Refleksi Peristiwa 27 Juli 1996, Sebuah Catatan

Print Friendly, PDF & Email

Foto: Utara Times


PAGI ITU, sekitar pukul 05.30 pagi, aku terbangun karena suasana terdengar agak gaduh dan tegang. Beberapa kawan yang tidur di sebelahku juga ikut terbangun, dengan kantuk masih menggantung dan rasa malas untuk bangkit. Segera kami cepat-cepat membereskan tempat tidur karpet yang menghampar di lantai. Kemudian bergegas masuk ke kamar mandi bergantian, bukan untuk mandi karena tak cukup waktu. Lalu secepatnya menuju stasiun Universitas Pancasila yang terlihat sunyi dan lengang. Saat itu sekelebat terbayang kekacauan yang menandai permulaan hari ini.

Dengan rasa tegang, khawatir dan bercampur marah, kami menunggu KRL (kereta Rel Listrik) Jabotabek, yang setengah jam kemudian tiba dan berhenti di stasiun itu. Dengan bergegas dan berdesakkan kami segera masuk ke KRL yang sudah dipadati orang-orang yang akan menuju ke tempat kerja dan aktifitasnya pagi itu.

Setelah melewati beberapa Stasiun, akhirnya KRL itu tiba di Stasiun Cikini. Tampak suasana di sekitar stasiun begitu tegang. Kawasan itu dipadati orang-orang berseragam militer lengkap dengan senjata laras panjang. Tak ketinggalan intel sipil tampak berjaga-jaga, mengawasi setiap orang yang turun dari KRL. Kami sedikitpun tidak menghiraukan tatapan nanar orang-orang berperawakan tegap tersebut.

Pemandangan di bawah jembatan Cikini pagi itu masih lengang dan sepi. Tapi ada sesuatu yang tidak biasa, yaitu kehadiran begitu banyak  aparat polisi dan militer angkatan darat (AD) bersenjata lengkap. Mereka berjaga di setiap sudut-sudut jalan dan gedung-gedung di sekitar jembatan layang Megaria dan sepanjang JL.Diponegoro, Jakarta Pusat.

Beberapa saat kemudian aku lihat api kecil dan kepulan asap keluar dari gedung yang berada di JL.Diponegoro 58 (kantor DPP PDI). Beberapa saat kemudian orang-orang mulai berdatangan dan bergerombol dan berdiri di bawah jembatan Cikini. Raut wajah penasaran tampak di muka kerumunan itu, ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana. Aparat menutup akses jalan ke arah gedung yang dari kejauhan tampak hancur-berantakan, sisa pertikaian pagi dinihari tadi. Aku dan massa rakyat yang bergerombol tidak bisa menuju gedung yang dijaga aparat dengan rapat sekali. Di depan gedung masih terlihat segerombolan orang-orang berkaus merah dengan selayer merah, berbadan tegap dan berambut cepak, bertuliskan Pendukung Kongres Medan. Mereka berteriak-teriak penuh kemenangan. Sementara rintihan orang-orang di dalam gedung dan  sisa-sisa bercak darah masih menggenang di jalan itu. Kami yang tidak dapat menuju kantor DPP PDI mulai menyadari, bahwa gedung itu telah direbut paksa, dan orang-orang yang bertahan semalam diserbu, dianiyaya, dipukuli dan beberapa dibunuh dengan sadisnya oleh gabungan preman bayaran berpakaian sipil, brimob, dan pasukan militer bersenjata lengkap.

Beberapa jam kemudian, massa yg berdatangan mulai bertambah, semakin membesar dan menyemut tepat di bawah jembatan. Terhalang untuk masuk ke halaman kantor DPP PDI jalan Diponegoro, massa terlihat mulai emosional. Beberapa kawan-kawan lalu mulai berinisiatif membuat lingkaran dan Panggung Mimbar bebas tepat di depan barikade aparat polisi dan tentara. Pidato dari berbagai elemen mulai dilontarkan (PDI Pro mega, PRD, MARI, PUDI, SMID, KIPP, PIJAR dll), yang intinya mengecam kebrutalan aparat saat melakukan perebutan paksa kantor DPP PDI, mendukung kepemimpinan Megawati, serta menolak Kongres Boneka PDI Soeryadi yang di dukung oleh jenderal Soeharto beserta kroni-kroninya. Beberapa orator menyerukan di cabutnya Dwi-Fungsi ABRI dan 5 UU Politik, sementara Masa mulai berteriak ‘ABRI Pembunuh’… ‘Soeharto Dalangnya’… ‘Megawati Presiden Baru… Berkali-kali orator meminta aparat untuk membuka blokade, tapi tidak digubris. Beberapa kali massa secara spontan bergerak  untuk menembus barikade aparat, tapi coba dicegah oleh kawan-kawan SMID, PRD dan Aliansi MARI, mengingat barisan massa belum solid dan rapi.

Semakin siang, jumlah massa semakin membludak. Diperkirakan ada sekitar 70 ribu hingga 100 ribu massa terkonsentrasi di kawasan itu. Barisan massa menyemut mulai dari bawah jembatan Cikini sampai depan kantor LBH Jakarta. Sebagian berpencar-pencar sampai Salemba. Kumpulan massa juga melebar sampai depan pasar Cikini dan depan kantor DPP Golkar di sebalah kanan, sementara masa penduduk kampung Manggarai juga menyemut sampai Tugu Proklamasi di sebelah kiri.

Massa yang mulai marah dan emosional akibat pembantaian yang terjadi dini hari itu, semakin membesar dan tidak terbendung lagi. Akhirnya tepat Pukul 15.00, massa yang marah secara bersama-sama mulai merapikan barisan. Di bawah komando orator, massa mulai mengultimatum aparat agar membuka barikade. Lalu, satu… dua… tiga… Benturan, bentrokan, saling pukul, saling lempar, dan akhirnya Chaos masal-pun tidak terhindarkan.

