Marxisme dan Multiverse

Print Friendly, PDF & Email

Foto: ArminEP / Pixabay


SIAPA sih di dunia ini yang tidak mau punya jalan hidup mulus? Sayangnya, tidak semua hal bisa sesuai dengan keinginan dan rencana. Para pahlawan super Marvel seperti Spiderman bahkan ingin menghapus ingatan semua orang tentang dirinya; Scarlet Witch memanipulasi warga satu kelurahan untuk memenuhi mimpinya; dan Doctor Strange yang paling sakti pun di lubuk hatinya yang terdalam menyimpan keinginan untuk hidup bersama mantan kekasih

Kita yang cuma pekerja biasa tentu mengalami hal sama. Boro-boro mengganti tatanan kapitalisme atau mengubah dunia, membuat pengeluaran seimbang dengan pendapatan tiap bulan pun kadang cuma jadi wacana.

Di tengah gaji yang cuma segini, kadang ingin rasanya merekonstruksi kenyataan seperti Peter Parker atau mencoba melompat ke semesta lain seperti Wanda Maximoff. Ya, barangkali di sana kapitalisme tak pernah ada atau mungkin saja lebih baik ketimbang yang sekarang kita alami. 

Tapi apa benar begitu? Wah, kalau benar seperti itu, berarti dunia yang lebih baik mungkin ada tanpa perlu hadirnya sosialisme. Ini artinya marxisme, atau kajian kritis tentang cara produksi kapitalisme, selama ini salah total. Gawat, bisa-bisa Lenin dan Mao bangkit dari mausoleumnya kalau mendengar cerita ini.

Sebelumnya, apa sih sebenarnya multiverse itu? Mereka yang menonton Spider-Man: No Way Home dan Doctor Strange: Multiverse of Madness mungkin sudah paham. Singkatnya, multiverse merupakan berbagai semesta lain yang eksis paralel dengan semesta kita saat ini. Di sana ada ruang, waktu, materi, energi, manusia dan segala hal ihwal yang sama dengan yang kita rasakan sekarang. Ada kebudayaan, negara, pemerintah, politikus, selebritas, hingga influencer yang sama dengan sedikit variasi. Tentu ada saya juga di sana, tapi bukan Hugo si penulis Indoprogress melainkan Hugo si pebisnis sukses. 

Saya dalam satu universe tak pernah kenal dengan saya di universe lain karena saya hanya bisa hidup di semesta ini. Namun ada seorang anak perempuan bernama America Chavez yang punya kekuatan super untuk bisa melintasi tiap universe dalam multiverse.


Perabot yang Sama Persis

Mari bayangkan: Anda ikut bersama America dan Doctor Strange melintasi multiverse lalu mendarat di bumi dalam semesta lain, yang punya kondisi serupa namun tanpa hal-hal buruk. Dalam bumi paralel tersebut, para pekerja menikmati hari-harinya di perusahaan milik kapitalis yang dengan murah hati mengizinkan mereka berserikat namun tak pernah berdemo karena sudah bahagia. Buruh dan para intelektualnya mungkin tak kenal konsep eksploitasi, apalagi baca Das Kapital dan belajar pemikiran kiri. Para kapitalis pun sekaligus filantropis sejati dan berkontribusi besar kepada negara untuk melindungi lingkungan. Saya yakin Anda akan bahagia tinggal di sana.

Namun, misalnya Anda belajar marxisme, apakah saraf otak Anda tak tergerak untuk bertanya-tanya di mana kapitalisme yang selama ini disalahkan atas kemiskinan dan kerusakan lingkungan? 

Ternyata marxisme tidak relevan di bumi paralel itu. Barangkali di sana Marx hanya seorang wartawan dan Engels cuma kapitalis pemilik pabrik bahan. Habis sudah Anda dijadikan badut oleh para libertarian. Mereka bakal terbahak-bahak menertawakan keabsurdan marxisme yang selama ini Anda fafifu-kan. Sudahlah, nikmati saja hidup di universe-sebelah-sana itu sambil menertawakan diri sendiri.

Oh, tapi ternyata Anda orang yang kepo dan tidak mau ditertawakan. Lantas bagaimana membuktikan bahwa marxisme juga relevan di semesta paralel itu? Apa benar di universe lain tak ada kapitalisme? Mari kita coba telaah.

Pertama, coba kita amati kondisi keseluruhan masyarakat. Kita mulai dari hal ihwal apa saja yang ada di sana dan bagaimana kisahnya. Misalnya kita diajak ke Sanctum Sanctorum alias kediaman Doctor Strange. Perhatikan keramik, pintu, jendela, hingga perabot di dalam rumah. Benda-benda itu pasti dibuat oleh seseorang (atau sekumpulan orang) di luar–kecuali Doctor Strange memunculkannya memakai ilmu sihir.

Keberadaan benda-benda tersebut, yang jelas, mensyaratkan manusia biologis yang hidup dalam masyarakat yang berkebudayaan. Buktinya? Teknik menukang dasar sebelum ada Youtubemisalnya, kurang lebih hanya bisa ditemukan lewat tradisi lisan orang yang lebih tua atau pekerja bangunan yang entah sengaja tak sengaja berbincang dengan Anda. Belum lagi soal estetika desain perabot. Lalu ada bengkel-bengkel atau pabrik perabot, ada pemiliknya dan berbagai pekerjanya–dari penukang hingga akuntan. Semua hanya dimungkinkan lewat relasi sosial dalam masyarakat yang kehadirannya punya sejarah panjang–sejak Homo Habilis muncul sekitar 2 juta tahun yang lalu.

Kedua, sekarang kita amati bagaimana orang-orang di universe-sebelah-sana itu memenuhi kebutuhan hidupnya. America sempat bercerita kepada Doctor Strange bahwa di salah satu universe Anda tidak perlu membayar apa pun untuk makanan. Nah, coba kita perhatikan di semesta yang satu ini, apakah mereka menggunakan sesuatu seperti mata uang untuk membeli makan?

Kalau jawabannya “tidak”, berarti kita menemukan bentuk masyarakat baru yang unik dan perlu diteliti lebih lanjut. Jika “ya”, artinya kemungkinan besar orang-orang di sana hidup dalam sebuah hubungan yang dinamakan relasi upahan. Ini adalah relasi pertukaran sebuah komoditas, yaitu tenaga kerja, untuk sebuah komoditas universal yang dapat ditukarkan dengan semua komoditas untuk dikonsumsi nilai gunanya. Dari sana, kita bisa menemukan kategori sosial yang khas, yaitu pemilik komoditas tenaga kerja yang disebut pekerja dan pemilik komoditas universal atau uang yang disebut kapitalis. Biasanya hubungan keduanya menjadi relasi dominan yang menggerakkan kehidupan masyarakat.

Kita sudah menemukan dua kekhasan: banyaknya barang-barang yang diproduksi di sana dan relasi upahan antara pekerja dengan kapitalis. Apa sudah bisa disimpulkan bahwa gejala yang ada di semesta paralel ini juga adalah kapitalisme? Secara kasar sudah, namun ada satu lagi kekhasan yang tampaknya mesti dicari, yaitu yang ketiga: eksploitasi.

Bagaimana cara menemukannya? Sekarang, coba Anda amati lebih dalam mekanisme masyarakatnya. Lho, kok tidak kelihatan ya? Tentu saja, sebab eksploitasi tak dapat dilihat dengan mata telanjang kita yang dewasa ini dimanjakan oleh promo-promo e-commerce beserta serial menarik di Netflix dan Disney Hotstar. Eksploitasi bagaikan gravitasi dan evaporasi, prosesnya tak langsung menampak namun efeknya terkadang bisa teramati. Jika demikian, kita coba melihat dari yang terlihat, yaitu efeknya. Dan dengan bantuan teori, kita bedah mekanismenya.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.


Relasi Eksploitasi

Sekarang kita lihat: apakah di universe ini ada sekelompok orang yang lebih kaya ketimbang sebagian lainnya? Lalu apakah ada orang-orang yang mesti bekerja seharian penuh untuk kehidupannya, orang-orang yang seakan memiliki pola tetap dalam kesehariannya dan lain sebagainya? Jika Anda menemukannya, barangkali tak sulit untuk membayangkan ada sebuah proses eksploitasi yang berlangsung di balik berjalannya roda masyarakat. Namun, apa sesungguhnya eksploitasi itu? 

Bayangkan Anda membuat perjanjian bekerja dengan pemilik pabrik. Isinya menyebut Anda akan bekerja selama 8 jam sehari dengan upah senilai 200 ribu per hari. Maka, kira-kira dalam sejam upah Anda senilai 416. Karena kemajuan teknologi dan alat-alat produksi yang canggih, dalam sejam Anda dapat membuat komoditas yang senilai 1.248 atau tiga kali lipatnya. Dalam 8 jam bekerja Anda sudah memproduksi komoditas senilai kurang lebih 600 ribu. Ada selisih 400 ribu–nilai yang tak Anda terima. Perbedaan antara nilai yang telah Anda curahkan dan yang Anda terima inilah yang menjadi persoalan.

Ke mana perginya? Tentu saja ke pemilik alat-alat produksi aka penguasa pabrik aka pemilik perusahaan atau, ya, kapitalis. 

Kekhasan ketiga inilah yang tak dapat dimungkiri kehadirannya, entah betapa pun baik dan indah kelihatannya bentuk masyarakat kapitalisme hari ini. Faktanya, tak cuma kepada pekerja, eksploitasi kapitalisme juga berdampak ke lingkungan hidup yang gerak reproduksinya berbeda dengan kapitalisme. Sementara alam punya batas dan waktu untuk sejenak berhenti, kapitalisme mesti terus berakumulasi.

Kalau Anda sudah menemukan kekhasan yang ketiga di bumi paralel, sudah dapat dipastikan di sana juga ada kapitalisme. Jika di sana kapitalisme eksis, marxisme sebagai pisau analisis dan kritik juga eksis. Atau, apabila tidak ada, ia minimal dapat hadir pula dalam sejarah.

Dengan demikian, Anda bisa mengingatkan para pekerja di sana untuk segera menyadari penyakit laten dari kapitalisme ini. Supaya bisa mengambil sikap. Sebab gejalanya baru terasa empiris ketika pekerja dirumahkan lalu kesulitan menjadi pekerjaan dan sangat terasa apabila kepunahan massal umat manusia datang kelak.

Duh, pupus sudah niatan pindah ke universe yang kita bayangkan tak terjangkiti kapitalisme. Ternyata di sana juga ada gejala-gejala yang sama dengan di bumi ini, entah kapitalisme atau apa namanya, yang pasti masyarakatnya bertopang pada eksploitasi satu kelas terhadap yang lainnya.

Kabar buruknya, kita terpaksa mesti menghadapi beratnya kenyataan hidup dan tidak dapat minta tolong kepada Doctor Strange untuk mengubahnya seperti kemauan kita. Jalan satu-satunya tentu lewat bertahan dan melawan. Lewat konsisten mempelajari perkembangan dari kapitalisme inilah, dan dengan serius bersatu berbagi tugas dalam memperjuangkan nasib kelas sendiri, maka kapitalisme kelak dapat diubah.

Kabar baiknya, selama masih ada penindasan satu kelas atas kelas lain dan pencurian nilai lebih, maka marxisme akan tetap selalu relevan sebagai kritik atas kapitalisme entah bagaimanapun tampilannya. Jadi, tuduhan tak berdasar yang selama ini dilayangkan, bahwa marxisme tak relevan lagi, hanya bermuara ke dua kesimpulan: antara mereka tak benar-benar memahami atau tak pernah membaca karya Marx-Engels sama sekali.

Namun, ada satu hal penting lain yang harus diingat: kebenaran konsep-konsep marxisme mesti ditemukan dan diuji di dunia nyata tempat kita semua menapak, bukan hanya dilantunkan ayat-ayatnya dari menara gading lalu dipercaya dapat mengusir roh jahat kapitalisme. Dengan itu biscaya marxisme akan terasa manfaatnya secara praktis bagi orang banyak. 

Memang tidak semudah itu, Ferguso! Kita kembali lagi ke dunia nyata. Faktanya marxisme masih kerap jadi momok di Indonesia. Buktinya TAP MPRS No. 25 tahun 1966 masih eksis. Ya, meski kita semua sudah mengetahui, barangkali belum tentu atau tentu bukan marxisme biang keroknya. Tapi sudah setengah abad telanjur dituduh bersalah, mau tak mau mesti diterima.

Mungkin ada benarnya unek-unek Wanda ke Doctor Strange: kamu melanggar aturan dan menjadi pahlawan, aku melakukannya dan aku menjadi musuh, rasanya tidak adil. Barangkali lebih tepatnya: kapitalisme melanggar aturan dan menjadi pahlawan, marxisme belum tentu melakukannya dan menjadi musuh, rasanya tidak adil.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.