaan ialah orangtua kandung optimisme.

Apabila kurang pas disebut mudah memuja, setidaknya banyak orang menilai tinggi tiap perian realitas yang sekaligus juga meramalkan masa depannya dengan pasti. Apalagi perian dan peramalan itu disusun dengan kalkulasi matematis. Tapi, apa itu kalkulasi matematis selain abstraksi atas realitas? Seperti semua abstraksi, angka-angka tak lebih dari representasi dunia dalam rupa kesederhanaannya, dalam ketegasan dan ketetapan batas-batasnya. Di tengah serba kepelikan dan kerumitan hidup di bawah kapitalisme, logika jika-maka (seperti dalam kalkulasi matematis) memang cocok sebagai pelipur lara dari kebingungan buat mereka yang sedang cari jawaban. Ia memberi arah niscaya dan tujuan pasti. Itulah mengapa dalam sejarah masyarakat manusia, nubuat dan orang-orang yang bernubuat jika-maka, seringkali ditempatkan tinggi, entah mereka itu dukun, nabi, ataupun ilmuwan.

Salah satu daya tarik Marxisme ialah ideal-ideal politiknya sebagai sosialisme. Meski para penulis Logika gembar-gembor soal Marxisme sebagai ilmu, dan sosialismenya Marxis itu ilmiah—suatu sosialisme yang didasarkan pada pengetahuan ilmiah akan rupa dan dinamika masyarakat kapitalis—kebanyakan orang tertarik pada Marxisme karena semangat optimismenya yang nyaris seperti nubuat. Para Marxis pasti sering mewiridkan perkataan Marx bahwa:

“Pada suatu tahap tertentu dari perkembangan mereka, daya-daya material produksi di dalam masyarakat akhirnya berkonflik dengan relasi-relasi produksi yang ada atau…dengan relasi kepemilikan yang sebelumnya melaluinya mereka beroperasi. Dari bentuk-bentuk perkembangan daya-daya produksi, relasi-relasi ini berubah menjadi belenggu mereka. Lalu terbitlah babak revolusi sosial”[1].

Atau bahwa

“Perkembangan industri modern menebas dari bawah kaki-kakinya satu-satunya landasan yang padanya borjuasi memproduksi dan mengambil alih produk-produk. Artinya, apa yang utamanya borjuasi hasilkan ialah para penggali-kuburnya sendiri. Kejatuhannya dan kemenangan proletariat sama-sama tak terelakkan[2]

Kedua kutipan (dan banyak kutipan lainnya) memang mengandung kadar nubuat yang tinggi. Di tengah keputusasaan tak juga runtuhnya kapitalisme, tak jua menangnya perjuangan demi masyarakat sosialis nan adiluhung, pernyataan-pernyataan mirip nubuat begini cukup membuat seorang Marxis tetap optimis. Lihat tuh, kapitalisme niscaya runtuh. Sejarah manusia itu proses penyulihan satu bentuk masyarakat menjadi bentuk masyarakat lainnya secara berurutan. Masyarakat borjuis pasti hancur, dan kaum pekerja niscaya menang. Kapitalisme teramalkan masuk perangkap mesin akumulasinya sendiri dan melahirkan para penggali kuburnya sendiri. Lihat saja, jika krisis-krisis ekonomi makin lama makin brutal saja, lalu apabila kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi-politik, dan kerusakan lingkungan makin hari bukannya makin punah oleh gebyar kemakmuran yang dihasilkan kapitalisme, malah kian parah saja, maka tinggal tunggu waktu saja keruntuhan terjadi. Dari keruntuhan ini niscaya akan lahir masyarakat lebih maju yang akan menghapus eksploitasi atas manusia dan alam. Jika tidak ada lagi penistaan kehidupan sekadar sebagai barang dagangan, maka tak akan ada lagi delapan jam kerja plus lembur wajib empat jamnya. Dan semua itu niscaya berlaku layaknya matahari yang pasti terbit esok pagi.

Tentu tak ada yang keliru dengan logika jika-maka dan optimisme. Yang keliru ialah sering lupanya kita bahwa pernyataan-pernyataan yang kepadanya kita menyandarkan optimisme, berasal dari proses penyelidikan ilmiah.

Syarat pertama beroperasinya logika jika-maka dalam penyelidikan ilmiah atas realitas yang pelik dan rumit ialah andaian bahwa realitas itu tertib administrasi. Realitas itu tersusun atas bagian-bagian yang tertata sedemikian rupa sesuai urut-urutan, baik dalam rupa maupun pergerakannya. Dibumbui sejumput iman teleologis, syarat ini memungkinkan tampilnya realitas yang rapi, yang tak melompat-lompat.

Persoalannya, realitas tidak seteratur yang diandaikan. Terlalu banyak kebetulan dan lompatan-lompatan sehingga tak cukup menganggapnya sekadar anomali. Lenin tak menyangka revolusi bakal terjadi di kampungnya—dan sukses—menumbangkan kekuasaan kaum bangsawan feodal. Sewaktu mendengar gema revolusi, Lenin buru-buru naik kereta ke pusat denyut itu. Tak ada rencana dan diagram alur proses beserta juklak-juknis revolusi dia buat karena memang tak menyangka akan datang secepat itu. Para dinosaurus raksasa pun tak menyangka ordo mereka bakal punah. Saking perkasanya, mereka sama sekali tak mengira tetangga ringkih mereka para mamalia yang sering tak sengaja mereka injak, akan menurunkan para penguasa bumi setelah kepunahan mereka sendiri. Apa sebab? Kebetulan 66 juta tahun silam sebuah meteor raksasa menumbuk dan membuat bumi tak bermentari 6 tahun. Semua saurus herbivora punah. Tentu karnivora pemakan herbivoranya juga. Kenapa leluhur mamalia selamat? Kebetulan, mereka tidak makan daging, juga tak makan tumbuhan. Mereka itu binatang remeh-temeh pemakan serangga. Selama proses pemunahan saurus, mereka tetap gembul karena serangga itu murah. Setelah para raksasa punah, anak keturunan leluhur mamalia bebas nyaris tanpa pemangsa. Dan itu karena kebetulan[3].

Syarat kedua ialah andaian bahwa realitas yang rapi ini dapat diidentifikasi dan diukur anasir-anasir penyusunnya. Sekali anasir-anasir ini teridentifikasi, fungsi sistem niscaya bisa terpahami. Filsuf menyebut cara pikir ini sebagai ‘reduksionisme konstitutif’ yang menjamin ‘reduksi penjelasan’ bahwa segala sesuatu pasti terjelaskan ketika kita memahami bagian-bagian penyusunnya. Misalnya, apabila kapital tersusun atas c+v+s, maka setiap upaya akumulasi niscaya menghantar pada kejatuhan nilai laba rata-rata. Mengapa? Karena penambahan kapital akan mengubah komposisi, utamanya varibel pembagi (c+v), yang pada gilirannya menurunkan tingkat laba rata-rata yang bisa ditangguk kapitalis karena tingkat laba berasal dari s/c+v. Kejatuhan ini akan berujung ke kian brutalnya persaingan antarkapitalis yang mengarah ke monopoli atau ekspansi operasi kapital ke wilayah dan sektor-sektor nonkapitalistik. Kedua-dua pilihan menghantar pada pemiskinan, pengangguran, dan penghancuran lingkungan. Akhirnya, krisis makin seram dan revolusi pasti berkobar.

Persoalannya, meskipun identifikasi dan isolasi anasir-anasir penyusun suatu sistem tentu langkah berharga menuju pemahaman sistem secara keseluruhan, jelas bahwa hal tersebut tidaklah cukup untuk memahaminya betul. Perubahan komposisi organik kapital hanyalah salah satu mekanisme yang bekerja. Ada banyak mekanisme lain yang mengkondisikan masuk tidaknya kapitalisme ke jurang kehancuran. Ketika dalam berilmu kita berhenti pada ‘reduksi penjelasan’ yang bertopang pada reduksionisme konstitutif, maka realitas akan selalu luput dari pandangan. Realitas yang tergambarkan tak lebih dari potongan-potongan teka-teki yang setiap kali satu bagiannya terjelaskan, temuan potongan baru akan mengubah gambarannya.

Syarat ketiga ialah menjalankan asumsi ceteris paribus atau bahwa ‘hal-ihwal lainnya tetap’. Masuk akal memang ketika mendekati suatu sistem kompleks (seperti evolusi kehidupan, kapitalisme) kita fokus pada unsur-unsur tertentu dari masalah yang kita anggap pokok. Semakin sedikit fokusnya semakin bagus. Kalau bisa cukup dua variabel saja sehingga bisa rumuskan dalam kurva y dan x atau persamaan matematis a+b = c. Untuk itu, unsur-unsur lain di dalam sistem harus kita anggap tak berubah, tak bertautan, dan dengan begitu tak relevan buat analisis. Dalam kutipan dari Marx di atas, misalnya, tersurat bahwa sendi revolusi sosial ialah perkembangan niscaya daya-daya produksi masyarakat yang pada titik tertentu akan berkonflik dengan relasi-relasi produksi yang ada. Relasi produksi ini pada satu masa akan menjadi belenggu perkembangan daya produksi. Tanpa perkembangan, roda ekonomi macet, dan kemacetannya niscaya berujung pada revolusi sosial.

Memang betul faktanya bahwa perkembangan daya produktif bertautan dengan perkembangan relasi produksi. Namun, apa yang terjadi di infrastruktur ini tidak pernah lepas dari tatapan suprastruktur politik-ideologi yang ditopangnya. Ada mekanisme-mekanisme lain yang turut mengkondisikan ada tidaknya perkembangan daya produktif dan relasi kelas. Tentu sebagai satu langkah penyelidikan, pengoperasian asumsi ceteris paribus berguna. Namun, di setiap tahap analisis, kita mesti sadar betul bahwa ceteris paribus itu biasanya penyederhanaan luar biasa atas realitas dan rumusan yang dihasilkan dari operasinya bukanlah realitas itu sendiri. Mengabaikan hal ini akan mudah menjerumuskan kita ke dalam kepercayaan kampungan bahwa satu komponen menjelaskan sistem; satu bagian menjelaskan keseluruhan.

Dalam berilmu juga model atau perumpamaan memainkan peranan penting. Model ialah suatu sistem (entah abstrak atau konkret) yang mewakili sistem lain yang biasanya jauh lebih rumit atau kurang dikenali. Model ialah representasi skematis untuk menentukan batas bawah-batas atas sistem. Gunanya dalam upaya menjelaskan dan mengkira-kira sistem kompleks yang belum dikenali (masa depan kapitalisme misalnya). Model bisa matematis, bisa juga diagramatis. Misalnya Marx mengambil model bisnis perusahaan tunggal untuk kapitalisme dalam rumus umum kapital [M-C (LP-MP)…P-C-M+]-nya yang tersohor.[4] Dalam model ini diceritakan realitas lebih kompleks kapitalis menggolangkan uangnya (M) untuk membeli komoditi (C1) berupa tenaga kerja (LP) dan sarana produksi (MP) agar proses produksi (P) berlangsung dalam menghasilkan komoditi baru (C2). Di ujung model kapitalis mendapatkan lagi uang, kali ini dengan tambahan nilainya (M+). Untuk memahami anasir-anasir apa saja yang niscaya ada untuk adanya sama sekali produksi komoditi, model bisnis perusahaan untuk perekonomian kapitalisme memang berguna. Tapi setiap model selalu saja mengesampingkan apa-apa yang pada saat penyusunannya dianggap kurang relevan. Dari mana M berasal, bagaimana pasokan komoditi yang diperlukan (tenaga kerja dan sarana produksi), bagaimana distribusi dan penjualan yang merealisasikan nilai M+, bagaimana dengan naik-turun nilai tukar matauang yang ada di M maupun M+, di mana letak persaingan antarkapitalis, antara kapitalis dan pekerja, di mana letak tukang palak dan korupsi, dst..dst.., dianggap sudah tak perlu dijelaskan. Kalau semua faktor dimasukkan bagaimana juga kita bikin kurva atau persamaan matematisnya?

