Semua akan Kalcit pada Waktunya

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi oleh Deadnauval


TIGA orang dengan standar moral tak beres-beres amat, berlomba-lomba membanggakan profesi mereka. Masing-masing yakin, profesi merekalah yang paling basah. Orang pertama, anggota DPR, bilang, ia memang perlu memompa uang banyak untuk pencalonan dan kampanyenya. Selanjutnya? Uang mengalir tanpa tanggung-tanggung ke koceknya.

“Mau terpilih buat pengadaan proyek-proyek nasional? Semua mesti lewat saya,” sesumbarnya.

Orang kedua kontan menampik orang pertama. Mimiknya pongah. “Saya bahkan tak perlu keluar duit seperti Anda, Bung. Saya cuma perlu mengaku-ngaku mengorganisir relawan, ngetwit-ngetwit heroik sedikit. Kini, saya direksi BUMN. Saya tak perlu jelasin lagi lah ya benefit jadi direksi BUMN.”

Sekonyong-konyong saja, orang ketiga merangkul kedua bangsat barusan.

“Kalian semua bubar!” timpalnya sambil menggeleng-geleng. “Orang-orang berbondong-bondong menyetor duit ke saya. Apa yang perlu saya lakukan? Saya cuma perlu pasang gambar rumah-rumah di koran.”

“Itu saja?” orang kedua bertanya.

“Dan saya tulis,” tambah orang ketiga, “minggu depan harga naik.”

Siapa orang ketiga? Anda sudah bisa menerkanya seharusnya: pengembang properti. Ada kebenaran yang menyelinap ke dialog yang tidak pernah terjadi itu. Kebenaran yang menggelikan dan pahit, menggelitik dan mengiris.

Saya mempelajari kebenaran tersebut lewat sebuah pengalaman menggeramkan. Pada 2014, saya merasa akhirnya tabungan saya cukup untuk membeli satu unit apartemen. Selepas beberapa waktu berburu unit, saya tak menemukan apartemen yang padan. Lokasi mereka ada yang buruk. Beberapa harganya terlalu tinggi. Yang lain fasilitasnya memprihatinkan. Seandainya saya sedang memilih komputer, saya bisa lebih berlama-lama. Saya akan menimbang-nimbang dengan lebih masak, mengumpulkan lebih banyak pilihan, memastikan saya punya informasi yang lengkap.

Hanya saja, saya tidak sedang mencari komputer. Hampir di setiap penawaran hunian yang saya dapatkan, saya diingatkan bahwa harga hanya berlaku hingga beberapa minggu lagi. Uang yang telah dikumpulkan dengan jungkir balik selama bertahun-tahun takkan mampu membeli hunian yang saya butuhkan dalam hitungan hari.

Tahu-tahu, saya sudah berpisah dengan tabungan. Saya membeli sesuatu yang akan saya huni  dalam waktu lama, dan bukan tidak mungkin seumur hidup, dari antara pilihan-pilihan yang sangat tidak sempurna, tergopoh-gopoh, tanpa informasi lengkap segenap risiko yang ada. Saya tak heran mengapa banyak penghuni apartemen yang belakangan merasa diperah seenak perut pengembang. Mereka, saya yakin, adalah bebek yang ditepuki petani dari belakang untuk melangkah terburu-buru menuju keputusannya membeli apartemen. Saya adalah salah satu di antara mereka.

Namun, saya lebih beruntung ketimbang kebanyakan orang. Suatu hari, saya mengunggah sebuah cuit yang bunyinya begini:

Apa perbedaan keong dan milenial?

Keong punya rumah.

Lelucon tersebut kontan menyebar laksana geledek di jagat Twitter. Ia dicuitkan ulang sebanyak 2.400 kali lebih. (Tak sebanyak cuitan yang memuat skandal oppa-oppa Korea tentu, tapi, ya sudahlah.) Tak butuh kejeniusan untuk menerka mengapa cuitan ini viral. Ia mempunyai nilai katarsis. Ia mengeluarkan kegamangan menyakitkan yang terkubur dalam hati banyak orang, dan menghadirkannya dalam ujud pelecehan diri yang dapat ditertawakan. Mereka tahu sedang tergelitik kemalangannya sendiri.

Banyak orang ini hanya bisa pasrah menatap harga hunian merangkak naik menjauhi jangkauan mereka untuk selamanya. Sejak awal mereka sudah mempersetankan asa membeli rumah sendiri dan menerima kenyataan pahit akan mengontrak seumur hidup.

Dan yang paling menyebalkan dari kebenaran ini? Anda tidak sedang diombang-ambing oleh tangan tak kasat mata pasar bebas yang mengatur kehidupan bersama dengan cerdas, sesuai dengan kemampuan dan kepentingan masing-masing. Semua sepele saja: Anda sedang dikerjai oleh tokoh ketiga tamsil kita di atas, sang pengembang.

Saya sadar dengan fenomena ekonomi bernama inflasi. Saya sadar bahwa tanah bukan sumber daya yang bisa diciptakan. Namun, data perbandingan memperlihatkan, tokoh ketiga kita tak mematok harga dengan pertimbangan ongkos produksinya belaka. Harga penawaran untuk dua rumah yang identik dapat sama sekali timpang ketika ia dipasarkan untuk calon pembeli dari luar daerah. Imajinasi nilainya yang menjulang di masa mendatang menjadi pertimbangan penting, dan iklan alay Borneo Bay City tempo hari sangat jitu menggambarkan ini.

Dalam kondisi wajar, orang-orang tidak akan merogoh Rp700 juta untuk kamar studio yang buat memelihara kocheng saja repot dan lagi terpisah pulau dari tempat tinggal mereka sekarang. Namun, kini, dengan janji ia akan menjadi permukiman di jantung ibu kota baru dan nilainya akan lepas landas, siapa yang bisa menyalahkan seorang Bambang bila ia terpikat dengannya? Bahwa mungkin Bambang bisa membelinya selagi murah sebagai tabungan hari tuanya?

Dan ketika pengembang raksasa seperti Agung Podomoro Land menetapkan harga Rp700 juta, angka yang bisa jadi jauh di atas biaya pembangunan aktualnya (contoh kasus, Meikarta), tak ada yang menjamin pengembang-pengembang berikutnya tidak akan berjalan di atas karpet merah yang sudah mereka gelar sendiri. Dengan promosi yang serba menjangkau, pengembang raksasa menanamkan standar harga tertentu dan ia akan menjadi patokan permainan para pemain lain.

Selanjutnya, perlahan tapi pasti, muncullah proses menyakitkan yang dinamai David Harvey sebagai akumulasi lewat disposesi. Harga hunian tidak akan kembali ke taraf yang terjangkau sebelumnya. Ia akan naik dan terus naik. Dan selagi itu terjadi, orang-orang yang membutuhkan investasi akan berebutan membeli hunian bersangkutan, menyalip orang-orang yang benar-benar membutuhkannya.

Proses ini menjelaskan dua data bertolak belakang yang disajikan Edy Burmansyah kepada kita. Properti hunian yang dibangun pengembang di Jakarta selalu habis terjual. Akan tetapi, jumlah penduduk yang memiliki rumah di Jakarta relatif rendah. Penjelasannya? Ia diborong oleh insan-insan lebih mampu yang dengan imajinasi tingkat tingginya yakin bahwa nilai petak yang mereka beli takkan henti-hentinya menanjak. Mereka-mereka juga yang membayangkan akan menyewakannya untuk menambah pendapatan.

Karenanya, saya mengusulkan, mengapa kita tak menyebut melambungnya harga hunian sebagai siasat akumulasi spekulatif saja? Mengapa kita masih perlu menghalus-haluskannya sebagai anyaman mekanisme pasar nan apik? Ia adalah hasil dikte satu arah konglomerasi pengembang yang langsung disambut oleh para spekulan kelas menengah atas. Korbannya? Mereka yang membutuhkan rumah sebagai rumah—bukan sebagai harta karun simpanan. Boleh jadi orang-orang terdekat Anda saat ini sedang memikirkan calon hunian baru yang semakin bergerak ke pelosok untuk pindah bersama keluarga setelah harga kontrakan yang sedang ditempati naik lagi.

Jadi, kita tengah dikerjai oleh tokoh ketiga kita. Tak usah ditampik.

Untuk Anda yang mulai patah semangat memiliki hunian sendiri, saya punya pelipur lara yang dapat saya sampaikan: semua akan Kalcit pada waktunya.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus