Kontradiksi Keuangan

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: David McWilliams

 

Kawan-kawan,

KINI kita hidup dalam fase kapitalisme yang ditandai oleh semakin dominannya peran sektor keuangan di banding sektor-sektor ekonomi lainnnya. Seperti banyak hal lain di bidang ekonomi, keuangan (finance) selain meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, juga pertumbuhan dan perkembangan yang menghancurkan ekonomi itu sendiri. Keseimbangan antara efek-efek yang kontradiktif ini tergantung pada semua aspek lain dari ekonomi dan masyarakat dan bagaimana semua itu memengaruhi kontradiksi keuangan. Sejak pertama kali menjejaki dunia ekonomi – bagian masyarakat yang peduli dengan produksi dan distribusi barang dan jasa – uang telah berkontradiksi dengannya. Di satu sisi ia memungkinkan perdagangan dan pertukaran jauh melampaui batas-batas sistem barter dan sistem pra-uang lainnya, di sisi lainnya, uang juga memperkenalkan segala macam ketidakstabilan baru.

Peran keuangan dan kontradiksinya ini berubah terutama setelah dekade 1970-an. Pusat-pusat kapitalisme lama (Eropa Barat, Amerika Utara dan Jepang) kehilangan bagian utama dari keunggulan global mereka. Kombinasi antara otomatisasi yang berhubungan dengan komputer, pergeseran politik dan relokasi produksi ke wilayah-wilayah dengan upah rendah – khususnya di Asia dan Amerika Latin – telah menyebabkan terjadinya kemunduran ekonomi bagi mayoritas rakyat di pusat-pusat ekonomi lama itu. Tetapi tidak dengan para kapitalisnya. Mereka kini memperoleh akses ke angkatan kerja baru, tenaga kerja berupah rendah dan perolehan laba yang terkait dengannya. Mereka kini dapat berpindah ke tempat dimana tenaga kerja yang lebih murah tersedia atau membawa tenaga kerja itu ke pusat-pusat lama sebagai imigran. Sebagian besar negara-negara pusat lama melakukan keduanya. Hasilnya, hampir di mana-mana di pusat-pusat lama, kapitalisme mengalami stagnasi atau penurunan upah riil berbarengan dengan ketimpangan pendapatan dan kekayaan yang sangat tajam.

Ironisnya, periode pasca-perang telah memungkinkan kebangkitan kapitalisme yang tertatih-tatih akibat dari Depresi Besar dan perang. Digabungkan dengan keuntungan sosial-demokrat yang dicapai selama periode 1930-an dan 1940-an, tahun-tahun dari 1945 hingga 1975 menyaksikan perayaan selama satu dasawarsa meningkatnya standar konsumsi massa yang dibayar dengan menaikkan upah riil.

Periode ini digambarkan sebagai munculnya “kelas menengah” yang nyaman dan konsumsi tinggi. Sukses ini  dirayakan oleh para pemenang ideologi kapitalisme sebagai prestasi dan pembenarannya sebagai sistem yang tak tertandingi. Bergandengan mesra dengan meningkatnya konsumsi ini adalah meledaknya iklan produk yang menyelesup ke setiap sudut dan relung kehidupan modern. Hasil lanjutanya adalah untuk meningkatnya tingkat konsumsi melebihi ukuran sebelumnya – dalam pengertian yang ada – dari setiap kesuksesan individu dalam kehidupan. Di AS, orang tua berjanji satu sama lain bersama anak-anak mereka mengenai mimpi Amerika (American dream) tentang konsumsi yang terus meningkat yang dibiayai oleh upah riil yang terus meningkat pula.

Lalu datanglah periode stagnasi atau menurunnya upah riil terutama pada dekade 1970an. Mimpi tentang konsumsi yang terus meningkat pun menjadi sulit direalisasikan. Namun begitu, mimpi tersebut telah terinternalisasi dan telah menjadi kebutuhan orang Amerika, tertanam kuat dalam harapan mereka, sehingga mereka bertekad untuk terus menggapainya bahkan tanpa menaikkan upah untuk membayarnya. Semula keluarga yang memutuskan untuk mengonsumsi memilih mengirimkan lebih banyak anggota keluarganya untuk bekerja dengan jam kerja lebih panjang karena upah riil per jam yang stagnan. Namun ketika jam-jam tambahan itu tidak mencukupi, maka berutang merupakan satu-satunya cara untuk membayar peningkatan konsumsi. Keputusan ini (meminjam) kemudian memberikan peluang keuntungan baru bagi kapitalis keuangan (financial capitalist): memberikan pinjaman kepada konsumen untuk meningkatkan konsumsi mereka. Sektor keuangan kemudian menciptakan bentuk-bentuk baru perluasan kredit konsumen (terutama kartu kredit dan kemudian pinjaman mahasiswa) dan memperluas bentuk-bentuk lama (kredit perumahan dan kredit mobil). Bank menggabungkan semua bentuk utang konsumen ini menjadi efek beragun aset (asset-backed securities), yang memungkinkan mereka mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan sumber dana pinjaman yang tersebar di seluruh dunia.

Kredit konsumsi ini berperan besar dalam mendukung booming ekonomi yang terjadi pada dekade 1980-an dan 1990-an hingga memasuki abad 21. Namun kredit yang sama juga menyebarkan secara global resiko bahwa pasokan besar baru dari instrumen utang konsumen ini mungkin tidak membuahkan hasil. Lonjakan finansialisasi setelah tahun 1970-an juga termasuk pinjaman besar baru bagi perusahaan dan pemerintah. Ketika krisis kredit macet pecah pada tahun 2008, itu mencakup tiga jenis pinjaman: konsumen, perusahaan dan publik. Karena finansialisasi telah menghasilkan laba baru yang besar dan ekspansi sektor keuangan relatif terhadap semua sektor ekonomi kapitalis lain di seluruh dunia, maka krisis keuangan 2008 yang meletus di AS itu juga  telah  menyebabkan terjadinya kebangkrutan ekonomi global.

Fase ekspansi keuangan ini sering diikuti oleh fase kontradiktif lainnya, fase kontraksi. Krisis tahun 2008 terbukti menjadi titik balik saat ini di antara fase-fase tersebut. Bailout, bail-ins dan berbagai kebijakan moneter (dan beberapa fiskal) lainnya telah mencoba “mengelola” krisis dan konsekuensinya. Sejauh ini hasil yang dicapai adalah beragam: terjadi beberapa “pemulihan” namun sebagian besar tidak berkaitan dengan kepentingan terbesar dari populasi. Dampak pemulihan pada 1 persen teratas dan 10 persen perusahaan dan individu juga terbukti tidak merata.

Finansialisasi juga telah memfasilitasi relokasi historis kapitalisme dari pusat-pusat lama ke pusat-pusat yang baru. Karena relokasi ini didorong oleh keuntungan kapitalis yang bergerak dari produksi berbasis upah buruh tinggi ke buruh berupah rendah, hasilnya adalah ketidakseimbangan pasokan-permintaan (supply-demand imbalance). Menurunkan upah global menyebabkan berkurangnya permintaan efektif. Dalam situasi ini, utang dapat mengurangi ketidakseimbangan sementara. Karena itu, keuangan global kemudian meraup keuntungan berlipat-ganda dari globalisasi yang dipromosikannya. Namun utang itu juga telah melampaui batas, mengambil risiko berlebihan, dan akhirnya meledak. Kelangsungan hidupnya lantas menjadi tergantung pada intervensi dan dukungan negara.

Akibatnya, industri keuangan sekarang lebih kuat tetapi sekaligus lebih lemah, sehingga melanggengkan sifat kontradiksi intrinsik dari keuangan itu sendiri. Nasib jangka panjang mereka saat ini sangat bergantung pada apa yang terjadi pada konteks kapitalis yang lebih besar. Ketika kapitalisme merosot di pusat-pusat lamanya dan meninggalkan pembelahan-pembelahan sosial, ekonomi, ekologi dan politik yang sangat besar dan kehancuran di belakangnya, sejauh mana perlawanan di pusat-pusat lama ini terjadi? Apakah gerakan menuntut perusahaan keuangan negara untuk bersaing dengan mitra swasta mendapatkan kekuatannya? Apakah inisiatif untuk melampaui kapitalisme muncul, tumbuh dan menantang lembaga keuangan yang sudah mapan? Apakah gerakan-gerakan itu sudah dimulai?

Di pusat-pusat baru kapitalisme, akankah sejarah terulang di sana dimana terjadi perpecahan pahit dan perjuangan kelas pekerja seperti pada perkembangan awal pusat-pusat lama kapitalisme? Mungkinkah perjuangan di pusat-pusat lama dan baru menemukan beberapa kesamaan dan ikatan bersama untuk membangun aliansi yang efektif dalam oposisinya terhadap kapitalisme? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan sangat berkaitan dengan bentuk industri keuangan di masa depan ketimbang rincian dari praktik-praktik keuangan mereka.***

 

Richard D. Wolff adalah pensiunan professor ilmu ekonomi di Universitas Massachusetts, Amherst, dimana ia mengajar ilmu ekonomi dari tahun 1973 hingga 2008. Saat ini adalah profesor tamu di program pasca sarjana hubungan internasional di Universitas New School, New York City. Richard juga secara regular mengajar kelas-kelas di Brecht Forum di Manhattan. Bukunya antara lain: Capitalism’s Crisis Deepens: Essays on the Global Economic Meltdown( 2016); Democracy at Work: A Cure for Capitalism (2012); Occupy the Economy: Challenging Capitalism (2012); Contending Economic Theories: Neoclassical, Keynesian, and Marxian (2012); dan Capitalism Hits the Fan: The Global Economic Meltdown and What to Do About It (2009). Arsip penuh dari karya Richard, termasuk video-video dan podcast-podcast bisa diperoleh di websitenya . Follow Richard di Twitternya: @profwolff

 

*Artikel ini sebelumnya telah muncul di Truthout.org and Roar Magazine

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus