Di Balik Sepinya Seruan Nonton Bareng Film G30S: Habis Kivlan Terbitlah Gatot

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

SAYA tidak tahu masihkah ada negara selain Indonesia di planet ini yang melawan sebuah ideologi yang telah dinyatakan ‘mati’ secara konstitusional dengan menonton film propaganda? Konyolnya, film yang digunakan melawan ideologi itu sudah diproduksi puluhan tahun lalu sehingga jauh ketinggalan zaman secara sinematografi. Film ini sama sekali tidak menarik buat generasi millennial yang diharapkan mewarisi gen ketakutan terhadap ideologi kiri. Ini ibarat Anda mau mengajarkan cara mengetik lima jari di komputer kepada anak Anda tetapi menggunakan mesin ketik.

Dalam lima tahun terakhir, kasak-kusuk kebangkitan hantu komunis terdengar meningkat tiap memasuki bulan september. Gejala ini terjadi selama pemerintahan rezim Jokowi yang kebetulan pernah juga diisukan keturunan PKI. Tahun lalu, sebuah stasiun televisi berita bahkan memutar film propaganda berdurasi tiga jam-an ini sambil berharap ratingnya naik karena menyajikan tontonan yang membuat orang bisa mengembalikan romantika kenangan hidup zaman otoriter Orde Baru. Padahal, tidak perlu menunggu September jika mau menonton film ini. Anda hanya butuh kuota internet cukup untuk bisa menontonnya di Youtube kapanpun Anda mau. Bagi pemuja film ini, momen penghujung bulan September adalah saat yang ditunggu-tunggu tiap tahun.

Entah apa yang terjadi pada September tahun ini sehingga gaung kebangkitan komunis tidak lagi terdengar. Biasanya orang seperti Kivlan Zen dan Alfian Tanjung mendadak dapat panggung di berbagai kanal media dan berkhotbah tentang perlunya mewaspadai kebangkitan komunis. Dengan berbusa-busa, orang macam Kivlan akan menebar ketakutan bahwa jutaan orang komunis siap berontak dan mengambil alih pemerintahan. Konyolnya, tiap ditanya siapa mereka-mereka yang dia maksud komunis, Kivlan tidak dapat menunjuk satu orang pun dari sekian ratus juta penduduk republik ini.

Koar-koar Kivlan perlahan meredup dan hilang. Tetapi kini muncul sosok baru yang menggantikan perannya berkhotbah tentang kebangkitan komunis. Dia adalah Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo. Mantan panglima TNI ini dengan patriotik merasa perlu mengingatkan kita pentingnya melanjutkan tradisi peninggalan Orde Baru. Bagi Gatot, yang notabene produk pendidikan militer zaman Orde Baru, komunis masih bergentayangan sampai saat ini. Gatot baru-baru ini menulis di instagramnya agar pemerintah, khsusunya militer, tidak lupa sejarah.

‘Kalau KSAD tidak berani memerintahkan nonton bareng film G-30S/PKI, bagaimana mau mimpin prajurit pemberani dan jagoan-jagoan seperti kostrad, kopassus, dan semua prajurit TNI-AD. Kok KSAD-nya penakut…ya sudah pantas lepas pangkat. Ingat! Tidak ada hukuman mati untuk perintah nonton bareng, paling copot jabatan, bukan copot nyawa. Kalau takut, pulang kampung saja. Karena kasian nanti prajuritnya disamakan dengan pemimpinnya penakut. Kan bisa menjatuhkan harga diri prajurit TNI AD yang terkenal di dunia pemberani plus super nekat. Tapi saya yakin KSAD dan panglima TNI bukan tipe penakut. Kita lihat saja pelaksanaannya” tulis Gatot.

Ini sudah masuk minggu ke empat di bulan September, tapi gaung kebangkitan hantu komunis yang dilawan dengan nonton bareng masih adem ayem. Ini berbanding terbalik dengn waktu Gatot menjadi panglima TNI. Saya curiga sepinya gembar-gembor nonton bareng bukan semata karena ini tahun politik dan sibuk Pilpres, tapi karena filmnya sudah sangat ketinggalan zaman sehingga tidak ada lagi yang mau menontonnya. Industri film sudah sangat maju. Masa kita mau diajak terus-terusan nonton bareng film yang jadul itu? Ya, tidak masuk pak Eko Gatot. Memangnya kalau pemerintah tidak mau menyerukan nonton bareng film ini, Anda mau apa?

Tahun lalu Presiden Jokowi pernah berkomentar agar film pemberontakan G30 S TNI PKI dibuat reborn agar sesuai dengan selera millennial sehingga enak ditonton. Tapi sampai saat ini, setahu saya, belum ada satu pun sutradara film yang menyambut usul pesiden. Nah, ini tentu menjadi peluang buat pak Gatot. Kita bisa membuat petisi kepada Presiden Jokowi agar memberikan kesempatan kepada pak Gatot untuk menyutradarai pembuatan film G30 S reborn. Mumpung sekarang lagi zamannya film reborn-reborn-an. Siapa tahu bisa laris manis seperti film Warkop dan Wiro Sableng reborn. Tentu dengan catatan pak Gatot tidak sibuk jadi tim sukses salah satu kandidat calon presiden yang akan bertarung di 2019.

Pemilihan pak Gatot sebagai sutradara akan lebih bisa diterima masyarakat karena selama ini dikenal dekat dengan umat dan netral secara politik. Tidak seperti seniornya mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Moeldoko yang berada di pusara kekuasaan dengan menjabat kepala staf kepresidenan. Kita juga bisa mengusulkan supaya adegan-adegan yang ditampilkan di film G30 S reborn nanti sesuai selera millennial. Misalnya, pasukan cakrabirawa yang bertugas menculik Jenderal Nasution gagal menjalankan tugasnya gara-gara petunjuk arah GPS di google map salah. Adegan itu bisa juga diganti dengan pasukan penculik gagal membawa jenderal Nasution karena foto di profil facebooknya dengan aslinya tidak sesuai sehingga ajudannya menjadi korban salah tangkap. Ini tentu lebih bisa diterima generasi millennial karena lebih mirip dengan kenyataan sehari-hari aparat kita saat ini yang sering salah tangkap ketika menghadapi kasus-kasus kecil menyangkut petani, mahasiswa, nelayan, dan buruh.

Silakan lanjutkan sendiri jika Anda punya usul adegan lain yang mau diubah. Saya mau beli paket data dulu. Siapa tahu nanti saya berminat nonton film jadul itu meski tidak ada himbauan dari pemerintah. Lagian kalau saya tidak mau nonton, Anda mau apa???***

 

Muh. Fahrudin Alawi adalah mahasiswa Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus