Ilustrasi: BBC
Wawancara oleh Marco Fernandes, yang disunting Lucas Estanislau, ini terbit pertama kali di Brasil de Fato; diterjemahkan dan diterbitkan kembali di sini untuk tujuan pendidikan.
“KERUSAKAN yang ditimbulkan pada rezim Israel tidak dapat diubah. Saya percaya kita sedang melihat awal dari kejatuhannya,” kata Mohammad Marandi. Ia percaya bahwa “kesuksesan mengesankan Iran dalam beberapa minggu terakhir adalah kemenangan besar bagi umat manusia.” Belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, sebuah negara berhasil menyebabkan kerusakan yang sedemikian besar pada pangkalan-pangkalan AS di seluruh dunia, atau menyebabkan kehancuran yang begitu parah di wilayah yang diduduki secara ilegal oleh Israel di Palestina, seperti yang telah dilakukan Iran dalam 13 hari terakhir.
Pengantar
Menurut pembawa acara dan mantan anggota Parlemen Inggris George Galloway, beberapa sumber anonimnya di Tel Aviv telah melaporkan bahwa sebagian kota Tel Aviv kini menyerupai Gaza yang telah dibom secara kejam oleh rezim Zionis. Mendekati dua minggu perlawanan, Iran tampaknya memegang kendali dalam perang pada saat ini dan mungkin mendikte syarat-syarat untuk mengakhiri konflik.
Dalam beberapa hari terakhir, menurut beberapa media Barat, pemerintah Iran telah didekati dua kali oleh utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, untuk menjajaki kemungkinan negosiasi. Teheran dilaporkan menolak dialog. Setelah dikhianati dua kali dalam negosiasi dengan AS—pada bulan Juni 2025 dan Maret 2026—pemerintah Iran menganggap tidak ada gunanya bernegosiasi saat ini.
Ali Larijani, ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menanggapi unggahan Donald Trump, yang menyebutkan bahwa AS akan segera memenangkan perang, dengan mengatakan bahwa “memulai perang itu mudah, tetapi mengakhirinya tidak dapat dicapai hanya dengan cuitan media sosial. Kami tidak akan melepaskan mereka sampai mereka mengakui kesalahan mereka dan membayarnya.”
Para pejabat di Iran menyatakan bahwa mereka baru saja mulai mengerahkan rudal tercanggih mereka, sementara pertahanan AS dan Israel sudah menunjukkan tanda-tanda kewalahan. Juga menurut media Barat, alarm anti-rudal di Tel Aviv, misalnya, hanya berbunyi beberapa detik sebelum rudal menghantam ibu kota negara tersebut, alih-alih 10 menit seperti biasanya.
Sementara itu, pemimpin tertinggi yang baru terpilih, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyampaikan pernyataan resmi pertamanya kepada rakyat Iran dan memperjelas niat pemerintah revolusioner Islam: “Bagaimanapun juga, kami akan menuntut pampasan dari musuh. Jika mereka menolak, kami akan mengambil dari aset mereka dalam jumlah yang kami anggap pantas; dan jika hal itu juga tidak memungkinkan, kami akan menghancurkan aset mereka dalam proporsi yang sama.” Ayatollah juga mengeluarkan peringatan kepada negara-negara Arab di wilayah tersebut, menyerukan agar mereka menutup pangkalan-pangkalan AS di wilayah mereka, atau mereka akan terus diserang.
Pada titik ini, terlepas dari pemboman yang tak terhitung jumlahnya yang menimpa wilayah mereka dan lebih dari 1.200 orang tewas, kepercayaan diri kepemimpinan Iran sangat mengesankan, yang membuat orang percaya bahwa mereka memiliki kendali penuh atas situasi dan memiliki kejelasan tentang strategi mereka. Hal yang sama tidak dapat dikatakan tentang para pemimpin di Washington, yang sering mengeluarkan pesan-pesan yang kontradiktif dalam beberapa hari terakhir, sementara berbagai kebocoran di media AS melaporkan banyak perubahan dalam strategi mereka sejak awal perang.
Brasil de Fato berbicara dengan salah satu intelektual Iran paling terkenal di luar negaranya, Mohammad Marandi, profesor sastra dan pakar geopolitik di Universitas Teheran. Beliau adalah salah satu penasihat pemerintah Iran dalam negosiasi pembatasan program nuklir JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama) pada 2015-2018, yang berupaya mengatur program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi terhadap negara di Asia Barat tersebut.
Marandi percaya bahwa “kesuksesan mengesankan Iran dalam beberapa minggu terakhir adalah kemenangan besar bagi umat manusia. Dan ini adalah kabar baik bagi mayoritas global, karena ini akan memberi mereka kekuatan dalam menghadapi negara imperialis seperti AS. Hal ini akan menciptakan kepercayaan diri yang lebih besar di antara bangsa-bangsa.”
Simak wawancara lengkapnya di bawah ini:
Brasil de Fato (BdF): Pada hari kedua perang, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam pemboman di kompleks tempat ia tinggal dan bekerja. Para pejabat Iran mengatakan Khamenei menolak untuk bersembunyi di tempat penampungan, bersikeras untuk tetap berada dalam kondisi yang sama dengan penduduk lainnya. Apa yang menjelaskan sikap pemimpin sebuah negara yang sedang berperang ini? Apa konsekuensi dari kehilangan ini bagi revolusi Islam?
Mohammad Marandi: Ayatollah Khamenei terbunuh pada awal mula serangan ilegal ini terjadi. Beliau sedang berada di kantornya, bekerja, dan kantornya tepat berada di sebelah kediamannya. Ia menolak untuk pergi karena ia mengatakan kepada orang-orang bahwa banyak warga Iran, akibat sanksi, sedang berjuang dan tidak punya tempat untuk pergi. Selama mereka tidak punya tempat untuk pergi, saya tidak akan pergi. Beliau meyakini bahwa kantor dan kediamannya adalah target utama. Bahwa jika perang pecah lagi, tempat inilah yang pertama kali akan mereka serang. Namun, ia menolak untuk pergi, dan keluarganya pun menolak untuk meninggalkannya. Oleh karena itu, kepahlawanannya bergema di seluruh Iran.
Beliau selalu menjadi sosok yang sangat populer. Beliau adalah seorang pejuang keadilan sosial. Beliau mendukung gerakan anti-imperialis di seluruh dunia dan, tentu saja, di Palestina. Beliau berpendidikan tinggi, sangat berbudaya, memiliki pengetahuan mendalam tentang sastra, dan fasih dalam empat bahasa. Namun, pengorbanan yang ia lakukan ini berdampak sangat besar pada masyarakat Iran dan memperkuat perlawanan serta ketangguhan rakyat Iran. Hal ini menyatukan mereka lebih dari sebelumnya.
BdF: Trump terpilih dengan janji “Tidak ada lagi perang”—salah satu platform MAGA (Jadikan Amerika Hebat Kembali)—dan jajak pendapat opini publik di AS menunjukkan bahwa kurang dari 30% populasinya mendukung perang melawan Iran. Beberapa hari yang lalu, Tucker Carlson, salah satu pemimpin MAGA dan pendukung Trump, mengatakan bahwa serangan AS dan Israel “keji dan menjijikkan”. Di sisi lain, perang ini menyebabkan harga energi (minyak dan gas alam) meroket, yang kemungkinan akan meningkatkan inflasi di AS (dan di sebagian besar dunia) serta biaya hidup bagi masyarakat. Popularitas Trump sudah sangat rendah, dan konteks ini meningkatkan peluang kekalahannya dalam pemilihan sela (midterm) pada bulan November 2026. Ia sendiri baru-baru ini menyatakan bahwa jika ia kehilangan kendali atas kedua majelis, ia dapat menghadapi pemakzulan. Menghadapi risiko politik yang begitu besar, apa yang menjelaskan keputusan Gedung Putih untuk memprovokasi perang ini? Bagaimana Anda menafsirkan pidato Trump pada 9 Maret lalu, yang menyatakan bahwa misi perangnya hampir selesai?
Marandi: Saya rasa alasan ia mengatakan misi hampir selesai dan bahwa mereka telah memenangkan perang, meskipun kenyataannya mereka jelas-jelas kalah—Amerika Serikat kalah telak dalam perang ini—adalah karena ia sedang mencari jalan keluar. Tetapi Iran tidak akan memberinya jalan keluar dengan mudah. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.
Seperti yang Anda tunjukkan dengan tepat, Trump mulai menjabat dengan platform yang menyatakan bahwa tidak akan ada lagi perang. Namun, ia sangat berada di bawah pengaruh para Zionis. Sekarang, entah karena mereka memerasnya dan memiliki foto atau rekaman dirinya dalam berkas Epstein, atau karena dia dikelilingi oleh kelompok Zionis—menantunya adalah Zionis, teman-teman terdekatnya adalah Zionis, seluruh timnya adalah Zionis—mereka mengutamakan Israel, bukan Amerika Serikat. Atau bisa juga kombinasi dari semua hal tersebut. Bahwa mereka memiliki informasi yang memberatkannya, tetapi juga bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang ini. Tetapi bagaimanapun juga, alasan mengapa perang terjadi adalah karena ini demi kepentingan Zionisme. Hal ini demi kepentingan kelas Epstein, bukan demi kepentingan rakyat Amerika. Ini bertentangan dengan kepentingan rakyat Amerika. Ini bertentangan dengan kepentingan dunia. Dunia saat ini harus membayar mahal karena kelompok Zionis menginginkan perang.
BdF: Pada minggu-minggu menjelang perang, beberapa analis politik dan militer mengklaim bahwa Tiongkok telah mengirimkan peralatan intelijen canggih – seperti kapal Ocean 1 dan radar yang mampu mendeteksi pesawat siluman. Beredar juga rumor bahwa Rusia melakukan hal serupa. Beijing dan Moskow telah mengeluarkan pernyataan yang mendukung kedaulatan Iran dan mengkritik keras serangan kriminal oleh AS dan Israel. Pada saat yang sama, Tiongkok telah merekomendasikan kehati-hatian dalam serangan balasan Iran di negara-negara di kawasan tersebut (misalnya, serangan terhadap kilang minyak dan gas serta pabrik-pabrik di Arab Saudi dan Qatar). Ada juga rumor bahwa Rusia menawarkan untuk memediasi negosiasi antara Teheran dan negara-negara tetangganya, dan Putin telah berbicara dengan Trump melalui telepon pada Senin, 9 Maret 2026. Apakah Anda setuju dengan analisis ini? Bagaimana Anda menilai kemungkinan perkembangan hubungan Iran dengan dua mitra paling strategisnya?
Marandi: Kemampuan Iran sebagian besar adalah buatan dalam negeri. Rudal, drone, pangkalan bawah tanah, pabrik bawah tanah yang memproduksi lebih banyak rudal dan drone. Teknologi dalam negerilah yang berada di balik semua ini. Teknologi mutakhir. Merupakan sebuah tanda kejeniusan Iran bahwa kami telah menciptakan kemampuan militer yang begitu efektif dalam melawan negara adidaya dunia dan koalisi yang bekerja untuknya. Karena seluruh negara Barat mendukung rezim genosida Zionis dan rezim Trump dalam perang ini. Dan hal yang sama juga berlaku untuk perwakilan regional, kediktatoran keluarga Arab di Teluk Persia, Erdogan di Turki, semuanya berada di kubu Amerika. Jadi, saya pikir ini sangat mengesankan bahwa Iran begitu sukses. Luar biasa.
Namun, hubungan Iran dengan Rusia dan Tiongkok sangat baik. Mereka semakin erat selama bertahun-tahun. Setelah perang 12 hari, mereka tumbuh semakin dekat. Dan jelas, Rusia, Tiongkok, dan Iran, tidak satu pun dari kita ingin ekonomi global runtuh. Jadi mereka mencari jalan keluar dari krisis ini. Iran tidak pernah berhenti peduli. Iran tidak menginginkan perang ini. Iran ingin semua pihak dapat melanjutkan bisnis mereka dan ingin agar dapat melanjutkan urusannya sendiri. Namun, agar hal itu terjadi, syarat-syarat tertentu harus dipenuhi. Harus ada ganti rugi atas semua pembunuhan dan kehancuran. Hak-hak dan kedaulatan Iran harus diakui. Harus ada jaminan nyata bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah bisa melakukan hal ini lagi. Jika tidak, gencatan senjata saat ini pada dasarnya akan berarti bahwa Amerika akan menyerang kami lagi dalam beberapa bulan. Sama seperti yang kita saksikan delapan atau sembilan bulan yang lalu.
IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.
BdF: Terlepas dari besarnya kekuatan angkatan bersenjata AS dan Israel, banyak analis militer mengklaim bahwa industri perang AS saat ini memiliki kapasitas yang relatif rendah untuk mengisi kembali persediaan senjatanya demi menghadapi tantangan-tantangan militernya. Di sisi lain, para analis juga menyatakan bahwa, pada hari-hari awal perang ini, Iran terutama menggunakan stok drone dan rudal lamanya untuk menguras pertahanan musuh, dan sekarang mulai menggunakan rudalnya yang lebih canggih. Apakah Anda setuju dengan analisis ini? Apa yang dapat kita harapkan dari perlawanan Iran dalam beberapa hari mendatang?
Marandi: Ya, analisis ini benar. Pihak Iran telah menggunakan semua persediaan lama mereka terlebih dahulu. Dan bahkan senjata-senjata tua ini telah menyebabkan kerusakan yang sangat menghancurkan. Mereka tidak hanya telah menguras banyak pertahanan udara Amerika dan Israel, tetapi banyak dari mereka juga berhasil menembus pertahanan. Karena itu, secara bertahap, pihak Iran juga menggunakan teknologi yang lebih baru. Mereka masih menggunakan rudal dan drone yang lebih tua, tetapi mereka juga menggabungkannya dengan teknologi yang lebih baru. Namun teknologi terbaru belumlah digunakan. Oleh karena itu, Iran memiliki kapasitas untuk melanjutkan perang ini hingga pemilihan sela AS di bulan November dan seterusnya. Hal ini telah mengejutkan pihak Amerika. Dan yang juga penting adalah lemahnya dinas rahasia Amerika dan Israel. Karena mereka memperkirakan bahwa rudal Iran terbatas, kita sekarang melihat Iran menembakkan drone dan rudal tanpa henti. Jadi, Mossad dan CIA jelas sangat, sangat ditaksir terlalu tinggi (overrated).
BdF: Sejak berakhirnya Perang Dingin (1991), AS telah terlibat dalam banyak perang, tetapi selalu dengan lawan militer yang jauh lebih lemah, seperti Irak (1991), bekas Yugoslavia (1999), Irak (2003), Afghanistan (2003), Libya (2010), Suriah (sejak 2014), dan lain-lain. Iran tampaknya menjadi lawan pertama yang mampu merespons secara memadai terhadap serangan oleh AS—dan Israel, secara bersamaan. Terlepas dari hasil akhir perang ini, Iran telah mencapai prestasi bersejarah, seperti menyerang dan hampir menghancurkan hampir 20 pangkalan Amerika di Asia Barat, termasuk radar canggih—yang berharga miliaran dolar—dan menimbulkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Israel. Menurut Anda, apa saja kemungkinan konsekuensi historis dari pencapaian Iran ini? Apakah Iran berniat untuk mengusir AS dari kawasan tersebut selamanya?
Marandi: Ya, Iran ingin memastikan bahwa di masa depan, Amerika Serikat tidak dapat lagi memaksakan hegemoninya di kawasan ini dan agar Amerika berperilaku layaknya negara normal. Kesuksesan mengesankan Iran dalam beberapa minggu terakhir adalah kemenangan besar bagi umat manusia. Dan ini adalah berita bagus bagi mayoritas global karena hal ini akan memberdayakan mereka dalam menghadapi imperialis. Hal ini akan menciptakan kepercayaan diri yang lebih besar di antara bangsa-bangsa. Ketangguhan Iran, ketangguhan rakyat Iran, sungguh unik. Dan mereka mampu melakukan apa yang dipikirkan semua orang sebagai sesuatu yang mustahil. Semua orang berpikir Iran akan runtuh. Kami tidak pernah berpikiran demikian. Namun, di luar Iran, semua orang berpikir ini akan menjadi hal yang mudah bagi Amerika Serikat. Jadi, Iran sedang melakukan pengabdian besar kepada umat manusia, dan kami berharap dunia akan mampu membebaskan dirinya dari belenggu kekaisaran jahat ini.
BdF: Selama beberapa dekade, Iran telah menerapkan rencana strategis—berdasarkan konsep “ekonomi perlawanan”—untuk mencapai keunggulan teknologi di sektor-sektor tertentu, seperti energi nuklir, nanoteknologi, AI, kedokteran, kedirgantaraan, dan rudal. Sebagai permulaan, negara ini telah memastikan masifikasi pendidikan tinggi, yang melonjak dari 175.000 mahasiswa pada tahun 1979 (tahun revolusi) menjadi 4,8 juta pada tahun 2015. Saat ini, Iran juga menonjol sebagai salah satu negara yang paling banyak melatih insinyur di dunia (berada di peringkat ke-5 hingga ke-7, tergantung pada tahunnya). Apakah strategi ini—yang kebetulan menyerupai model Tiongkok—yang menjelaskan ketahanan Iran dalam perang ini, serta kemampuannya untuk memberikan pukulan terhadap kehadiran neokolonial AS di kawasan tersebut? Bagaimana strategi ini diperdebatkan dan dikembangkan di negara tersebut? Apa peran Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam strategi ini?
Marandi: Ayatollah Khamenei adalah tokoh kunci yang mempromosikan ekonomi perlawanan. Faktanya, ungkapan ini adalah sesuatu yang mulai ia gunakan di depan umum. Dan terdapat banyak penolakan terhadap konsep ini di berbagai pemerintahan. Jika mereka mendengarkannya, kita akan berada dalam posisi yang lebih baik hari ini. Namun rakyat Iran memilih untuk mengembangkan kemampuan mereka sendiri, baik sipil maupun militer, mereka memilih jalan yang independen dalam kebijakan luar negeri, mereka memilih jalan kemandirian dalam pertanian, industri, dan bidang teknologi tinggi. Dan, tentu saja, semua ini terjadi di bawah tekanan maksimum, sanksi, berbagai perang, dan terorisme.
Kita melihat beberapa bulan yang lalu bagaimana Mossad dan Amerika Serikat membunuh ratusan petugas polisi dan sukarelawan di jalanan di berbagai kota, menciptakan kekacauan massal, dan menghancurkan begitu banyak layanan publik. Mereka terus-menerus mencoba untuk melemahkan negara, untuk menciptakan kehancuran. Kita melihat perang yang mereka kobarkan delapan atau sembilan bulan yang lalu. Selama 47 tahun, mereka telah mencoba melemahkan Iran. Namun, di bawah sanksi tekanan maksimum ini, di bawah peperangan dan terlepas dari berbagai perang, terorisme, dan propaganda anti-Iran yang tersebar di seluruh dunia melalui media mereka yang kuat, Iran telah bertahan dan makmur serta kini mempermalukan Amerika Serikat di medan perang.
BdF: Menurut berbagai media Barat dan regional, Israel telah memberlakukan rezim penyensoran yang ketat pada gambar-gambar kerusakan yang disebabkan oleh serangan Iran di Tel Aviv dan kota-kota Israel lainnya, baik untuk saluran televisi maupun video telepon seluler yang direkam oleh warga biasa. Di sisi lain, beredar rumor di media sosial mengenai tingginya jumlah korban di pihak Israel dan AS, termasuk personel militer, agen intelijen (CIA dan Mossad) serta warga sipil. Data publik apa yang dimiliki pemerintah Iran mengenai jumlah korban musuh pada saat ini? Terlepas dari penyensoran tersebut, gambar-gambar terbaru mengenai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tel Aviv telah beredar ke seluruh dunia. Ada rumor bahwa saudara laki-laki Netanyahu telah tewas dan bahwa mantan menteri dan pemimpin sayap kanan ekstrem Ben-Gvir terluka parah. Apakah pemerintah Iran mengonfirmasi informasi ini?
Marandi: Apa yang bisa dikatakan adalah bahwa kehancuran di seluruh wilayah Palestina yang diduduki sangatlah besar. Dan fakta bahwa ada penyensoran yang belum pernah terjadi sebelumnya serta negara-negara Barat menyetujuinya menunjukkan bahwa kondisinya sangat buruk. Namun, hal ini juga menunjukkan bahwa kebebasan informasi adalah sebuah kemustahilan/absurditas di Barat. Mereka hanya menginginkan kebebasan informasi ketika hal itu melayani kepentingan mereka. Tetapi ketika hal tersebut bertentangan dengan kepentingan mereka, rezim Israel tidak hanya dapat memberlakukan penyensoran—atau penyensoran total—tetapi seluruh negara Barat akan bekerja sama dengan hal tersebut.
Oleh karena itu, saya pikir hal ini semakin mengungkap sifat media Barat, pemerintah Barat, dan institusi Barat. Namun kerusakan yang ditimbulkan pada rezim Israel tidak dapat dipulihkan. Di masa depan, tidak akan ada orang yang berinvestasi di Israel karena mereka tahu Israel akan selalu rentan. Saya percaya kita sedang melihat awal dari kejatuhan rezim Israel. Dunia membencinya karena genosida di Gaza, serangan genosida di Lebanon, dan perang yang tiada akhir. Namun, rezim ini juga telah menunjukkan dirinya rentan, sangat rentan. Hal yang sama juga berlaku bagi semua perwakilan Amerika di Teluk Persia, orang Saudi, Emirat, Kuwait, Bahrain, pemerintah Oman; mereka semua pada dasarnya membiarkan diri mereka menjadi alat Amerika Serikat. Mereka mengizinkan pangkalan Amerika untuk digunakan melawan Iran. Dan di masa depan, mereka tidak akan pernah lagi memiliki status seperti yang mereka miliki dua minggu lalu, sebelum terjadinya perang.
BdF: Pada minggu lalu Majelis Ahli mengumumkan terpilihnya pemimpin tertinggi Iran yang baru, putra dari Ayatollah Ali Khamenei. Bagaimana Majelis Ahli dipilih? Apa kriteria untuk memilih pemimpin baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei? Apa karakteristik personal dan politik yang menonjol pada diri pemimpin baru ini? Apa yang bisa kita harapkan dari kepemimpinannya?
Marandi: Semua anggota Majelis Ahli adalah para ahli hukum tingkat tinggi. Mereka dipilih setiap delapan tahun. Mereka memutuskan siapa yang menjadi pemimpin. Mereka dapat memilih pemimpin dan mereka dapat memberhentikannya, menurut Konstitusi. Itulah peran mereka. Mereka mengawasi apa yang dilakukan pemimpin. Mereka memilih Ayatollah Mujtab al-Khamenei, yang merupakan seorang akademisi tingkat tinggi di hawjah. Beliau adalah seorang ahli hukum. Beliau telah mengajar para peneliti dan mahasiswa tingkat tinggi selama 20 tahun.
Namun, beliau juga telah berada di kantor pemimpin selama bertahun-tahun ini. Jadi beliau berpendidikan tinggi, beliau adalah seorang akademisi senior, namun beliau juga sangat akrab dengan apa yang terjadi dalam kebijakan luar negeri Iran, urusan militer, ekonomi dan lain-lain. Beliau selalu sangat berhati-hati memastikan agar tidak satu pun dari anak-anaknya memiliki kepentingan bisnis apa pun. Bukan berarti beliau menentang sektor swasta, melainkan beliau menentang anggota keluarga dekatnya memiliki keterlibatan apa pun dengan sektor swasta. Oleh karena itu, semua putra, putri, menantu perempuan, dan menantu laki-lakinya adalah akademisi atau guru.
Ayatollah Mojtaba Khamenei juga memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, seperti ayahnya. Dan ia sangat memahami jalannya negara. Saya percaya ia adalah seorang pembela, seperti ayahnya, bagi kaum yang tertindas. Itulah mengapa Iran telah membantu negara-negara seperti Kuba, Venezuela dan Nikaragua di bawah sanksi, atau perlawanan di Afrika Selatan dan, tentu saja, rakyat Palestina serta bangsa-bangsa lain yang ditindas oleh imperialis. Oleh karena itu, sehubungan dengan kebijakan luar negeri Iran secara umum, saya yakin bahwa kita akan melihat kelangsungan pandangan dunia politik kita.
Lebih jauh lagi, Ayatollah Mujtaba Khamenei, pemimpin baru, belum pernah menjadi figur publik. Beliau tidak pernah tampil di televisi. Beliau tidak pernah terlihat di televisi. Begitu pula dengan putra-putra Ayatollah Khamenei lainnya. Jadi beliau hanyalah seorang sarjana (ulama), tetapi beliau juga berpengalaman karena telah bekerja dan membantu almarhum ayahnya.***




