Wajah Baru Marx Setelah Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) (Bagian I)

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh Illustruth


I. Kebangkitan Marx

SELAMA lebih dari satu dekade terakhir, jurnal-jurnal dan surat kabar bergengsi dengan pembaca luas telah mendeskripsikan Karl Marx sebagai teoretikus dengan pandangan jauh ke depan yang relevansinya terus memperoleh konfirmasi. Banyak pengarang dengan pandangan progresif mempertahankan pendapat mereka bahwa ide-idenya tetap tak tergantikan bagi siapapun yang meyakini pentingnya membangun alternatif terhadap kapitalisme. Hampir di manapun juga, ia kini menjadi tema dalam mata kuliah di universitas dan konferensi-konferensi internasional. Tulisan-tulisannya yang dicetak kembali ataupun disusun dalam edisi-edisi baru telah muncul lagi di rak-rak toko buku, dan studi atas karyanya, setelah diabaikan selama dua puluh tahun lebih, telah mendapatkan momentum yang terus meningkat. Tahun 2017 dan 2018 menyaksikan intensitas yang lebih jauh lagi dari “kebangkitan Marx” ini, berkat banyak inisiatif dari berbagai penjuru dunia terkait dengan peringatan 150 tahun penerbitan Kapital dan dua abad kelahiran Marx.

Ide-ide Marx telah mengubah dunia. Namun meski teori-teorinya telah diafirmasi, bahkan menjadi ideologi dominan dan ajaran negara di banyak tempat pada abad ke-20, belum ada edisi lengkap dari seluruh karya dan manuskripnya. Alasannya terletak pada sifat karya-karya Marx yang tidak lengkap; tulisan-tulisan yang ia terbitkan terhitung jauh lebih sedikit daripada tulisan-tulisan yang tidak ia selesaikan, belum lagi catatan-catatan Nachlass yang menggunung terkait dengan penelitian-penelitiannya yang tidak ada habisnya. Marx meninggalkan lebih banyak naskah daripada yang ia kirim ke percetakan. Ketidaklengkapan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup Marx: kemiskinan yang acapkali mewarnai hidupnya, kondisi tubuhnya yang sakit-sakitan, ditambah kecemasan-kecemasan harian; metodenya yang ketat dan otokritik tanpa ampun semakin menambah kesulitan hidupnya. Lebih-lebih, hasratnya akan pengetahuan tak pernah surut dan mengantarkannya pada studi-studi baru. Namun, kerja tanpa hentinya membawa konsekuensi-konsekuensi teoretis yang luar biasa bagi masa depan.

Materi yang sangat berharga untuk mengevaluasi kembali pencapaian Marx adalah lanjutan penerbitan Marx-Engels Gesamtausgabe (MEGA) pada tahun 1998, yaitu edisi historis-kritis karya lengkap Marx dan Friedrich Engels. Lebih dari dua puluh delapan volume telah muncul (empat puluh lainnya telah diterbitkan antara 1975 dan 1989), dan volume-volume lainnya sedang dipersiapkan (untuk lebih detilnya lihat artikel saya “Kembalinya Sang Raksasa”, IndoProgress, 3 September 2018). MEGA disusun dalam empat bagian: (1) seluruh karya, artikel, dan naskah awal yang ditulis oleh Marx dan Engels (dengan perkecualian Kapital); (2) Kapital dan seluruh materi persiapannya; (3) korespondensi—terdiri atas 4.000 surat dari Marx dan Engels dan 10.000 yang ditujukan pada mereka, yang banyak di antaranya baru diterbitkan untuk pertama kalinya dalam MEGA; dan (4) catatan-catatan kecil. Bagian keempat ini menjadi saksi atas kerja-kerja Marx yang sangat ensiklopedik: sejak berkuliah di universitas, ia telah mengembangkan kebiasaan mengkoleksi catatan dari buku-buku yang ia baca, dan seringkali membubuhinya dengan refleksi-refleksi atas bacaan tersebut. Koleksi Marx ini mencakup dua ratus buku catatan. Koleksi ini esensial perannya untuk memahami asal-mula teorinya dan elemen-elemen yang tidak mampu ia kembangkan seturut rencana awal. Catatan-catatan yang tertinggal, dari 1838 hingga 1882, ditulis dalam delapan bahasa (Jerman, Yunani kuno, Latin, Prancis, Inggris, Italia, Spanyol, dan Rusia), dan merujuk pada disiplin-disiplin yang sangat beragam, seperti filsafat, sejarah seni, agama, politik, hukum, sastra, sejarah, ekonomi-politik, hubungan internasional, teknologi, matematika, fisiologi, geologi, mineralogi, agronomi, antropologi, kimia, dan fisika—mencakup bukan hanya buku-buku, surat kabar, dan artikel-artikel jurnal, tetapi juga catatan sidang parlemen dan laporan-laporan statistik pemerintah. Simpanan pengetahuan yang luar biasa ini, banyak di antaranya terbit beberapa tahun terakhir atau masih menunggu penerbitan, adalah situs pembangunan teori kritis Marx, dan MEGA telah membuka akses padanya untuk pertama kali.


II. Penemuan-Penemuan Baru tentang Asal-Mula Konsepsi Materialis atas Sejarah

Pada Februari 1845, setelah 15 bulan yang intensif di Paris yang krusial bagi formasi politiknya, Marx terpaksa pindah ke Brussels. Di sana ia diizinkan tinggal dengan syarat “tidak menerbitkan tulisan apapun tentang politik kekinian”. Selama tiga tahun yang dihabiskan di ibukota Belgia, ia terus mengejar studinya tentang ekonomi-politik dan berpikir untuk menulis, bersama Engels, Joseph Weydemeyer dan Moses Hess, suatu “kritik atas filsafat Jerman modern sebagaimana digambarkan oleh Ludwig Feuerbach, Bruno Bauer, dan Max Stirner, dan atas sosialisme Jerman sebagaimana dinyatakan oleh nabi-nabinya”. Hasilnya, yang kemudian diterbitkan dengan judul Ideologi Jerman, memiliki tujuan ganda: memerangi bentuk-bentuk mutakhir neo-Hegelianisme di Jerman, dan kemudian, seperti yang dinyatakan dalam surat Marx kepada penerbit Carl Wilhelm Julius Leske, “menyiapkan publik untuk memahami perspektif dalam karya saya tentang ekonomi, yang sangat bertentangan dengan keilmuan Jerman pada masa lalu dan sekarang”. Naskah ini yang ia kerjakan hingga Juni 1846 ini tak pernah tuntas, namun mampu membantunya memperoleh kejelasan yang lebih lagi—meski belum mencapai bentuk definitifnya—tentang apa didefinisikan Engels di hadapan publik luas empat puluh tahun kelak sebagai “konsepsi materialis tentang sejarah”.

Edisi pertama Ideologi Jerman (terbit pada 1932) dan juga versi-versi mutakhirnya yang hanya menyertakan sedikit perubahan dikirimkan kepada percetakan seperti sebuah buku yang telah tuntas ditulis. Secara khusus, para editor naskah yang sebenarnya belum selesai pekerjaannya ini menciptakan kesan keliru bahwa Ideologi Jerman mencakup bab pembuka tentang Feuerbach yang esensial perannya, di mana Marx dan Engels secara lengkap meletakkan hukum-hukum “materialisme historis” (istilah yang tak pernah digunakan oleh Marx). Menurut Althusser, ini adalah momen di mana mereka mengkonseptualisasikan “patahan epistemologis yang signifikan” dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya. Ideologi Jerman segera menjadi salah satu teks filosofis terpenting di abad keduapuluh. Menurut Henri Lefebvre, buku tersebut meletakkan “tesis-tesis fundamental materialisme historis”. Maximilien Rubel berpendapat bahwa “naskah ini mengandung pernyataan yang paling jelas tentang konsep sejarah yang kritis dan materialis”. David McLellan juga berujar bahwa naskah ini “mengandung penjelasan paling detil dari Marx tentang konsepsi sejarah materialisnya”.

Karena volume I/5 dari MEGA, “Karl Marx – Friedrich Engels, Deutsche Ideologie. Manuskripte und Drucke (1845-1847)”, klaim-klaim seperti di atas kini bisa diredam dan Ideologi Jerman kembali dilihat sebagai karya yang tidak lengkap. Edisi ini—yang mencakup 17 naskah dengan total 700 halaman plus 1.200 halaman catatan kritis yang menyediakan banyak ragam dan koreksi dari pengarang, serta menunjukkan kesalingtergantungan bagian-bagiannya—menegaskan secara utuh karakter fragmentatif dari Ideologi Jerman. Kesalahan “komunisme ilmiah” pada abad ke-20 dan seluruh instrumentalisasi Ideologi Jerman mendorong kita untuk mencari sebuah frasa dalam teks itu sendiri. Sebab, kritik tajam atas filsafat Jerman di zaman ketika Marx masih hidup juga memberikan peringatan serius terhadap tren-tren eksegetikal di masa depan: “Bukan hanya dalam jawaban-jawabannya, bahkan dalam pernyataan-pernyataannya pun terdapat suatu mistifikasi”.

Dalam periode yang sama, sang revolusioner muda asal Trier itu melanjutkan studi-studi yang telah ia mulai di Paris. Ia menghabiskan bulan Juli dan Agustus 1945 di Manchester, menenggelamkan diri dalam lautan bacaan ekonomi berbahasa Inggris dan mengumpulkan catatan sebanyak sembilan buku (yang kelak disebut sebagai “Catatan-Catatan Manchester”), kebanyakan buku panduan ekonomi-politik dan sejarah ekonomi. Volume IV/4 MEGA yang terbit pada 1988 mengandung lima buku pertama dari catatan-catatan ini, bersama dengan tiga buku dari catatan-catatan Engels pada saat yang sama di Manchester. Volume IV/5, “Karl Marx – Friedrich Engels, Exzerpte und Notizen Juli 1845 bis Dezember 1850”, melengkapi serial teks ini dan membuat bagian-bagian sebelumnya yang belum terbit tersedia pada para peneliti. Ini mencakup buku-buku catatan 6, 7, 8, dan 9, yang mengandung catatan-catatan Marx dari 16 karya ekonomi-politik. Catatan terbanyak dibuatnya dari buku John Francis Bray, Labour’s Wrongs and Labour’s Remedy (1839) dan empat teks Robert Owen, khususnya Book of the New Moral World (1840-1844), yang semuanya menunjukkan minat Marx yang besar pada saat itu terhadap sosialisme Inggris dan rasa hormatnya kepada Owen, penulis yang diabaikan dan terburu-buru dicap “utopis” oleh kaum Marxis. Volume tersebut diakhiri dengan dua puluh atau lebih halaman yang ditulis Marx antara 1846 dan 1850, plus beberapa catatan studi Engels dari periode yang sama.

Studi-studi teori sosialis dan ekonomi-politik ini tidak menghalangi keterlibatan politik Marx dan Engels. Sebanyak 800 halaman lebih volume I/7 yang baru saja terbit, “Karl Marx – Friedrich Engels, Werke, Artikel, Entwürfe. Februar bis Oktober 1848”, memungkinkan kita mengapresiasi besaran aspek ini pada 1848: salah satu tahun yang paling padat dengan aktivitas politik dan jurnalisme para penulis Manifesto Komunis. Setelah gerakan revolusioner yang cakupan dan intensitasnya hingga masa itu tak tertandingi sukses mendorong tatanan sosial dan politik Eropa kepada krisis, pemerintahan-pemerintahan yang ada mengupayakan segala langkah-langkah tandingan untuk mengakhiri pemberontakan. Marx sendiri menanggung konsekuensi-konsekuensinya dan diusir dari Belgia pada Maret. Namun, sebuah republik baru saja diproklamirkan di Prancis, dan Ferdinand Flocon, pejabat pemerintahan sementara, mengundang Marx untuk kembali ke Paris: “Marx yang pemberani dan terkasih, (…) tirani telah mengusirmu, tetapi Prancis yang merdeka akan membuka kembali pintunya untukmu”. Marx segera mengesampingkan studi-studi ekonomi-politiknya dan melakukan aktivitas jurnalistik guna mendukung revolusi tersebut, turut mengarahkan orientasi politik sesuai kemauannya. Setelah menjalani periode singkat di Paris, pada April ia pindah ke Rhineland dan dua bulan kemudian mulai menyunting Neue Rheinische Zeitung yang didirikan di Cologne. Kampanye yang intens dalam kolom-kolomnya memberi bobot dukungan yang kuat kepada para pemberontak dan mendorong kaum proletar untuk menyokong “revolusi sosial dan republikan”.

Hampir seluruh artikel dalam Neue Rheinische Zeitung diterbitkan secara anonim. Salah satu keunggulan volume ini adalah koreksinya atas kepengarangan 36 teks pada Marx atau Engels, sementara koleksi-koleksi sebelumnya membuat kita bingung mengenai siapa yang menulis teks yang mana. Dari total 275 teks, 125 secara lengkap dicetak di sini untuk pertama kalinya dalam edisi karya Marx dan Engels. Bagian Apendiks juga menampilkan 16 dokumen menarik yang mengandung catatan-catatan tentang intervensi-intervensi mereka dalam rapat-rapat Liga Komunis, agregat Masyarakat Demokratik Cologne, dan Serikat Vienna. Di sini, mereka yang tertarik pada aktivitas politik dan jurnalistik Marx selama ‘tahun revolusi’ 1848 akan menemukan banyaknya bahan tak ternilai untuk memperdalam pengetahuan.***


Marcello Musto (1976) adalah Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto), Kanada. Ia telah menulis banyak buku dan artikel yang diterbitkan di lebih dari 20 bahasa. Di antaranya ia mengedit beberapa volume seperti Karl Marx’s ‘Grundrisse’: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later (Routledge, 2008); Marx for Today (Routledge, 2012); Workers Unite!: The International 150 Years Later (Bloomsbury, 2014). Ia juga menulis buku Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Marx (1881-1883): An Intellectual Biography (forthcoming 2019). Tulisan-tulisannya tersedia di www.marcellomusto.org. Buku terbarunya dalam bahasa Indonesia berjudul, Marx Yang Lain, akan diterbitkan dalam waktu dekat oleh penerbit Marjin Kiri.

Artikel ini diterjemahkan oleh Daniel Sihombing    

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.