Bilven Sandalista: Buku Kiri diterbitkan untuk dibaca luas dan dipelajari, untuk memajukan peradaban manusia, bukan untuk dilarang negara

Bilven

SALAH satu kemajuan gerakan sosial adalah ditunjangnya gerakan tersebut oleh teori-teori yang memadai. Dalam hal ini, tentu saja teori atau gagasan diperoleh salah satunya dari bahan tercetak seperti buku. Sayang, sejauh ini, kita masih didominasi oleh buku-buku yang relevansinya kurang terasa –jika tidak mau dibilang tidak ada sama sekali untuk kemajuan bersama. Sebaliknya, hari ini kita dibombardir oleh buku-buku yang menjungkir balikkan akal sehat, seperti misalnya buku yang mengagung sanjungkan penjahat HAM, konspirasi ala segitiga bermata satu, sastra yang jauh dari problem-problem keseharian, dan sejenisnya.

Di tengah serbuan itu, masih ada penerbit-penerbit yang konsisten menelurkan karya-karya alternatif, yang tak jarang tidak mendapat tempat, dan bahkan dilarang masuk ke toko buku besar. Ia menjadi semacam oase di tengah gurun –meski sedikit, tapi nikmatnya begitu terasa. Salah satu penerbit tersebut adalah Ultimus yang ada di Bandung. Kali ini, Rio Apinino dari Left Book Review IndoPROGRESS berkesempatan untuk mewawancarai pendirinya, Bilven Sandalista. Berikut wawancara lengkapnya:

 

Sejauh yang kami ketahui, Ultimus berawal dari sebuah komunitas yang didirikan pada 2004, lalu kemudian berkembang terus menjadi salah satu penerbit buku-buku Kiri hingga sekarang. Apa yang melatari pendirian kelompok tersebut, dan mengapa jalur penerbitan buku yang kemudian diambil?

 

Pada masa itu, kira-kira belasan tahun yang lalu, banyak kawan menilai terjadi kejenuhan dalam gerakan. Jelas memang ada kemunduran. Waktu itu tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti apa persoalan utamanya. Ada satu asumsi, mungkin kondisi ini terjadi karena kita kekurangan literatur atau bacaan yang bermutu. Kita sepertinya kekurangan amunisi dalam gerakan.

Beberapa kawan lalu bersepakat untuk mendirikan satu toko buku yang bisa mengumpulkan dan mendistribusikan bacaan alternatif. Konsepnya, selain menjual jenis buku-buku alternatif, toko itu juga bisa dijadikan tempat bertemu dan berinteraksinya berbagai komunitas. Ultimus jadi semacam simpul yang bisa mempertemukan banyak jaringan kawan-kawan lain dari beragam latar belakang komunitas.

Tahun-tahun awal beroperasinya toko buku Ultimus ditandai dengan beragam aktivitas komunitas. Tempat itu menjadi semacam lokasi pertemuan banyak kawan, sekadar ngopi dan ngobrol-ngobrol santai sampai diskusi berat yang tak selesai. Dalam perkembangannya kemudian, banyak acara digelar atas kerja sama Ultimus dengan komunitas-komunitas lain, baik yang berasal dari kampus atau tempat-tempat keramaian lainnya di Bandung. Kegiatan yang paling sering sebetulnya adalah diskusi sastra, tapi banyak juga soal politik, musik, filsafat, agama, jurnalistik, HAM, sejarah, dan lain-lain.

Tidak semua kegiatan yang terselenggara itu berkaitan langsung dengan buku. Sering juga diselenggarakan pemutaran film, pembacaan puisi, pertunjukan musik, teater, pameran foto, lukisan, workshop, dan lain sebagainya.

Perkembangan kegiatan komunitas ini ternyata tidak serta-merta diikuti oleh berkembangnya toko buku Ultimus. Tahun-tahun itu pasokan buku-buku alternatif tiba-tiba menurun drastis. Penerbit-penerbit alternatif banyak berguguran. Penerbit yang masih bertahan pun produktivitas penerbitan buku barunya menurun tajam. Tata niaga perbukuan di Indonesia ternyata tidak berpihak pada penerbit buku-buku alternatif.

Situasi itu membuat kami berpikir bahwa tidak bisa lagi bertahan dengan format toko buku. Kalau ingin tetap mempertahankan keberlangsungan kegiatan komunitas, jaringan dan tetap berjuang di dunia literasi, satu-satunya pilihan ketika itu ialah beralih dari format toko buku menjadi penerbit buku alternatif. Akhirnya kami mengambil risiko untuk masuk ke dalam tata niaga perbukuan yang tidak begitu menguntungkan ini.

Pertimbangannya, jika dengan format toko buku penyebarluasan gagasan hanya tersentralisasi melalui kegiatan komunitas di tempat (Bandung) saja, maka dengan format yang baru diharapkan penyebarluasan gagasannya pun bisa lebih meluas melalui buku yang diterbitkan. Tersebar ke mana-mana mengikuti persebaran buku. Kegiatan jaringan dan komunitas pun diharapkan bisa lebih luas dengan menyelenggarakan acara diskusi atau peluncuran buku yang diterbitkan, yang tetap melalui kerja sama dengan komunitas di kota-kota lain, atau bahkan kerja sama pendistribusian buku.

 

Selain buku Kiri, naskah yang kriterianya seperti apa yang akan diterbitkan oleh Ultimus, dan telah berapa eksemplar buku yang dicetak hingga sekarang?

 

Belum begitu banyak. Rata-rata cetak hanya 1000 eksemplar per judul. Baru terbit sekira 100-an judul. Jumlah yang relatif sedikit untuk ukuran penerbit buku yang sudah berdiri 10 tahun. Itu artinya Ultimus kira-kira hanya menerbitkan satu judul buku setiap bulannya.

Ada 2 kategori naskah yang kami cetak. Pertama, naskah yang berkaitan dengan literatur Marxisme. Ada terjemahan langsung dari karya-karya Marx, Engels, Plekhanov, dan Marxis lainnya. Ada juga tulisan dari penulis-penulis pada suatu bidang ilmu tertentu yang menulis dengan perspektif Marxisme.

Kedua, naskah yang berkaitan dengan sejarah kelam gerakan rakyat, dengan Tragedi 1965. Misalnya, buku sejarah atau analisa ekonomi politik tentang Peristiwa 1965, memoar atau catatan harian eks-tapol Orde Baru, eks-tapol Pulau Buru, memoar eksil, karya-karya Lekra seperti puisi, cerpen, novel, esai, naskah drama, dan sebagainya.

 

Buku Kiri apa yang penjualannya paling laris selama Ultimus berdiri? Apa penyebabnya?

 

Ada beberapa buku yang termasuk dalam kategori itu. Pertama, buku berjudul Soekarno: Biografi Politik (Ultimus, 2009), terjemahan dari buku berjudul Soekarno: Politicheskaya Biografiya karya Kapitsa M.S. & Maletin N.P. (Moskva: Mysl, 1980). Mungkin karena ini adalah biografi Bung Karno terbitan negeri sosialis yang pertama kali muncul di Indonesia dalam terjemahan bahasa kita.

Kedua, buku Akar dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan Bung Karno, karya Suar Suroso (Ultimus, 2013). Buku ini membongkar bagaimana dan mengapa sampai terjadi Tragedi 1965 dan siapa dalang-dalang yang bermain di situ.

Ketiga, buku Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI [1920—1965] yang ditulis Busjarie Latif – Lembaga Sejarah PKI (Ultimus, 2014). Naskah yang sempat hilang hampir setengah abad, yang tadinya akan diterbitkan oleh PKI untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-45 pada tahun 1965, namun tidak pernah terbit karena tanpa diduga terjadi Peristiwa G30S.

 

Ultimus dapat dikatakan telah cukup lama berdiri, sehingga dapat melihat bagaimana perkembangan minat masyarakat terhadap buku-buku Kiri, atau minimal buku kritis. Menurut Anda, bagaimana perkembangan tersebut? Adakah kemajuan positif, atau justru stagnan dan bahkan negatif?

 

Ada kemajuan positif, tapi lambat.

 

Buku-buku Kiri belasan tahun pasca reformasi, menurut Martin Suryajaya, jumlahnya masih jauh dari memadai dan kualitasnya masih sebatas `Pengantar`, apalagi yang ditulis oleh penulis kita sendiri (orang Indonesia). Bagaimana bung melihat problem minimnya penulis (atau teoretikus) Kiri seperti itu? Adakah pengaruhnya dengan penerbit-penerbit kritis seperti Ultimus?

 

Penulis/teoretikus Kiri ini memang minim sekali. Maka itu cocok dengan asumsi awal tadi, bahwa ini terjadi karena kita kekurangan literatur atau bacaan yang bermutu. Kita kekurangan amunisi dalam gerakan. Di situlah peran penerbit-penerbit alternatif ini untuk tetap konsisten menerbitkan buku-buku terjemahan/literatur Kiri/Marxisme sebagai referensi, sekaligus terus menerbitkan penulis-penulis baru yang bermutu dan potensial menjadi teoretikus Kiri masa depan, meskipun saat ini buku-buku jenis itu belum tentu laku.

 

Beberapa tahun yang lalu diskusi Ultimus tentang Marxisme pernah dibubarkan paksa oleh ormas sayap kanan. Aksi serupa terus dilakukan, dan bahkan terlihat semakin marak akhir-akhir ini. Bagaimana Anda melihat fenomena anti komunis yang masih sangat kuat ini?

 

Ini masih kelanjutan dari propaganda dan teror yang merajalela selama sepertiga abad Orde Baru berkuasa (1965-1998). Sejarah Indonesia dipelintir dan dibelokkan demi kepentingan penguasa. Hanya boleh ada satu versi sejarah Indonesia: sejarah versi Orde Baru. Marxisme, komunisme dan PKI selalu dinistakan. Komunisto-fobi masih terus dipelihara. Tujuannya tidak lain untuk menjaga supaya kejahatan kemanusiaan genosida tahun 1965-66 tidak dipersoalkan, menjaga supaya kedudukan pihak-pihak yang diuntungkan dengan Peristiwa 1965 itu, terkait dengan penguasaan/penjarahan sumber daya alam sampai hari ini, tidak diganggu-gugat.

 

Masih terkait dengan pertanyaan sebelumnya, bagaimana Anda melihat prospek counter hegemony terhadap Marxisme (atau PKI dan komunis) melalui literatur-literatur ilmiah seperti yang dilakukan Ultimus dan penerbit-penerbit sejenis?

 

Jelas optimis. Marxisme itu ilmu, dan perkembangan suatu ilmu tidak mungkin bisa dilarang-larang. Secara formal mungkin masih dilarang dengan Tap MPRS XXV/1966. Tapi sebagai ilmu, Marxisme tidak bisa ‘dibunuh’ dengan Undang-undang apa pun. Suatu ilmu hanya bisa mati apabila ada ilmu baru yang mengalahkannya. Tapi Marxisme tetap dipelajari dan relevan sampai hari ini, selama kapitalisme masih berlangsung dengan krisis demi krisis yang mengikutinya, dan belum ada penjelasan lain yang bisa mengkritik kapitalisme secara ilmiah sebagaimana yang dilakukan Marxisme. Orang-orang akan kembali berpaling kepada buku Kapital Marx, kepada Manifesto Partai Komunis, kepada teori-teori ekonomi-politik Marxis, tentang teori nilai-lebih, tentang komoditi, tentang buruh-upahan dan kapital, tentang sosialisme, tentang MDH, tentang negara, dan lain sebagainya.

Begitupun dengan pengkambinghitaman PKI dan komunis. Perlahan namun pasti, Tragedi 1965 akan semakin terkuak. Tulisan-tulisan, penelitian-penelitian, dan buku-buku akan semakin banyak bermunculan sebagai upaya pelurusan sejarah. Juga diskusi, seminar, film, dan sebagainya. Semua ini akan menjadi bagian dari perlawanan terhadap versi sejarah Indonesia yang dipelintir dan dibelokkan Orde Baru.

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa dunia perbukuan kita dikuasai oleh korporasi, yang tidak selalu memberikan ruang bagi buku-buku dari penerbit alternatif. Bahkan dalam beberapa kasus mereka menyensor buku, hanya karena judulnya mengandung kata `Marx` atau ‘Marxisme’. Bagaimana relasi antara Ultimus dengan penerbit-penerbit besar seperti ini? Adakah pernah mengalami penolakan juga?

 

Penolakan atau penyensoran secara langsung tidak pernah. Tapi Ultimus sekarang memang memutuskan tidak akan bekerja sama dengan toko buku (korporasi) besar karena relasi/sistem kerja sama yang mereka bangun dengan para penerbit sangat tidak menyehatkan.

Pertama, toko buku besar menerapkan sistem titip-jual (konsinyasi) dengan potongan diskon yang sangat besar kepada para penerbit yang ingin memasok buku, yang bahkan angkanya mencapai 50 persen. Dengan potongan diskon sebesar itu, untuk menentukan harga jual buku, terpaksalah setiap penerbit menaikkan harga lima sampai tujuh kali dari ongkos produksi. Hal ini membuat harga buku yang dijual di toko-toko buku besar menjadi mahal sekali. Apalagi ongkos produksi selalu meningkat dan tidak sebanding dengan kenaikan daya beli masyarakat terhadap buku. Ini merugikan penerbit sekaligus pembeli buku.

Kedua, masa durasi buku dipajang di toko-toko buku besar itu sangat singkat, antara tiga sampai enam bulan saja. Artinya, pada bulan ketiga, buku-buku itu sudah diretur (pengembalian barang karena hal tertentu) kepada penerbit yang bersangkutan.

Ketiga, sistem administrasi yang rumit dan berbelit-belit, mulai dari penawaran buku baru, pengiriman buku, sampai penagihan laporan dan pembayaran.

 

Secara lebih umum, bagaimana Anda menilai politik perbukuan di Indonesia?

 

Dengan model relasi/kerja sama dengan toko buku (korporasi) besar tadi, jelas sistem tata niaga perbukuan di negeri ini tidak berpihak kepada penerbit buku sekaligus tidak berpihak kepada konsumen/pembeli buku. Bisa disimpulkan bahwa toko buku (korporasi) besar inilah yang berkontribusi terhadap matinya dunia perbukuan di Indonesia. Bukan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan akses buku-buku murah, tapi malah mematikan pemasok dan memperkecil peluang masyarakat mengakses buku-buku bermutu.

Alternatifnya, penerbit-penerbit seperti Ultimus menciptakan sendiri infrastruktur penjualan. Bisa dengan penjualan langsung, pameran atau bazar buku, atau penjualan secara online, media sosial, dan lain-lain. Selain itu juga dapat memperluas jaringan dengan sesama penerbit alternatif. Dengan begini keuntungannya lebih banyak. Misalnya tidak ada rantai distribusi yang memakan banyak diskon. Begitupun untuk menentukan harga jual buku, penerbit cukup menentukan harga jual setara tiga kali ongkos produksi. Cara ini bisa membuat buku menjadi lebih murah sampai ke tangan pembaca. Inilah yang diterapkan Ultimus sekarang, sehingga buku-buku terbitan Ultimus pun tidak akan didapatkan di jaringan toko-toko buku (korporasi) besar.

 

Terakhir, bagaimana Anda memandang posisi penerbitan buku Kiri dalam relasinya dengan gerakan sosial yang lebih luas?

Buku-buku Kiri memang diterbitkan untuk dibaca luas dan dipelajari, untuk memajukan peradaban manusia, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan untuk dilarang negara.


comments powered by Disqus