Puluhan ribu rakyat Jakarta mengamuk, bertarung di jalan-jalan melawan tentara dan polisi, suatu pemandangan yang menakjubkan dalam sejarah perlawanan rakyat Indonesia pasca 1965. Mereka bersama-sama, bahu-membahu berusaha menembus barikade. Sejurus kemudian, ratusan aparat militer tampak kewalahan menghadapi tekanan massa, memaksa mereka mundur ke belakang hingga ke depan Gedung DPP PDI. Ternyata, di sana, ribuan aparat bersenjata lengkap dari berbagai kesatuan seperti Kodam Jaya, Kostrad, Brigiv I, dan Brimob yang didukung dengan Barisan Panser serta water canon telah bersiap maju, merangsek menghantam rakyat Jakarta yang sedang mengamuk, bertarung di jalan-jalan dengan senjata seadanya: batu, bambu, kayu, besi dll. Militer yang bersenjata lengkap (pentungan, gas airmata, bayonet, pistol, senapan, panser dll) perlahan-lahan mulai memukul mundur barisan massa. Perlawanan masa terpecah konsentrasinya menjadi tiga titik: sebagian yang terus melakukan perlawanan mundur ke arah Tugu Proklamasi; sebagian mundur ke arah Pasar Cikini; dan sebagian besar terus melawan dan melempari batu ke arah serbuan aparat, sambil mundur ke arah Salemba.

Beberapa saat kemudian, pertempuran jalanan antara rakyat dan tentara yang tadinya terkonsentrasi di bawah jembatan JL. Diponegoro, mulai meluas ke arah Salemba, Pramuka, Senen, Manggarai, sekitar TIM dan beberapa perkampungan di sekitar kantor DPP PDI. Sebagian massa yang marah mulai membakar Gedung Persit Kartika Chandra Kirana (simbol orde baru) yang berada di seberang Kampus UI Salemba, sebagai luapan kekesalanya terhadap tentara dan rejim Orba. Rakyat yang marah terus melakukan perlawanan di jalan-jalan dan gang-gang sempit antara Perempatan Pramuka, Berland, Salemba, Paseban hingga ke Senen. Perlawana yang memecahkan kebekuan panjang itu berlangsung sampai tengah malam, hingga keesokan harinya, di kampung-kampung miskin kota Jakarta..

Api yang tadinya hanya menyala kecil di Jl.Diponegoro 58, beberapa jam kemudian berkobar menyala dan makin membesar, melanda hampir sebagian besar Jakarta Pusat, sebagian Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Tak terbayangkan peristiwa semacam ini sebelumnya, di Jantung Kota tempat bertahtanya Jenderal Besar Soeharto yang menjalankan pemerintahanya secara otoriter, represif, dan militeristik selama 30 tahun, di atas mayat jutaan orang yang menjadi tumbal kekejamanya. Mereka yang lama tertidur lelap, hari itu mulai menggeliat dan bangkit melakukan perlawanannya.

27 Juli 1996, 16 tahun yang lalu, merupakan tonggak sejarah awal perlawanan massa rakyat di Indonesia dan utamanya rakyat Jakarta, dalam upayanya menggulingkan rejim otoriterianisme Orba. Sejarah kemudian mencatat, perjuangan tersebut mengalamai klimaksnya pada tahun 1998 dan sesudahnya.

Percikan api kecil di Jl. Diponegoro itu juga merupakan picu awal radikalisasi perlawanan rakyat, yang kemudian makin membesar dan menyebar ke seluruh pelosok daerah di Indonesia. Sadar ataupun tidak sadar, peristiwa 27 Juli 1996 menginspirasi dan menjadi panduan bagi rakyat yang berlawan (buruh, tani, KMK, dan mahasiswa) bahwa kekuatan tirani tentara yang brutal dan represif saat itu, bisa dilawan dengan kekuatan rakyat sipil yang sadar dan terorganisir.

Bagiku dan kawan-kawan, peristiwa itu merupakan tembakan salvo awal penanda bagi proses perburuan, pengejaran, dan penculikan yang penuh ketegangan selama bertahun-tahun, hingga situasi politik sedikit mereda dikemudian hari.

Sampai hari ini (setelah 16 tahun), para Pemimpin (baik sipil-militer), para arsitek perencana yang mendisain operasi, para panglima dan komandan lapangan operasi militer yang bertanggung jawab terhadap kekerasan, pembunuhan, penculikan dan pembantaian, serta bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan lainya, masih bebas melenggang, menduduki jabatan-jabatan strategis negara. Sebagian telah meninggal karena uzur tanpa proses pertangggung jawaban terhadap rakyat dan sejarah. Pada realitasnya kekebalan hukum (impunitas), banalisasi dan sejarah gelap masih menyelimuti bangsa ini. Setelah 16 tahun, kedaulatan rakyat, proses demokratisasi, kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat banyak, seperti yang dicita-citakan para martir dan pejuang anti orba masa itu, masih jauh dari kenyataan.

Aku tundukkan kepala yang sedalam-dalamnya kepada para martir, kawan-kawan (baik yang dikenal maupun yang sama sekali tidak dikenal oleh publik), yang dengan gagah berani tanpa pamrih telah dan pernah menyumbangkan miliknya untuk orang banyak.

– thukul – herman – bimpet – suyat – moses gatot kaca – yun hap – iqbal – temu dan ribuan nama-nama kaum muda lainya.***

Sorogenen – Jogja, 26 Juli 2012


Dwi Hartanto, bekerja di SIGI Indonesia (Education & Social Research)


IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.