Meski amat berguna, model atau perumpamaan harus diperlakukan tak lebih sebagai batu loncatan ke pemahaman lebih baik. Ilmuwan mestinya tidak jatuh ke perangkap kepercayaan bahwa perumpamaan memiliki daya penjelas paripurna dalam menggambarkan realitas dan mencampuradukkan realitas dengan representasinya, atau dalam istilahnya Martin, mencampuradukkan epistemologi dengan ontologi. Dan inilah jebakan betmen idealisme yang paling halus dalam berilmu.

Jadi, kebenaran ilmu itu historis. Kebenaran ilmu terikat pada keberadaan perdebatan di antara orang-orang (segi transitif) sekaligus keberadaan realitas objektif (segi intransitif) yang dituju oleh perdebatan tersebut. Karenanya, setiap satu langkah majunya (termasuk gambaran paling rinci atas watak realitas yang membuat kita optimis akan masa depan) tidak menghentikan pencarian kebenarannya. Ilmu harus senantiasa diusahakan dengan mengandalkan apa yang dipunyai semua manusia: pengalaman dan akalbudi.

Sekali lagi, tak ada salahnya manut pada logika jika-maka seperti dalam berilmu dan optimis akan keniscayaan dan kepastian masa depan yang dihasilkan logika ini atas realitas. Yang keliru ialah memperlakukan produk aktivitas ilmiah sebagai nubuat kebenaran paripurna. Realitas jauh lebih kompleks dan seringkali lebih keras kepala daripada pengetahuan kita tentangnya. Justru karena realitas itu lebih kompleks daripada yang bisa ditangkap pikiran satu-dua orang, maka ilmu diperlukan. Dan dalam berilmu, kata Marx, “tak ada jalan lapang”[5]. Kita harus terus bolak-balik ke realitas objektif untuk mengecek sudah seberapa dekat reduksi, analisis, dan model yang kita bangun dengannya. Hanya dengan kembali ke realitaslah kita memperbaiki hasil reduksi, analisis, dan pemodelan yang telah dibangun.

Optimisme boleh saja asal ilmiah. Sudah masanya kita tanggalkan optimisme ugal-ugalan, kecuali kita memang hendak menjadikan Marxisme sebagai sekte.***

Jatinangor 1 Juni 2015

 

—————

[1] K. Marx, 1911. A Contribution to the Critique of Political Economy. Chicago: Charles H. Kerr, h. 12.

[2] K. Marx dan F. Engels, 2008. The Communist Manifesto. London: Verso, h. 51.

[3] Saat ini gagasan evolusi a la Darwin bahwa evolusi keragaman mahluk hidup itu berjalan lambat melalui perubahan sedikit demi sedikit, mendapat lawan tangguh, yakni teori kesetimbangan tersela (punctuated equilibruim). Salah satu motornya ialah Stephen Jay Gould. Menurut Gould evolusi kehidupan itu seringkali disela kebetulan-kebetulan mendadak yang mengubah komposisi spesies di bumi. Ledakan Kambrium, kemunculan reptilia, punahnya saurus, dan kemunculan hominin, merupakan contoh-contoh dari proses ini.

[4] Model bangunan untuk menggambarkan masyarakat sebagai suatu struktur relasi-relasi sosial (basis-suprastruktur) adalah contoh lain pemanfaatan model oleh Marx. Atau model reproduksi sederhana untuk menjelaskan struktur akumulasi kapital.

[5] K. Marx, 1976. Capital: a critique of political economy, Vol. 1. Harmondsworth: Penguin Books, h. 104.


comments powered by Disqus