Edisi LKIP16

Print Friendly, PDF & Email

Daftar isi LKIP edisi 16:

Ruang Publik Dulu dan Sekarang (Teori, oleh Rianne Subijanto)

Pameran Seni Baliho. Digital Print On Flexy China. Dimensi Variabel. 2014 (Kliping, oleh Faisal Yeroushalaim)

Pemilih Pemula yang Bertanya (Wawancarabersama Pangeran Siahaan dan Roysepta Abimanyu)

Meributkan Tanah Tak Bertuan (Karya, oleh Amanatia Junda) 

Won’t Get Fooled Again: Sebuah Mixtape (Mixtape, oleh Mochamad Abdul Manan Rasudi)

 
HINGAR-BINGAR kampanye sebentar lagi meregang nyawa. Tinggallah tali temali spanduk caleg dan partai yang sepi sendiri di sebuah tiang pagar; tak tahu nasibnya di hari esok. Dan semua sudah tahu; hilangnya atribut kampanye bukan menghilangkan kerja-kerja pemenangan. Diam-diam, bagai ninja di film-film Jepang a la Hollywood, ada gerakan-gerakan di sekitar kita. Entah para ronin yang baru mendapat tuannya, entah para samurai yang bertahun-tahun dipelihara tuannya, semua turun ke wilayah bayang-bayang malam pemilu.

Yah, kadang membayangkan pemilu sebagai laga persilatan rupanya lebih menarik ketimbang mengimajinasikannya sebagai sebuah alasan bernegaranya kita. Dan di wilayah bayang-bayang malam itulah transaksi-transaksi dilaksanakan. Janganlah pernah berpikir bahwa mereka yang bertransaksi tak paham politik! Jangan-jangan, mereka lebih paham ketimbang kita; kerapnya kita memandang politik sebagai seorang perawan yang tak boleh kehilangan mahkotanya, atawa sebuah tempat suci yang rasa khidmat atasnya harus ditonjolkan bahkan pada gaya menyisir rambut. Ah, hanya kebetulan saja LKIP hadir tepat masa kampanye pemilu 2014 berhasil. Segala kebetulan itu, jika Anda ingin tahu, tidak berlandaskan ideologi tertentu, tapi perkara teknis semata.

Tentu saja tidak bisa kita menutup mata atas euforia Pemilu di sekitar kita. Euforia itu muncul dalam perbagai bentuk; keluarga caleg yang harap-harap cemas keluarganya bisa duduk di kursi legislatif, tim kampanye yang bekerja dari gigih setengah mati sampai setengah hati setengah mati demi sesuap nasi, orang-orang kampung yang menunggu ada amplop yang mampir ke tongkrongan mereka atau yang dengan senang hati mendatangi kampanye demi 2 D ( Duit dan Dangdut). Kita tak mau menjelma Robinson Crusoe bukan? Nah, barangkali juga ini sebuah kebetulan, kalau bukan konspirasi, bahwa LKIP masih begitu bersemangatnya untuk terbit ketika SBY sudah tak mungkin lagi, atau memang tak mau mengubah undang-undang, menduduki jabatan Presiden selama 3 periode. Cukup 2 periode saja.

Maka hadirlah pada Anda edisi bulan April ini dengan kumpulan spanduk dan baliho caleg yang dikumpulkan kawan Faisal Yeroushalaim. Jika kami masih bisa tertawa melihat hasil pencariannya dalam rubrik kliping ini, barangkali tidak begitu dengan warga yang tinggal dan ada di sekitar baliho dan spanduk itu terpancang. Mixtape dari kawan kami Mochammad Abdul Manan Rasudi barangkali bisa mewakili beragam rasa dari kampanye Pemilu. Mohon jangan kaget, jika makin banyak lagu dangdut yang dimasukkan oleh empunya mixtape guna menyelingi lagu sok kritis yang memaki-maki politik elektoral yang ada di dalamnya. Tak perlu berkerut dahi. Kawan kami ini sedang iseng meledeki mode kampanye terbuka yang kadang lebih banyak dangdutnya daripada orasi politik (yang kadang-kadang ada baiknya juga). Lagipula, Sejauh kita sadari, dalam prakteknya, pemilu adalah musim semi budaya pop, dari yang paling rapi kemasannya hingga yang tak bisa dinalar, bukan?

Pada rubrik teori, Rianne Subijanto membahas perihal ruang publik di masa lalu dan sekarang. Ruang publik kerap menjadi isu yang melekat pada berbagai lini kehidupan masyarakat, apalagi kalau sudah musim pemilu. Tapi apakah kita sungguh-sungguh tahu apa itu “ruang publik”,  kecuali sebagai jargon? Rianne Subijanto selain melihat secara kritis pemikiran Habermas tentang ruang publik, yang tak lain mendasari seluruh gagasan dan panduan praktik terkait ruang publik di Indonesia, juga mengajak melihat kembali sejarah ruang publik alternatif yang dilakukan nenek moyang kita hampir seratus tahun yang lalu, yaitu dalam praktik openbare vergaderingen (rapat umum).

Rubrik liputan sengaja kami hadirkan perihal anak muda dan pemilu. Untuk mendapatkan kira-kira imajinasi apa yang muncul menyangkut anak muda dan pemilu, beberapa orang kami hubungi secara terpisah.

Pada rubrik apresiasi karya, kami hadirkan sebuah cerpen karya Amanatia Junda, “Tanah Tak Bertuan”.  Sedikit banyak cerpen ini berkisah tentang tanah warisan, perebutan di tengah keluarga, hingga fenomena pemanfaatannya untuk politik.

Demikianlah LKIP edisi April 2014 ini kami sajikan pada Anda. Kelebihan dan kekurangan yang ada padanya kami serahkan pada pembaca sekalian untuk menilai.

Tabe serenta hormat.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus