Tuhan Sebagai Eksepsi: Perihal Teologi Materialis

Tanggapan Untuk Martin Suryajaya

HARUS diakui bahwa Martin Suryajaya dalam artikel mengenai Marxisme dan Ketuhanan Yang Maha Esa telah melakukan terobosan penting dalam diskursus pengetahuan Marxian di Indonesia. Setelah sekian lama masyarakat disuguhkan dengan argumentasi bahwa Marxisme pada dasarnya selalu anti ketuhanan, Martin menunjukkan bahwa materialisme (yang menjadi inti filsafat Marxisme) dapat menerima ide tentang Tuhan.  Tetapi, berbeda dengan presentasi teologi sebelumnya yang hendak mendekatkan wahyu dengan materialisme (yang kemudian membuat penjelasannya lebih berupa upaya mencocok-padankan antara ayat dengan proposisi-proposisi materialis), proyeksi Martin kali ini dapat dikatakan baru di Indonesia, karena yang hendak dibangun adalah bagaimana Tuhan dapat dipahami secara konsisten sepenuhnya dalam logika materialis.  Sebuah upaya yang sangat berharga, tentu saja, dalam rangka untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan sekaligus dialog kritis antara kalangan yang berketuhanan dengan kalangan Marxis yang memiliki komitmen sama untuk pembebasan rakyat pekerja.

Melalui proposisi teori himpunan Cantor, Tuhan dalam argumen logis Martin adalah entitas yang mampu menghitung permutasi logis dari proposisi mungkin dan tak mungkin, layaknya komputer. Martin berpendapat, keberadaan Tuhan dapat diterima sejauh ide mengenai-Nya tidak bertentangan dengan hukum fisik yang berlaku. Dalam Tuhan, semenjak dalam diri-Nya termaktub yang mungkin dan tak mungkin, semesta aktual bukan satu-satunya semesta yang mungkin. Terdapat dunia lain yang mungkin  (another world is possible) dalam Tuhan. Yang diperlukan kemudian adalah konstruksi logis untuk menjangkarkan Tuhan dalam keterlembagaan fisiknya.

Akan tetapi, tawaran Martin kali ini dapat dikatakan problematis. Ada dua alasan mengapa hal tersebut terjadi. Yang pertama, tawaran teologi materialis Martin masih sebatas iman agnostik, dimana Tuhan diakui keberadaannya namun tidak lebih sebagai entitas yang impoten. Tuhan ada di luar sana namun tidak melulu harus diimani. Martin mungkin berargumen bahwa iman, layaknya iman kepada Tuhan, adalah fungsional dalam pembangunan sains. Tapi dalam jangka panjang, ketika pengetahuan sudah lengkap, maka iman terhadap Tuhan tidak lagi menjadi relevan. Dalam hal inilah ada yang paradoks dari posisi teologi materialis Martin. Semenjak iman (terhadap Tuhan) adalah sesuatu yang mubazir (redundant), maka keberadaan Tuhan itu sendiri adalah mubazir bagi konstruksi logika teologinya.

Problem kedua, yang merupakan turunan dari problem pertama mengenai iman agnostik adalah  pembuktian keberadaan Tuhan secara logis, tidak secara otomatis membuat Tuhan menjadi ada. Apa yang hendak saya argumentasikan di sini, adanya dimensi ‘kebenaran’ dari ide tentang Tuhan itu sendiri. Dalam arti ide mengenai Tuhan mampu untuk memobilisasi manusia untuk berprilaku atas nama-Nya. Sebagaimana telah dibuktikan oleh sejarah, Tuhan menjadi ‘ada’ justru semenjak keimanan manusia atas Tuhan mengorganisasikan kepentingannya dalam terang ide Tuhan itu sendiri (Armstrong 1993). Disinilah Tuhan menjadi isu bagi manusia, semenjak Ia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah itu sendiri. Mengabaikan dimensi ini, tentu saja, membuat kita tidak bertindak ‘objektif’ terhadap ide tentang Tuhan yang menjadi problem artikel Martin.

Keterbatasan tawaran teologi Martin bukan berarti tidak dapat diatasi. Intensi untuk mengadakan dialog antara materialisme dengan ide ketuhanan masih dapat dilakukan. Alih-alih mengikuti trajektori yang ditawarkan Martin, yakni mengontruksikan materialisme yang memberikan ruang bagi Tuhan, yang diperlukan justru pembacaan imanen dimana struktur logika materialisme menubuh dalam logika Tuhan dalam agama. Dengan kata lain, struktur logika agama itu sendiri harus dilihat sebagai logika materialisme. Dalam hal inilah kita bisa mengatasi keterbatasan yang ada.

Di antara Dua Tuhan, atau Meninjau Kembali ‘Tiada Tuhan Selain Tuhan’

Hal pertama yang harus diklarifikasi tentu saja adalah perihal Tuhan dalam teologi materialis. Bagaimana ide mengenai Tuhan dapat diinterogasi dalam kerangka materialisme? Dalam hal ini tinjauan Cak Nur (Nurcholish Majid) mengenai kredo ‘tiada tuhan selain Tuhan’ dapat dibuka kembali.  Problem Cak Nur yang utama perihal kredo ini adalah bagaimana menjawab mengenai keesaan tuhan. Bagi Cak Nur, masalah yang harus dijawab bukan perkara ketidakpercayaan, tetapi mengenai politeisme; yang membuat manusia dihadapi pilihan akan banyak tuhan yang membuatnya mudah untuk terjerembab dalam momen salah-pilih tuhan. Dengan sedikit menggunakan gestur ala eksistensialis, pembacaan ulang kredo ‘tiada tuhan selain Tuhan’ adalah sebentuk deklarasi bahwa Tuhan adalah entitas tunggal yang berada di luar konfigurasi ‘tuhan-tuhan’ ala politeis yang melingkupi nalar praktis. Dengan kata lain, yang ada adalah Tuhan yang maha esa (tauhid), yang di luar itu tidak dapat dikategorikan sebagai tuhan.

Tinjauan Cak Nur ini tentu saja masih memiliki masalah, karena masih terdapat bias idealis mengenai sifat dasar Tuhan dimana asumsi Tuhan diasumsikan tanpa ada tautan material. Akan tetapi terdapat kebenaran dari logika yang ditawarkan oleh Cak Nur. Bahwa Tuhan pada dasarnya adalah eksepsi dari yang-ada (being), yang direpresentasikan oleh tuhan-tuhan. Lalu bagaimana materialisme menjelaskan eksepsi dalam realitas itu sendiri?

Dalam hal ini fisika kuantum dapat membantu. Engels dalam karyanya Ludwig Feurbach and the Outcome of Classical German Philosophy berujar bahwa dengan tiap penemuan bersejarah pada ranah ilmu alam, materialisme harus mengubah bentuknya. Dalam perkembangan sains terkini, fisika kuantum adalah tantangan (sekaligus sebagai ‘ruang logis’ dalam istilah Martin) krusial dalam mendefinisikan materialisme. Agar tidak terjebak dalam interpretasi idealis mengenai fisika kuantum, ada dua hal penting yang harus diperhatikan mengenai fisika kuantum:

1. Proposisi fisika kuantum hanya dapat berfungsi dalam aparatus kompleks formalisasi matematika;

2. Semesta kuantum bukan sekedar matematika dalam arti sekedar pengembangan imanen atas konsekuensi aksioma yang ada, namun, lebih daripada itu, terdapat pula proses ilmiah dimana pengukuran serta pembuktian harus dilakukan.

 

http://www.therightplanet.com/wp-content/uploads/2012/03/Darwin-Marx-Poster.png

 

Masalah utama dari fisika kuantum adalah ia tidak dapat didefinisikan, yang oleh karenanya fisika kuantum hanya dapat ditunjukkan (McEvoy and Zarate 1999, 174). Demi kemudahan argumen di sini, salah satu presentasi populer mengenai fisika kuantum adalah apa yang dikenal sebagai problem dualitas partikel/gelombang pada cahaya. Problem ini pada mulanya muncul sebagai bagian dari upaya menjawab masalah elektron dalam atom-atom dengan cahaya sebagai media pengamatannya. Dalam fisika klasik, setidaknya terdapat dua posisi pengetahuan yang saling bertolak belakang dalam memahami karakter cahaya. Bagi Newton, cahaya terdiri dari partikel, sementara bagi fisikawan Belanda, Christian Huygens, cahaya terdiri dari gelombang.  Pada tahun 1886, teori gelombang elektromagnetik Maxwell menyelesaikan perdebatan fisika klasik dengan menyatakan bahwa cahaya terdiri dari gelombang. Namun, sayangnya, pada awal abad 20, teori Maxwell menghadapi  tentangan. Adalah Einstein yang memperkenalkan metode corpuscles untuk menjelaskan efek fotoelektrik.[1] Metode ini mengindikasikan adanya dualitas dari cahaya, dimana terjadi fusi antara partikel dan gelombang. Argumen Einstein ini dibenarkan fisikawan Perancis de Broglie, yang menunjukan pada tesisnya bahwa sebuah gelombang pada cahaya dapat diasosiasikan dengan gerak sebuah partikel tertentu.

Dualitas gelombang/partikel ini membawa masalah sendiri bagi upaya kita dalam memahami realitas (dan juga mengenai materialisme). Sebagai contoh, dalam nalar praktis kita (common sense), secara berkebalikan, partikel lebih didahulukan daripada gelombang. Sebagai contoh, di suatu gurun, pasir bergerak karena angin yang berfungsi seperti gelombang. Dalam hal ini, melalui nalar praktis, kita dapat menyimpulkan bahwa perilaku gelombang dapat direduksi sebagai partikel; bahwa gerak gelombang pastilah gerak atas sesuatu, sesuatu yang secara material ada dan bergerak. Di sini dapat dinyatakan pula bahwa gelombang pada dasarnya tidak ada karena ia hanya sekedar properti atau peristiwa yang terjadi karena sesuatu yang ada. Revolusi fisika kuantum berupaya untuk membalik nalar praktis seperti itu. Tidak hanya terdapat ketidakterpisahan dualitas antara gelombang dan partikel; dalam dualitas ini, fisika kuantum memprioritaskan gelombang: sebagai contoh, fisika kuantum mengajukan peralihan dari memahami gelombang sebagai interaksi antara partikel ke pemahaman mengenai partikel sebagai titik pusat dalam interaksi gelombang. Bagi fisika kuantum, gelombang tidak dapat direduksi pada partikel.[2]

Dualitas gelombang dan partikel pada cahaya berpotensi untuk disikapi sebagai suatu bentuk idealism, dimana cahaya sebagai materi bisa dipahami secara relatif tergantung posisi pengamatan yang dipilih. Adalah epistemologi yang kemudian menentukan bentuk realitas yang dilihat. Namun pemahaman ini adalah pemahaman yang salah. Di sini kita harus memperhatikan perbedaan halus antara prinsip ketidakpastian Heisenberg dengan komplementaritas Bohr. Heisenberg berpendapat bahwa kita tidak dapat membangun posisi dan momentum sebuah partikel secara simultan karena tindakan pengukuran mengintervensi konstelasi yang diukur dan mengganggu koordinatnya. Sementara Bohr memiliki posisi yang lebih radikal mengenai substansi dari realitas itu sendiri, bahwa partikel itu sendiri tidak memiliki posisi dan momentum yang pasti, yang membuat kita harus meninggalkan gagasan standar ‘realitas objektif’ yang terdiri dari sepertangkat properti yang telah ditentukan. Dengan kata lain, bagi Bohr, ditingkatan sistem mikroskopik atom tidak ada (exist) dalam dan untuk dirinya sendiri (Rosenblum and Kuttner 2011, 136).

Implikasi dari interpretasi Bohrian mengenai ketiadaan atom ditingkatan mikroskopik ini adalah  realitas dalam fisika kuantum adalah realitas yang pada dasarnya tidak lengkap, bahwa ontologi secara keseluruhan (all) adalah ‘bukan-keseluruhan’ (non-all). Ontologi realitas atau materialisme itu adalah ontologi keterpecahan atas yang-satu (One), dimana dalam dirinya sendiri materi adalah kekosongan (void). Kekosongan ini harus dipahami sebagai tensi ekstrim, antagonisme atau kemustahilan yang memecah ontologi. Kekosongan ini tidak terkonstitusikan secara penuh dalam konstelasi realitas yang ada. Dengan kata lain, realitas dalam ontologi kekosongan mengondisikan secara internal eksepsi yang tidak dapat diinklusikan dalam dirinya sendiri.

Pemahaman ontologi mengenai ketiadaan memiliki logika yang kongruen dengan ide Tuhan sebagai eksepsi radikal dari yang ada. Saya tidak mengatakan bahwa dalam konstruksi materialis ini Tuhan ada. Ide mengenai Tuhan memiliki struktur yang serupa dengan materialisme itu sendiri. Dalam hal ini, dapat diargumentasikan, bahwa ide mengenai Tuhan tidak melulu menegasikan materialisme. Justru yang hendak ditegaskan bahwa ide mengenai Tuhan adalah seperangkat materialisme tertentu.

Pertanyaannya kemudian, ketika Tuhan dilihat sebagai eksepsi, maka eksepsi atas apakah Tuhan? Menurut saya, kredo ‘tiada tuhan selain Tuhan’ mulai harus ditafsirkan secara materialis. Alih-alih tuhan politeis, tuhan (dengan t kecil) yang harus dinegasikan adalah tuhan intervensionis, yang menjamin kehidupan manusia (dan alam) itu sendiri. Tuhan yang berperan di semua aspek kehidupan. Tuhan yang bertindak sebagai, dalam psikoanalisa, yang-lain-yang-besar (Big Other) dengan kapasitasNya untuk mengatur semua hal dalam realitas, dimana ia menjamin semua makna yang ada dalam realitas itu sendiri. Tuhan ini tidak bisa ada, karena memang peranan intervensionis dia di ranah material  ada pada hukum alam itu sendiri. Dalam hukum alam, keberadaan tuhan sebagai penguasa pengatur segala memang tidak diperlukan.

Perihal Iman Materialis

Jika memang Tuhan adalah eksepsi, lalu bagaimana eksepsi ini dimungkinkan untuk ada dan aktual? Untuk menjawab pertanyaan ini, kategori iman dapat menjadi kunci. Berbeda dengan argumen Martin, iman adalah esensial. Ia bukanlah kategori mengenai ‘kurangnya pengetahuan’ yang memberikan ruang bagi Tuhan. Tapi, Tuhan itu ada hanya dapat dimungkinkan dengan adanya iman itu sendiri. Argumentasi saya di sini sederhana, semenjak Tuhan dalam konstruksi materialis adalah eksepsi radikal dari realitas, maka iman adalah kepercayaan mutlak atas eksepsi tersebut. Realisasi atas kepercayaan mutlak ini yang membuat Tuhan meng-ada dan aktual pada dirinya sendiri.

Problem persepsi dalam fisika kuantum memberikan petunjuk pada bagaimana iman muncul secara imanen atas eksespsi dari realitas. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dualitas gelombang dan partikel membuka kemungkinan pembacaan idealis dimana problem terbesar dari memahami realitas terdalam adalah keterbatasan epistemologi, yang pada akhirnya menjustifiksi keutamaan subyektivitas. Akan tetapi, bagi Bohr, fisika kuantum berhubungan dengan pengukuran fenomena, bukan pada fenomena yang ‘berdiri di belakang: sebagai pendukung substansial: semua masalah tradisional yang membedakan antara properti yang menjadi milik “hal-dalam-dirinya” (baca: substansi) dan properti yang hanya sekedar “muncul” (penampakan) karena aparatus perseptif kita yang terbatas harus ditolak.’ Bagi Bohr, distingsi antara properti primer dan sekunder seperti ini tidak lagi memadai, karena suatu hal ‘muncul,’ termaktub dalam ‘dalam-dirinya sendiri.’ Penampakan dari suatu hal sebagai ‘hal,’ sebagai entitas substansial, adalah hasil dari kolapsnya fungsi gelombang melalui persepsi, jadi di sini gagasan hal yang ‘obyektif’ adalah subyektif, tergantung dengan persepsi.

Namun Bohr mengingatkan bahwa posisi ini tidak serta merta mengasumsikan ‘ide membentuk realitas.’ Dalam kasus fisika kuantum, persepsi yang obyektif mendorong kesimpulan bahwa kita dapat menentukan efek dari obyek yang diobervasi. Bohr menolak posisi ini. Menurut dia, seseorang tidak dapat menentukan efek interaksi pengukuran atas obyek yang diukur karena kita harus menentukan posisi foton dan momentum secara simultan, yang secara fisik mustahil karena pengukuran posisi dan momentum membutuhkan aparatus yang secara mutual ekslusif . Di sini kemudian Bohr menyimpulkan bahwa observasi hanya mungkin ketika kondisi terhadap efek pengukuran tersebut tidak dapat ditentukan.

Ada yang rumit dari posisi Bohr ini. Bohr seakan hendak mengombinasikan posisi signifikansi persepsi dengan indeterminasi persepsi dalam obyektifitas itu sendiri. Bagaimana hal ini dapat dipahami? Pada titik ini, Slavoj Žižek melakukan ‘balikan dialektis’ (dialectical turn) atas posisi Bohr. Bagi Žižek, Bohr mengajukan posisi reflektivitas ala Hegel dimana subyek  terinklusi dalam ‘gerak-diri’ objek-yang-hendak-dipahami. Žižek berpendapat, jarak antara obyek dengan refleksinya bukan bersifat eksternal (atau obyek dalam dirinya, refleksinya adalah bagaimana hal tersebut muncul pada subyek yang mengobservasi), namun termaktub dalam obyek itu sendiri sebagai substansi terdalam; sang obyek menjadi apa yang direfleksikan oleh subyek. Eksterioritas obyek ini diimplikasikan oleh gagasan refleksivitas yang disebut sebagai “eksterioritas di dalam” (Zizek 2012, 931).

Refleksivitas yang dikondisikan melalui fisika kuantum mempunyai implikasi pada bagaimana kita dapat memahami iman sebagai bagian dari struktur material. Iman, dalam hal ini, menjadi obyektivitas yang tersubyektivisasi (dan vice versa subyektivitas yang terobyektivisasi). Iman, dengan kata lain, dalam pembacaan materialisme, adalah sebentuk determinasi imanen dari ide mengenai Tuhan yang dikondisikan dalam eksepsi realitas itu sendiri.

Determinasi imanen inilah yang kemudian menjadi agensi, yang memobilisasi sekaligus meregulasi tubuh subyek (atau hamba) dalam ide Tuhan. Akan tetapi, determinasi ini bersifat inkonsisten. Semenjak ontologi pada dasarnya adalah keseluruhan yang bukan-keseluruhan (non-all), maka determinasi imanen ini membuka kemungkinan untuk salah-baca (misperceived). Dalam hal ini, yang-lain-yang-besar (Big Other) dimungkinkan untuk kembali sebagai representasi dari eksepsi, dimana keberadaan yang eksepsional dipercaya sebagai penjamin utama bagi makna iman. Tidak heran jika rupa keimanan yang eksepsional terkadang dipahami sebagai keimanan buta atas entitas yang tak terjangkau (beyond), yang menentukan semua tindak-tanduk hamba-Nya. Pembacaan tuhan seperti inilah yang dominan muncul dalam narasi fundamentalisme (baik fundamentalisme pasar maupun agama), dimana Tuhan menjadi penentu bagi semua hal di dunia. Manusia hanya menjadi bidak dari keinginan (will) Tuhan yang tidak dapat dipahami oleh manusia itu sendiri. Contoh paling vulgar dapat kita lihat pada bagaimana Bin Laden dan Bush sama-sama menggunakan Tuhan sebagai penjamin dari tindakan kekerasan irasional. Di sini, akhirnya, keimanan atas Tuhan menjad narasi utama untuk menyokong kembali status-quo.

Namun, bagi iman materialis, tuhan sebagai yang-lain-yang-besar tidak ada dan tidak pernah ada. Iman atas Tuhan sebagai eksepsi untuk itu harus ditempatkan sepenuhnya dalam kekosongan ontologis. Posisi Tuhan bukan sebagai penjamin makna, namun berada sebagai kekosongan yang menjadi ruang di luar konfigurasi yang ada. Mediasi kekosongan menjadi kemungkinan baru dapat dibaca melalui kategori psikoanalisa death drive (dorongan-kematian). Eksepsi dari kekosongan ontologi  adalah kondisi dengan dorongan untuk menciptakan suatu obyek parsial yang tidak dapat ditempatkan dalam konstruksi ontologi itu sendiri. Dalam kategori Lacanian, obyek parsial ini dipahami sebagai objet petit a (objek kecil a) dimana keberadaan dirinya adalah hasil dari dorongan yang terjadi di lokus kosong ontologi yang tidak lengkap itu sendiri. Kekosongan dalam ontologi menciptakan hasrat akan obyek untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun, sebagaimana dikemukakan Žižek, obyek tersebut sudah selalu tidak ada. Dalam hal ini obyek yang dihasrati (desired object), via dorongan (drive),  menjadi obyek-penyebab keinginan (object-cause of desire) yang membuat hasrat akan kekosongan menjadi obyek itu sendiri. Obyek-penyebab keinginan ini menjadi objek tersendiri yang keluar dari koordinat ontologi yang mengondisikannya (Žižek 2004).

Konsekuensi dari iman sebagai dorongan di sini adalah setiap obyek iman diharuskan untuk merealisasikan keberadaan-Nya melalui penciptaan kolektif baru di luar konfigurasi sosial yang ada (lihat pada termin umat sebagai kolektif keagamaan). Kolektif baru ini adalah representasi dari ekspsi yang mendeterminasi iman. Gestur ini banyak dipahami sebagai gestur sektarian mereka yang beriman, tapi pada dasarnya justru gestur ini adalah sejenis peristiwa (event) Badiousian, dimana kebenaran mengaktualisasikan dirinya secara material. Kolektif baru inilah yang membuat mereka yang beriman sahih untuk menyatakan bahwa Tuhan ada, dan keajaiban Tuhan selalu ada. Tuhan beserta keajaibanNya, pada akhirnya, selalu beroperasi dalam kolektif ini. Dalam hal inilah iman yang sifatnya singular menjadi universal melalui ledakan kolektivitas.

Penutup

Pada awal 1920an, salah seorang letnan terpercaya Lenin, Grigorii Zinoviev, menulis sejarah kontroversi partai yang berseliweran sekitar What Is To Be Done: ‘Ekonom pengritik Lenin akan berkata, “Jadi  menurutmu (baca: Lenin), Apakah kelas pekerja adalah sang juru selamat (mesiah)?” untuk pertanyaan ini kita (Para Komunis) akan menjawab dan menjawab sekarang: juru selamat dan juru-selamatisme (messianism) bukanlah bahasa kita dan kita tidak menyukai kata-kata tersebut: namun kita menerima konsep yang termaktub didalamnya; Ya! Kelas pekerja, dalam pemahaman tertentu, adalah sang juru selamat dan perannya adalah peran juru selamat… namun kita menolak termin semi-mistis seperti juru selamat dan juru-selamatisme dan lebih memilih termin yang lebih ilmiah: proletariat yang hegemonik!’ (Tulisan Zinoviev mengenai Lenin secara kasat mata dapat dibaca sebagai penolakan Lenin akan mesianisme. Namun, di sini, kita harus membaca gestur Lenin secara dialektis. Bukankah penerimaan parsial Lenin atas mesianisme, yang merupakan bagian inheren dari ide tentang Tuhan, menunjukkan bahwa ada kebenaran dalam agama itu sendiri? Bahwa Lenin, sang ateis besar, tengah mengoperasikan logika layaknya iman dalam agama ketika mengajukan peran kelas pekerja? Di sini kita menemukan suatu yang radikal dari ide mengenai Tuhan. Bahwa agama sebagai strukturalisasi ide mengenai Tuhan adalah prosedur materialis untuk mencapai kebenaran).

Kontra teologi Martin: Tuhan bukan mengenai bagaimana ia dapat dipahami, namun ia juga harus selalu diimani dalam pemahaman itu. Hal inilah yang kemudian membuat ide mengenai Tuhan selalu membuat kesadaran mereka yang beriman selalu bergerak dan berupaya untuk merealisasikan ide tersebut dalam kenyataan praktis mereka. Dalam inilah Tuhan menjadi ada.

Untuk itu, kredo iman materialis dapat (dan harus) ditulis ulang:

Tiada tuhan Selain Tuhan
Yang adalah kekosongan dalam ontologi  materialis
Yang mendeterminasi subyektivitas manusia
dan mengaktualisasikan diri-Nya dalam relasi kolektif baru dalam sejarah
Maka aku beriman kepada Tuhan
Amin… Amin Yaa Rabbal Alamiin.***

Muhammad Ridha, anggota Partai Rakyat Pekerja dan Pemimpin Redaksi Left Book Review (LBR)

Kepustakaan:

Armstrong, K. 1993. History of God: The 4,000-year Quest for God. New York: Ballantine Books

Grant, T., and Woods, A. 2002. Reason in Revolt: Dialectical Philosophy and Modern Science. New York: Algora Publishing

McEvoy, J. P., and Zarate, O. 1999. Introducing Quantum Theory. Cambridge: Icon Books

Rosenblum, B., and Kuttner, F. 2011. Quantum Enigma: Physics Encounters Consciousness (2nd Edition). Oxford: Oxford University Press.

Žižek, S. 2004. Organs Without Bodies: Deleuze and Consequence. New York: Routledge

Žižek, S. 2012. Less Than Nothing: Hegel and The Shadow of Dialectical Materialism. New York: Verso.


[1] Efek fotoelektrik adalah salah satu problem dalam fisika kuantum dimana argumen fisika klasik bahwa semakin kuat (atau semakin terang) cahaya, akan semakin besar energi yang dihantarkan kepada elektron. Efek fotoelektrik justru menunjukan bahwa energi elektron sepenuhnya independen dari intensitas cahaya (McEvoy and Zarate 1999, 44-46).

[2] Bagi para materialis (khususnya kalangan materialis dialektis), dualitas ini dianggap sebagai bukti nyata dari kebenaran diktum Marxis mengenai ‘kesatuan atas yang bertentangan’ (unity of the opposite) (Grant and Woods, 2002). Akan tetapi cara penyimpulan seperti ini, bagi saya, adalah upaya yang dogmatis, karena proses ini tidak  lebih sebagai upaya untuk melakukan jutifikasi atas apa yang sudah dipercayai dibandingkan sebagai upaya untuk memahami serius apa yang sebenarnya tengah terjadi. Disini pernyataan Engels menjadi penting, bahwa temuan saintifik harus selalu memiliki implikasi terhadap pemahaman atas materialisme itu sendiri.


comments powered by Disqus