Catatan Yang Tersisa Dari Timika, Papua

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

BULAN ini, tepat setahun yang lalu, saya pernah hidup di Timika, Papua. Saya pergi ke Timika dalam rangka penelitian untuk skripsi. Saya tinggal selama satu bulan di sana. Waktu yang lama bagi saya sebagai seorang mahasiswi yang zonder pengalaman dalam penelitian. Tetapi dari sanalah saya mendapatkan kisah beragam yang layak untuk diceritakan kepada siapa saja yang ingin tahu tentang Papua. Atau kepada mereka yang hingga saat ini menutup mata untuk Papua.

Mengambil tema penelitian tentang Papua memang tidaklah mudah. Saya sempat menjadi bahan tertawaan oleh beberapa staff di departemen jurusan perihal penelitian ini. Saya tidak tahu kala itu apa yang ada dalam pikiran orang-orang yang tidak menyetujui keinginan saya untuk meneliti di Papua. Bahkan dari beberapa mahasiswa juga menganggap keputusan saya adalah memaksa. Memang, membutuhkan proses selama satu semester untuk meyakinkan mereka tentang penelitian ini.

Betapapun, saya mempertimbangkan penelitian ini tidak hanya dalam waktu semalam saja.

Saya tertarik dengan Papua dan segala macam tentangnya sewaktu masih semester tiga. Berawal dari membaca bukunya alm. George Junus Aditjondro yang berjudul Cahaya Bintang Kejora, yang saya dapatkan dari senior saya yang mempunyai ketertarikan yang sama terhadap Papua. Buat saya, buku tersebut merupakan buku pengantar yang bernas. Ia menjadi pijakan awal yang sangat meyakinkan.

Kemudian, saya mencoba untuk mencari penelitian terdahulu mengenai Papua di perpustakaan kampus. Hasilnya, nihil. Entah karena aksesnya yang terlalu jauh atau alasan-alasan lain sehingga membuat penelitian itu tidak mungkin dilakukan. Bagi mahasiswa-mahasiswa kebanyakan di kampus saya, skripsi semangatnya adalah gugur kewajiban. Tetapi bagi saya tidak demikian, skripsi adalah karya. Sebuah pembuktian bahwa kuliah bukanlah persoalan kuliah-pulang dan tata tertib adminitrasi. Tapi ada semangat-semangat lain yang setiap mahasiswa pilih.

Setelah tidak mendapat rujukan penelitian sebelumnya, saya kemudian berselancar lagi mencari buku terkait yang lebih spesifik untuk tema penelitian. Tentu saja dapat. Buku yang berjudul “Perjuangan Amungme; Antara Militer dan PT Freeport” menjadi pijakan penelitian skripsi saya. Benang merah yang saya ambil adalah fenomena konflik.

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke ELSAM di Jakarta. Di ELSAM, saya mendapatkan setumpuk buku rujukan dan informasi yang sangat berharga. Dari mereka juga, saya mendapatkan pemetaan dan informasi terkait tema penelitian. Dan hasil dari Jakarta kemudian memantapkan keyakinan saya untuk sesegera pergi ke Timika, Papua. Hingga tanpa menunggu lama-lama, seminggu setelahnya saya memutuskan berangkat ke Timika.

Saya berangkat tengah malam dari Surabaya. Dalam perjalanan yang membutuhkan waktu kira-kira setengah hari itu, saya merenung dan bertanya-tanya tentang kebenaran orang-orang Papua yang diceritakan di Jawa. Tentang cerita-cerita bahwa orang-orang Papua pemabuk, perusuh, pemukul dll. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin saya buktikan secara empiris; benarkah stigma-stigma tersebut?

Memasuki kepulauan Papua, saya langsung disambut penampakan yang luar biasa. Ketika pesawat sedang di atas ketinggian, saya melihat kepulauan yang sangat hijau. Sungai yang masih terlihat jernih berbentuk ulas panjang. Tidak ada penampakan gedung-gedung bertingkat yang berjejeran. Sangat berbeda jika melihat pulau Jawa dari ketinggian. Tetapi saya masih penasaran, dimanakah letak PT Freeport.

Saya tiba di bandara Moses Kilangin, Timika, tepat pagi hari saat matahari menampakkan dirinya. Saya bingung, bandara tersebut bertaraf internasional tapi secara sarana dan prasarana masih belum memadai. Bandara ini juga kecil. Dan di depan bandara ada sebuah ban truk raksasa (carterpillar) yang menandakan bahwa bandara ini dibangun oleh PT Freeport. Baiklah. Saya pun mengerti kenapa di dalam bandara kebanyakan berisi pesawat dan peralatan-peralatan lainya yang notabene untuk keperluan PT Freeport.

Keluar dari bandara saya disambut oleh kerumunan orang-orang dari etnis beragam yang menawarkan jasa transportasi darat. Dari beragam kerumunan orang-orang tersebut, saya melihat sekumpulan pace-pace dengan mengunyah buah pinang yang membuat gigi mereka terlihat merah. Dari kerumunan beragam itu pula ada orang-orang Ambon, Bugis, NTT, Madura dan Jawa. Sudah pasti saya memilih pace untuk mengantarkan saya ke Mapuru Jaya. Saya memilih pace karena saya ingin berbagi cerita di tengah perjalanan menuju homestay dimana saya tinggal.

Memasuki kota Timika, saya disambut oleh potret kehidupan kota yang mengagetkan. Jalanan yang kumuh, anjing-anjing yang terlihat tidak terawat, babi berkeliaran di mana-mana, ludah pinang berceceran, dan traffic light yang jarang menyala. Belum sehari saja, saya sudah mendapat himbauan tentang nyamuk Papua yang bisa menyebabkan terbaring karena Malaria berminggu-minggu. Situasi ini yang membuat mental saya sekilas drop. Situasi yang jarang saya alami selama ini.

Bagaimanapun, saya harus menyadari bahwa saya tidak bisa menggunakan imajinasi Jawa ketika di Papua. Saya harus membuang jauh-jauh imajinasi Jawa itu di kepala saya.

Seminggu di Timika saya merasakan kehidupan yang benar-benar berbeda. Segala sesuatu yang kiranya mudah didapatkan di Jawa, tidak demikian di Timika. Semuanya serba mahal. Untuk makan, saya harus berhemat. Begitu juga dengan belanja kebutuhan dan segala tetek bengeknya. Tentu tidak kaget jika orang-orang jawa yang berjualan makanan di Timika mengaku bisa melaksanakan Umroh dan Haji tiap tahun sekali.

Satu minggu berlalu, saya sudah mulai menyatu dengan alam Timika. Entah bagaimana menjelaskannya, udara di Timika memang berbeda dengan Jawa. Udara segar dengan bau pepohonan Pinang yang khas, tentu ini menjadi semangat untuk melakukan aktivitas penelitian dan aktivitas lainnya seperti menulis catatan pinggir dari temuan di lapangan. Dalam satu minggu saja saya setidaknya mencatat temuan-temuan menarik meski hanya sekadar keliling kampung.

Setelah mendapat konfirmasi dari semua instansi dan para tokoh yang akan saya teliti, saya mendadak gelisah perihal tema penelitian –yang menurut saya bisa saja– sensitif bagi mereka. Tetapi saya optimis. Bahwa niat saya baik. Saya hanya ingin berkontribusi karya di kampus dan ingin mengetauhi tentang fakta-fakta selama ini yang mungkin tersamar, terpendam, atau mungkin sengaja ditenggelamkan.

Dari agenda pertemuan, tercatat daftar instansi negara seperti BAKESBANGPOL, DPRD, Bupati, Kodim, Polres, Kasubag Pemerintahan Kampung, dan BPN. Selain itu lembaga yang dari masyarakat ada LPMAK, LEMASA, LEMASKO, Mama Yosefa Alomang dan terakhir PT Freeport. Dari agenda wawancara, hanya Bupati yang tidak bisa ditemui dengan alasan ada tugas ke Jakarta. Persis besoknya, halaman depan koran harian Timika memberitakan bahwa beliau sedang di Jakarta dengan agenda membicarakan soal PT Freeport.

Selama proses observasi, saya sedikit mengakui bahwa birokrasi di Timika tidaklah sepayah birokrasi di Jawa. Tidak ada budaya mempersulit dan tidak ada pula tradisi pungli, sebagaimana para pembaca mungkin pernah mengalami. Selain itu, saya menilai mereka ramah dan terbuka. Bahkan, ada yang menyisakan waktu keluarganya untuk mengundang saya bertamu kerumahnya ketika mereka tidak bisa ditemui di kantor.

Namun, apakah penilaian saya tersebut berbanding lurus dengan informasi dan data yang saya butuhkan? Tentu tidak.

Informasi yang saya dapatkan dari mereka rata-rata normatif. Saya belum mendapatkan sesuatu yang mendalam. Bahwa apa yang terjadi di Timika seolah-olah alamiah, seolah-olah salah masyarakat itu sendiri. Jawaban seperti itu menurut saya terkesan menutup mata. Padahal, jika dinalar secara serius, apa yang terjadi di Timika tidak lain adalah problem historis.

Kondisi ini mendorong saya bekerja lebih keras lagi untuk menggali informasi yang mungkin masih terpendam. Beruntunglah pertemuan saya dengan lembaga masyarakat seperti LEMASA, LEMASKO dan sosok mama Yosefa sangat mencerahkan. Dari mereka bertiga, saya mendapatkan jawaban yang benar-benar mencerahkan, ditutup mama Yosefa yang menjadi juru selamat ketika saya hampir putus asa untuk penggalian fakta.

Perjumpaan saya dengan mama Yosefa ibarat bumi dan alam semesta. Bumi yang seperti debu di alam semesta. Ia adalah perempuan yang kokoh setiap zaman. Ia bercerita panjang-lebar tentang dirinya. Ia juga memberikan saya kuliah tentang filosofi bagaimana relasi perempuan dengan alam. Dan cerita tentang bagaimana gigihnya ia melawan PT Freeport sampai ia pernah dipenjara -kalau tidak salah- 18 kali. Cerita tentang bagaimana ia pernah mengunggat PT Freeport hingga ke Amerika Serikat. Meskipun pada akhirnya ia dan kawan seperjuangannya gagal mengusir PT Freeport dari Papua.

Pertemuan dengan mama Yosefa tersebut menjadi penyemangat untuk agenda pertemuan berikutnya dengan PT Freeport, dimana pertemuan dengan mereka menjadi penutup rangkaian penelitian saya. Dan saya sudah tiga minggu di Timika. Sisa-sisa waktu itu hanya fokus untuk bertemu dengan pihak PT Freeport. Betapa sukarnya untuk membuat janji dengan mereka. Seringkali tertunda-tunda. Sampai pada akhirnya mereka mengundang saya untuk datang ke Kuala Kencana.

Sesampainya di Kuala Kencana, saya terheran-heran. Jadi selama ini orang mengatakan bahwa PT Freeport adalah negara dalam negara memang benar adanya. Betapa tidak, jika dibandingkan dengan kota Timika, bak bumi dan langit. Wilayah yang sangat mewah dengan kompleks perumahan ala-ala Amerika. Sedangkan Timika kota yang sangat kacau.

Dikotomi itulah yang penyebabnya tidak saya dapatkan dari pihak PT Freeport. Pertemuan saya dengan mereka ada titik temu. Pertanyaan-pertanyaan saya dijawab secara normatif saja, terkadang menyangkal dan membela diri. Saya bingung, jika PT Freeport mengaku sudah melakukan banyak hal untuk kota Timika, lantas kenapa masih banyak dampak ketimpangan, yang jika dilacak penyebabnya adalah PT Freeport itu sendiri? Dan jika beralasan karena pembangunan yang humanis membutuhkan proses panjang, lantas bagaimana dengan kehadiran mereka yang sudah lebih dari 40 tahun itu? Apakah 40 tahun lebih bukanlah proses panjang?

Timika memang kacau. Betapa tidak, konflik bisa meletus setiap saat. Temuan saya menggambarkan, beberapa waktu terakhir ini konflik yang terjadi justru antar suku. Sedangkan temuan-temuan terdahulu konflik antara sipil dengan PT Freeport dan negara. Saya menduga, sepertinya ada skema dari elit untuk menjadikan konflik di Timika menjadi konflik horisontal. Meski ini hipotesis dan siapapun bisa membantah dugaan saya. Tapi yang pasti konflik di Timika masih menjadi “never ending story”.

Timika memang kacau. Bagaimana tidak, aparatur negara bersliweran di mana-mana. Seolah-olah menunjukkan bahwa Timika darurat konflik. Jika memang iya, lantas kenapa negara selalu terlambat menangani konflik yang terjadi? Apakah benar bahwa mereka hanya mengamankan perusahaan besar di Tembagapura sana?

Tapi Timika seperti Las Vegas. Saya masih ingat kata pendatang dari Jawa yang menganggap bahwa Timika itu seperti Jakartanya Papua. Uang besar berputar cepat katanya. Dan semua itu berkat PT Freeport. Tapi bukankah orang-orang seperti dialah yang tetap mempertahankan situasi yang ada jika dia mendapatkan keuntungan dari kehadiran PT Freeport? Lantas bagaimana dengan orang-orang Amungme yang setiap hari saya lihat di pasar SP Timika dengan jualan hasil bumi seadanya? Bukankah mereka ini yang sesungguhnya layak hidup di atas Tembagapura? Hidup tanpa PT Freeport?

Sesekali renungkan, bagaimana sekelompok warga yang mempunyai hak di atas tanahnya sendiri, tiba-tiba perlahan tergeser hingga terisolasir di tanahnya sendiri juga. Bangsa yang sejahtera dengan corak produksinya sendiri, tiba-tiba dipaksa untuk mengenyam uang yang bukan cara-cara produksi mereka. Bangsa yang sejatinya bahagia hidup di atas gunung, tiba-tiba dipaksakan untuk turun gunung. Apakah semua itu alamiah?***

 

Penulis adalah freshgraduate ilmu politik Universitas Airlangga, Surabaya. Saat ini sedang mengambil magister ilmu politik di Universitas Indonesia. Kesibukan sehari-hari sebagai news anchor di TVRI Surabaya


comments powered by Disqus