Masuk Angin

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: Gpro-jack

 

MASIH ingat “Wes ewes ewes, bablas angine!”? Slogan ini ditenarkan oleh Alm. Basuki, pelawak kondang Srimulat dalam iklan Antangin di awal tahun 2000an. Masuk angin ini sering dijadikan kesimpulan terhadap tubuh kita bila terasa tidak enak seperti biasanya. Khususnya di masyarakat Jawa dan tentu nusantara. Anda mungkin saja pernah mengalaminya, entah diri sendiri yang merasakan dan menyimpulkannya, atau didiagnosa oleh kerabat Anda. Lalu apa sih sebetulnya masuk angin itu? Ada atau tidak sih sebetulnya masuk angin itu?

Triratnawati (2010) menjelaskan bahwa masuk angin adalah fenomena budaya sekaligus medis, sebab masuk angin adalah pemahaman/konsep Jawa terkait dengan ketidaknyamanan tubuh, tetapi hal itu juga merupakan konsep medis sebab memang tubuh mengalami gangguan dan mereka juga memiliki cara mengenali penyebab, penyembuhan maupun pencegahannya. Dengan demikian selain sebagai suatu gejala yang sifatnya kultural, masuk angin juga dapat dipahami secara medis.

Masih menurut Triratnawati (2011), masuk angin dianggap sebagai personifikasi ketidakseimbangan yang ada dalam tubuh (mikrokosmos) dengan lingkungan sekitarnya (makrokosmos). Sebagian besar orang Indonesia percaya masuk angin terjadi apabila seseorang kelelahan, kehujanan, kedinginan, kepanasan atau perubahan panas ke dingin dan sebaliknya secara mendadak, banyak pikiran, kurang tidur akibat begadang, terlambat makan, tidur di lantai tanpa alas maupun terkena angin yang keras. Masuk angin muncul dengan gejala-gejala seperti kepala terasa berat, pusing, perut mual, kembung dan tak jarang muntah. Selain itu gejala lain juga sering ditemukan seperti pegal linu, sakit otot, mata terasa berat, tidak bersemangat dan lemas tidak nafsu makan. Inil merupakan penjelasan dari sudut pandang etnomedisin dari gejala masuk angin yang sering diceritakan oleh para antropolog.

Penjelasan tak hanya datang dari para antropolog. Para dokter dari sisi biomedis ikut meluruskan. Menurutnya masuk angin merupakan manifestasi dari gejala penyakit seperti flu, batuk, infeksi saluran pernapasan atas, maag, gangguan pencernaan, penyakit jantung atau gangguan penglihatan. Karena dunia kedokteran berangkat dari pemahaman biomedis yang menitikberatkan penyakit sebagai hal ihwal klinis yang dapat didiagnosa lewat ilmu pengetahuan alam. Dari sudut pandang biomedis, masuk angin bisa merupakan bentuk dari salah satu gejala penyakit klinis di atas, misalnya gejala-gejala yang muncul pada saat inkubasi penyakit flu, yang mungkin datang bersamaan setelah kehujanan atau kedinginan, maka dinamakan menjadi masuk angin. Meski sesungguhnya, menurut biomedis, itu sama sekali bukanlah masuk angin.

Berdasarkan penjelasan di atas yang harus kita setujui bersama-sama yaitu bahwa masuk angin itu ada dan riil. Karena ia mampu dijelaskan dari sudut pandang etnomedisin dan biomedis, namun jika kedua sudut pandang membuktikan masuk angin ada, lantas mana yang dapat kita percaya? Lalu dengan apa cara terbaik kita mengobatinya?

Beberapa dari kita memilih kerokan, minum jamu, pergi ke klinik dan beberapa yang lainnya pasti memilih mengonsumsi obat pereda sakit kepala. Tapi dalam mempelajari hal ini yang mesti kita ingat bahwa masuk angin ini dirasakan oleh tubuh manusia yang riil dan berwujud material, rasa sakit ini tidak melayang mengawang di udara. Sehingga apapun gejala masuk angin itu pastinya bertumpu pada suatu tumpuan yang berwujud material, yang tak lain ialah tubuh manusia. Sebab manusialah yang merasakannya. Sedangkan tubuh material biologis manusia itu memiliki mekanisme atau cara kerja biologis yang kini sudah mampu dijelaskan lewat pemahaman biomedis. Jadi di sinilah, setidaknya menurut saya, gejala masuk angin memang ada, namun di balik itu terdapat gejala-gejala biomedis yang merupakan prasyarat atau prakondisi dari gejala masuk angin itu sendiri.

Mungkin Anda sekarang sudah dapat menyimpulkan sementara bahwa dalam mengobati masuk angin, pandangan biomedis atau kedokteran lebih jitu ketimbang pandangan etnomedisin atau kultural. Menurut saya juga demikian, karena gejala yang terdapat dalam sudut pandang etnomedisin ditemukan pula di dalam biomedis. Namun kenyataan tidak pernah sesederhana itu. Realitanya, kerokan, pijat, minum jahe, minum jamu atau anggur kolesom juga terbukti ampuh menyembuhkan masuk angin. Jika Anda tidak percaya bisa tanyakan tetangga sebelah rumah atau siapapun yang mengaku pernah mengalami masuk angin.

Sama sekali tidak ajaib, namun inilah fakta uniknya masyarakat manusia selama ini. Hal tersebut sudah lama sekali diceritakan Karl Marx dalam The German Ideology, bahwa premis utama dari sejarah manusia ialah keberadaan pribadi manusia yang hidup. Manusia biologis yang berinteraksi dengan alam sekitarnya dan manusia lain untuk mempertahankan hidupnya. Dalam rangka mempertahankan hidup itu dan karena keterbatasan mereka, manusia menciptakan sarana pemenuhan kebutuhan yang bergantung oleh alam di satu sisi dan digunakan untuk menaklukan alam di sisi yang lain. Karena selalu membutuhkan dan dibuat berulang-ulang maka hal tersebut menjadi suatu cara produksi, inilah yang menjadi prasayarat hidup manusia. Pada zaman prasejarah mungkin berburu dan bertani merupakan cara produksi manusia, namun hari ini bekerja di start up dan diupah setiap awal bulan dengan mata uang rupiahlah cara produksinya. Soal peralihan cara produksi yang seru itu mungkin akan kita bahas lain kali.

Dari peralihan-peralihan corak produksi dan terbaginya manusia ke dalam pembagian kerja di masa prasejarah inilah lahir kebudayaan manusia. Folklore, religi, musik, ilmu pengetahuan sampai masuk angin muncul setelah manusia bisa memenuhi kebutuhannya. Manusia memang bergantung dengan alam, namun manusia juga mampu mengondisikan alam dalam batas-batas tertentu yang dimungkinkan. Irigasi, cangkok tanaman, operasi plastik hingga kloning baru-baru ini merupakan contoh pengondisian alam oleh manusia. Di pembahasan Martin Suryajaya dalam Menalar Marx, terdapat pengondisian absolut dan pengondisian relatif yang mana hadir karena penutupan realitas kenyataan antara alam dan kebudayaan menjadi kriteria syarat material. Misalnya kehadiran realitas biologi Homo sapiens memiliki pengondisian absolut terhadap realitas ekonomi, namun realitas ekonomi memiliki pengondisian relatif misalnya rusaknya ekosistem karena penebangan hutan demi mencapai keuntungan sebesar-besarnya. Atau menurunnya angka harapan hidup orang-orang di perkotaan karena habis sudah waktu hidupnya dieksploitasi oleh para bos di kantor setiap hari.

Oleh karena itu meski keduanya tidak salah, bagi saya sendiri biomedislah yang menjadi prasyaratnya. Sebab ia masuk ke ranah alam dan bukan kultural, yang mana alam memiliki pengondisian absolut terhadap kebudayaan. Sedangkan kebudayaan hanya memiliki pengondisian relatif terhadap alam. Dengan menyembuhkan flu yang menjadi prasyarat masuk angin, maka masuk angin pun secara tidak langsung akan bersamaan ikut sembuh pula. Sama seperti kita yang selama ini mempelajari cara bekerja masyarakat dengan cara produksi kapitalisme. Untuk menyembuhkannya kita mesti masuk ke dalam aspek prasyaratnya, tentu saja logika kapitalisme itu sendiri, yang mana telah dicatat sedemikian rupa oleh Marx dalam Kapital. Sentimen agama, rasisme, eksploitasi, korupsi hingga konflik internasional dapat ditemukan akarnya dari mempelajari logika masyarakat kapitalisme, yang tentu saja ada dalam ranah ekonomi dan politik.

Kiranya kurang lebih seperti inilah cara berpikir materialisme historis yang digunakan Marx dan Engels dalam membedah gejala sosial dan budaya, termasuk masuk angin. Jadi kalau Anda merasa sakit kepala, badan demam atau perut kembung, jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa Anda masuk angin. Karena kemungkinan besar itu merupakan gejala flu, jika Anda yakin mengalami gejala flu, lebih baik Anda istirahat. Lagipula obat flu yang ada selama ini hanya meringankan gejala, bukan menyembuhkan. Sebagai informasi, sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan flu. Namun bila Anda terbiasa mengonsumsi jamu dan merasa itu membuat Anda menjadi lebih baik, kenapa tidak. Asalkan jangan keduanya dikonsumsi bersamaan, karena tidak baik menurut dokter. Sama seperti Anda memilih pemimpin negara tahun depan, salah satu harus dipilih, meski keduanya sama sia-sianya seperti obat flu dan obat masuk angin. Jadi slogan yang tepat untuk masuk angin yaitu “Orang pintar, bukan minum Tolak Angin, tapi istirahat.” Kalau masih tetap ingin mengonsumsi juga, yasudah apa boleh buat “Wes ewes ewes, amblas duite!”***

 

Kepustakaan:

Suryajaya, M. (2016). Mencari Marxisme. Serpong: Marjin Kiri.

Triratnawati, A. (2010). “Masuk Angin.” Center for Population and Policy Studies (Gadjah Mada University).

Triratnawati, A. (2011). “Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa.” Humaniora, 326-335.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus