
Keberpihakan Media
DALAM pagelaran pemilu legislatif lalu, kita semua menyaksikan bagaimana media secara terang-terangan menunjukkan keberpihakannya pada partai tertentu. Kenyataan ini membuat banyak orang menggerutu, bahwa media

DALAM pagelaran pemilu legislatif lalu, kita semua menyaksikan bagaimana media secara terang-terangan menunjukkan keberpihakannya pada partai tertentu. Kenyataan ini membuat banyak orang menggerutu, bahwa media

Kredit ilustrasi, Cartoon Movement YANG membedakan analisa Marxis dengan analisa-analisa lainnya yang berangkat dari tradisi pencerahan adalah komitmennya terhadap perubahan. Analisa tidak pernah ditempatkan

Peneliti Asia Monitor Resource Center (AMRC), Hong Kong, Fahmi Panimbang adalah salah seorang figur yang berkutat pada pemeriksaan gagasan ini di ranah empirik. Bagi Fahmi, globalisasi neoliberal yang merupakan bentuk umum dari kapitalisme terkini mempunyai impliksi luas bagi gagasan intrumentalisme negara oleh kapital. Hal ini tentu saja berimplikasi pada bagaimana kelas-kelas sosial diorganisasikan dan mengorganisasikan dalam hubungannya antara negara-kapital itu sendiri, yang membuat kita harus memikirkan kembali bagaimana pengorganisaian sosial yang berkontradiksi dengan kapital itu sendiri. Dalam memahami problem ini, Left Book Review (LBR) melakukan perbincangan dengan Fahmi.

“… cerita-cerita perlawanan yang disajikan dalam buku ini juga sekaligus menunjukkan bahwa selalu ada alternatif dan masyarakat bisa terus berubah, bertransformasi menuju buen vivir/kehidupan baik yang mereka cita-citakan.”
ANALISA EKONOMI POLITIK IDEOLOGI menjadi salah satu sentral Pidato Politik Megawati Soekarnoputri, pada pembukaan Kongres II PDI Perjuangan (PDIP) di Bali beberapa waktu lalu. Pidato itu, mengejutkan

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp) PERLAWANAN “kartini-kartini” Kendeng (Jawa Tengah) terhadap perusahaan BUMN, PT Semen Indonesia, untuk mempertahankan lanskap Pegunungan Kendeng hampir serupa dengan
MASIH segar dalam ingatan kita pada bulan Desember 2011, ratusan warga di Mesuji, Sumatera Selatan, melakukan penyerangan terhadap perusahaan Kelapa Sawit yang merupakan ekspresi dari
BEGITU berkuasa, Orde Baru dengan cepat mengambil kebijakan yang keras terhadap organisasi Islam secara umum. Alasannya sangat jelas: dengan disingkirkannya komunis, Islam politik menjadi satu-satunya kekuatan di Indonesia yang memiliki potensi untuk memobilisasi diri. Munculnya kekuatan Islam yang terorganisir dengan basis akar rumput yang kuat, jelas menentang logika dasar Orde Baru – yang memulai pembangunan kapitalis di atas basis stabilitas sosial yang muncul melalui politik demobilisasi masyarakat secara luas.
Bahwa Islam yang terorganisir kemudian menjadi sasaran utama, terlihat ketika wadah pemilu kaum Muslim, Parmusi, ditolak keberadaannya pada akhir 1960an. Penolakan ini mungkin disebabkan mereka dianggap sebagai pesaing serius yang potensial bagi Golkar, alat yang digunakan Orde baru untuk menjamin sukses pemilu selama lebih dari tiga dekade. Sebagai alternatifnya, rejim Orde Baru secara artifisial membentuk partai lain bagi kalangan Muslim, yang disebut PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Partai ini berfungsi layaknya sebagai wadah pemilu “kalangan Islam” tapi, barang bikin-bikinan inipun, dengan berbagai cara, dipersulit aktivitasnya. Tujuannya, untuk meredam popularitasnya di kalangan rakyat pemilih.

Melalui mekanisme perizinan dan penetapan kawasan hutan negara, perluasan HTI di Kalimantan Barat—wilayah yang secara historis merupakan tanah ulayat masyarakat Dayak Kualan, direorganisasi menjadi kawasan produksi industri.

Sahabat-sahabat, rekan-rekan, Kongres yang mulia, Sungguh suatu kehormatan bagi kami dari Indonesia, utusan-utusan dari Lembaga Kebudayaan Rakyat, untuk menerima undangan dan menghadiri Kongres ke-V Himpunan

BELAKANGAN ini, kita banyak disuguhkan pemberitaan tentang kemunculan generasi baru ‘pemimpin berprestasi’ di banyak daerah di Indonesia. Dari nama-nama yang sudah ada dan cukup populer,
MAAF, ini pembelaan terhadap Stalin. Boleh juga disebut pemujaan. Satu kata: hebat. Itu untuk buku karya Simon Sebag Montefiore, Stalin: Kisah-kisah Tak Terungkap. Sepanjang batang
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.