Korporatokrasi: Negara sebagai Pengabdi Perusahaan (Bagian II)

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Jonpey


Tulisan berseri ini pernah diterbitkan di terbitan Walhi dan didiskusikan di Walhi, dan juga sebagai catatan dan status Facebook penulis. Disusun di tengah peningkatan dan percepatan intensitas penindasan kaum kiri di Amerika Selatan, Karibia, dan Indonesia oleh kaum kanan (dalam kasus Indonesia, dan dalam perspektif ekonomi-politik, saya tidak mengidentikkan kaum kanan sebagai kubu 212). Prabowo dan tentara, Jokowi dkk. bisa dikategorikan sebagai kaum kanan—mungkin ada yang mengkategorikan kurang kanan (lesser evil), tapi yang jelas bukan kurang kiri).


Ruang Hidup Korporatokrasi: Konsentrasi/Sentralisasi Tenaga Produktif, Akumulasi Modal, Perluasan Pasar, dan Krisis Kapitalisme (Global)

Untuk memahami perkembangan kapitalisme, kita tidak boleh mengabaikan dinamika hukum-hukumnya—sebagaimana telah dirumuskan oleh Marx dan Engels, ataupun yang tak sempat mereka amati. Karena di dalam perkembangannya, kapitalisme dibebani oleh hukum (besi) yang melekat di dalamnya (inheren). Dalam Kesimpulan Garis Besar Sketsa Evolusi sejarah, Engels mengatakan:

Di satu pihak, penyempurnaan mesin-mesin, yang dirangsang oleh persaingan—yang merupakan kewajiban bagi setiap individu pemilik pabrik—diembel-embeli oleh semakin meningkatnya pemutusan hubungan kerja, bala tentara pengangguran, atau pasukan cadangan industri. Di lain pihak, perluasan produksi tanpa batas—yang di bawah tekanan persaingan, juga merupakan kewajiban bagi setiap pemilik pabrik. Gabungan keduanya menghasilkan perkembangan tenaga-tenaga produktif yang sebelumnya tak pernah ada, kelebihan penawaran dibanding permintaan, kelebihan produksi (over-production), banjir barang-barang dagangan di pasar-pasar. […] Kelas kapitalis itu sendiri dipaksa secara sepihak untuk mengakui watak sosial tenaga-tenaga produktif. Lembaga-lembaga besar harus mengambilalihnya—guna kepentingan produksi dan komunikasi—pertama-tama oleh perusahaan saham-gabungan, kemudian oleh gabungan perusahaan dan, pada akhirnya, oleh negara.[1]

Mengenai kecenderungan penggabungan perusahaan ini, bandingkan dengan komentar Doug Lorimer:


Untuk mengendalikan akumulasi kapital, menurut Marx, caranya harus dengan mempertentangkan kapitalis dengan buruh, dan mempertentangkan buruh dengan buruh. Dan, selain itu, juga harus mempertentangkan kapitalis dengan kapitalis. Setiap kapitalis ‘harus tunduk pada hukum mati produksi kapitalis, hukum eksternal dan memaksa’. Karena semua daya upayanya ditujukan untuk mengakumulasi kapital, atau sekadar berfungsi dalam proses akumulasi kapital, maka seorang kapitalis mau tidak mau harus berseteru dengan kapitalis lainnya. Proses akumulasi kapital dan persaingan antar-kapitalis semakin lama akan semakin mengkonsentrasikan dan mensentralisasikan kapital ke tangan segelintir kapitalis saja, layaknya ikan besar melahap ikan kecil.[2]


Aspek lainnya dari perkembangan kapitalisme adalah perkembangan spekulasi saham dan finansial. Hal ini tak sepenuhnya diamati oleh Marx. Engels lebih sadar tentang aspek ini. Dalam catatan tambahan untuk Capital, Jilid III, ia menyinggung persoalan ini.


[…] bursa saham masih merupakan elemen sekunder dalam sistim kapitalis, namun setelah masa itu mulai nampak perubahannya. Sekarang ini, bursa saham memegang peranan yang sangat penting dan terus menerus berkembang sehingga, kemudian, cenderung mengkonsentrasikan seluruh cabang produksi—apakah itu industri atau pun pertanian, bersama dengan seluruh perdagangannya; apakah itu alat-alat komunikasi maupun pertukaran fungsinya—ke tangan para spekulator bursa saham, sehingga bursa saham menjadi perwakilan produksi kapitalis yang sedemikian penting.[3]


Mengapa uang yang beredar di pasar saham semakin banyak? Menurut Allen Myers, hal ini diakibatkan oleh krisis overproduksi.


Namun, alasan utama mengapa begitu banyak uang yang digunakan dalam spekulasi semacam itu adalah karena krisis kelebihan produksi/kelebihan kapasitas. Terlalu banyak kapital yang tidak bisa diinvestasikan kembali.[4]


Fidel Castro juga pernah berkomentar tentang fenomena ini.


Sekarang ini, dalam skala dunia, jumlah transaksi harian penjualan mata uang asing (yang langsung bisa disediakan) diperkirakan mencapai US$ 1,5 trilyun. Jumlah tersebut tak termasuk dengan apa yang disebut sebagai operasi-operasi keuangan tambahan, yang jumlahnya kurang lebih sama. Camkanlah perbandingannya dengan jumlah total ekspor dunia dalam satu tahun, yang berjumlah sekitar US $ 6.5 trilyun, sehingga kita bisa membayangkan: betapa luar biasa besarnya jumlah transaksi moneter yang tak berkaitan dengan perdagangan nyata.[5]

Ketimpangan antara besarnya gelembung spekulasi finansial ini dengan perdagangan nyata yang terjadi di lapangan sesungguhnya memendam resiko tinggi.


Total saham aset-aset keuangan seperti saham perusahaan dan macam-macamnya, obligasi (hutang) negara, dan lain sebagainya, naik dari 5 trilyun dollar, pada tahun 1980, menjadi 35 trilyun dollar, pada tahun 1992, dan diharapkan akan naik lagi menjadi 80 trilyun dollar, dan itu artinya tiga kali lipat nilai total barang dan jasa yang diproduksi oleh ekonomi kapitalis maju. Begitu banyaknya uang yang dispekulasikan menjadi uang, tanpa menjadi produksi riil, tanpa menjadi perdagangan nyata, sehingga bila tak diatasi akan memperbesar dan mempercepat pecahnya gelembung finansial yang mematikan produktivitas dan kemampuan daya beli masyarakat. Bahkan seorang Keynes pun percaya bahwa kebangkitan kapital finansial, sebagaimana yang terjadi pada tahun 1920-an, akan mengakhiri rasionalitas kapitalis, mengubah perusahaan produktif menjadi (dalam bahasanya) suatu ‘gelembung di atas pusaran-air spekulasi’.[6]


Perkembangan yang didorong oleh hukum-hukum tersebut pada akhirnya (dalam siklus krisis) akan menghasilkan ekses lanjutan. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Secara tipikal, bisa disimpulkan bahwa suatu perputaran krisis muncul akibat adanya kesenjangan antara nilai dengan harga. Selama periode boom, karena harga-harga dan keuntungan meningkat, bahkan kapitalis yang paling tak efisien pun bisa menghasilkan laba. Dan karena setiap orang berupaya merebut peluang, maka terjadi kelangkaan, yang akan menyebabkan naiknya harga-harga dan keuntungan yang lebih besar lagi. Tingkat harga rata-rata meningkat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi di atas tingkat nilai rata-rata. Akibatnya, modal yang kurang efisien akan tersingkir bersama tenaga kerja sosial yang tak bisa digunakan lagi (pemborosan).


Demikian pula, kesenjangan antara nilai dengan harga menjadi terlalu besar, sehingga tiba-tiba menyebabkan sebagian besar kapitalis tak mungkin lagi bisa mendanai biaya produksi[7] dan menghasilkan keuntungan normalnya. Depresi/resesi klasik diatasi dengan meredam kontradiksi yang paling penting, yakni mengupayakan keseimbangan (kembali) antara nilai dengan harga—terutama melalui pernyataan pailit atau pengambilalihan perusahaan-perusahaan yang kurang efisien—atau, dengan kata lain: penghancuran kapital.[8]


Redaksi Monthly Review percaya bahwa kapitalisme memiliki wajah yang baru: pertumbuhan yang melambat, kapital berekses, dan menggunungnya utang. Sektor finansial ekonomi kapitalis tidak lagi sekadar diarahkan demi kebutuhan produksi, meningkatkan kesempatan kerja, dan investasi. Dimulai sejak tahun 1980-an, sektor finansial semakin menjadi bentuk otonom mata pencaharian (mencari uang), khususnya di pasar-pasar derivatif. Kecepatan pertumbuhan dan ambruknya nilai-nilai finansial menambah resiko bahkan pada kesejahteraan individual. Dan karena sektor finansial secara keseluruhan merupakan bagian yang sangat penting, maka resikonya pun akan membebani ekonomi secara keseluruhan—apalagi bank bisa meminjamkan hingga 95% dana bagi aktivitas pembelian derivatif. 


Dalam kapitalisme monopoli, ekses kapasitas tidak bisa dipandang sekadar sebagai gejala temporer yang berkaitan dengan siklus penurunan bisnis. Sebagaimana yang dikatakan oleh Josef Steindl dalam tulisannya Maturity and Stagnation in American Capitalism (New York: Monthly Review Press, 1976, hal. 10-12), “kelesuan” atau “ketidakseimbangan” ekses kapasitas bisa saja “dalam makna praktis […] permanen”, selalu mengekor pada kecenderungan fundamental ekonomi yang sedang menuju stagnasi.[9]


Bahkan Bank Dunia, saat menilai kondisi Asia Timur, pun menyatakan:


[…] tak diragukan lagi bahwa hidup puluhan juta manusia akan semakin terpuruk dalam beberapa tahun ke depan. Krisis yang demikian parah sekarang ini merupakan peringatan bahwa penderitaan atas hilangnya potensi manusia tetap akan terasa selama bertahun-tahun sekalipun krisis tersebut sudah berlalu. Anak-anak yang terpaksa harus putus sekolah telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Di Indonesia, sebagai contoh, pejabat pemerintahnya melaporkan bahwa jumlah yang mendaftar sekolah menurun secara drastis, dari 78% menjadi 54%. Tekanan ekonomi telah memaksa banyak keluarga tercerai berai, memaksa gadis-gadis belia menjadi pelacur, dan menyebabkan para manula miskin terancam hidupnya.[10]


Nampaknya krisis dunia memang akan merupakan siklus krisis jangka panjang. Krisis Asia menandai permulaan sebuah siklus krisis kelebihan produksi (cyclical over-production) dalam perekonomian dunia, seperti yang terjadi pada tahun 1974-1975, pada tahun 1980-1983, pada tahun 1990-1993, pada tahun 1997-2000-an, dan sekarang tanda-tandanya sudah mulai kelihatan (dengan adanya krisis finansial ekonomi Amerika). Dalam laporan World Economic outlook, IMF memperkirakan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil dunia pada tahun 1998 hanya akan meningkat 2% saja. Laporan tersebut juga memberikan catatan: “Pada tahun 1999, peluang-peluang beberapa perbaikan signifikan juga telah menurun, dan resiko kemerosotan yang lebih dalam, lebih luas dan lebih panjang telah meningkat.”[11]

Krisis tersebut tidak saja sudah dan akan melanda Asia (termasuk Jepang dan Korea Selatan), tapi juga sudah dan akan melanda Amerika dan Eropa, yang ditandai dengan stagnasi relatif dalam pertumbuhan.[12]


Kadar krisis tersebutlah yang akan menarik-ulur taring korporatokrasi. Dan seperti biasanya, melalui IMF, akan diyakinkan bahwa obat bagi krisis tersebut adalah kebijakan-kebijakan mutakhir kapitalisme yang sesuai dengan hukum besinya—konsentrasi/sentralisasi tenaga produktif; akumulasi kapital; dan perluasan pasar—yakni: seraya menyodorkan paket penyelamatan (bailout) milyaran dollar, IMF menuntut perubahan kebijakan, bahwa pemerintah akan menjamin utang luar negeri sektor swasta; penurunan tingkat permintaan domestik melalui kebijakan suku bunga tinggi dan surplus anggaran pemerintah (termasuk petongan segala macam subsidi); serta “reformasi” struktural untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang menghalangi pasar “bebas” (termasuk privatisasi).


Kebangkrutan kapital Dunia Ketiga dapat membantu menaikan rata-rata keseluruhan tingkat keuntungan dan, di akhir perang dingin, imperialisme tak lagi merasakan adanya kebutuhan untuk memajang etalase “macan” ekonomi sebagai kontra terhadap contoh-contoh ekonomi “komunis’ Cina dan Uni Sovyet. Sebagi alternatifnya, hanya diberi sogokan (wortel) pembangunan terbatas; sedangkan untuk mempertahankan ketertiban kapitalis di negeri-negeri semi-kolonal, mereka lebih banyak tergantung pada kekerasan (tongkat)—seperti di Irak.


Namun demikian, bagi imperialisme, peningkatan penghisapan Dunia Ketiga tak cukup untuk mengatasi krisis. Masa sekarang ini juga merupakan suatu periode persaingan sengit antar-imperialis, yang bentuknya berbeda-beda.
Suatu respons terhadap krisis kelebihan produksi adalah peningkatan monopolisasi (baca: konsentrasi/sentralisasi tenaga produktif) melalui penghancuran atau penyerapan para pesaing Dunia Ketiga, juga melalui pengambialihan atau merger. Respon terhadap dua bentuk kapital—kapital produktif dan kapital finansial—adalah berkembangnya maniak merger, yang skalanya dijadikan jaminan apakah mampu atau tidak keluar dari krisis.***

(bersambung)



Kepustakaan


[1] Dikutip dan diterjemahkan dari Friedrich Engels, Socialism: Utopian and Scientific, dalam Karl Marx dan Friedrich Engels, Selected Works (dalam 3 Jilid), Jilid 3, hal. 150-151, Progress Publisher, Moscow, 1970-1977.


[2] Doug Lorimer, Serangan Global Imperialisme dan Kemungkinan Perlawanannya, Jurnal Kiri, Tahun I, No.1, Juli 2000, hal. 107.


[3] Friedrich Engels, Catatan untuk Karl Marx, Capital, Jilid 3, http://marxists.org/archive/marx/works/-1894-c3/pref.htm


[4] Allen Myeers, Sebab-sebab Krisis Ekonomi Internasional, Jurnal Kiri, Volume 3, hal. 114.


[5] Fidel Castro Ruz, Arsitektur Keuangan Internasional, Apendiks pidato Fidel Castro Ruz, Presiden Dewan Negara dan Dewan Menteri Republik Kuba, yang disampaikan pada Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin-pemimpin Negara-negara Selatan yang tergabung dalam Kelompok 77, Havana, 12 April, 2000.


[6] Lihat John Bellamy Foster, The End of Rational Capitalism, Monthly Review, March, 2005. 


[7] Padahal, bersamaan dengan ketidakberdayaan kapitalis mendanai biaya produksinya lagi, sebagian keuntungan sekarang (oleh kapitalis) lebih nyaman dispekulasikan/diperjudikan di bursa-bursa saham, pasar-pasar valas dan lain-lain derivaitf keuangan lainnya.


[8] Op.cit, hal. 105.


[9] Lihat The New Face of Capitalism: Slow Growth, Excess Capital, and a Mountain of Debt, Editors, Monthly Review, April, 2002.


[10] The World Bank, East Asia: The Road to Recovery, Washington, DC, 1998, hal, IX.


[11] International Monetary Fund, World Economic Outlook: October 1998, Washington DC, 1998, hal.1, dalam Allen Myeers, Sebab-sebab Krisis Ekonomi Internasional, Jurnal Kiri, Volume.3, hal. 114.


[30] Untuk melihat angka-angkanya, lihat Robert Brenner, “From Neoliberalism to Depression?”, Against the Current, November/Desember 1998, hal.22.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus