Membayangkan Teori Pembangunan Baru dari Dunia Selatan

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Jacopo de’ Barbari (Italy), Portrait of Fra Luca Pacioli with a Pupil, 1495–1500


Tulisan ini berasal dari nawala edisi 29The Tricontinental; diterjemahkan dan diterbitkan di sini berkat kerja sama IndoPROGRESS dan The Tricontinental.

RESEP pembangunan dari Dunia Utara, termasuk dogma lama IMF, telah gagal. Sudah waktunya membangun teori pembangunan baru yang berakar pada pengalaman Dunia Selatan.

Sahabat-sahabat yang kami hormati,

Salam dari meja redaksi Tricontinental: Institute for Social Research.

Pada 2015, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menerbitkan makalah ekonom berpengaruh Robert H. Wade berjudul The Role of Industrial Policy in Developing Countries (Peran Kebijakan Industri di Negara-Negara Berkembang). Wade berpendapat bahwa hampir semua upaya industrialisasi yang berhasil pada tahap yang lebih belakangan—seperti yang berlangsung di Jepang dan Korea Selatan—mengandalkan kebijakan negara yang aktif untuk mendorong pembangunan industri dan peningkatan kemampuan teknologi. Pada 2024, hampir satu dekade kemudian, Organisasi Pembangunan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO) menerbitkan laporan utamanya, Turning Challenges into Sustainable Solutions: The New Era of Industrial Policy (Mengubah Tantangan Menjadi Solusi Berkelanjutan: Era Baru Kebijakan Industri). Laporan tersebut menegaskan bahwa kebijakan industri merupakan instrumen penting bagi pembangunan berkelanjutan.

Dalam rentang antara penerbitan tulisan Wade pada 2015 dan laporan UNIDO pada 2024, konteks global mengalami perubahan besar. Belt and Road Initiative (BRI), atau Inisiatif Sabuk dan Jalan, yang diumumkan Tiongkok pada 2013, telah berkembang menjadi salah satu sumber utama investasi infrastruktur dan industri. Antara 2013 dan 2024, keterlibatan kumulatif dalam proyek-proyek BRI mencapai 1,175 triliun dolar AS. Pada 2024 saja, data sementara menunjukkan terdapat sekitar 340 kesepakatan BRI di 87 negara. Sebagian besar keterlibatan tersebut berbentuk kontrak pembangunan, termasuk pembangunan infrastruktur transportasi dan energi, yang keduanya tetap menjadi fondasi penting bagi pembangunan industri.

Dana Moneter Internasional (IMF) tidak dapat menyangkal pentingnya kebijakan industri, tetapi juga tidak bersedia mendukung makalah Wade maupun laporan UNIDO tersebut. Sikap ragu-ragu IMF tampak dari judul sejumlah tulisan blog terbarunya, seperti Industrial Policy Can Lift Productivity – but Comes With Risks and Trade-Offs (2025) dan Industrial Policy Is Adapting to Crises, but Remains Hard to Implement Effectively (2026). Dari sudut pandang IMF, resep pembangunan masa depan masih terikat pada masa lalu yang gagal—masa lalu yang meyakini bahwa privatisasi dan deregulasi akan membuka jalan menuju pembangunan.

Sikap tersebut bertahan meskipun penelitian IMF sendiri menunjukkan bahwa negara-negara Dunia Utara yang mengendalikan organisasi tersebut justru lebih banyak menggunakan kebijakan industri dibandingkan negara-negara Dunia Selatan. Namun, di antara bank-bank sentral dan lembaga-lembaga multilateral, kelompok analis kebijakan dari kalangan arus utama—yang pemikirannya telah dibatasi oleh apa yang disebut brain capture, yakni penyempitan cara berpikir akibat dominasi ortodoksi IMF—justru membatasi perdebatan yang semestinya dipicu oleh laporan utama UNIDO tersebut.

Gambar oleh Tricontinental: Institute for Social Research, 2026

Di sebagian besar Dunia Selatan, keyakinan lama terhadap dogma IMF mulai kehilangan pijakan seiring merosotnya kredibilitas model penghematan anggaran (austerity) yang ditawarkan organisasi tersebut. Namun, apa yang akan menggantikannya masih belum jelas. Sejumlah partai politik berhasil memenangkan pemilu dengan menentang model pembangunan berbasis penghematan anggaran dan menjanjikan alternatif. Akan tetapi, sebagian pemerintahan tersebut gagal merumuskan alternatif yang benar-benar berbeda dan akhirnya kembali tertarik ke dalam orbit IMF. Sri Lanka, misalnya, tetap menjalankan program IMF, sementara Senegal kembali melakukan perundingan setelah kesepakatannya dengan IMF ditangguhkan.

Dilema inilah—hilangnya kredibilitas model IMF sekaligus belum hadirnya alternatif yang meyakinkan—yang menjadi pokok bahasan edisi terbaru Wenhua Zongheng. Edisi tersebut berjudul Building a New Development Theory from the Global South (Membangun Teori Pembangunan Baru dari Dunia Selatan). Edisi ini mengajukan pertanyaan yang tampak sederhana: jika teori-teori yang mengarahkan pembangunan selama satu abad terakhir telah gagal, dari mana teori-teori baru akan lahir?

Kata depan dalam judul tersebut penting: “dari” (from), bukan “untuk” (for). Ini bukan teori yang dirumuskan di tempat lain kemudian dipaksakan kepada Dunia Selatan. Sebaliknya, teori tersebut harus lahir dari berbagai eksperimen, pengalaman, dan upaya masyarakat Dunia Selatan sendiri.

Teori pembangunan tidak hanya berfungsi menjelaskan dunia. Teori juga membentuk harapan politik dengan menentukan apa yang dianggap mungkin dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga sosial. Teori lahir dari cara kita membayangkan masa depan dan, pada gilirannya, memengaruhi cara masyarakat berusaha mewujudkan masa depan tersebut.

Dalam esai pembuka edisi ini, Qin Beichen dan Jing Jun dari Universitas Tsinghua berpendapat bahwa teori membantu menentukan cakrawala tindakan politik. Ketika sebuah masyarakat kehilangan kemampuan untuk membayangkan jalan ke depan, masyarakat tersebut akan terperangkap dalam struktur-struktur lama, bahkan ketika struktur tersebut sudah tidak lagi berfungsi. Di situlah letak krisis yang lebih mendalam pada zaman kita.

Di berbagai belahan dunia, kemampuan untuk membayangkan masa depan semakin melemah. Wacana politik bergerak antara kerinduan terhadap masa lalu yang telah hilang dan ketakutan terhadap bencana yang akan datang. Masa depan, sebagaimana kami tunjukkan dalam dossier nomor 100, tampak hanya sebagai kelanjutan dari ketimpangan masa kini atau sebagai rangkaian krisis baru. Yang hilang adalah imajinasi pembangunan yang meyakinkan dan menempatkan kebutuhan manusia di atas kebijakan penghematan anggaran.

Mai Trung Thứ (Vietnam), Đọc sách (Reading), 1964

Untuk memulihkan kembali kemampuan kita membayangkan teori dan model pembangunan, kita perlu kembali pada sejumlah pertanyaan mendasar:

  • Bagaimana masyarakat membangun kapasitas produktif?
  • Bagaimana masyarakat menciptakan lapangan kerja yang bermakna?
  • Bagaimana negara membangun kemampuan untuk meningkatkan kehidupan rakyatnya?
  • Bagaimana negara-negara keluar dari posisi yang telah ditentukan bagi mereka dalam pembagian kerja internasional yang tidak setara?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terdapat dalam model pembangunan yang abstrak. Jawabannya justru dapat ditemukan dalam teori yang lahir dari berbagai upaya konkret untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Esai Li Xiang dan Feng Chao, keduanya profesor di Shanghai International Studies University, memberikan gambaran yang menarik melalui uraian mereka mengenai kemajuan yang berlangsung di Pakistan dan Vietnam. Keduanya menegaskan bahwa pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya kerja sama Selatan-Selatan.

Li Xiang mengkaji sistem energi Pakistan dan berpendapat bahwa pembangunan tidak seharusnya dipahami semata-mata sebagai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai perluasan kapasitas negara. Proyek-proyek infrastruktur berskala besar, jaringan listrik, serta teknologi baru seperti pembangkit listrik tenaga surya terdesentralisasi tidak hanya dipandang sebagai pencapaian teknis. Semua itu juga merupakan sarana untuk membangun kapasitas kelembagaan yang dibutuhkan bagi bentuk modernisasi baru.

Dengan demikian, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana menghasilkan listrik, melainkan bagaimana infrastruktur mengubah hubungan sosial dan memperkuat kemampuan negara dalam menyediakan barang dan layanan publik.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Sementara itu, Feng Chao mengkaji Silk Road Manufacturing—model baru kerja sama industri di bawah BRI—melalui pengalaman investasi industri Tiongkok di Vietnam. Alih-alih memandang globalisasi sebagai proses yang tidak terelakkan dan sepenuhnya digerakkan oleh kekuatan pasar, Feng Chao melihat integrasi industri sebagai sesuatu yang dapat dirancang dan dikelola secara sadar untuk memperluas kapasitas produksi di berbagai negara.

Penekanannya terletak pada transfer teknologi, peningkatan kemampuan industri, pengembangan tenaga kerja, serta pembangunan jaringan produksi regional yang memperkuat, bukan justru melemahkan, prospek pembangunan negara-negara yang terlibat.

Sana Arjumand (Pakistan), Then Their Shadows Fell from the Sky – 2, 2010

Selama beberapa dekade, pembangunan pada umumnya dipahami sebagai hubungan antara Dunia Utara yang telah mengalami industrialisasi dan Dunia Selatan yang dianggap terbelakang. Aspirasi pembangunan pada masa itu adalah mengikuti jalan yang sebelumnya telah ditempuh negara lain. Namun, pengalaman yang dibahas kedua penulis tersebut menunjukkan bahwa inovasi paling penting justru mungkin kini lahir dari pertukaran pengalaman di antara negara-negara Dunia Selatan sendiri.

Proses industrialisasi, pembangunan infrastruktur, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan kapasitas negara di Tiongkok tidak ditawarkan sebagai cetak biru yang berlaku universal. Semua pengalaman tersebut diperlakukan sebagai sumber pembelajaran dan eksperimen bersama. Dengan demikian, para akademisi tersebut tidak sedang menyerukan penolakan terhadap pengetahuan global, tetapi juga tidak sedang mengagungkan satu model nasional tertentu. Mereka menyerukan pembangunan sebuah proyek intelektual yang benar-benar berangkat dari Dunia Selatan.

Proyek semacam itu harus dimulai dengan meninggalkan anggapan bahwa teori pembangunan selalu harus datang dari tempat lain. Proyek tersebut harus menempatkan produksi di atas spekulasi, pekerjaan di atas ukuran efisiensi yang abstrak, dan kapasitas publik di atas dogma pasar.

Sejarah pengalaman pembangunan di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Karibia perlu dipelajari bukan sebagai penyimpangan dari norma universal, melainkan sebagai sumber inovasi teoretis. Dalam situasi yang ditandai oleh fragmentasi geopolitik, krisis ekologis, dan ketidakpastian ekonomi, inilah mungkin sumbangan paling penting dari edisi tersebut.

Tantangan bagi Dunia Selatan bukan hanya membangun infrastruktur, industri, dan institusi baru, tetapi juga membangun cara berpikir yang baru. Sebelum masyarakat dapat membangun masa depan yang berbeda, mereka terlebih dahulu harus memulihkan kemampuan untuk membayangkan masa depan tersebut.

Abel Beyene (Ethiopia), Behind the Cover, 2025

Ketika membaca kembali esai-esai ini, saya teringat pada puisi Riding Chinese Machines karya penyair muda Ethiopia, Liyou Mesfin Libsekal. Meskipun judulnya menyebut “mesin-mesin Tiongkok”, puisi tersebut sebenarnya tidak menyebut Tiongkok sama sekali. Para politisi Afrika-lah yang merancang kota dalam gambaran Libsekal, dan para pekerja Afrika-lah yang membangunnya. Puisi tersebut tidak mengecam modernisasi dari sudut pandang romantis seolah-olah masa lalu harus dipertahankan. Puisi itu mengakui bahwa perubahan semacam ini selalu memiliki harga yang harus dibayar.

Ada binatang-binatang buas di kota ini
mereka berderit dan menggeram
serta mengerang sejak fajar pertama
ketika tuan-tuan mereka yang berlidah Afrika terbangun
untuk mengarahkan mereka dengan tangan manusia
melewati kesibukan sore
hingga mereka ditangani dan dibuat tak bergerak
diam ketika kita tidur, menjulang atau membungkuk
selalu berat

kita menuangkan semen ke seluruh kota
ke kota-kota kecil, menembus alam liar
terus maju, terus meluas
seperti jari-jari tangan yang penuh hasrat
terentang di atas bumi
menggali ke dalam

singa-singa menyelidiki
dan keajaiban yang terkubur bergemuruh
terdesak demi kemajuan.

Binatang-binatang baru—mesin-mesin Tiongkok—memasuki dunia binatang-binatang lama, yakni singa-singa Afrika. Namun, puisi tersebut tetap mempertahankan keduanya dalam pandangan. Paradigma pembangunan baru tidak boleh mengulangi model lama yang mengorbankan alam dan manusia demi keuntungan.

Sebaliknya, paradigma tersebut harus berusaha mengambil unsur-unsur baik dari pengalaman masa lalu sekaligus mengelola hubungan antara alam dan manusia secara hati-hati demi kepentingan masyarakat. Semangat inilah yang dikedepankan Qin dan Jing dalam esai mereka. Semangat tersebut juga menjadi titik awal bagi setiap teori pembangunan yang benar-benar layak lahir dari Dunia Selatan.

Salam hangat,

Vijay

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.