Suara Tuhan

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: amoils.com

 

SEMINGGU lalu saya naik taksi untuk pergi ke sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah menjelaskan tujuan dan meramalkan cuaca, saya bertanya kepada pengemudi taksi, “Bagaimana keadaan bapak hari ini?” Dia tidak segera menjawab. Sejurus kemudian dia berkata perlahan, “Saya sulit menjawabnya, Bu. Itu cerita yang panjang.”

Saya senang mendengar cerita yang panjang. Dia kemudian mulai bercerita, “Maaf ya, Bu. Ini zaman yang sangat sulit.”

Anaknya tiga orang. Dua perempuan dan satu laki-laki. Kelas 1 SMP, kelas 5 SD dan kelas 2 SD. Istrinya pernah bekerja sebagai penjaga toko mainan, tapi jarak rumah kontrakan mereka dan toko itu cukup jauh. Waktu kerja dimulai pagi hari dan berakhir di sore hari. Khawatir anak-anak mereka tumbuh tanpa pengawasan, istrinya memilih berhenti bekerja. Dia mendukung keputusan istrinya. Sebelum menjadi pengemudi taksi, dia telah bekerja serabutan: di bengkel, di toko martabak, menjadi tukang cuci piring rumah makan, dan menjadi tukang ojek.

Dia berupaya mengubah kehidupan menjadi lebih baik dengan melamar menjadi pengemudi taksi. Setelah diterima, dia malah bingung. “Karena saya tidak punya hp sendiri, Bu. Menjadi pengemudi taksi, wajib punya hp.”

Ketika mengunjungi ibunya, kebetulan perempuan tua yang memiliki kios kecil di samping rumah ibunya sedang bertamu. “Biasalah, Bu, sesama ibu-ibu kadang-kadang suka ngobrol sebentar,” tuturnya. Perempuan itu bertanya apa pekerjaannya. “Saya jawab diterima jadi sopir, tapi tidak punya hp, kata saya. Ibu itu tanya berapa harga hp. Saya bilang Rp 300 ribu. Dia langsung ke kiosnya dan kembali dengan uang Rp 300 ribu. Dia bilang, beli hp dengan uang ini, kamu harus kerja untuk anak-anak kamu. Jangan pikir kapan mengembalikannya. Saya sampai cium tangan ibu itu berkali-kali, Bu, saking berterima kasihnya saya. “

Hari itu dia hanya meninggalkan uang belanja Rp 15 ribu untuk istrinya di rumah, karena hanya itu uang yang dia miliki. Istrinya ingin membagi dua uang tersebut supaya dia bisa membeli sebotol air mineral, mengingat dia akan bekerja seharian. Dia menolak, karena menganggap istrinya lebih memerlukan uang tadi untuk keperluan rumah tangga.

Apa yang bisa dibeli dengan uang Rp 15 ribu?

“Itu sebisa-bisanya istri saya, Bu,” katanya, lirih.

Ada satu hari yang membuat dia merasa gagal sebagai ayah belum lama ini.

Tetangga sebelah rumah kontrakannya membeli jagung rebus dari penjual jagung rebus yang lewat sore itu. Anaknya yang bungsu ingin dibelikan jagung rebus juga. Tapi dia tidak mempunyai uang sepeser pun di dompet. “Benar-benar kosong, Bu,” kisahnya. Anaknya tidak merengek ataupun memaksa, melainkan buru-buru pergi ke rumah tetangganya. Dia melihat anaknya meraih tangan anak tetangganya yang tengah makan jagung rebus, menjilati tangan itu. “Karena di situ ada bekas-bekas jagung rebus, Bu.” Seketika seperti ada tsunami yang melanda hatinya. Dia segera berlari ke dalam rumah dan menangis. Istrinya menenangkannya, tapi dia tidak bisa melupakan kejadian itu.

Seringkali uang benar-benar minim. “Ibu tahu ‘kan mi instan yang beli satu dan di dalamnya ada tiga? Itu dimasak istri saya, dicampur nasi seadanya. Kami makan berlima, Bu. Kadang saya hanya dapat kuahnya pun tidak masalah, asal anak-anak saya makan lebih banyak,” katanya.

Dia terus bercerita, “Biaya listrik juga terus meningkat, Bu. Rp 20 ribu itu hanya untuk dua hari. Kalau pun diirit hanya bisa sampai 2,5 hari.”

Setelah itu dia mengisahkan latar belakang keluarganya. “Kami ini orang-orang kecil, orang-orang rendahan. Bapak saya juga sopir, Bu.” katanya. Tidak banyak perubahan hidup dari rezim ke rezim, “Tapi di masa ini adalah yang masa paling sulit. Benar-benar sulit, Bu. Harga di pasar juga naik.”

“Pak, bukannya harga barang-barang di pasar tidak ada yang naik?” kata saya.

“Kata siapa, Bu?”

“Kata pemerintah.”

“Pemerintah mana ya, Bu?”

“Pemerintah negara Somalia, Pak.” Saya bergurau.

Dia tertawa. Kami sama-sama tertawa.

Katanya, “Bu, saya belum pernah ketemu penumpang seperti ibu ini. Saya tadinya sedih, tahu-tahunya bisa ketawa.”

Tak berapa lama dia mulai bercerita tentang pendidikan anak-anaknya. “Uang sekolah memang gratis. Tapi sebenarnya lebih parah. Anak-anak diwajibkan membeli buku-buku pelajaran. Biayanya juga mahal dan harus dibeli, meski dicicil. Lebih parah lagi, buku pelajaran yang digunakan kakaknya tidak bisa digunakan adiknya. Berbeda dengan zaman saya sekolah dulu. Buku-buku pelajaran saya bisa diturunkan ke adik-adik saya. Orangtua kami tidak perlu mengeluarkan biaya berkali-kali.”

Anaknya berprestasi, ranking dua di kelas. Dia berusaha mendapatkan kartu Jakarta Pintar. “Tapi gagal,” katanya, lirih, “Kartu itu untuk orang yang berdomisili di Jakarta. KTP saya, KTP Jakarta, tapi saya berdomisili di Tangerang. Waktu mengajukan kartu itu, tim survei memeriksa. Ternyata saya tinggal di Tangerang. Ya tidak dapat, Bu. Saya memang sengaja pindah ke Tangerang, karena kontrak rumah lebih murah, Rp 700 ribu per bulan. Di Jakarta, saya tidak sanggup, karena minimal harga kontrakan Rp 1,2 juta per bulan. Ini saja bayar kontrakan belum lunas bulan ini. Tapi bagaimana lagi, sudah berusaha keras dan uang memang belum dapat.”

Saya menasihati dia, “Jangan putus asa, Pak. Dalam kehidupan ini, ada masa-masa yang sangat sulit. Tapi Tuhan Maha Adil. Bapak akan memperoleh rezeki asal yakin dan berdoa.”

Saya juga berniat membelikannya makan siang yang lezat, lalu bertanya, “Apa makanan kesukaan Bapak?”

“Apa ya, Bu? Tumis-tumisan, Bu. Makanan saya itu kalau di rumah ya tumis sawi, tumis kangkung, tumis kacang panjang… dengan nasi, Bu. Kalau ada tempe dengan tempe, Bu.”

Katanya, dia tidak ingin dipimpin orang yang sama. Dulu dia memilih calon pemimpin yang dikalahkan dan tahun depan dia akan memilih calon pemimpin yang pernah dikalahkan ini.

Saya membalas, “Saya dulu memilih calon yang sekarang memerintah, Pak. Maafkan pemimpin yang sekarang karena tidak berhasil memperbaiki nasib bapak sekeluarga.”

Dia terdiam sebentar, setelah itu berkata, “Bukan salah Ibu. Kita ini sama-sama rakyat. Saya tidak menyangka Ibu dukung calon yang sekarang memerintah. Pendukungnya biasanya membabi buta, Bu. Sangat membabi buta. Kalau bicara tidak mau kalah, semau-maunya dan tidak mau mendengar, Bu. Taksi saya ini saksinya.”

Kali ini saya yang terdiam.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus