Puisi-puisi oleh Gema Laksmi Mawardi

Print Friendly, PDF & Email

RITUS

malam tadi
kau njelma laron di pijaran neon
aku adalah cicak
menunggu, ngintai dan hap
kau aku sergap
sayapmu basah oleh ludah
gurihmu aku kunyah
dan hap
kau kutelan

pagi ini
kau jadi kertas kosong
aku adalah mata pena
siap menari lagi di atasmu
bikin sajak
bikin lagu
corat-coret di atasmu
sampai lelah dan baring lagi
di atasmu

setiap malam akan menuju pagi
seperti setiap hidup akan menuju mati

 

 

DAUN RUBUH

Daun jatuh          lalu segala hidup yang kita tanggung

Daun pecah         pada tanah yang menanggung kita
Daun rubuh         lagi-lagi berbuah kekalahan
Daun belah          dan tak habis-habis kalahnya

Daun peluh. Daun rebah
AkumencariKaukemanamana

 

 

KETIKA KAU NYANYIKAN LAGU ITU LAGI

ketika kau nyanyikan lagu itu lagi

tiba-tiba tubuhmu menjelma senja
tergeragap aku
dan semua suara jadi senyap

di mataku dedaun kuning berguguran
sepenuh ruangan
sepenuh suara senja

betapa sendirinya kita
betapa tersekap dalam kenangan

ketika kau nyanyikan lagu itu lagi
seketika aku adalah kanak-kanak
tersesat di sebuah pasar malam
sebelah tangan uang penuh segenggaman
sebelah lagi gulali,
betapa bebas,
tapi tak tahu mesti kemana

ah, betapa sendirinya kita
betapa tersekap dalam kenangan

ketika kau nyanyikan lagu itu lagi
tiba-tiba tubuhmu menjelma senja
tergeragap aku
dan semua suara
jadi senyap

 

 

HUJAN TERUS TURUN DI KOTA SEPI INI

Hujan terus turun di kota sepi ini
Aku memimpi  bulan jalang bulat bugil telanjang di bangku bis
Setengah tidur setengah terjaga
Menempelkan muka ke kaca jendela yang berembun

Di jalan tol yang menjelma sungai cahaya gemerlap
Pendarpendar blur lampulampu yang bergerak pelan
Mencipratkan genangan air yang telah begitu siasia
Menggambar bayangan di permukaannya yang gelap  seperti kenangan
siasia

Dan hujan terus turun di kota sepi ini

Memandikan mobilmobil yang saling merapatkan diri
Dengan tubuhtubuh mengilap basah
Mengembalikan cerah rupa warnawarna semula

Menggerombol di pintu tol untuk kemudian melesat diamdiam
sendirisendiri

Sesekali aku tertidur mengenang hujan yang lain di waktu yang lain

Hujan masih saja turun di kota sepi ini
Bulan, sepotong jeruk, berenang sendirian

Dalam bis, tibatiba aku begitu menginginkan bulan

 

*Gema Laksmi Mawardi Aktif bergiat dalam musik, sastra dan dramaturgi. Saat ini sedang mengerjakan project Ambient Poetry, sebuah perpaduan antara sastra dan ambient music bersama kelompok kecil Sutasoma sembari menyambi jadi konsultan komunikasi.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.