Mesias Tidak Datang Besok Pagi

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: ONE FOR ISRAEL Ministry

 

AGAMA-agama samawi mempunyai satu kesamaan tradisi yang khas. Yaitu kepercayaan bahwa pada suatu masa, ketika bumi sudah di ambang kehancuran, akan hadir seorang sosok yang mampu mengembalikan perdamaian, ketenteraman dan keteraturan di bumi. Sosok itu disebut oleh Bangsa Yahudi sebagai Mashiach, Messiah atau Kristos oleh penganut Kristen dan Katolik, lalu Masih oleh umat Muslim. Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskannya dengan kata Mesias. Lantas, siapa sih sebenarnya Mesias ini?

Dalam Kitab Tanakh agama Yahudi, khususnya dalam kitab para nabi atau Nevi’im, dikisahkan oleh Nabi Yesaya mengenai seseorang dari keturunan Raja Daud yang akan menyelamatkan Orang Israel dan memerintah dengan adil penuh kebijaksanaan. Demikian pula yang diimani oleh penganut Kristen atau Katolik. Bahwa Mesias akan bertumbuh dari garis keturunan Daud dan dilahirkan melalui seorang perawan, yang tak lain ialah Yesus dari Nazareth. Diterangkan dalam Injil, khususnya Kitab Wahyu yang ditulis berdasarkan penglihatan Rasul Yohanes, Ia dipercaya akan menyelamatkan seluruh dunia. Lalu dalam tradisi Islam, Al-Masih yang telah diangkat ke surga dan akan kembali lagi ke bumi untuk mengalahkan Dajjal atau nabi-nabi palsu. Tertulis dalam Quran 3:45 bahwa Al-Masih putera Maryam seorang terkemuka di dunia dan di akhirat yang termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Setidaknya itulah yang dijelaskan oleh agama samawi tentang Mesias ini.

Tidak hanya agama samawi yang memiliki kepercayaan akan hadirnya sosok penyelamat umat manusia. Dalam kepercayaan Jawa Kuno juga terdapat keyakinan bahwa akan muncul sosok Satrio Piningit atau Ratu Adil. Hal ini didasari oleh Jongko Joyobhoyo atau Ramalan Raja Jayabaya dari Kerajaan Kediri pada abad ke-12 yang tertulis dalam Serat Pararaton. Satrio Piningit akan hadir sebagai pemimpin yang piawai dalam memerintah dan ia akan menguasai dunia. Sosok ini akan muncul setelah terjadi banjir hebat dan gunung meletus. Kepercayaan tersebut masih tertanam subur bahkan di pasca revolusi 1945 di Indonesia. Dengan munculnya Angkatan Perang Ratu Adil pada tahun 1950 di Bandung, dengan Raymond Westerling sebagai Ratu Adilnya. Layaknya Westerling, beberapa orang di dunia modern pun banyak yang menganggap dirinya Mesias, beberapa di antaranya seperti Sun Myung Moon, Alan John Miller, atau bahkan Lia Eden. Mereka termasuk orang-orang yang mampu menghimpun massa atas nama keimanan.

Gejala ini tidak hanya terdapat dalam ranah keimanan, ia juga hadir di dalam kehidupan praktis, khususnya ekonomi dan politik. Dalam buku sejarah tertulis nama-nama seperti Hammurabi, Leonidas, Hannibal Barca, Julius Caesar, Konstantin, Attila, Genghis Khan, Saladin, Elizabeth, Napoleon dan lain-lain. Mereka termasuk orang-orang yang berhasil meyakinkan orang lain untuk ikut berperang dan mati dalam nama suku, bangsa, negara bahkan dirinya sendiri. Gejala yang persis antara Mesias atau tokoh-tokoh besar lain yang menyerupainya itu yaitu mereka diyakini mampu membawa manusia ke jalan yang lurus menuju kedamaian dan kesejahteraan.

Terlepas dari segala iman dan keyakinan, antropolog kondang Marvin Harris menjelaskan bahwa sosok seperti ini muncul dalam masyarakat bertani awal Neolitikum sekitar 10.000 SM. Meminjam konsep Marshall Sahlins, tokoh ini dikenal sebagai Big Man, oleh Maurice Godelier disebut dengan Great Man. Yaitu seorang individual di dalam kelompok yang dinilai paling kuat, pekerja keras, seorang berkarisma yang mampu membujuk kerabat dan tetangganya untuk giat bekerja di ladang dengan janji mengadakan perjamuan makan besar dengan makanan tambahan dari surplus yang mereka hasilkan. Pada akhirnya, para pengatur distribusi makanan inilah yang nantinya secara bertahap, khususnya di dalam kondisi perang, menjadi para penguasa sesungguhnya. Kok bisa? Karena mereka memiliki keunggulan sifat (keberanian, kepiawaian, kekuatan) yang tidak dimiliki anggota kelompok lainnya. Sehingga selalu diandalkan oleh setiap anggota kelompok. Namun yang terpenting dan sering tak disadari yaitu bahwa mereka mempunyai kendali sepenuhnya atas produksi dan konsumsi, sehingga mereka dapat mengatur hajat hidup banyak orang.

Walau tidak semuanya, manusia dengan segala keterbatasannya dalam menghadapi dunia ini cenderung mengandalkan hidupnya pada sesuatu di luar dari dirinya. Entah kepada roh nenek moyang, kepada peruntungan, kepada Tuhan atau bahkan salah satunya kepada Big Man. Orang-orang mengandalkan tokoh-tokoh besar, dan pada gilirannya kemudian para tokoh itu pun akhirnya berbalik mengendalikan mereka. Dari mengumpulkan surplus produksi pertanian, membuat patung-patung, membuat perjanjian-perjanjian, berperang hingga akhirnya memuja para tokoh ini sebagai keturunan dewa atau bahkan setengah dewa. Arkeologi telah membuktikan. Piramida Giza di Mesir, Piramida Teotihuacan di Mexico, Tembok Besar Tiongkok di sepanjang RRT, Hagia Sophia di Turki hingga Basilika Santo Petrus di Vatikan. Benda-benda tersebut bukan hanya menampilkan keajaiban estetika, namun suatu bukti bahwa terdapat kekuatan besar yang dikendalikan oleh satu tokoh manusia dalam cerita sejarah, terlegitimasi dengan klaim masing-masing mereka dan suatu kemampuan memaksa orang lain dengan kemungkinan untuk mengerahkan kekuatan fisik.

Sejarah pun akhirnya lupa untuk menuliskan tangan-tangan siapa sajakah yang pernah ikut menaruh batu-batu saat Firaun Khufu membangun piramida pada 2550 SM, siapakah yang dengan gagah berani mengawal Alexander Agung bertempur melawan pasukan Darius III di Persia pada abad ke-4 SM, siapa sajakah laskar rakyat yang gagah berani bertempur melawan pasukan sekutu di Surabaya pada pertempuran 10 November 1945? Mereka itu tentu saja orang-orang biasa, hamba sahaya, budak-budak taklukan perang, petani-petani, anak muda dan orang-orang biasa lainnya. Inilah fakta yang selalu dikaburkan oleh romantisme dan setiap nama-nama besar. Di balik harumnya nama setiap tokoh yang mengubah jalannya sejarah, ada darah dan air mata orang-orang biasa yang menjadi tumpuan.

Lantas bagaimana di dunia yang serba Android dan iOS hari ini? Tentu saja, isi yang sama dalam kemasan berbeda. Walau demokrasi telah menjadi alat ukur yang universal, akses sumber daya dan alat produksi yang menjadi dasar hidup manusia masih dimiliki oleh segelintir orang sebagai pengatur jalannya roda kehidupan layaknya para Big Man. Mereka bersama dengan tokoh-tokoh lain dalam kekuasaan negara memiliki kekuatan terlegitimasi serta bersifat memaksa untuk mengendalikan setiap aspek ekonomi dan politik manusia. Maka semakin dalamlah jurang pemisah antara mereka yang berkuasa dan yang dikuasai. Dunia yang semakin dingin ini membuat mereka yang dikuasai bertahan hidup terfragmen tanpa arah tujuan. Di saat-saat inilah hadir tokoh-tokoh tersebut, seakan memberikan angin segar bagi mereka yang tertindas. Tanpa perlu saya sebutkan satu persatu, pembaca dapat memilih sendiri contohnya, karena hal ini khas di negeri kita. Mendukung seorang sosok atau tokoh secara berlebihan, membelanya mati-matian dan mengagung-agungkannya.

Apa yang membuat Anda mendukung habis-habisan dan mencintai tokoh idola Anda? Coba pikirkan lagi. Banyak hal sederhana yang tidak disadari oleh orang banyak, salah satunya realitas biologis. Padahal bila kita berpikir jernih, tokoh-tokoh ini tetaplah manusia biasa yang bermetabolisme dan berekskresi, dengan kata lain makan nasi dan buang air besar. Sederhananya, mereka juga manusia seperti kita yang mencoba mempertahankan hidupnya. Masing-masing pun mempunyai kepentingan pribadi yang dalam beberapa hal sejalan dan dalam beberapa hal lainnya berseberangan dengan kita. Sehingga tidak selamanya tokoh-tokoh tersebut mewakili suara kita atau bahkan sebagai penyelamat kita. Karena mungkin ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri.

Dari ranah realitas sosial. Bila dipikirkan kembali kita semestinya mempertanyakan apa yang membuat tokoh-tokoh itu menjadi orang besar, track record apa, lantas bagaimana ia bisa menjadi sekarang ini, siapa saja di baliknya dan apa saja yang ia kerjakan. Jawabnya tentu saja kembali ke premis dasar manusia secara sosiologis yaitu manusia merupakan mahkluk sosial. Artinya ia selalu berelasi dengan orang lain atau dengan kelompok lain secara timbal balik. Tokoh-tokoh besar itu tak pernah dengan sendirinya keluar dan langsung berlari dari rahim ibunya. Ia akan selalu berhutang budi kepada orang lain. Sudah pasti dibesarkan oleh relasi sosial dari yang paling batih hingga segala macam kelompoknya, ia takkan pernah sendirian. Eksistensinya selalu akan disokong dan bergantung pada orang lain. Dari sini kita pun memahami, meski ia memiliki kepentingan pribadi, ia juga dipengaruhi kepentingan orang-orang terdekat dan tentu kelompoknya. Dari kepentingan itu, lagi-lagi, banyak yang pastinya tidak sejalan dengan kepentingan kita. Barangkali kepentingan kelompoknyalah yang lebih dikedepankan.

Mengetahui bahwa tokoh-tokoh itu secara biologis dan sosial sama dengan diri kita, maka terbukalah mata kita. Permasalahan pertama kita selama ini yaitu secara sengaja dan tidak sengaja menaruh nasib kita pada seorang sosok atau tokoh. Terlalu sering terpana sosok individual, membuat kita sulit membedakan mana pengambil keputusan politik dan mana idola K-Pop. Boleh saja Anda terpana oleh kerennya koreografi Girls Generation, Exo dan Red Velvet. Namun mestinya Anda menyadari siapa yang menyokong mereka, tak lain ialah SM Entertainment yang ada di balik setiap panggung mereka. Padahal ada SM Entertainment hadir secara tak terlihat dan menjadi suatu prasyarat para seniman keren itu. Meski sebagian seniman dieksploitasi lewat pengambilan keuntungan yang tidak seimbang. Tapi kita tidak menyaksikannya atau memilih tidak menyaksikan.

Kini yang menjadi pertanyaan. Mengapa kita cenderung lebih mengarahkan diri kita kepada tokoh-tokoh atau para idola? Tentu saja karena tokoh dan idola bisa memberikan sesuatu yang konkret, minimal memenuhi kepuasan pribadi, kenyamanan dan afeksi. Walau di banyak kasus sampai ke pemenuhan materil. Ini kiranya yang selalu terjadi, kenapa sih masih berlangsung? Karena forum atau dewan yang kita adopsi dari pemikir Yunani hampir gagal untuk hadir dalam memenuhi kerisauan manusia di hari-hari yang semakin tak berhati ini. Slogan sistem demokrasi berubah menjadi dari segelintir orang, oleh segelintir orang dan untuk segelintir orang. Kita jadi terlupa kekuatan yang kita punyai sebagai massa.

Oleh karena itu, sekeren-kerennya Che Guevara, ia tetap tak berdaya berjuang di Bolivia tanpa Fidel Castro, Camilo Cienfuegos dan segenap pejuang Gerakan 26 Juli. Akan jadi apakah Lenin tanpa para Bolshewik, tentara merah dan kelas pekerja lainnya yang memberontak di hari-hari revolusi tahun 1917. Ide Marx dan Engels di abad ke-19 pun tak mungkin bisa bertahan sampai abad ke-21 ini tanpa gerakan kelas pekerja dan segenap orang-orang yang tak mampu disebutkan satu per satu namanya. Jadi tokoh-tokoh itu takkan mampu bertahan tanpa perkumpulan atau organisasi politik tertentu. Dengan demikian membangun organisasi merupakan tugas kita dan justru organisasi itu yang mestinya kita bela. Melalui sumber daya, konsensus dan peraturan yang tegas organisasi itu mesti dibangun. Bukan berarti tokoh-tokoh besar itu tidak penting, namun justru dari organisasi inilah ia harus lahir melalui tempaan keras dan nantinya akan maju dalam kawalan organisasi menjadi penyambung lidah rakyat kelas pekerja.

Boleh saja kita terpesona menjadikan idola-idola kita inspirasi. Tapi menyerahkan nasib kita sepenuhnya kepada mereka, coba pikirkan lagi. Tokoh-tokoh harus selalu berada di bawah naungan suatu kepentingan bersama yang terangkum dalam hukum tertulis yang diputuskan oleh organisasi. Kecuali bila orang-orang ini betul merupakan Mesias. Walahualambissawab, hanya Adonai yang maha mengetahui. Untuk membuktikannya, barangkali kita mesti menunggu Isa Al-masih kembali ke bumi. Lalu nanti kita saksikan apakah Ia datang dan memusnahkan mereka sebagai mesias-mesias palsu atau tidak. Namun sayangnya Mesias mungkin tidak akan datang besok pagi, karena menurut seorang religius, waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia. Maka ketimbang terlalu lama menunggu Mesias turun dan membawa kedamaian ke bumi, mengapa tidak kita sajalah yang membawa kedamaian dan surga itu turun ke bumi?***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus