Belajar dari Alexandria Ocasio-Cortez

Print Friendly, PDF & Email

Foto: https://ocasio-cortez.house.gov/


Kawan,

SAYA akan bercerita tentang sosok Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), anggota Kongres termuda sepanjang sejarah Amerika Serikat. Ketika terpilih pada 2018 lalu mewakili distrik New York 14th, AOC baru berusia 29 tahun. Sejak itu, namanya terus meroket di atas langit perpolitikan AS. Tidak ada anggota Kongres yang paling populer dan paling berpengaruh dibandingkan dirinya saat ini. Media-media massa arus utama berebut mewawancarai atau memberitakan apa saja tentangnya. Ketika Bernie Sanders mengumumkan menunda pencalonannya sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat, harian terbesar AS The New York Times, memuat dua wawancara panjang dengan AOC hanya dalam rentang waktu dua minggu. Bahkan stasiun televisi konservatif FoxNews, hampir setiap hari menayangkan berita tentangnya, dengan komentar-komentar dan ulasan-ulasan yang sarat kontroversi.

Belum lagi di media sosial. Tidak ada anggota Kongres yang unggahan-unggahannya di media sosial, terutama Twitter dan Instagram, selalu ditunggu dan diperbincangkan seramai akun AOC. Ibarat kata, AOC tersenyum saja sudah mendatangkan ratusan komentar dan ribuan penyuka. Para pundit mengatakan: Presiden Frankllin. D. Roosevelt besar karena radio, dan Presiden John F. Kennedy besar karena televisi, dan AOC adalah politisi yang besar karena media sosial. Di media sosial, AOC adalah ratunya.

Siapa AOC ini? Kelahiran Bronx, New York City, dari keluarga imigran asal Puerto Rico, AOC adalah alumni Universitas Boston jurusan ekonomi dan hubungan internasional. Sewaktu kuliah, AOC sempat bekerja sebagai relawan mantan senator Ted Kennedy untuk isu-isu imigrasi dan hubungan internasional.

Setelah lulus kuliah dengan predikat cum laude, AOC kembali ke New York City dan bekerja sebagai bartender. Profesi barunya ini menunjukkan dua hal sekaligus: pertama, semenjak diterpa krisis ekonomi 2008, kondisi perekonomian AS tidak pernah pulih seperti masa-masa sebelum krisis. Bahkan untuk lulusan terbaik universitas bergengsi seperti AOC, sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Krisis berlarut-larut ini menjadi ladang subur bagi munculnya kekuatan populis dari kiri dan kanan. Dalam konteks AS, populisme kanan (ada yang bahkan menyebutnya fasis) tumbuh lebih kencang sehingga bisa mendudukkan Donald Trump di Gedung Putih.

Kedua, dengan menjadi bartender AOC mengalami secara konkret kehidupan buruh, sebuah kelas yang harus menjual tenaga kerjanya kepada majikan atau kelas kapitalis demi kelangsungan hidup. Dengan menjadi buruh upahan, AOC mengerti betul betapa rentan kehidupannya karena setiap saat bisa kehilangan pekerjaan. Seperti kebanyakan buruh di AS, ia menyadari satu hal penting dari hidup memburuh: tidak boleh sakit. Sakit berarti Anda tidak bisa kerja, dan jika tak kerja maka Anda tak bisa mendapatkan upah, dan tentu saja tidak akan mendapatkan pengobatan yang memadai.

Seperti yang diakuinya, AOC tidak memiliki asuransi kesehatan, sementara di AS tidak ada sistem jaminan kesehatan bagi semua. Dengan sistem kesehatan yang sangat kapitalistik, maka hanya mereka yang berduit yang bisa memiliki asuransi kesehatan. Atau, jika Anda bekerja di perusahaan cukup besar, perusahaan bisa menawarkan Anda asuransi kesehatan dengan biaya yang sangat mahal untuk gaji yang tidak seberapa. Belum lagi, sebagai mantan mahasiswa (bersama dengan 42 juta mahasiswa AS lainnya), AOC masih harus membayar utang pinjaman mahasiswa (student loan) sebesar $37,000 (lebih dari Rp500 juta) dan kalau dibayar secara cicilan maka jumlahnya bisa berlipat ganda. Jika ia terus bekerja sebagai bartender, diperkirakan AOC baru bisa melunasi utangnya ini sekitar 10-30 tahun.

Dua kenyataan hidup inilah yang mendorong AOC untuk bertarung sebagai anggota Kongres dari Partai Demokrat, dari fraksi Demokratik Sosialis. AOC sendiri adalah anggota dari organisasi Democratic Socialist of America (DSA). Dalam pertarungan untuk perebutan kursi anggota Kongres tersebut, AOC benar-benar melakukan sesuatu yang sama sekali baru dalam tradisi politik AS, yakni tidak menerima uang dari korporasi, melainkan hanya menerima sumbangan dana dari masyarakat—itu pun tidak boleh melebihi $5.000,00 bagi setiap penyumbang. Slogannya di masa kampanye adalah “rakyat/people vs uang/money. Kita punya rakyat, mereka punya uang.”

Walaupun bukan yang pertama, terobosan AOC ini cukup mengejutkan. Mahalnya politik elektoral di AS adalah contoh terbaik tentang bagaimana politik uang (money politics) begitu berpengaruh. Walaupun secara formal setiap orang di atas usia 18 tahun dan secara konstitusional tidak bermasalah bisa mencalonkan diri menjadi anggota Kongres, Senat, atau menjadi presiden, tetapi secara esensial hanya mereka yang superkaya atau yang didukung oleh kalangan superkaya-lah yang bisa bertarung dalam bursa pencalonan. Karena itu, faktor donor sangatlah menentukan. Mereka yang hendak menjadi anggota Kongres pertama-tama harus bisa meyakinkan para donor bahwa mereka layak dipercaya dan didukung. Itu sebabnya pula, sirkulasi di kalangan anggota Kongres atau anggota Senat itu sangatlah kaku. Seseorang bisa duduk di sana hingga berpuluh tahun lamanya.

Tentu saja tidak ada yang percaya bahwa AOC bisa memenangkan pemilihan internal Partai Demokrat kala itu. Apalagi lawannya adalah petahana Joseph (Joe) Crowley, orang keempat terkuat di Partai Demokrat, dan digadang-gadang sebagai suksesor juru bicara (jubir) partai Nancy Pelosi, dan sudah 20 tahun menjadi anggota Kongres. Lembaga-lembaga survey selalu menempatkan AOC di belakang Crowley, dan media-media arus utama memandangnya sebelah mana. Tak dinyana, AOC memenangkan pemilihan internal tersebut dan kemudian terpilih sebagai anggota Kongres pada 2018.

Inilah pelajaran pertama dari AOC: jika Anda sungguh-sungguh ingin melawan oligarki, janganlah menerima uang dari mereka.

Ketika dilantik sebagai anggota Kongres pada Januari 2019, hal pertama yang dilakukan AOC adalah bergabung bersama-sama para aktivis dari Sunrise Movement, sebuah gerakan anak muda yang memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup untuk berdemonstrasi di depan ruangan kantor jubir Partai Demokrat Nancy Pelosi. Tak pernah ada anggota Kongres yang melakukan tindakan serupa, sehingga aksi AOC kontan memicu kontroversi.

Tapi itu baru langkah awal. Setelah menjadi figur publik yang sangat populer, AOC terus aktif bergabung bersama gerakan rakyat lainnya, baik di level nasional, misalnya memperjuangkan hak kesehatan universal, penghapusan utang mahasiswa, memperjuangkan kelestarian lingkungan, hingga isu-isu imigrasi. Secara strategis, di level ini, AOC bersama-sama dengan aktivis Justice Democrat, mendirikan Movement School, sebuah lembaga yang bertujuan untuk mencetak aktivis-aktivis politik untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan kelas pekerja di komunitasnya. Tujuan akhirnya adalah agar para aktivis ini mampu memenangkan pertarungan dalam perebutan kekuasaan politik di seluruh level, sehingga dengan demikian mampu mewujudkan energi aktivismenya ke dalam kekuasaan politik.

Di level basis konstituennya, komitmen AOC juga sangat besar. Di sini ia mendirikan dua kantor untuk konstituennya di daerah Bronx dan Queens, New York City, yang secara khusus menampung dan melayani segala keluhan konstituennya, mengadakan kegiatan-kegiatan seminar, diskusi, advokasi kebijakan, kegiatan sosial-budaya untuk memperkuat solidaritas, hingga pertemuan akbar, secara reguler. Di masa pandemi COVID-19 ini, AOC adalah anggota Kongres yang paling aktif mengadakan kegiatan sosial. Bersama para relawannya, ia aktif mengetok pintu apartemen-apartemen dan rumah-rumah mereka yang sangat membutuhkan bantuan, seperti sembako, masker, dsb.

Inilah pelajaran kedua dari AOC: begitu menduduki kursi legislatif dan menjadi figur populer di level nasional, ia tidak tercerabut atau mencerabutkan dirinya dari basis massa dan konstituennya, apalagi memunggungi mereka. Ia justru menggunakan seluruh keistimewaannya itu untuk memperkuat basis massa dan konstituennya, baik di level nasional maupun lokal.

Hal lain yang menarik dari AOC adalah ia sadar bahwa popularitas dan posisi politik yang sangat berpengaruh yang dimilikinya saat ini bukanlah hasil dari prestasi dan terobosan personalnya semata. Di belakangnya ada organisasi politik yang memberikan dukungan sangat besar dan krusial, mulai dari organisasi Justice Democrats yang menjadi kendaraan politiknya dalam pertarungan formal sebagai anggota Kongres, dan kemudian organisasi Democratic Socialist of America (DSA), sebuah organisasi politik dimana ia menjadi anggotanya. Tanpa dukungan organisasi-organisasi ini, bisa jadi AOC tidak akan pernah ada dalam semesta perpolitikan AS.

Dengan kesadaran ini, AOC lantas bertindak sebagai juru bicara DSA yang paling efektif secara politik. Dalam waktu singkat, program-program DSA seperti Green New Deal dan Medicare for All kini telah menjadi wacana publik yang populer berkat kampanye tak kenal lelah dari AOC. Pengaruh politik AOC atas popularitas program Green New Deal, misalnya, secara jujur diakui oleh para pejuang lingkungan baik dari kalangan aktivis maupun intelektual yang telah bertahun-tahun mengampanyekan isu ini.

Secara organisasional, dampak dari popularitas dan efektivitas kampanye AOC ini tampak pada makin membesarnya jumlah keanggotaan DSA terutama dari kalangan generasi muda. Organisasi yang sebelumnya identik dengan segelintir kalangan tua sosialis penganut jalur parlementarian itu, kini telah berkembang menjadi organisasi sosialis terbesar di AS sejak Perang Dunia II. DSA kini memiliki cabang di 49 negara bagian AS. Jumlah anggotanya melonjak drastis dari sekitar 8.000 orang pada 2016 ke 50.000 orang pada 2018. Bisa kita simpulkan bahwa tanpa kehadiran figur anggota semacam AOC, sulit sekali membayangkan DSA akan berkembang sedemikian pesat dalam waktu sedemikian singkat.

Inilah pelajaran ketiga dari AOC: jangan pernah menganggap bahwa popularitas dan pengaruh politik yang diraih adalah hasil dari bakat dan prestasi perorangan belaka. Di baliknya ada organisasi yang mendukung dan menopang langkah-langkah dan capain-capaian politik itu.***

New York City, 17 Mei 2020.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus