Atas Nama Martabat dan Maskulinitas

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Jitunews

 

MAMA Ida, mama piara saya di Seram Utara, Maluku, adalah sosok yang tidak sungkan mengutarakan isi pikirannya. Ia tak merasa ada yang keliru dengan keaktifannya terlibat dalam pembicaraan para bapak seputar drama-drama dusun. Ia berusaha memengaruhi pandangan orang-orang ketika berbicara. Ia merasa harus selalu memberi andil dalam urusan-urusan publik yang dianggap penting.

Saya kagum dengan Mama Ida—dengan intensitasnya yang jarang saya jumpai bahkan di banyak tempat lain sekalipun.

Namun, saya juga tak heran Mama Ida dianggap berbeda. Para lelaki di dusun beberapa kali membicarakan watak Mama Ida yang kukuh tersebut dengan suaminya. Mereka mengomentarinya dengan bercanda, memang, serta tak mencibirnya dengan gamblang. Sayangnya, ini juga mengisyaratkan mereka tak mewajarkan keberanian-keberaniannya. Wanita seyogianya membiarkan para suami membereskan urusan-urusan publik dan produktif. Mama Ida tidak.

Dan saya tidak heran ketika suatu malam Mama Ida bermimpi buruk karenanya. Ia bermimpi menegur pengepul ikan rekan kerja suaminya karena berbuat sebuah kesalahan yang sangat merepotkan mereka—hal yang biasa dilakukan Mama Ida sebenarnya. Akan tetapi, sang pengepul ikan sekonyong-konyong berbalik mengamuk kepadanya. Ia mendatangi rumah Mama Ida. Ia membakarnya.

Tentu saja, Mama Ida hanya bermimpi. Namun, mimpi ini berkata banyak. Seandainya Mama Ida bukan perempuan, akankah ia memimpikan peristiwa mengerikan yang sama hanya karena menegur secara lumrah kesalahan seorang lelaki? Akankah alam bawah sadarnya membangkitkan citra ada laki-laki yang begitu jengkel dengan keluhan-keluhannya hingga menghancurkan rumahnya?

Saya curiga, tidak.

Mama Ida tinggal di dusun yang sentosa. Tetapi di sana, sebagaimana di semua tempat lain di dunia, perempuan bukan penanda identitas yang netral belaka. Dikotominya dengan laki-laki mensyaratkan ketimpangan. Ketimpangan yang seperti apa? Seperti yang terhatur dalam syair Robert Graves: “Laki-laki melakukan, perempuan mengada.” Perempuan adalah mereka yang dituntut untuk sekadar mengada sebaik-baiknya menurut ekspektasi lelaki. Lelakilah yang akan bertindak, mengubah, menentukan. Perempuan, seyogianya, penurut. Lelakilah penggerak dan pemimpinnya.

Pada satu kesempatan, saya pernah menjelaskan bagaimana dikotomi ini dan kemelut-kemelutnya saat ini bersemayam di balik hubungan antara perempuan dan lelaki di mana-mana. Kontan, ada mahasiswa yang merasa dikotomi ini baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengannya. Perbedaan adalah kodrat dan saya, selaku pengajar yang mempermasalahkannya, justru mengajarkan feminisme yang mengancam akhlak para peserta ajar. Namun, terka apa? Ada alasan-alasan mengapa saya merasa lebih sreg menjadi penebar ancaman akhlak alih-alih melazimkan perbedaan ini.

Hari ini, alasan pertama adalah Agni. Sadarkah kita berkat dikotomi yang timpang ini kebusukan yang dialami Agni menjadi hal yang diwajarkan? Agni, mahasiswi Fisipol UGM, menjadi korban kekerasan seksual rekan mahasiswanya ketika mengikuti kuliah kerja nyata pertengahan tahun ini. Pengalaman Agni traumatis—saya tak punya bahasa lain untuk menghaluskannya. Akan tetapi, apa kata para pejabat kampus yang menjadi tempat aduan pertama Agni?

Agni, kata mereka, adalah ikan asin—dicium-cium adalah hal yang normal bila ia diberikan kepada kucing.

Agni perlu menerimanya sebagai pengalaman. Peristiwa tersebut, toh, sudah berlalu.

Agni perlu bertobat.

Apa yang mereka pikirkan tepatnya sampai-sampai pernyataan-pernyataan tak berperasaan tersebut teranyam? Bahwa laki-laki pada hakikatnya memang akan menghasrati wanita dan wanitalah, sang objek, yang perlu menjaga diri? Bahwa wanita yang tak bisa menjaga diri akan sewajarnya terhukum dengan menjadi korban lelaki? Nampaknya demikian. “Laki-laki,” toh, “melakukan. Perempuan mengada.”

Dan, kita tahu, Agni bukan yang pertama. Ia adalah satu dari antara begitu banyak penyintas yang ceritanya disepelekan oleh pihak-pihak bertanggung jawab dan ditinggalkan dengan cibiran-cibiran menyakitkan.

Dua tahun silam, kalau Anda masih ingat, Enno Farihah menjadi korban perkosaan tiga rekan kerjanya. Enno meninggal setelah diperkosa dengan cangkul. Terdakwa pembunuhnya, yang melakukannya berangkat dari motif dendam, divonis mati. Akan tetapi, reaksi yang mengemuka mengiringi kasus ini menunjukkan kita memiliki banyak jahanam yang masih bebas melenggak-lenggok di media sosial. Enno, kata mereka, merupakan cerminan apa yang terjadi kepada perempuan yang tak mau diatur dan menggoda lelaki. Tidak kapok? Masih tersedia cangkul-cangkul yang siap mengoyak para wanita nakal, kata mereka.

Saya kehilangan kata-kata. Saya teringat dengan bagaimana di Papua Nugini, pada tahun 1950-an, perkosaan kerumunan dengan sengaja dibiarkan berkembang oleh para lelaki. Perkosaan kerumunan, pasalnya, dianggap dapat menyadarkan wanita dengan tempatnya ketika intimidasi tak lagi cukup.

“Kami menundukkan wanita kami dengan pisang,” ujar orang Mundurucu sebagaimana dicatat oleh etnograf Robert F. Murphy.

Kekejian tak terperi semacam ini masih berada bersama kita rupanya. Dan dengan solusi-solusi reaksioner menggerus ruang gerak wanita setiap kali kekerasan serupa berulang, kita membiarkannya terus hidup.

Dan saya bahkan belum menyinggung satu nama yang kiprahnya harus diketahui oleh mereka yang mengagung-agungkan reputasi lembaga di atas kenestapaan korban kekerasan seksual: Budi Satria. Saya pertama kali mendengar nama ini ketika ia dengan pembawaan nan heroik mendeklarasikan hendak memolisikan Ita F. Nadia dan LSM Kalyanamitra. Ita F. Nadia dan LSM Kalyanamitra yang acap mengadvokasi keadilan untuk korban perkosaan massal 1998? Benar. Untuk apa?

Untuk perbuatan mereka, katanya, yang telah mengandaskan reputasi Indonesia.

Budi Satria merasa advokasi-advokasi palsu semacam ini telah “mencemarkan nama baik, memfitnah, menghancurkan moral bangsa dan rakyat Indonesia selama dua puluh tahun terakhir.” Ia, sebagai advokat, merasa terpanggil untuk memulihkan nama baik bangsa dan umatnya.

Budi Satria merupakan kenyataan yang buruk. Namun, masih ada kenyataan yang lebih buruk lagi ketika ia mencari panggung dengan pernyataan-pernyataan memalukannya: kenyataan bahwa ia tak sendiri. Ia didukung oleh banyak orang yang maskulinitas ringkihnya sama-sama menggiring mereka untuk percaya pada teori konspirasi abal-abal, bahwa orang-orang Tionghoa ingin mempermalukan Indonesia secara internasional, alih-alih penyelidikan-penyelidikan serius, dan berbelas kasihan sebesar-besarnya kepada ego mereka sendiri alih-alih para perempuan yang mengalami kekerasan traumatis.

Apa bedanya kegagahan yang ditunjukkan Budi Satria cs dengan tindak-tanduk para pembela martabat lembaga yang kini tengah duduk di kursi panas itu? Pada dasarnya, tidak ada. Apa yang di mata korban adalah kekerasan, di mata mereka adalah skandal seks yang perlu ditutup-tutupi. Apa yang di mata korban adalah kepiluan tak terperi, di pendengaran mereka, desahan bersenggama yang perlu mereka sobek dari catatan sejarah.

Dikotomi timpang perempuan dan laki-laki—ada serenteng konsekuensi fatal yang akan mengikuti bila kita menerima pemilahan ini begitu saja.

Ada perempuan yang akan selalu menjadi sasaran empuk pengaturan dan kekerasan.

Ada akhlak yang bedilnya secara tidak adil akan selalu terbidik ke perempuan.

Agni harus mendapatkan keadilan. Dan selanjutnya, para penyintas lain…***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus