LKIP Edisi 21

Print Friendly, PDF & Email

Karya – Komikazer
Kritik – Perfilman Indonesia Sebagai Indikator Demokrasi
Kliping – Memoar, Memori, Militer
Catatan Kawan – Aceh dan Syair Kepahlawanan

 

SIDANG pembaca yang budiman. Maafkan kekurangajaran kami. Namun, menurut kami, Kita semua adalah Koalisi Merah Putih dengan cara yang berbeda-beda. Apa yang membuat Koalisi Merah Putih menjadi Koalisi Merah Putih seperti yang kita kenal sekarang ini? Koalisi Merah Putih saudara-saudari adalah bukti nyata dan vulgar serta paling remeh dari aliran anti-realisme dalam epistemologi. Tentu bukan tugas Lembar Kebudayaan IndoProgress untuk menerangi Anda perihal ini. Silakan Anda bertanya dan meminta pertanggungjawaban rubrik LOGIKA IndoProgress. Apa ciri utama apa Koalisi Merah Putih sehingga mereka bisa dikatakan sebagai anti-realisme? Tak lain dan tak bukan adalah kepercayaan akan kebenaran yang diciptakan kepala mereka sendiri.

Koalisi Merah Putih secara aklamasi menciptakan kenyataan bahwa seharusnya merekalah yang memenangkan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden beberapa waktu lalu. Untuk membuktikan ini, mereka pun merelatifkan metode ilmiah survei menggunakan sampling. Maka muncullah Puskaptis dkk yang memberikan alternatif lain metode survei dan alternatif lain hasil survei yang bertolak belakang dengan metode survei yang sahih. Ketika segalanya serba relative, bahkan kebenaran pun serba relatif, survei dan hasil ala Puskaptis bisa dibenarkan. Tentu watak anti-realisme Koalisi Merah Putih tidak sampai di situ. Baru-baru ini kita kembali melihat bukti lainnya. Koalisi Merah Putih menciptakan kebenaran lain bahwa pemilihan kepala daerah melalui DPRD adalah sebuah kehendak rakyat. Ini kebenaran ciptaan kepala mereka dan lantas kebenaran ciptaan kepala mereka ini menjadi kebenaran mutlak yang mereka perjuangkan mati-matian. Dan mereka menang! Melalui kebijakan politik, kebenaran ciptaan ini akan menjadi kebenaran mutlak seiring perjalanan waktu. Intervensi isi kepala, biar terkesan Marxis—intervensi suprastruktur, atas kenyataan real sesungguhnya, katakanlah basis, sudah disinggung oleh Engels dan juga Althusser yang membaptisnya sebagai overdeterminasi.

Tendensi anti-realisme ala Koalisi Merah Putih bukanlah hal baru dalam kehidupan bernegara di Indonesia ini. Orde Baru adalah contoh paling konkret, dahsyat, paling berhasil dalam hal ini. Ia menciptakan sebuah kebenaran dengan cara yang tak tanggung-tanggung; menulis sejarah resmi versi pemerintah, membuat film, membangun museum, membangun kurikulum, dan masih banyak lagi. Ia menutup kebenaran sesungguhnya dengan beragam cara yang sangat strategis dan dengan daya manipulasi yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif. Untuk itulah Lembar Kebudayaan IndoProgress kali ini mencoba mengangkat tema yang terinspirasi dari lagu dangdut dan pop lawas kita, “Setelah Kutahu Kamu Berdusta”.

Lewat rubrik Kliping kali ini kami menghadirkan sebuah bab dari buku yang terbit 19 tahun silam: ABRI dan Siasat Kebudayaan (1945-1995). Buku ini menuturkan bagaimana sejarah dan ingatan diproduksi dalam biografi para jenderal; bagaimana militer Indonesia adalah sebuah lembaga yang sangat sadar sejarah, biarpun sejarah itu rekaan mereka sendiri, yang lantas dipercaya oleh sebagian besar khalayak khususnya pasca tragedi 1965.

Catatan Kawan yang kali ini diisi oleh Taufik Mubarak mengisahkan salah satu konsekuensi dari militerisme tersebut: kesejarahan Republik yang ditulis ulang oleh militer memberikan konteks untuk kemunculan nasionalisme dalam corak yang menolak ‘NKRI Harga Mati’, yakni nasionalisme Aceh, yang hidup dalam masyarakat melalui syair-syair kepahlawanan dan perayaan lisan atas kepahlawanan setempat di masa konflik bersenjata.

Rubrik Karya perlu Anda lihat sebagai kritik sekaligus otokritik. Itulah yang Anda temukan ketika melihat kumpulan karikatur karya Azer yang kami hadirkan di edisi ini. Pada enam karya komiknya yang tersaji, Anda akan melihat keseharian kaum pekerja urban jakarta pun kritikan atas praktik aktivisme yang marak di keseharian kita saat ini; tuntutan akan keterpenuhan sembilan bahan pokok, aktivisme via jejaring media sosial internet, dan juga gonjang-ganjing seputar subsidi BBM.

Adapun tulisan Adrian Jonathan Pasaribu menghadirkan koreksi dan tawaran untuk kebijakan negara seputar perfilman Indonesia yang sedikit sekali mengalami perubahan berarti bahkan membonsaikan geliat produksi film yang semakin kuat. Esai di rubrik Kritik ini merupakan bagian dari rangkaian tulisan ‘Tantangan untuk Jokowi’ yang rutin terbit mingguan dan akan diterbitkan sebagai bunga rampai.

Selamat membaca dan hilangkan tendensi Koalisi Merah Putih dari hidup dan kepala kita.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus