Meributkan Tanah Tak Bertuan

Print Friendly, PDF & Email

ANAKKU tidak benar-benar mengenalnya. Ia bilang memorinya hanya merekam sosok Broto sekilas, saat acara Halal Bihalal dua tahun lalu. Itu wajar ketika sebuah keluarga besar yang beranak pinak sedemikian banyak bertemu. Satu klan tumpah meriah di satu acara di satu hari, sekali dalam setahun. Ia masih mengingat lantaran Broto mengangsurkan lembar lima ribuan licin padanya.

“Ingatanmu tajam betul ya, Son… kalau sudah menyangkut urusan duit,” komentarku sambil menyikut bahunya, menyodorkan semangkuk gulai kambing bertabur serpihan bawang goreng. Ia baru pulang setelah empat bulan lamanya hidup di kota lain untuk melanjutkan kuliah.

“Ah, Mama… bagaimana aku tak ingat? Aku sudah semester dua saat itu, masih juga diberi duit lebaran macam anak kecil. Masalahnya cuma lima ribu perak! Ketika salaman aku cium tangannya.. Bah! Bau minyak nyong nyong!”

Aku terkikik melihat caranya bicara. Empat bulan terakhir ia aktif bergabung dengan perkumpulan anak-anak pulau barat itu, dialeknya menjadi berbeda, tapi aku masih mengenalinya sebagai anak semata wayangku tercinta.

“Mama kenal baik dengan orang itu?” tanyanya kemudian dengan mulut penuh dengan potongan daging kambing. Nadanya seperti menuduhku pernah berkonspirasi dengan Broto.

“Dia masih kerabatmu lho, Son.. dulurmu!” kataku sambil menimpuk kepala Soni dengan serbet makan bermotif kotak-kotak.

Soni mengerucutkan bibir, tanda tak suka, dan aku mengabaikannya. “Kau tahu, dia yang beli tanah embahmu di dusun Gayut,” ucapku datar.

Cekungan sendok penuh kuah gulai hampir tumpah. “Serius, Ma? Tanah yang tepiannya banyak pohon durian itu?” tanya Soni tak percaya.

“Iya. Yang beli Pak Broto,” ulangku, kalem.

“Eh, tapi laku lumayan Ma, iya kan?”

“Ya lumayan waktu itu.. tapi kau tahu sendiri, tanah tak pernah semakin murah. Bahkan kuburan sekalipun. Tanah embahmu itu di selatan dusun Gayut dan area sekelilingnya sekarang dipadati pabrik dan perumahan .”

“Mama habis dari Gayut? Kok tahu?”

“Walah… Son. Tiap hari Mama kan telpon-telponan sama Embah putri.”

“Ngerumpi tiap hari,” gumam Soni, geli.

Aku tertawa. Memang benar, tiap malam aku rutin menelepon emakku. Hanya untuk mengobrolkan apa pun. Semenjak bapak meninggal, emak sering muram. Aku paham rasanya—kesepian itu—menggelayuti rongga dada wanita yang ditinggal pergi suaminya.

“Kalau besok ke rumah Embah putri, Mama mau?” tanya Soni tiba tiba, bangkit lalu menuju bak cuci piring.

Aku terkejut mendengar usulnya. Jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah ia berinisiatif demikian. Dalam hati aku bersorak riang, berpergian dengan anak semata wayang ke kampung halaman adalah hal yang menyenangkan. Aku menahan senyum lalu bergegas melangkah ke kamar tidur.

“Ma, sepakat nggak? Atau Soni tiduran aja di rumah sambil namatin game terbaru?” serunya dari dapur.

“Ini Mama langsung packing,” balasku setengah berteriak.

***

 

Kami datang saat malam telah menyelimuti Dusun Pengkok. Aku melihat beberapa motor terparkir di depan rumah bergaya Jawa dengan halamannya yang luas. Beberapa pasang alas kaki bertebaran di tepian beranda. Meski aku dan Soni kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dengan bus antar provinsi, kami merasa sangat bergairah karena mendapat sambutan yang hangat.

Memang. Benar-benar hangat.

Lalu memanas.

Setelah menyantap makan malam, lodeh spesial buatan Emak, kami mengerubungi televisi tabung, dan kemudian entah bagaimana awalnya, rapat keluarga diselenggarakan mendadak. Lima bersaudara hadir, meski tanpa formasi yang lengkap. Suami adik bungsuku absen. Cucu-cucu ibuku yang lain pun tidak hadir, kecuali Soni dan Kinanti yang masih bayi.

“Vonisnya 12 tahun. Dan umur Broto sudah 61 tahun,” ujar kakak pertamaku, Eko, sambil menghela napas. Dicopotnya kopyah kusam dari atas kepalanya yang mulai botak. Kepalanya tampak berkilauan karena efek timpaan cahaya lampu neon ke atas permukaan botaknya.

“Iya.. ya, Mas, kasihan benar anak istrinya…” responku, muram.

“Padahal jumlah istrinya dobel-genap, anaknya itu lho… Mbak Tri, satu setengah lusin!” komentar Wahyu, adik iparku sambil terkekeh.

“Dobel genap, Paklek?” tanya Soni, bingung.”

“Empat, Son.. maksute papat bojone!” tukas Wiwik, adik pertamaku sekaligus istri Wahyu.

Air muka anakku berubah, seperti tersedak kerupuk rambak. Aku meringis. Bapaknya Soni sempat punya istri ganda. Tapi kemudian ia kabur dengan sosok lain yang tak pernah mau kuterima. Soni mungkin tak habis pikir bahwa kenyataannya Broto bisa menghidupi selusin lebih anak sedangkan bapaknya sendiri tak sanggup menghidupinya. Kulirik Emak yang sedari tadi hanya diam sambil mengunyah sirih.

Jalannya rapat diselingi dengan pertanyaan pertanyaan dari Soni. Tentang silsilah keluarga besar, tentang siapakah Broto sesungguhnya sebelum menjadi politisi lantas berakhir menjadi napi, dan tentang mengapa nama Brotoyudan harus diganti dengan nama Abdillah. Anakku tampak menjadi anak bawang, tersisih dari ketegangan yang terus terbangun.

“Dia berganti nama dan berbondong bondong orang dusun Gayut ganti nama juga? Luar biasa sekali pengaruhnya!” ujar Soni sambil tepok jidat. Ia menuang kopinya yang masih mengepul di telekan motif bunga. Kuperhatikan, dari tadi dia menahan diri untuk menyulut sebatang rokok. Mungkin dia sungkan karena pakdhe pakleknya bukan perokok.

Dusun Gayut adalah kampung asal bapakku, berjarak hanya enam kilometer dari Dusun Pengkok. Soni tak pernah menyadari bahwa kerabatnya di Dusun Gayut sudah berangsur angsur berubah. Bagaimana dia bisa merasai? Bahkan kenal akrab pun tidak. Hanya cukup bertegur sapa, menyanak saat lebaran, beramah tamah di pesta pernikahan, dan saling berduka ala kadarnya di acara pemakaman.

Pengaruh Broto sebagai orang yang disegani dan dihormati di Gayut semakin kuat saat ia menjadi pejabat. Dusun yang kecil dengan orang-orang sederhana itu seolah berbangga hati karena telah mampu melahirkan sosok Broto yang semula hanya seorang pedagang soto, lalu menjadi anggota partai, lalu naik level menjadi pejabat, lalu sukses menjadi ketua umum partai, dan pernah terdengar kabar bahwa Broto akan mencalonkan diri menjadi presiden. Sayangnya, ia terjungkal sebelum kabinet yang sekarang ini berakhir.

Berawal dari sepak terjang Broto di partai Islam, ia mulai berganti nama menjadi Ahmad Abdillah, dan warga dusun Gayut meyakini pergantian ini sebagai sepotong petuah untuk ikut berganti nama. Dari Manto menjadi Firman, dari Ngatini menjadi Karomah. Mereka mulai menolak ritual keagamaan yang dianggap bid’ah. Mereka pun tidak lagi menyukai kenduri dan tahlilan untuk orang yang meninggal. Termasuk menegur Emak agar tidak melangsungkan tahlilan untuk almarhum Bapak. Dan hampir setengah dari warga dusun Gayut yang merupakan kerabatku, tidak hadir di tujuh hari meninggalnya Bapak, tidak pula di selametan seratus hari Bapak, namun akhirnya datang di selametan seribu hari saat Broto telah kabur ke luar negeri sebelum diciduk Satuan Penangkap Tikus Negara.

“Bagaimana menurutmu Tri soal tanah waris di Gayut? Tanah yang dibeli Broto itu tanpa hitam di atas putih. Emak ndilalah cerita ke aku kemarin lusa. Kok iso tanpa tanda tangan apa pun?” ujar Mas Eko sambil geleng geleng kepala.

“Lha, Bapak mbiyen gimana toh Mas ngejualnya? cuma akad jual beli saja?” tanyaku memastikan.

“Iyo, Mbak Tri.. omong omongan thok. Saksinya hanya si Ecep sama Kliwon alias Hasan. Wes, enak e diklaim maneh opo nggak?” tawar Heru, adik bungsuku.

Aku terbengong beberapa saat.

“Lha daripada nanti diklaim Ecep sama Kliwon? Itu juga uangnya ndak jelas toh? Bapak dulu sempat ngeluh kalau pembayarannya tidak sesuai kesepakatan sama dua makelar itu,” kata Mas Duwik semakin memanas-manasi suasana.

“Kita bisa bangun tanah itu buat yayasan atau sekolahan. Kalau tiba-tiba dibangun, warga Gayut nggak akan bisa protes. Lho ceritane iki gawe kepentingan wong akeh,” timpal Mas Eko yang kini rutin ngisi pengajian di Gayut.

“Donatur e sopo?” celetuk Wiwik.

“Sopo ae! Gampang iku! Asal ada tanahnya…”

“Tapi Mas.. nggak bahaya ini? nanti satu setengah lusin anak Pak Broto bisa ngamuk. Geger lagi Gayut..” ujarku hati-hati.

“Ya, nggak bisa noh… mereka nggak punya bukti hitam di atas putih, akta tanah belum dibikin. Mumpung kita ngumpul koyo’ ngene ayo nang notaris bareng bareng..”

“Halah, mereka itu tanahnya banyak. Hektaran, Tri.. ndak usah kuatir, mereka sudah bingung ngurusi sisa ndonyo Pak Broto…” tambah Mas Duwik.

“Emang sisa berapa hartanya Pak Broto, Pakdhe? Kompensasi yang harus dia bayar tiga miliar ke negara…” celetuk Soni yang sedari tadi diam sambil diam diam menghabiskan isi toples rengginan.

Mas Eko tertawa terpingkal-pingkal. Disusul Heru dan Tri dan Wahyu.

“Huss.. Emak wes keturon, ojo rame rame….!” bisikku, mendelik namun menahan geli luar biasa. Kepala emak terkulai lemas di bahuku. Gurat wajahnya tercetak jelas disinari cahaya kuning temaram neon ruang keluarga. Tba-tiba senyumku memudar, mendadak sendu. Kenangan masa kecil tiba-tiba menghujaniku. Bagaimana kerasnya Emak menjadi buruh tani dan penjual gorengan untuk menambal pemasukan Bapak yang tak seberapa. Bagaimana lelahnya Emak mengurusi kelima anaknya dan betapa ngototnya beliau untuk menyekolahkan kami hingga geger dengan Bapak… dan tanah waris di Gayut adalah tanah waris satu-satunya yang kami punyai setelah semua tanah warisan leluhur ludes begitu saja untuk biaya sana sini.

“Gimana Tri? Ayo ke Pak Handoyo besok. Itung-itung konsultasi sama notaris handal…” bujuk Mas Duwik.

“Oala, Mas.. Mbak Tri masih pegel. Perjalanan jauh. Kok langsung ditagih,” potong Dewi, istri Mas Duwik, menengahi. Dia lebih banyak diam malam ini, sibuk meneteki Kinanti yang rewel.

“Yawes, tidur dulu.. besok kalau udah seger kita lanjut lagi musyawarahnya…” ucap Mas Eko.

Wiwik dan Wahyu pun bangkit dari duduknya. Lonceng jam tua, saksi dua generasi, berdentang pelan. Wiwik membisikiku bahwa topik kali ini cukup serius. Dia takut uang yang dulu dibayarkan Broto ke Bapak adalah uang panas yang lantas dicuci secara gegabah dengan tanah waris di Gayut. Setelah Wiwik dan Wahyu pulang ke rumahnya di Dusun Mekrok, aku membangunkan Emak perlahan. Kubimbing tubuhnya yang kini ringkih untuk naik ke atas dipan lalu kuselimuti sarung kesayangan Bapak dulu.

Kulihat Soni masih duduk termenung di sofa. Ruang keluarga telah senyap, hanya detak jam yang berirama memecah kesunyian. Kulempar sebungkus rokok ke pangkuan Soni. Ia tergeragap hingga menjatuhkan kotak rokok ke kolong meja.

“Nggak usah suntuk mikirin urusan orang dewasa, Leh..” ujarku sambil lalu. Kuhampiri bingkai jendela hendak merapatkan gordennya yang menggantung beku.

“Tanah di Gayut itu terpaksa dijual dulunya ya, saat Papa minggat bukan?”

Tanganku terhenti di lipitan gorden hijau tua dan menghasilkan bunyi decit kerai gorden.

“Apa yang ingin kau omongin sama Mama?” tanyaku, menoleh ke wajah seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun. Tiba-tiba aku tersadar telah berhasil merawatnya hingga sekarang tanpa ia merasa kekurangan apa pun.

“Uang dari jual tanah di Gayut itu untuk biaya kuliahku, bukan Ma?”

Aku diam seribu bahasa. Malam itu, suamiku bilang bahwa dia tak sanggup membiayai Soni. Aku muntab saat tahu uang tabungan kami diam diam dirampoknya untuk biaya nikah sirih dengan wanita muda yang tiap hari ditemuinya di halte buskota. Aku mengusirnya. Soni tak tahu saat itu, ia sedang rekreasi dengan teman-teman SMA-nya. Saat itu juga aku bergegas ke Pengkok, memohon bantuan. Keputusan dibuat. Dengan keteguhan hati, Bapak menjual tanah kami satu satunya ke Broto. Baik Bapak maupun Emak sepakat untuk membiayai kuliah cucu pertama mereka yang malang, yang ditinggal bapaknya yang tak bertanggung jawab, yang kini dinafkahi ibunya yang hanya mengandalkan jasa katering kecil-kecilan.

Aku tak tahu bagaimana Soni mengetahui rahasia ini.

Aku tak tahu sejauh apa Soni tahu.

Aku bahkan tak sanggup membayangkan apakah kelak Soni mampu membayar hutang budinya pada keluarga besar, bahkan pada Broto yang kini mendekam di rutan, sesuai dengan kewajibannya sebagai sarjana kelak.

***

1920032_530058120445224_1550073347_n

“Aku tunjukkan sesuatu, Ma…” ujar Soni tiba-tiba memecah lamunanku di bus yang membawa kami kembali ke ibukota. Aku mengalihkan pandangan dari kaca bus yang berembun. Soni mengeluarkan ponselnya, menggeser geser telunjuknya dengan piawai, lalu menyodorkan benda itu ke tanganku.

Aku terperangah menatap foto sebuah papan yang terpancang di sepetak tanah kosong. Aku mengenali tanah itu sebagai tanah waris di Gayut. Di pojok belakang, pohon durian tengah berbuah. Ilalang dan semak belukar tumbuh lebat di tanah tak bertuan itu. Kemarin saat kusempatkan diri menengok tanah waris, seorang penggembala sapi sedang memandu sapinya untuk makan siang di sana.

Sapi itu makan dengan lahap rerumputan liar.

Tapi bukan itu perkaranya. Seingatku, kemarin tidak ada satu papan pun yang terpancang tegak di sana.

Apalagi dengan bunyi seliar ini:

INI TANAH REBUTAN. JANGAN PERNAH MERASA AMAN DI NEGERI INI.

            Aku balik menatap tajam Soni. Dia pura pura sibuk memperhatikan pengamen. Beberapa saat kemudian dia melirikku dengan hati-hati. Bibirnya mendekat ke daun telingaku. “Ma, aku lihat kemarin yang mematok papan ini. Aku tanya siapa dia, katanya.. dia simpatisan Pak Broto!” bisik anak semata wayangku, misterius.

 

291113

Setelah sekian lama

*penulis adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi UGM Yogyakarta.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus