Estetika dan Kritik Sosial dalam Karya-karya Oscar Wilde (Bagian 2)

Print Friendly, PDF & Email

[1]

DALAM tulisan sebelumnya kita sudah membahas karya-karya Oscar Wilde secara cukup detail. Kali ini, saya akan membahas era Victoria, yakni konteks waktu di mana Wilde tumbuh, berkarya dan merumuskan kritiknya. Wilde adalah anak zaman sekaligus salah seorang kritik terdepan atas Victorianisme, suatu periode yang memungkinkan Wilde berkembang, yang dia kritik secara keras namun jenaka, namun secara ironis akhirnya menjebloskan dirinya ke dalam penjara—satu dari sedikit contoh turbulensi sejarah yang dialami oleh masyarakat Inggris dalam perkembangannya di masa tersebut.

Dinamika Sosial Zaman Victoria

Persepsi umum mengenai zaman Victoria adalah kontradiksi antara modernisasi dan kemajuan di satu sisi dan norma social dan struktur kelas yang kaku di sisi lainnya. Hasilnya adalah berbagai ‘kemunafikan’ berupa komitmen atas moralitas dan kesusilaan yang sejatinya menutupi pelanggaran-pelanggaran atas komitmen tersebut, terutama di kalangan kelas menengah dan atas Inggris—sebuahpenilaian yang juga sangat menonjol dalam karya-karya Wilde. Secara garis besar penilaian tersebut cukup akurat. Namun, apabila moralitas Victorian adalah kemunafikan belaka, mengapa dan bagaimana berbagai penulis dan seniman seperti Wilde bisa muncul di zaman tersebut?

Sunardi-St,-Percaya,-160x170cm,-Acrylic-on-canvas,-2012
Sunardi-St,-Percaya,-160x170cm,-Acrylic-on-canvas,-2012

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat zaman Victoria secara lebih mendalam. Secara formal, zaman Victoria dimulai pada tahun 1837 hingga 1901. Ini adalah zaman ketika fase lanjutan dari revolusi industri dan ekspansi imperialisme Inggris terjadi bersamaan dengan berbagai perubahan sosial, termasuk tarik-menarik antara konservatisme dan tuntutan menjaga tradisi di satu sisi dengan berbagai upaya reformasi social dan politik di sisi lain. Industrialisasi yang pesat pada masa itu juga mempengaruhi struktur dan relasi kelas yang ada, terutama dengan derasnya perkembangan kelas menengah dan terpinggirkannya kelas bawah seperti kaum buruh dan kaum miskin kota—suatu kondisi yang mirip dengan kondisi kita akhir-akhir ini. Dalam hal hubungan luar negeri, Inggris di masa Victoria harus berhadapan dan berkonflik dengan Perancis—yang mengalami fase revolusioner dalam Revolusi Perancis yang disusul dengan fase kekuasan Napoleon—satu hal yang tidak diinginkan oleh kelas penguasa Inggris untuk terjadi dalam daerah kekuasaannya pada waktu itu.

Dalam karya klasiknya, The Victorian Frame of Mind[2], sejarawan pakar zaman Victoria Walter E.Houghton (1957) dengan mengutip John Stuart Mill menjelaskan bahwa pada zaman tersebut ‘manusia telah melampaui lembaga-lembaga dan doktrin-doktrin lama, namun belum mendapatkan penggantinya yang baru’[3].Di saat yang bersamaan, ide-ide baru bermunculan dan terkadang saling mendukung, atau lebih seringnya lagi berkonflik, antara satu sama lain, mulai dari Utilitarianisme, Konservatisme (yang terutama diwakili oleh kaum Tory[4]), Sosialisme, Darwinisme dan masih banyak lagi. Karenanya, tak heran apabila zaman yang menyaksikan dan mengalami perubahan yang pesat ini juga menimbulkan polarisasi yang dahsyat di dalam masyarakat, yang mengakibatkan ‘Meskipun sebuah ‘isme’ tidak perlu menjadi radikal dan sebuah sekte dapat mencoba berimbang antara kiri dan kanan, zaman itumenjurus kepada posisi-posisi yang ekstrim dan tanpa kompromi—meskipun kecenderungan yang sama lebih terlihat di dekade-dekade sebelumnya. Banyak orang-orang yang hidup di zaman Victoria adalah ‘antara kaum kafir atau Kristen yang total, antara Tory[5] mentok atau demokrat mentok[6] (hlm. 165).

Perubahan yang begitu pesat ini menimbulkan ambivalensi,khususnya bagi kelas menengah Inggris yang mulai berkembang pada masa itu, terutama antara mencari ‘identitas alternatif’ bagi dirinya atau gumun alias terkagum-kagum, dan mengikuti moralitas kelas atas Victorian—kaum borjuis dan aristokrat—sebagai penanda atas diterimanya mereka dalam ‘klub ekslusif’ dalam sebuah masyarakat dengan struktur kelas sosial yang kaku. Tak heran apabila Houghton mendedikasikan sebuah bab berjudul ‘rigiditas’ dan menutup bukunya dengan bab berjudul ‘kemunafikan’ (hypocrisy), yang didalamnya dia menyatakan bahwa ‘Dari segala kritik terhadap mereka oleh Lytton Stratcheys dari abad kedua puluh, orang-orang zaman Victoria hanya akan mengaku salah dalam satu hal…(yaitu) kemunafikan’ (hlm. 394). Kemudian, Houghton melanjutkan lagi secara mendetail bagaimana masyarakat Victorian menyembunyikan dan menundukkan niat dan kecenderungan alamiah mereka, mengatakan dan melakukan hal-hal yang dianggap ‘benar’, berpura-pura lebih baik dari karakter asli mereka dan berperilaku sangat alim dan moralis—dan melakukan hal-hal yang justru sangat berbeda dengan penampakan di luar tersebut (hlm. 394-395)—satu hal yang terdengar cukup familiar dan bahkan terasa masih relevan hingga sekarang. Ciri-ciri yang khas dari kemunafikan Victorian adalah sikap kompromis terhadap norma-norma sosial yang kaku namun diperlukan sebagai penanda masuknya seseorang dalam lingkaran pergaulan kelas atas, kepura-puraan moral (moral pretension), kebohongan (terutama dalam hal-hal yang menyangkut praktek-praktek sosial dan seksualitas vis-à-vis lembaga-lembaga keagamaan—yang lagi-lagiterdengar cukup mirip dengan kondisi kita) dan…anti-kemunafikan (di tengah-tengah masyarakat yang melakukan praktek-praktek kemunafikan) (hlm. 395-430).

Senada dengan penjelasan-penjelasan di atas, karya Sally Mitchell (2009) yang berjudul Daily Life in Victorian England juga merupakan referensi yang bagus mengenai berbagai detail sejarah dan narasi kehidupan orang-orang di zaman Victoria. Definisi dan karakteristik dari moralitas Victorian misalnya, dibahas cukup detail oleh Mitchell, yang mencakup antara lain kemandirian (self-help), yang menekankan bagaimana ‘kerja keras’ dapat ‘membawa kesuksesan’, aktivitas kerja yang produktif dan perang terhadap kemalasan, kehormatan (respectability), keseriusan atau kesungguh-sungguhan (serious/earnest[7]), pembedaan antara hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan, tentunya dengan penekanan yang lebih kepada ‘kewajiban’ dibandingkan ‘hak’ untuk perempuan (hlm. 261-273).

Kritik Sosial atas Victorianisme

Victorianisme memang identik dengan kekakuan dan kemunafikan, namun bukan berarti tidak ada ruang bagi kritik untuk bersemi, karena sebagaimana banyak epos sejarah yang lain, Victorianisme sedari awal menyimpan benih-benih kritik yang tajam atas dirinya. Ide-ide Pencerahan terutama Revolusi Perancis misalnya, yang dilawan oleh para elit Inggris, tidak terbendung penyebarannya ke zaman Victoria. Eksperimen ide-ide progresif-radikal juga bermunculan. Perlu diingat, di zaman Marx dan Engels menerbitkan The Communist Manifesto pada tahun 1848, Charles Dickens menulis Oliver Twist tahun 1838, dan Charles Darwin mulai mengembangkan ide-idenya termasuk soal evolusi. Kelaparan, kesenjangan ekonomi, praktek perburuhan anak dan segudang masalah sosial-ekonomi lainnya merebak, terutama di masa-masa awal zaman Victoria. Sebagai reaksi atas berbagai masalah tersebut, berbagai elemen kelas bawah memobilisasi dirinya, yang salah satu ekspresinya mengemuka dalam Gerakan Chartist, gerakan buruh Inggris yang menuntut agenda-agenda ekonomi yang redistribusionis[8] dan reformasi politik (perluasan hak memilih dalam pemilu dan hak-hak politik lainnya bagi rakyat pekerja) (Mitchell, 2009, hlm. 4-6). Di berbagai koloni Inggris, India misalnya, meletus serangkaian pemberontakan terhadap kolonialisme dan imperialisme Inggris, yang kemudian mulai mendapat perhatian dari masyarakat Victoria yang sebelumnya abai atau cuek terhadap kondisi berbagai masyarakat non-Barat di bawah kolonialisme Inggris (hlm. 9).

Selain berkembangnya berbagai ide-ide ‘anti-kemapanan’, salah satu imbas yang tidak kalah penting dari perkembangan zaman Victoria terutama industrialisasi adalah perkembangan pers yang pesat. John Stokes (1989) dalam karyanya In The Nineties menceritakan bagaimana ide-ide radikal dari Henrik Ibsen, Leo Tolstoy dan Friedrich Nietzsche masuk ke lingkaran intelektual Inggris dan di saat yang bersamaan tren ‘Jurnalisme Baru’ (New Journalism) dalam dunia pers yang mengedepankan pendekatan yang lebih personal terhadap para pembaca pers terutama koran, memperluas jumlah pembaca koran dan bahkan menyediakan kolom bagi pembaca. Pembaca tidak hanya memiliki kesempatan untuk menanggapi dan menjawab isu-isu publik yang dibahas di koran, namun juga menulis dan berpartisipasi dalam perdebatan mengenai isu-isu tersebut. Hal ini pun memungkinkan seniman dan penulis seperti Oscar Wilde tampil dan dikenal di hadapan publik (hlm. 12-16). Yang ‘baru’ dari Jurnalisme Baru bukan hanya gaya jurnalistiknya, tetapi juga imbasnya yang luas terhadap pola komunikasi publik pada saat itu (hlm. 16). Jurnalisme Baru juga merupakan bagian dari berbagai gerakan yang menuntut hak-hak warga negara yang lebih luas di Inggris era Victoria dan seakan-akan memiliki ambisi untuk ‘menghilangkan’ batas antara pembaca dan penulis atau produsen berita. Wilde, selain aktif berkarya seni, juga aktif dalam semangat Jurnalisme Baru sebagai salah satu penulis kolom  yang mengurusi berbagai persoalan kesenian dan isu-isu sosial bagi koran Pall Mall Gazette. Wilde, yang cenderung kritis dan ambivalen terhadap tendensi ‘aristokratik radikal’ dan di kalangan intelektual dan seniman Inggris terutama dalam gerakan Estetik-Dekaden dan khawatir akan menghilangnya ‘yang baik’ (the good) dalam aktivitas berkesenian namun tidak mau terjebak dalam kemunafikan moralitas Victorian.[9] Ia lantas menjalani berbagai peranan ganda: sebagai produsen sekaligus kritikus seni, sebagai kolumnis koran sekaligus penulis lakon dan cerita, sebagai penganjur Sosialisme dan pembela nasionalisme Irlandia; dan  menariknya pula, menggarisbawahi peranan karya seni dalam ‘mendominasi penikmatnya’ yaitu publik, sebagai pembentuk berita dan opini publik.

Perkembangan zaman inilah yang memungkinkan Oscar Wilde untuk muncul dan kemudian mengukuhkan posisi dirinya sebagai salah satu seniman dan kritikus sosial terkemuka di zaman Victoria.

*Iqra Anugrah adalah mahasiswa doktoral ilmu politik di Northern Illinois University, AS. Penulis beredar di twitterland dengan id @libloc

Daftar Pustaka

Houghton, W. E., 1957. The Victorian Frame of Mind. New Haven dan London: Yale University Press.

Mitchell, S., 2009. Daily Life in Victorian England. Edisi kedua. Westport dan London: Greenwood Press.

Stokes, J., 1989. In The Nineties. Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf.

 

 



[1]Lagi-lagi saya harus berterima kasih kepada rekan Ayumi Kaneko Zapata dan Sony Karsono atas diskusinya mengenai Oscar Wilde dan Victorianisme. Segala kesalahan dan kekurangan dalam tulisan ini tentu murni datangnya dari saya.

[2]Karya Houghton sayangnya, sebagaimana ditunjukkan oleh banyakkritik, tidak banyak membahas mengenai narasi kehidupan kelas pekerja/buruh di masa Victoria.Namun, hal tersebut tidak mengurangi nilai dari karya Houghton, terutama dalam upayanya ‘membongkar’ gaya dan pandangan hidup kelas menengah dan kelas atas Victorian.

[3]Kutipan aslinya, ‘mankind have outgrown old institutions and old doctrines, and have not yet acquired new ones’, yang diambil dari salah satukarya Mill, The Spirit of Age.

[4]Kaum Tory dan Toryisme-nya merupakan precursor atau pendahulus ejarah Konservatisme modern di Inggris.Tentu saja, di masas ekarang, pertentangan yang tajam antarakaum Tory dengan kelompok Liberal dan Kiri/Buruh terutama dalam konteks politik parlementer dapat dikatakan sudah tidak kelihatan, terutama apabila dibandingkan dengan pertentangan di antara kelompok-kelompok tersebut di masa Victoria.

[5]Pada masa itu, kaum Tory atau Konservatif yang mewakilikelas atas identik dengan penolakan mereka terhadap berbagai upaya reformasi sosial, seperti perluasan hak memilih dalam pemilihan umum.

[6]Lagi-lagi terjemahan ini berasal dari salah satu tulisan Mill, Letters and Memories. Kutipan aslinya, ‘downright infidels or downright Christians, thorough Tories or thorough democrats’.

[7]Konsep ‘earnest’ ini secara cerdik dijadikan bahan candaan oleh Wilde, sebagaimana dapat kita lihat dalam salah satujudul lakondramanya, The Importance of Being Earnest.

[8] Yang dimaksud dengan agenda-agenda ekonomi redistribusionis dalam hal ini adalah berbagai jenis agenda yang berkaitan dengan distribusi ekonomi yang lebih merata seperti kebebasan berserikat, isu-isu perburuhan, penyediaan lapangan kerja dan kritik atas imperialism Inggris yang berbaju “perdagangan bebas”.

[9]Soal ini sudah saya bahas secara cukup mendalam di bagian pertama dari artikel saya di https://indoprogress.com/lkip/?p=896

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus