Akhlak dan Perlawanan

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: Megapolitan Kompas


  إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil… (QS an-Nisa: 58)

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat. Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (HR. Bukhari no. 7257)

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ ، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat (HR. Bukhari no. 7144)


(1)

PADA saat majalah Tempo mengangkat tema “Janji Tinggal Janji” edisi 16 september 2019, dengan cover siluet presiden Joko Widodo (Jokowi) berhidung mancung ala Pinokio, seorang intelektual Islam Liberal, Akhmad Sahal, melalui status Twitter-nya mengungkapkan kekecewaannya. Sahal menganggap Tempo telah melecehkan Jokowi karena menyamakan Jokowi dengan figur pembohong, Pinokio. Tak hanya itu, para pendukung Jokowi, yang tergabung dalam Jokowi Mania (JoMan), melaporkan  Tempo kepada Dewan Pers, dengan tudingan serupa, menghina Jokowi.

Belakangan, dengan makin menguatnya politik identitas dan politik idola yang puncaknya terjadi di seputar pemilukada Jakarta 2018 dan pilpres 2019, suara protes melalui meme atau poster yang memparodikan elite politik kerap dianggap sebagai sikap tidak sopan, tidak sesuai dengan akhlak Islam dan adat ketimuran yang menjunjung tinggi apa yang disebut sebagai unggah ungguh (sopan santun pada senior atau orang yang lebih tua). Demikian juga dengan aksi “Mosi Tidak Percaya” #ReformasiDikorupsi yang digelar serentak di beberapa kota di Indonesia. Tak sedikit pendukung pemerintah menghakimi seni perlawanan mahasiswa dan pelajar sebagai tidak sopan dan kebablasan. Terakhir, beberapa hari yang lalu, ketika ada mahasiswa yang melempar kotoran hewan pada polisi, lagi-lagi dituding sebagai melakukan tindakan amoral, dan tidak sepatutnya. Bahkan ada yang secara berlebihan, seseorang bernama Maman atau yang kerap dipanggil kang Maman dalam status Facebooknya, mengutuknya sebagai tanda kemerosotan moral dan gagalnya pendidikan di Indonesia.   

Bila diamati, baik kelompok yang mendaku diri “gerakan bela Islam” maupun yang menyebut dirinya pembela Pancasila, disatukan oleh cara berpikir yang sama: politik identitas dan politik idola. Keduanya akan reaktif dan murka tiap ada kritik yang diarahkan pada para idola mereka. Jika kritik diarahkan pada kelompok Islam politik, pengkritik akan dianugerahi label musuh Islam, sebaliknya bila sasaran kritik dialamatkan pada kelompok ultranasionalis, pengkritik akan dilabeli musuh Pancasila dan NKRI. Kedua kelompok tersebut mengidap ciri-ciri fasisme yang memuja idola, sosok figur kharismatik yang menjadi pusat kesadaran sejarahnya. Seolah-olah sang pemimpin tak bisa salah dan otomatis benar pada dirinya. Bagi para pemuja Jokowi, misalnya, apa-apa yang dilakukan oleh sang presiden dianggap otomatis benar. Ia tak boleh dikritik karena dibenak para pemujanya, ia dibayangkan sebagai sosok pemimpin ideal dan  nyaris paripurna.       

Sejujurnya, di tengah kemerosotan kesadaran kewargaan di Indonesia, seiring dengan makin menguarnya politik identitas, meme atau poster yang memparodikan figur-figur elite politik dengan kalimat dan gambar nakal nan sinikal merupakan sebuah seni perlawanan yang paling mungkin dilakukan dan terbukti efektif sebagai alat propaganda, dimana pesannya bisa dengan mudah ditangkap masyarakat. Tidak perlu berbelit-belit dengan teori, hanya dengan kombinasi kalimat yang lugas, lucu dan gambar genit, para penerima pesan bisa langsung menangkap bahwa republik ini tidak sedang baik-baik saja. Ada yang tidak beres. Ada banyak ironi dan anomali sosial yang seharusnya tidak terjadi tapi justru malah terpampang vulgar di depan mata.

Gejala diskriminasi dan ketimpangan sosial seperti sekarang, seperti kemudahan fasilitas mewah yang diperoleh elite politik dan kesusahan yang diperoleh rakyat, di tangan anak muda dengan imajinasi perlawanannya, akan dengan mudah dituangkan dalam bentuk meme nakal nan sinikal yang berfungsi sebagai medium pendidikan politik pada rakyat bahwa ada tanda bahaya ketika penguasa-pengusaha telah berkongsi menjarah ruang politik dan ekonomi yang seharusnya dikelola bersama secara adil dan setara. Rakyat tak boleh bungkam dan bahagia sekadar disebut sebagai silent majority. Saatnya mereka berbicara mengatakan “tidak” pada kelaliman dan bangkit melawannya. Sebab yang diperlukan saat ini bukanlah mayoritas pasif yang diam, saat terjadi banyak kriminalisasi aktivis sosial dan para petani pejuang lingkungan. Kita butuh saat ini mayoritas aktif yang bersuara lantang. Fungsi meme dan poster harus diakui sangat efektif untuk menggugah kesadaran, urgensi melipatgandakan perlawanan dan solidaritas sosial melampaui sekat-sekat identitas primordial seperti suku dan agama.

Transformasi kesadaran seperti itu yang sekarang terjadi para pelajar STM yang selama ini melekat dengan stigma tawuran antar pelajar. Mereka tahu, sekaranglah saatnya berhenti berkalahi. Apalagi, pada umumnya anak STM berlatar dari kelas sosial yang sama, keluarga kelas pekerja dan kaum miskin kota yang tengah disiapkan kembali sebagai kelas pekerja. Tak ada alasan yang masuk akal bagi mereka untuk saling baku pukul, bila ingin mengubah nasibnya dan masa depan Indonesia, selain hanya satu jalan yang harus ditempuh, membangun solidaritas perlawanan untuk menggulingkan oligarki di Indonesia.


(2)

Apa kaitannya perlawanan mahasiswa dan anak-anak STM dengan Islam? Yang seringkali tidak dibicarakan dan sengaja disembunyikan oleh eksponen moderatisme Islam dan liberalisme Islam adalah fakta historis, Islam sebagai agama perlawanan. Rasulullah secara historis materialis, hadir di saat kelaliman merajalela: perempuan dijatuhkan harkat dan martabatnya, terjadi perbudakan, dan penghinaan manusia atas manusia.

Tentu tidak masuk akal bila Rasulullah hadir di tengah masyarakat yang telah adil dan makmur. Sebaliknya, Ia hadir justru sebagai respon atas ketidakadilan. Semua rasul hadir sebagai respon atas kelaliman. Dengan demikian pada dirinya tendensi agama yang paling fundamental adalah perlawanan. Secara genetis Islam merupakan agama perlawanan dan pembangkangan pada otoritas yang lalim, menindas dan kejam. Islam dengan demikian menjadi jerit tangis kaum papa, dan suara kemarahan pada ketidakadilan. Karena itu, tidak berlebihan bila terdapat banyak ayat bernada kutukan pada kelaliman di dalam Islam. Jangankan menyindir kekuasaan yang lalim dengan meme. Lebih dari itu, Allah dengan sangat keras mengutuknya.

Bila ada kaum muslim melihat kelaliman dan tidak melawannya, tidak mengutuknya, tentu terasa janggal dan aneh. Apalagi sampai membela kelaliman dengan dalih sopan santun feodalistik ala Jawa. Tentu ini toksik yang berbahaya bagi mental anak-anak muda muslim. Kemarahan pada kelaliman merupakan sistem peringatan dini bahwa hati nurani kita masih stabil dan berfungsi dengan baik.

Di saat terjadi kecamuk ketidakadilan dan penghinaan manusia atas manusia seperti saat ini, sementara kaum muslim malah memilih duduk ongkang-ongkang kaki, atau bahkan diam-diam mendukung ketidakadilan dengan alasan menjaga stabilitas semu yang justru hanya melegitimasi konsolidasi oligarki, akan bertolak belakang dengan apa yang diperjuangan Rasulullah dan para sahabatnya.    

Jadi, tak ubahnya rasul dan para sahabatnya, anak-anak STM yang bangkit melawan kelaliman, melawan dominasi oligarki, hakikatnya tengah mengambil alih tanggungjawab sejarah yang seharusnya dipikul secara bersama. Di saat kebanyakan orang takut berbicara mengutarakan kebenaran, mereka berani bersuara lantang mengutarakannya. Di saat kebanyakan orang takut mengambil resiko, mereka justru berani meresikokan dirinya, dipukuli polisi untuk sebuah kebenaran. Keberanian yang mereka miliki saat ini, mengingatkan kita pada sahabat seperti Abu Dzar al-Ghifari yang melakukan protes seorang diri di depan istana Muawiyah di Damaskus, atas terjadinya dugaan penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa yang telah melakukan pemborosan dengan membangun kemegahan untuk diri dan keluarganya.


(3)   

Memparodikan elite politik, tidak bisa dianggap sebagai pelecehan, apalagi tanda dari kemerosotan moral masyarakat sebagaimana tudingan para pendukung pemerintah. Pelecehan sesungguhnya adalah ketika janji politik yang diumbar oleh seorang politisi justru diingkari sendiri yang membahayakan nasib jutaan rakyat yang memilihnya.  Pelecehan sesungguhnya adalah ketika aksi mahasiswa direpresi yang telah menyebabkan ribuan mahasiwa dan pelajar luka-luka dan beberapa lainnya meninggal dunia.

Dalam sejarah gerakan rakyat, poster-poster nakal, sinikal, atau kalimat propaganda keras pada kekuasaan yang menindas mempunyai peran penting dalam membangun kesadaran politik rakyat sebagai strategi menghadapi kekuasaan yang lalim. Bahkan kita tidak bisa membayangkan kemerdekaan Indonesia tanpa poster-poster propaganda yang keras dan nakal, corat-coret protes, serta karikatur anti penjajahan di tembok-tembok, di gedung-gedung, dan di gerbong-gerbong kereta.  

Suara protes melalui meme, poster, dan sampul media yang dikutuk dengan dalih moral, akhlak, unggah ungguh atau sopan santun merupakan bentuk upaya pengaburan politik emansipatif dan pembebasan dengan pseudo moral sisa-sisa mental feodal yang tidak kompatibel dengan demokrasi yang mensyaratkan adanya absensi figur transendental yang dianggap suprahistoris dan kebal kritik.

Bahkan yang tampak ganjil, para eksponen liberalisme justru membiarkan berlangsungnya proses-proses apa yang disebut sebagai demokrasi illiberal yang mengancam kebebasan.  Salah satunya dengan makin tingginya intensitas kriminalisasi dan pengekangan kebebasan sipil oleh aparatur negara. Kebebasan mengutarakan pendapat di muka umum, yang secara konstitusional sah dan dilindungi, kini mulai dihambat, dan dibatasi. Bahkan tak sedikit rakyat yang telah dikriminalisasi.  


(4)

Jamak diketahui, Islam merupakan agama akhlak, yang terangkum dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, bahwa“Sesungguhnya aku (Nabi) diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak” (HR. Al-Baihaqi).

Namun yang dimaksud sebagai akhlak di sini bukanlah sikap unggah ungguh ala feodalisme Jawa, yang meminta semua orang menunduk-nunduk pada penguasa, atau bersikap basa basi pada senior yang dulu di masa orde baru diterjemahkan dengan Asal Bapak Senang. Jadi, akhlak bukanlah aturan  bapakisme ala Jawa, atau patuh tanpa syarat. Akhlak yang dimaksud Nabi di sini merupakan internalisasi sikap adil, cinta kasih, jujur, serta berani mengambil resiko demi kebenaran. Pendeknya, akhlak merupakan sikap menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran universal. Bukan sikap basa basi atau ketaatan ala Bisma dan Kumbakarna. Salah benar kalau saudara sendiri harus dibela.

Pemaknaan atas akhlak yang oportunistik, plintat plintut selain tidak tepat juga melecehkan akal sehat dan kesetaraan semua manusia di hadapan Tuhan dan hukum. Dengan demikian, untuk tegaknya sebuah tatanan yang manusiawi, tidak diperkenankan adanya satu manusia atau segelintir orang dengan hak-hak istimewa, yang dianggap suci dan kebal kritik. Semua pejabat publik boleh diparodikan, dikritik, bahkan wajib dilawan bila turut melanggengkan kelaliman. Jika tidak, kita akan mundur pada abad paling gelap sejarah agama yang dijadikan sebagai alat penghisapan dan penindasan.

Bukankah mengingatkan itu harus dengan lemah lembut? Iya dan tidak. Tergantung konteks dan situasi. Kemudian bagaimana dengan perintah taat pada pemimpin seperti ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu (QS. An Nisa’:59)

Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan tidak disertai dengan lafazh perintah “taatilah” seperti pada Allah dan Rasul-Nya, karena ketaatan kepada pemimpin statusnya hanya ikutan (tabi’) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sedemikian, taat pada pemimpin tidaklah mutlak, melainkan bersyarat. Mereka yang tengah berlawan menumbangkan oligarki, sesungguhnya tengah mengimplementasikan akhlak, karena tengah menjunjung tinggi keadilan dan cinta kasih. Mereka yang protes dan marah atas pembalakan hutan oleh ekspansi sawit dan perusahaan tambang batubara yang melibatkan elite politik yang tengah berkuasa, sesungguhnya tengah memparktikkan akhlak, karena hatinya tergetar dan meronta melihat perusakan dan brutalitas atas nama pembangunan. Jadi, tetaplah melawan oligarki, seperti slogan pelajar STM, “pantang pulang sebelum oligarki tumbang!***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus